
Keesokan paginya, di sebuah kamar Hotel yang cukup mewah ini, terlihat seorng wanita yang masih tertidur pulas di ranjang pengantinnya, dan dia hanya mengenakan handuk mandi yang di balut selimut tebal di tubuhnya
Dia pun perlahan membuka matanya, dan dia langsung kaget dan mendudukkan dirinya di ranjang pengantin itu " Ya ampun, aku ketiduran,, Sayang,, sayang kamu di mana?" ucap Rania yang tidak melihat Sean di siasinya
Sean pun keluar dari kamar mandi "Kamu sudah bangun?, nyenyak sekali tidurmu" ucap Sean
"Sayang, maafff,, aku, aku ketiduran semalam, aku tidak sengaja" ucap Rania
"Tidak apa, mending kamu sekarang ambil wudhu, kita sholat bareng" ucap Sean
"Baiklah, tapi kamu tidak marah kan?" tanya Rania
"Marah untuk apa?, Kamu tidak berbuat salah kan?" ucap Sean
"Tapiii, tapi....."
"Sudah, ambil wudhu sana, kalau masalah itu masih ada banyak waktu ini" ucap Sean
"Oh, baiklah", ucap Rania yang merasa bersalah
Rania pun bangkit untuk mengambil air wudhu, dan kemudian dia pun memakai mukena dan berdiri di belakang Sean untuk Sholat berjamaah
Sholat kali ini Sean merasa sangat khusyu, karena dia membawa seorang makmum di belakangnya, yang tidak lain adalah istrinya
Selesai Sholat Rania pun mencium tangan Sean, Sean juga mencium pipi kiri pipi kanan dan kening Rania, Sean merasa terharu, ini seperti mimpi baginya, dia merasa seperti baru kemarin mengenal gadis ini, tapi sekarang Sean sudah berdiri di depanya untuk menjadi imam baginya
Mereka pun segera beranjak dari tempat nya sholat tadi, Rania melepaskan mukena nya dan langsung menuju ke lemari untuk berpakaian, karena dia masih mengenakan handuk saja sejak tadi malam
"Jangan ngintip, aku mau ganti baju" ucap Rania pada Sean yang memandanginya dari sisi tempat tidur
"Aku sudah melihat semuanya tadi malam, jadi kenapa kamu masih malu" ucap Sean berbohong
"Benarkah? kamu mh gitu, bisa nya curi curi kesempatan saja" ucap Rania merasa sedikit malu
"Memangnya kenapa, tidak boleh?" ucap Sean tersenyum
"Boleh sih, bagaimana menurutmu punyaku" tanya Rania malu malu
Pikiran Sean pun langsung drop dengan pertanyaan Rania yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh Sean,, dia tidak bisa menjelaskan apapun karena dia juga tidak melihat apapun "Aku, aku, lupa, sepertinya harus melihatnya sekali lagi" ucap Sean tersenyum
"Kamu bohong kan?, kamu itu tidak pandai berbohong, itu sangat kelihatan bohongnya" ucap Rania
"Hhh gagal lagi, kamu memang pintar Ran," ucap Sean menggelengkan kepalanya
"Sudah ah, kamu balik badan dulu, aku malu kalau ada yang lihat" ucap Rania
"Iya Iya", ucap Sean, dia pun langsung memunggungi Rania
__ADS_1
Rania pun segera mengenakan pakainya, Sean hanya bisa mencuri curi pandang ke arah Rania yang sedang mengenakan pakainya itu,
Setelah hari beranjak terang, Sean pun bersiap mengantar Rania untuk pulang ke mansion Kartina
"Ran, apa kamu sudah Siap?" tanya Sean
"Sudah, semua barangku sudah di kemas" ucap Rania
"Kamu tidak papakan aku tinggal di rumah Ibu?" tanya Sean
"Aku tidak mau ke rumah ibu, aku akan ikut dengan mu ke kota B, aku tidak mungkin membiarkan suamiku menggoda wanita lain di belakangku" ucap Rania asal
"Oh, baiklah kalau gitu" ucap Sean tersenyum
Mereka pun segera ceck out dari Hotel, mobil Agam pun sudah menunggu di depan Hotel bersama beberapa pengawal lain, jadi mereka pun segera naik ke mobil dan langsung berangkat menuju ke kota B
…
Setelah beberapa jam perjalanan dari Kota J, mereka pun akhirnya sampai juga di kota B, mereka langsung menuju Rumah tinggal keluarga Lena, dan tidak lama mobil pun segera berhenti di depan sebuah gang perumahan warga
"Apa kamu mau ikut turun Ran?" tanya Sean ke Rania
"Tidak, aku di mobil saja, aku mungkin akan jalan jalan dulu sebentar di kota B ini, boleh kan?" ucap Rania
"Iya, tentu saja boleh, baiklah kalau gitu aku turun" ucap Sean
"Iya"
Seseorang pun membuka pintunya dari dalam, dia pun memperhatikan Sean yang berdiri di depan pintu itu, dan diapun mengenali Sean
"Bu" ucap Sean menyapa
