
Setelah Sean keluar dari area bandara dengan Agam, dia pun segera kembali ke mansion Kartina, dan mengurung dirinya di kamar seharian, (tapi dia tidak sampai memeluk guling dan menangis, 😆), dia tidak ada mood untuk pergi ke manapun untuk saat ini
Kartina yang di kantor pun sadar kalau putranya tidak masuk hari ini, hanya saja dia tidak tau alasanya apa, jadi ketika dia pulang dari kantor, diapun langsung ke kamar Sean
Kartina pun mengetuk pintu kamar Sean "Arman, apa kamu ada di dalam?" tanya Kartina
"Iya bu" ucap Sean yang tidak beranjak dari tempat duduknya, dia duduk di lantai dan hanya bersandar di tempat tidur seharian ini, dia juga hanya menatap layar ponselnya sesekali untuk melihat foto profil Rania di layar ponselnya
"Kamu kenapa, apa kamu sakit?" tanya Kartina
"Tidak, aku hanya Sedikit tidak enak badan bu" ucap Sean
"Oh ya sudah, apa perlu ibu panggilkan dokter?" ucap Kartina
"Tidak perlu bu" ucap Sean dari dalam, dia memang tidak berniat membukakan pintu kamar untuk ibunya
"Ya sudah, kalau perlu apa apa kamu panggil saja Darmi" ucap Kartina, dia merasa putranya memang sedang ada masalah, tapi dia tidak memaksa putranya untuk cerita
"Iya baik bu" ucap Sean
Kartina pun segera pergi dari depan pintu kamar Sean,
Ini memang kali pertama untuk Sean merasakan rasanya di tinggal jauh oleh orang yang dia sebut 'pacar', sepi, hampa, dan merasa kalau dia sendirian di dunia ini, itu yang di rasakan Sean sekarang, ternyata sekuat kuatnya Sean sekarang, dia bisa tumbang juga oleh masalah perasaanya sendiri
Hingga malam tiba Sean tidak kujung keluar dari kamarnya, ibunya pun menyuruh Darmi untuk mengantarkan makan ke kamar Sean dengan segera pelayan pun mengantar makanan ke kamar dan menaruh makanan itu di meja
Sean hanya melihat makanan yang ada di atas meja itu sekilas, dia tidak ada niat untuk memakanya sama sekali, meskipun dari pagi dia belum makan apapun
Kartina pun sekarang masuk kekamar Sean karena khawatir dengan keadaan putranya, "Arman, ada apa denganmu? kenapa kamu tidak makan?" ucap Kartina yang melihat kalau wajah anaknya murung dan kamarnya pun di penuhi oleh asap rokok
"Tidak apa apa bu, Arman hanya belum lapar" ucap Sean asal
"Apa kamu merokok? tidak biasanya kamu begini, Ada apa? apa kamu ada masalah?, apa karena masalah pengunduran diri Rania dari kantor?" ucap kartina mengajukan banyak pertanyaan
"Aku hanya sedikit bosan saja bu, Arman hanya mengusir kejenuhan Arman saja dengan rokok, tidak apa apa" ucap Sean
__ADS_1
"Jangan bohong, pasti kamu begini karena masalah Rania kan?" tanya Kartina
"Iya bu" ucap Sean tidak menyangkalnya lagi karena memang sulit menutupi masalah apapun dari ibunya ini
"Memangnya Rania sekarang di mana?" tanya Kartina, dia pun mulai mendekat ke arah Sean dan duduk di atas tempat tidur Sean
"Dia pergi ke kota SB bu, dia akan kerja di sana" ucap Sean
"Oh, Kenapa kamu harus sampai seperti ini, Kota SB itu tidak jauh, hanya butuh waktu 1 jam Setengah untuk sampai kesana dengan pesawat, kalau kamu mau kamu tinggal kesana sesuka kamu dengan jet pribadi ibu kan, apa susahnya?" ucap Kartina, menurut kartina kalau itu soal jarak maka itu hanya masalah sepele, tapi untuk Sean memang masalahnya bukan hanya sebatas jarak saja sekarang, karena ada prinsip yang harus dia tepati
"Iya bu, mungkin aku hanya belum terbiasa" ucap Sean, diapun tidak habis pikir kalau ternyata ibunya juga memiliki Jet pribadi, hanya saja Sean bingung di mana ibunya menyimpanya, dia tidak pernah melihatnya
"Bu, apa ibu juga punya pesawat? kenapa Arman tidak pernah melihatnya" ucap Sean polos
