
Dan seperti biasa, sesampainya di bandara kota J, jet pribadi milik Kartina sudah menunggunya di landasan, dan merekapun segera naik ke pesawat dan terbang menuju ke kota SB lagi
Setelah beberapa jam mengudara kapal pun mendarat kembali di bandara internasional Kota SB dan di jemput oleh bi Irna sekeluarga dan beberapa staf kantor, merekapun segera menuju ke hotel tempat acara akan di laksanakan,
Karena Rania sekarang memang tinggal di hotel dengan Hendro, jadi sekalian acaranya juga di adakan di sana, supaya Rania juga tidak perlu kemana mana lagi, dan Rania belum memberitau ayahnya tentang apartemen yang di berikan Sean padanya
…
Di sisi lain di sebuah kamar hotel yang cukup luas terlihat seorang gadis yang duduk di depan meja rias dengan setelan kebaya putih dan di padu dengan kain jarik yang cukup serasi, di tambah dengan balutan jilbab putih di kepalanya, menambah kesan anggun pada sosok gadis cantik ini
Hanya saja ada 1 yang kurang dari semua penampilan yang sudah hampir sempurna ini, ya itu raut wajah Rania yang terkesan tidak memancarkan keceriaan, karena terlihat ada rembesan air yang keluar dari sudut matanya yang mengalir pelan
"Nona, anda sudah cantik, anda juga akan segera di lamar, tapi kenapa anda terlihat sedih?" tanya seorang penata rias
"Jika kamu mencintai seseorang dan sudah menetapkan hati untuk terus bersamanya, dan saat ini orang itu mungkin sedang berjuang antara hidup dan mati, tapi kamu malah tidak bisa melihat kondisinya sama sekali, dan kamu bahkan harus tunangan dengan orang lain yang tidak kamu cintai, apa yang akan kamu rasakan saat ini?" ucap Rania balik memberi pertanyaan
"Tentu saja sakit, apa itu yang anda alami sekarang?" tanya penata itu lagi
"Ya" ucap Rania yang masih menyangka kalau Sean benar benar tertembak dan terluka oleh Leon waktu itu
Tiba tiba pintu Ruangan pun terbuka dan masuklah Hendro
kedalam, dan langsung menghampiri Rania dan berdiri di belakang kursi yang di dudukinya
"Ran, kenapa wajahmu murung terus, sampai kapan kamu akan membuat papah merasa seperti terus bersalah padamu, kalau memang papah ada salah sebelumnya, papah minta maaf" ucap Hendro
"Sebelum papah jujur dan kasih tau Rania dimana pacarku di rawat, Rania tidak akan memaafkan papah" ucap Rania kukuh
Hendro tidak habis pikir kenapa Rania bersikukuh menanyakan seseorang yang jelas jelas tidak apa apa dan malahan mereka akan segera bertemu sebentar lagi
Hendro pun menghela nafas nya "Ya sudah papa jujur, pacarmu sebentar lagi datang dengan calon mertuamu, jadi turunlah, ayo" ucap Hendro yang terus membujuk Rania
Ranipun merenung sejenak "Papah dulauan saja" ucap Rania
Rania memang melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Sean tertembak dan jatuh dari atap rumah 3 hari lalu, jadi kalau tiba tiba sekarang akan melamarnya itu sangat mustahil menurut Rania, stidaknya butuh waktu berbulan bulan untuk manusia normal sembuh dari luka dalam, jadi Rania menganggap itu hanya bualan papanya supaya dia turun
…
Di sisi lain di luar sebuah banguna Hotel yang cukup tinggi ini terlihat beberpa mobil yang mulai berdatangan dan memarkirkan mobil mereka di area parkir hotel, kemudian satu persatu merekapun turun dari mobil
Sean juga sudah turun dan di kerumuni oleh orang orang terdekatnya , ada Kartina, bi Irna, paman Rusdi, Intan, Ifan, Regan, dan beberapa staf kantor, Agam juga tidak pernah absen untuk mengawal dengan anak buahnya
__ADS_1
"Arman, apa kamu sudah siap bertemu tunanganmu" tanya bi Irna yang melihat kalau Sean sedikit gugup
"Agak degdegan juga bi, baru kali ini kita akan bertemu secara kekeluargaan seperti ini" ucap Sean
"Kamu memang sulit di tebak Arman, tante tidak tau kamu ada pacar di sini, tau tau sudah mau tunangan saja" ucap bi Irna
"Mereka bertemu di kota J, dia tadinya karyawan di perusahan kita juga " ucap Kartina yang mewakili Sean bicara
"Iya bi, lebih tepatnya di kota B kita bertemu, dia memang pindah kesini beberapa bulan lalu" ucap Sean juga
"Sudah sudah, mempelai wanitanya mungkin sudah tidak sabar ingin bertemu kekasihnya, kalian para orang tua malah mewawancarai mempelai prianya di sini, mending kita langsung masuk saja" ucap intan
Semua yang di sana pun tertawa hangat merespon perkataan intan ini, "Malah pada ketawa, aneh" ucap intan, merekapun segera masuk ke Hotel dan langsung menuju ke ruangan acara yang sudah di siapkan sebelumnya oleh Hendro dan Regan
Merekapun masuk keruangan yang tidak terlalu besar namun berkelas, dengan dekorasi waran putih dan pink yang simpel dan manis "Selamat datang selamat datang, mari silahkan langsung duduk saja" ucap Hendro memberi sambutan pada keluarga konglomerat ini,
Seketika Atmosfer Ruangan pun menjadi sedikit berbeda bagi Hendro, semacam ada aura kuat yang menyebar saat keluarga hebat ini memasuki Ruangan
