Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Kota SB


__ADS_3

Ferdi pun menarik napasnya cukup dalam dan mengeluarkanya lagi perlahan "Dia sudah ku anggap ayahku sendiri, dia yang membiayaiku dari dulu hingga sekarang, aku tidak bisa menolak perintahnya, karena aku juga tidak bisa mengecewakanya" ucap Ferdi dengan masih ada sisa air mata diwajahnya bekas tadi


Sean pun merenung 'Kisah seperti apa ini, kenapa ini terjadi di hidupku?' pikir Sean, dia tidak mempercayai ini terjadi di kehidupannya


Dia pun menekan nomor itu untuk memaggilnya dan menekan tombol loudspeker, dan yang di sebrang telpon pun Segera mengangkatnya


Tapi tidak ada suara yang terdengar di ponsel Ferdi itu sampai Ferdi yang memulai duluan memanggilnya "Daddy" ucap Ferdi dengan enggan dia bicara karena Sean yang mengisaratkanya untuk memanggilnya


"Apa pengawal kartina tidak menangkapmu?" ucap yang di sebrang telpon, dan suara itu pun di dengar oleh Sean, dia pun sangat yakin kalau itu adalah Suara Om nya


"Cepat Pergi!, mereka Sudah tau anda pelakunya" ucap Ferdi tiba tiba, dia tidak peduli dengan pistol yang masih mengarah padanya,


Dan kemudian sambungan telpon itu pun langsung terputus


Sean masih tidak bereaksi, dia masih merasa tidak percaya, dia juga tidak menembak Ferdi


"Tuan, apa kita akan segera ke kota K untuk pengejaran" ucap Agam


Sean tidak langsung menjawab karena dia masih memikirkanya "Kurasa tidak sekarang, jaraknya terlalu jauh, kondisiku belum benar benar stabil" ucap Sean


Dia memundurkan tubuhnya hingga dia bersandar di pinggir pembatas ring 'Kenapa orang terdekat yang bisa melakukan ini? kenapa tidak orang lain saja' pikir Sean yang merasa kalau Dirto itu selalu bersikap baik padanya saat ada di depanya, jadi dia susah untuk percaya kalau Dirto bisa berbuat ini di belakang


"Agam turunkan saja mereka, dan kirim mereka ke kantor polisi" ucap Sean


"Baik" ucap Agam pun langsung melaksanakan perintah Sean


Sean pun mencoba mengirim nomor Om nya itu kepada (S) untuk langsung di telusuri dan melihat keberadaan Dirto sekarang, tapi hasilnya nihil karena nomornya tidak Aktip, (S) hanya bisa menelusuri jejaknya saja beberapa menit yang lalu saat Dirto masih berada di kantor cabang Kartin.corp kota K,


Sean tidak Yakin bisa menemukan om nya tampa bantuan (S), karena Sean yakin Dirto pasti akan bersembunyi, kalau nomornya tidak aktip (S) akan sulit memastikan keberadaan Dirto, kondisi Sean juga tidak terlalu baik jika dia pergi sekarang


Sean juga sedikit bingung harus mengatakan apa kepada ibunya nanti, Setelah itu diapun keluar dari markas Agam dan mengendarai lagi mobil Koeniseggnya untuk kembali ke Mansion ibunya dengan raut wajah yang tidak terlalu baik


Sesampainya di mansion dia langsung mencari keberadaan ibunya, kartina pun sekarang sedang berada di ruangan keluarga, dan Sean pun menghampirinya


"Bu, aku pulang", ucap Sean lesu

__ADS_1


"Kamu darimana? kenapa jalan jalan terus?, kondisimu masih belum baik kan?" ucap Kartina yang duduk di sofa kulitnya


"Aku dari markas agam, aku sudah melihat pelaku penembaku" ucap Sean


"O yah, siapa mereka?" tanya Kartina yang memang belum dapat informasi


"Ferdi bu" ucap Sean


"Ferdi lagi? tidak ada kapoknya dia, terus kenapa wajahmu murung?" tanya kartina yang mulai memperhatikan wajah Sean


"Aku sudah tau orang di belakang Ferdi bu, tapi ibu sepertinya tidak akan percaya" ucap Sean


"Memangnya Siapa? kenapa ibu tidak percaya pada putra ibu sendiri kan, katakan saja?" tanya Kartina sangat penasaran


Sean pun mendudukan dirinya ke sofa yang tidak jauh dari Kartina "Dia om dirto" ucap Sean


"Siapa?, om Dirto? kamu jangan bercanda, masa iya om mu bisa berbuat seperti itu pada ibu dan keponakanya" ucap Kartina memang tidak percaya


"Tadinya aku juga tidak percaya, tapi aku mendengarnya sendiri dia bicara pada Ferdi di telpon" ucap Sean