"Untuk apa kamu datang kemari? kamu mending putus saja dengan Lena, karena sekarang Lena sudah akan bertunangan" ucap bu Naya
'Putus? jadian juga belum sudah di suruh putus, haduh ada ada saja' pikir Sean "Iya saya tau, tapi bolehkah saya bicara dengan Lena sebentar?" ucap Sean
"Dia tidak bisa di temui, dia tidak mau keluar dari kamar, calon tunangannya juga sudah menunggunya dari tadi" ucap bu Naya
"Apa boleh saya bertemu dengan calon tunangannya?" ucap Sean penasaran ingin melihat seperti apa calon Lena itu
Karena terakhir kali orang tua Lena akan menikahkan Lena dengan seorang kakek Kakek yang sudah beristri 2 untuk jaminan hutang
"Siapa bu?" tanya pak Harjo dari dalam
"Pacar Lena yang tempo hari pak" ucap bu Naya
"Oh, suruh dia masuk saja," ucap pak Harjo
__ADS_1
"Oh baiklah, masuk" ucap Bu Naya
"Iya" ucap Sean
Sean memang berpenampilan santai sekarang, dia sengaja menyesuaikan diri supaya mereka tidak terlalu segan juga padanya
Sean pun segera melangkah masuk dan diapun langsung melihat ke seorang pria jangkung yang duduk di kursi itu, Sean pun tidak merasa asing denganya dan sangat mengenalinya, pria itu adalah Riki si kepala karyawan yang dulu songong kepada Sean
Sean pun sengaja tidak menyapanya dan langsung duduk saja di kursi yang langsung menghadap kepadanya
Sementara Riki langsung terlihat kaget melihat kalau yang datang itu adalah sang direktur pusat sekaligus pemilik dari supermarket tempat dia bekerja, Riki tidak bicara sama sekali, dia hanya menundukkan pandangan kebawah, dia tidak berani menatap Sean langsung, karena sekarang dia sudah mengetahui Sean itu siapa, jadi dia tidak berani songong seperti waktu di depan supermarket tempo hari
"Kenalkan, dia adalah calonya Lena, namanya Riki, dia adalah manager di tempat Lena dulu bekerja" ucap bu Naya
"Oh, manajer ya, jabatan yang bagus, tapi di jam segini, manajer harusnya masih di tempatnya kerja kan" ucap Sean pura pura
"Dia ini memang sudah Senior, jadi dia bisa bebas keluar kalau ada urusan, iya kan Riki?" ucap bua Naya
Riki tidak berani menjawab bu naya, dia mendengar Sean berbicara seperti itu saja hatinya sudah gelisah dan berkeringat dingin, dia yakin kalau bualannya pada Bu Naya akan segera terbongkar "Bu Saya pamit dulu saja, sa saya ada urusan lagi di tempat kerja" ucap Riki beralasan
"Lho, mau kemana?, bukanya kamu ingin ketemu Lena,?" ucap bu Naya
"Ti tidak perlu bu, sa saya pulang saja ke tempat kerja," ucap Riki yang sudah tidak betah berada di depan bos besarnya ini
"Ya seharusnya memang begitu" ucap Sean yang tidak secara langsung menegur Riki ini
"Saya permisi Pak Bu maaf" ucap Riki yang langsung bergegas keluar dengan tergesa-gesa
"Aneh, dia tadi bersemangat sekali mau ketemu Lena" ucap bu Naya Heran
"O ya Bu, boleh saya menemui Lena ?" ucap Sean
"Coba saja, dia tidak mau keluar dari kamar, dia dari kemarin hanya menangis di kamarnya semenjak pulang dari Kota J, Lena sepertinya ada masalah di sana, tapi dia tidak mau cerita" ucap bu Naya
"Baiklah saya akan coba membujuknya, sbelah mana kamar nya bu" ucap Sean
"Itu yang di pintu sebelah kanan" ucap bu Naya menunjuk sebuah pintu
Sean pun segera menuju ke kamar yang di tunjuk bu naya, perlahan dia pun mendekat ke arah pintu dan Sean pun lengsung membukanya perlahan, karena pintu itu juga tidak di kunci oleh Lena
Sean pun langsung melihat Lena yang memang sedang menangis memunggungi pintu, dia memeluk sebuah bantal di kamar sederhana nya itu
Lena pun bisa mendengar kalau pintu kamarnya di buka lagi, ibunya memang sudah membukanya beberapa kali sebelum Sean
"Lena sudah bilang mah, Lena tidak mau bertemu Riki dulu" ucap Lena sambil terisak
Sean merasa kasihan melihat Lena yang sekarang menangis tersedu-sedu, Sean sadar kalau dialah penyebab Lena menjadi seperti ini "Len, bolehkah kita bicara?" tanya Sean
__ADS_1
"Tidak mau, aku suda bilang, kasih dulu aku waktu Riki, apa kamu tidak bisa dengar?" ucap Lena sambil terus menangis
Lena mengira kalau Sean itu Riki yang memintanya keluar lagi