Merekapun segera dududk di kursi kursi yang sudah di persiapkan, Sean dan kartina duduk berdampinga di kursi paling tengah di jajaran kursi pertama, kursi kursi sengaja di atur agar 2 keluarga ini bisa duduk berhadapan dengan meja sebagai penengahnya
Acaranya terbilang sederhana karena hanya di hadiri kerabat Sean dan beberapa staf kantor saja yang tadi menjemput rombongan
Sedangkan dari pihak Rania juga hanya ada Hendro dan Retno yang duduk berjauhan, viona juga hadir, dan ada beberapa kerabat dari ibunya juga yang menghadirinya
Sean juga sudah tidak sabar ingin melihat Rania berpenampilan seperti apa, Sean sdikit merasa bersalah juga karena kemarin tidak bisa menemaninya di rumah sakit
"Rania kemana?, kenapa belum datang?" tanya Sean ke Hendro
"Saya juga tidak tau, tadi dia sudah bersiap siap, saya coba panggil dia lagi, maaf" ucap Hendro, diapun segera beranjak menuju kamar Rania
Setelah beberapa waktu Hendro pun kembali dengan tergesa dan gugup dengan membawa secarik kertas di tanganya
"Ma maaf, Rania sepertinya pergi, dia hanya meninggalkan tulisan ini di kamarnya" ucap Hendro yang memang merasa gugup berhadapan dengan keluarga konglomerat ini, takut dia hanya akan membuat malu dirinya saja
Sean pun mengambilnya untuk dia baca, dan disana hanya tertulis 'Pah maaf Rania pergi, Rania tidak bisa bertunangan dengan pak Arman,'
Sean pun tidak bisa menahan dirinya untuk menepuk jidatnya, dia berpikir andai dari awal dia jujur, andai dari awal tidak ada rumah Sewa baru, pasti tidak akan ada kejadian semacam ini
"O yah mohon maaf semuanya, acaranya mungkin sdikit di undur, jadi mungkin kalian semuanya makan makan dulu saja di depan, nanti saya yang akan urus semua pembayaranya," ucap Sean menenangkan hadirin yang mulai tidak sabar ini
"Pak Arman, saya mohon maaf sebesar besarnya, ini di luar perkiraan saya, saya tidak tau Rania pergi kemana, mungkin akan memakan waktu untuk mencarinya" ucap Hendro
__ADS_1
"Tidak apa, tidak usah khawatir, saya tau Rania kemana, dan saya jamin tidak akan lama kami akan kembali ke sini" ucap Sean
Sean pun segera pergi untuk mencari Rania, dia menebak Rania pasti pulang ke apartemennya, tapi untuk lebih pasti lagi dia tetap meminta bantuan (S)
Dan memang tebakan Sean tidak meleset dia pun segera bergegas ke sana, Sean ke meja resepsionis untuk meminta kartu akses cadangan dengan memberikan alasan dan jaminan, dan kebetulan alasan Sean di terima
Diapun segera bergegas ke apartemen yang Rania tempati dan langsung membuka pintunya, Sean pun masuk seperti hantu yang nyaris tampa suara
Sean pun berjalan masuk dan dia tidak melihat Rania di Ruang tamu, diapun langsung menuju ke pintu kamar yang tidak tertutup Rapat, dan Sean pun bisa melihat Rania dari celah pintu yang terbuka itu
Terlihat Rania yang murung dan terduduk di tempat tidur dengan memeluk kedua lututnya 'Kasian sekali Rania yang seperti ini' pikir Sean
Sean pun membuka pintu kamar Rania itu perlahan
"Ran" panggil Sean
Rania pun segera menoleh ke asal suara itu
"Aku minta maaf karena pernah membohongimu" ucap Sean
Rania cukup kaget karena di apartemenya tiba tiba saja ada orang, dia pun menatap Sean yang datang dengan tiba tiba ini, "Se Sean?" ucap Rania
"Ya" ucap Sean
"Apa kamu hantu?" tanya Rania
Sean pun hanya tersenyum "Apa maksud mu?, Aku masih menginjak tanah," ucap Sean
"Benarkah?" Rania pun memperhatikan kaki Sean itu dan memang masih menyentuh lantai
Seketika itu dia pun bangkit dan berjalan ke arah Sean, dan dengan tampa ragu Rania pun langsung memeluk Sean dengan erat
"Sayang,,, kukira kamu akan meninggalkanku selamanya, kukira aku tidak akan bisa melihatmu lagi" ucap Rania sambil terus menangis di dada Sean
"Tidak, aku tidak papa Ran, maaf aku tidak bisa menunggumu di rumah sakit kemarin, aku ada urusan kemarin" ucap Sean
Rania pun melonggarkan pelukanya dan meraba dada Sean untuk memastikan kalau memang sean tidak terluka "Kalau begitu bawa aku pergi dari sini, aku tidak ingin tunangan dengan orang lain" ucap Rania sambil menatap mata Sean
"Apa maksudmu? kamu akan tunangan denganku, bukan dengan orang lain" ucap Sean
"Kalau kamu serius ingin melamarku, kita pergi ke hotel tempat acaraku sekarang, kamu harus mengatakan ke ayahku kalau kamu ingin melamarku, dan aku juga ada alasan untuk menolak pak Arman di sana,, apa kamu bersedia" ucap Rania penuh harap dengan deraian air mata yang belum surut
__ADS_1
'Ran, Ran, apa kamu berpikir serumit itu, aku sudah mengatakan kalau Arman itu aku kan' hati Sean merasa sdikit bersalah karena secara tidak langsung dia yang membuat Rania berpikiran rumit seperti ini
"Baiklah, kita kesana sekarang" ucap Sean, dia mungkin bisa mudah meluruskan semuanya di sana