Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Bos Pelit


__ADS_3

Sean pun mengangguk nganggukan kepalanya tanda dia mengerti dengan perkataan Kang Rawing "Iya baiklah, saya paham maksud akang" ucap Sean, dia pun melepas cincin kursaninya


Kang ujang pun Segera berdiri di halaman, dan Sean juga mengikutinya dan langsung berhadapan denganya


"Tutup mata zahir aden dengan ini, dan biarkan mata batin aden yang melihat" ucap Kang Rawing yang memberikan sehelai kain hitam pada Sean


"Baiklah" Sean mengambilnya dan langsung menutup matanya dengan kain itu, dan seketika pandangan matanya pun menggelap


"Apa sudah siap" tanya kang Rawing


"Sudah kang" ucap Sean yang mngira dia hanya di suruh merasakan saja


Kang Rawing pun mundur selangkah dan dia menggunakan setangkai Ranting bambu untuk menyerang dan mengetes kepekaan Sean, Kang ujang pun langsung memukulkan ranting itu ke tubuh Sean


'Plak plak plak' "Aw aw aw, kenapa saya di cambuk kang," ucap Sean yang sedikit kesakitan karena dia tidak bisa menghindar dari ranting itu


"Itu artinya aden belum siap dan belum bisa melihat apapun dengan mata batin aden kan?, aden harus bisa merasakan situasi untuk bisa menghindari benda sekecil apapun yang mendekat ke tubuh aden, sekarang coba aden tarik napas dan keluarkan lagi, terus sampai Aden bisa kembali menenangkan pikiran Aden" ucap kang ujang


Sean pun mulai melakukan apa yang di suruh kang ujang itu, hingga sampai beberapa kali Sean masih belum bisa menghindari Ranting itu


Lambat laun dia mulai merasakan kepekaanya mulai tajam, dan gambaran di kepalanya pun mulai terlihat sangat jelas, dan dia pun mulai bisa fokus dari serangan serangan ranting kang ujang yang terus di ayunkan ke tubuh Sean, dan perlahan tapi pasti dia akhirnya mampu menghindari serengan demi serangan kang ujang yang masih lambat


Dan semakin lama kang ujang semakin menambah kecepatan seranganya pada tubuh Sean, dan Sean pun mampu menghindari stiap ayunan dan hunusan ranting itu dengan mata tertutup


Dan kang ujang pun hampir kelelahan karena menyerang Sean "Sudah dulu latihan ini, Akang lelah, kepekaan batinmu memang luar biasa den, memang sangat tajam meskipun dengan waktu yang sesingkat ini" ucap kang ujang


"Iya kang" ucap Sean, dia pun masih bisa merasa kalau kang ujang akan berbuat sesuatu lagi, jadi dia belum melepas penutup matanya


Dan memang kang Ujang pun mulai mengambil kerikil kerikil kecil dari halaman dan duduk di pinggir teras rumah, sementara Sean masih berdiri di halaman dengan menghadap kang ujang, diapun mulai melempari Sean yang matanya masih tertutup itu dengan kerikil tampa aba aba


"Eiiiit, tidak kena kang" ucap Sean yang bisa menghindar dengan sedikit bercanda


Kang ujang pun semakin cepat dan semakin banyak melempar kerikil itu, dan Sean pun mampu menghindari semua itu dengan gerakan cepat dan tidak ada satupun yang mengenainya


"Bagus, kempuan Aden memang tidak bisa di ragukan lagi, pantas saja akang kalah dari aden waktu itu, aden memang mempunyai banyak kelebihan, jika aden lebih fokus lagi, mungkin aden bisa saja menghindari tembakan peluru sekalipun" ucap kang ujang


"Benarkah? terima kasih kang untuk ilmu yang sudah akang ajarkan pada saya" ucap Sean


"Iya sama sama den, ilmu itu memang sudah seharusnya di amalkan, tapi apa aden sudah bisa menebak kelemahan akang dengan jelas den?" tanya kang Ujang


Sean pun merenung sejenak, "Maaf kang, sepertinya semua bagian tubuh akang mudah untuk di serang" ucap Sean

__ADS_1


"Ya begitu lah, akang memang orang polos sekarang, tidak punya kekuatan apa apa" ucap Kang Ujang


"Apa aku juga punya kelemahan saat menggunakan besi kursani kang?" tanya Sean


Kang ujang pun mengambil besi kursani yang di taruh Sean di teras yang di letakan dekat ponselnya, "Pakailah, akang akan mencoba menebaknya" ucap kang Ujang sambil melempar cincin itu ke arah Sean


Dan Sean pun langsung menangkap cicin itu, lebih tepatnya Sean bisa langsung memasukan cincin itu kejarinya dari lemparan kang ujang itu, namun hanya masuk di ujung jarinya saja, jadi Sean pun mendorongnya sampai benar benar masuk


Kang ujang pun menghampiri Sean dan mengitari tubuh Sean beberapa kali, kang ujang pun langsung memukul salah satu titik di punggung Sean yang menurutnya lemah, "Di sini" 'buk'


"Aww, iya kang, itu sakit" ucap Sean


"Kamu harus memastikan bagian ini tetap terlindung, jika nanti kamu menghadapi musuh yang banyak atau musuh yang kuat," ucap kang ujang


"Iya kang, o yah kang, apa musuh yang sama kebalnya akan punya kelemahan yang sama denganku?" tanya Sean