"Menurut Ferdi kalau om Dirto ingin menguasai seluruh perusahaan KARTIN.corp bu" ucap Sean


Kartina pun berpikir sejenak, dia juga mencoba mengait ngaitkan kejadian yang menimpa Sean, dan memang Sangat masuk akal, pertama dia yang membuat acara, dan bersikukuh ingin di resmikan oleh Kartina dan Sean


"Memang masuk akal juga kalau di pikirkan lagi, terus apa rencana mu sekarang? apa kamu akan menemui dia dan menangkapnya langsung?" tanya Kartina


"Aku Rasa tidak akan Semudah itu bu, om Dirto sudah tau kita mengetahui dia dalang dari semuanya, karena Ferdi sudah membocorkan padanya di telpon tadi, jadi pasti om Dirto akan bersembunyi sekarang, nomornya juga tidak aktip, (S) juga pasti akan kesusulitan untuk memastikan keberadaanya" ucap Sean


"Seperti itu kah?, ibu rasa juga begitu, kota 'K' pulau yang sangat luas, pasti akan Sulit jika (S) tidak membantu" ucap Kartina


"Iya bu, mungkin aku akan kesana jika (S) ada info dari sana" ucap Sean


"Baiklah, ibu akan coba mencari informasi juga dari orang orang ibu di sana, dan meminta bantuan polisi untuk mencarinya" ucap Kartina


Setelah beberapa waktu mereka berdiskusi, dan kartina juga sudah menghubungi beberapa orangnya di kota K untuk mencarikanya imformasi, dan memang Dirto sudah meninggalkan kediamanya sekarang, namun Kartina belum dapat info kemana Dirto pergi

__ADS_1


Setelah itu Sean pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat


....


3 hari ini Sean hanya menghabiskan waktunya dengan berdiam diri di rumah untuk beristirahat, dia merasa cukup jenuh juga karena tidak melakukan apapun,


Orang orang yang di suruh ibunya mencari informasi di Kota K juga sama sekali belum memberikan info yang memuaskan, mereka belum menemukan info tentang keberadaan Dirto sampai saat ini


Saat ini, Sean Sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, lukanya juga Sudah lumayan mengering, dia sudah melepas perban di kepala dan dadanya, juga sudah mulai melakukan latihanya dan aktipitas seperti sebelumnya


'cebuk cebuk' Suara air kolam di area belakang rumah terdengar oleh sosok wanita paruh baya berjilbab merah yang berdiri menghadap kolam itu


"Sudah Sore, kenapa masih main air" ucap Kartina dari pinggir kolam


Sean yang sedang berenang pun menengok ke arah Suara itu


"Sudah pulang bu? tumben pulang cepat" ucap Sean yang di tengah kolam, diapun langsung berenag ke pinggiran untuk naik dan mengambil handuk untuk mengeringkan dirinya di area gazebo pinggir kolam


Kartina pun menghampiri Sean, "Iya, kerjaan di kantor tidak terlalu banyak, semenjak kamu yang mengatur perusahaan semuanya jadi serba efisien dan simple, jadi tidak terlalu ribet juga memeriksa setiap laporan perusahaan, ibu mengagumi pola pikir mu Arman" ucap Kartina


"Tentu saja, siapa dulu ibunya" ucap Sean tersenyum


"Ya ya ya, o iya Arman, besok bibi Irna mengundang ibu ke kantor cabang yang di pimpinya, ibu rasanya sudah malas kalau harus bepergian keluar kota terus, ibu sudah tua, apa kamu mau mawakili ibu kesana?, itu juga kalau kamu sudah merasa baikan" ucap Kartina


"Siapa bilang ibu sudah tua, aku lihat ibu seperti masih gadis" ucap Sean tersenyum ke arah ibunya


"Kamu itu, dari kapan mulai bisa menggombali ibumu sendiri,?" ucap kartina "Gimana?, mau tidak pergi kesana?" tanya Kartina


"Iya Iya Arman yang pergi, bosan juga beberapa hari tidak kemana mana" ucap Sean, dia tertegun dan seperti mengingat sesuatu "bibi Irna? bukan kah dia di cabang kota SB bu?" ucap Sean


"Iya, ibu yakin di sana tidak akan ada penembak lagi, jadi kamu tidak perlu hawatir, ibu yakin bibi irna tidak bersekongkol dengan om mu, ibu akan menyuruhnya memperketat keamananya" ucap Kartina


Sebenarnya bukan itu yang di pikirkan Sean, tapi dia memikirkan Rania yang ada di kota itu juga, sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu, juga sudah lumayan lama tidak saling mengabari karena kesibukan masing masing, jadi Sean sedikit bersemangat untuk pergi


"Baik lah" ucap Sean sambil mengangguk anggukan kepalanya

__ADS_1


...~°~...


__ADS_2