Kartina pun tidak bisa menahan tawanya karena kepolosan anaknya ini "Memangnya kamu pikir jet pribadi ibu itu sebesar apa? sebesar mobil? atau sebesar bus? tentu saja itu besar Arman, tidak mungkin ibu membawanya pulang kerumah kan, Ada ada saja kamu" ucap kartina dengan tersenyum
"Jet pribadi ibu ada di hanggar bandara, kalau kamu mau, besok kita coba, atau mau sekarang juga boleh kalau kamu tidak sabar ingin menemui Rania" ucap Kartina
Sean sdikit malu karena menanyakan pertanyaan bodoh macam itu, dia memang terlalu berpikiran sederhana "Tidak usah bu, mungkin lain kali saja Sean mencobanya," ucap Sean
Sean pun tidak menolaknya, diapun makan dengan di suapi ibunya, tidak ada perasaan malu atau risih, Sean hanya menganggap perlakuan itu sebagai pengganti kasih sayang di masa kecilnya yang tidak dia dapatkan dari Kartina sebelumnya
Sean pun makan dengan lahap, kartina juga senang bisa memperlakukan Sean layaknya putra kecilnya "Manja nya anak ibu ini" ucap Kartina tersenyum sambil menyuapi Sean perlahan
Sean juga hanya tersenyum mendengarnya, diapun terus makan di suapi ibunya hingga makanan itu tidak bersisa di piring, semuanya ludes di lahap Sean
Setelah selesai menyuapi Sean Kartina pun menyimpan kembali piring ke nampan yang ada di meja "Sudah jangan seperti ini lagi cepat kamu bangun, bersihkan badanmu, solat, dan beristiralah" ucap Kartina yang melihat anaknya duduk di lantai sedari tadi
Jujur saja kartina yang melihat putranya seperti itu memang tidak mengenakan hati seorang ibu
"Iya baik bu" Sean pun segera beranjak untuk membersihkan badanya
Kartina juga segera keluar dari kamar Sean dan kembali ke lantai bawah
Setelah Sean selesai melakuakan apa yang di suruh ibunya tadi dia pun merasa perasaanya sedikit membaik, Sean pun kepikiran untuk menghubungi Rania untuk sekedar menanyakan kabarnya dia sekarang
__ADS_1
Rania juga segera mengangkat panggilan Sean itu
"Hallo Ran" ucap Sean
"Hallo" jawab Rania dengan suara yang serak
"Gimana perjalananmu tadi, Apa kamu sampai dengan lancar Ran?" tanya Sean
"Alhamdulillah tidak ada hambatan" ucap Rania yang masih mengatur suasana hatinya
"Oh syukurlah, apa kamu sudah makan" tanya Sean yang penasaran apakah Rania juga sama sepertinya atau tidak
"Belum, aku tidak ada selera untuk makan" ucap Rania
"Apa kamu dari pagi belum makan?" tanya Sean
"Iya, aku tidak ada selera sama sekali" jawab Rania
"Ayolah jangan begitu, aku tidak mau kamu jadi kurus di sana , makan dong sayang, please" ucap Sean membujuknya dengan sdikit lebay
"Iya iya sayang nanti aku makan, apa kamu sendiri sudah makan?" tanya Rania
"Sudah Ran barusan" ucap Sean
"Ran, kenapa kamu tidak menungguku tadi di bandara" tanya Sean
"Apa kamu tidak sadar kalau kamu terlambat, aku sudah menunggumu cukup lama,!" ucap Rania yang suasana hatinya mulai membaik
"Iya maaf, kurasa itu memang salahku" ucap Sean sambil menggaruk rambutnya
"Aku bercanda, sebenarnya aku hanya takut kamu bertengkar lagi dengan ayahku, jadi aku memutuskan pergi setelah melihatmu datang, jadi itu murni salahku, maaf" ucap Rania
"Begitukah? baiklah aku maafkan, tapi jangan mengulanginya lagi, karena itu rasanya......., ya begitu lah" ucap Sean tidak menuntaskan kata kata nya
Lama mereka mengobrol di telpon, hinga tidak terasa oleh mereka malampun mulai larut, setelah mereka sadar barulah mereka menyudahi topik pembicaraan mereka dan menutup panggilan dengan sedikit rasa enggan, merekapun segera beristirahat di tempat masing masing dan saling mendoakan dari kejauhan
__ADS_1
...~°~...