"Belum tentu,,, masing masing benda bertuah memiliki perbedaan dalam segi kemampuan dan kelemahannya sendiri, jadi tentunya tidak akan Sama dengan kelemahan aden sekarang" ucap kang Ujang


"Oh baiklah, aku paham" ucap Sean


Sean pun mulai melepas penutup matanya dan dia pun duduk di teras dan mengobrol lagi dengan kang ujang, membahas masalah kekuatan dari benda benda bertuah yang memiliki efek yang berbeda Beda, dia memang belum tau benda apa yang Goma miliki sekarang, karena selain batu kursani masih banyak lagi benda benda bertuah yang berkemampuan hampir sama


Setelah keduanya merasa matanya sudah berat, mereka pun kembali kedalam Rumah, Sean tidur di kursi Ruang tamu karena tidak ada kamar kosong lagi di rumah ini, karena adanya Sri yang tinggal di sini


Sean pun hanya tidur beberapa jam saja, dan dia segera bangun kembali setelah datang waktu subuh untuk pergi ke mesjid lagi bersama pak kadi



Pagi harinya semua sudah mulai menjalankan aktivitasnya masing masing, ibu dan ayahnya sudah bersiap untuk mengontrol perkebunan, Sri sudah mulai berberes, sementara Sean hanya bermain dengan adik adiknya di ruang tengah


"Bos, apa anda sibuk?" tanya Regan yang tiba tiba datang dari luar


"Tidak juga,, ada apa kamu pagi pagi kemari" tanya Sean


"Tidak ada apa apa bos, kalau anda tidak sibuk, apa anda bisa ikut saya ke rumah orang tuaku, dia bilang ingin sekali bertemu denganmu bos" ucap Regan


"Oh, baiklah, o yah bagaiman sekarang kondisi ibumu setelah di operasi?" tanya Sean


"Cukup baik bos, sekarang sudah hampir mendekati normal, ini karena bantuan biaya dari bos waktu itu, aku sangat berhutang budi pada bos" ucap Regan


"Jangan di bahas kalau soal itu, ya sudah kita pergi" ucap Sean

__ADS_1


"Aa,, Aya mau ikut" ucap Aya yang sedang main di depan Sean


"Aya mau ikut? boleh, tapi Aya jangan manja nanti ya" ucap Sean


"Iya, Aya tidak akan minta di gendong aa" ucap Aya


"Oh ya sudah, aa gendong kemobil saja ya" ucap Sean "Aca, isna, kalian bantu kakak Sri saja beres beres ya, jangan main ponsel terus, anak gadis juga harus bisa ngurus Rumah" ucap Sean


"Baik A, kami juga bisanya bantu kak Sri kok," ucap Aca


"Oh ya sudah, aa bawa Aya main keluar dulu ya" ucap Sean


"Iya a" ucap mereka serempak


Sean pun menggendong Aya ke luar untuk naik mobil bersama Regan, kebetulan desa Regan memang sdikit jauh, jadi mereka naik mobil kesana


Dan beberapa saat kemudian mereka pun sampai ke depan gang rumah Regan, mereka pun turun dari mobil dan bergegas ke rumah Regan dengan Sean yang menuntun Aya untuk jalan


Mereka pun tiba di depan rumah yang sangat sederhana itu,


"Ini Rumahmu?" tanya Sean


"Iya bos maaf, memang begini kondisinya, aku jadi merasa tidak enak sudah mengajak bos kemari" ucap Sean


"Aku yang harusnya tidak enak dengan ibumu, kamu kerja denganku, aku takut ibumu beranggapan aku ini bos pelit yang tidak memberimu gajih selama kerja, Kedepanya kamu harus memberikan hunian yang layak untuknya, masa iya tidak malu dengan ibumu, motormu sudah bagus karirmu juga sudah lumayan, apa perlu aku yang berikan rumah untuk ibumu" ucap Sean


"Ja jangan bos jangan, i iya bos nanti saya perbaiki rumahnya" ucap Regan merasa lebih tidak enak lagi


Merekapun Segera masuk kedalam Rumah, dan Regan pun memperkenalkan Sean kepada ibunya, ibunya pun langsung ingin mencium tangan Sean merasa sangat berhutang budi pada Sean yang sudah banyak membantu Regan dan mereaka juga


"Bu, bu, jangan seperti ini, harusnya aku yang mencium tangan ibu" ucap Sean menahan tubuh ibunda Regan supaya tidak mencium tanganya


"Tidak pak, itu tidak pantas, ibu sudah banyak merepotkan bapak, Ibu berterimakasih sekali karena bapak sudah mempercayai anak ibu untuk kerja dengan bapak, ibu tidak tau harus mengucap berapa banyak terima kasih ke bapak" ucap ibunda Regan ini


"Bu, tidak usah terlalu sungkan, ini memang sudah rejekinya Regan, jadi ibu tidak perlu berlebihan seperti ini" ucap Sean


Sean bertamu di rumah Regan beberapa waktu, setelah hari beranjak siang, Sean pun pamit dan kembali bersama Aya dan Regan juga


Setibanya di depan rumah orang tua angkatnya Sean pun melihat banyak warga yang berkumpul di depan Rumahnya


"Ada apa ini bos? sepertinya mereka datang dengan tidak ada maksud berdamai bos" ucap Regan yang melihat mereka membawa pemukul di tangan mereka, mereka seperti orang yang sedang berdemo

__ADS_1


__ADS_2