
Merekapun mulai makan, tidak ada yang bicara lagi saat sedang makan, semuanya fokus pada makanan di depan mereka, tak butuh waktu lama mereka pun menghabiskan makanan mereka,
"Sean, ikut aku dulu kesana, aku ada yang perlu di bicarakan padamu," ucap Rania menunjuk meja kosong di pojok ruangan
"Oh, baiklah" ucap Sean, dia pun beranjak dari tempat duduknya mngikuti Rania yang sudah duluan kesana, si Ferdi juga ternyata ikut berdiri dan bergegas berbarengan dengan Sean
"Kamu ngapain kesini, aku hanya mengajak Sean, tidak mengajakmu" ucap Rania
"Kenapa aku tidak boleh? apa kamu punya rahasia dengan pacar iparmu ini?" ucap Ferdi
"Tidak ada urusan dengan mu, sana" ucap Rania mengusir Ferdi, Ferdi pun pergi dengan menggerutu ke kursi yang dia duduki sebelumnya
Sean pun duduk di sebrang Rania
"Ada apa bu manajer?" tanya Sean
"Tidak, aku hanya ingin sharing denganmu, aku dapat kiriman kalung ini di meja kerjaku tadi pagi, pengirimya hanya menulis inisial A saja di kartu ucapan nya, aku kira ini dari direktur Arman itu, menurutmu aku harus bagaimana, apa harus aku kembalikan?" ucap Rania menunjukan kalung emas putih dengan liontin permata biru yang masih di kotak perhiasan
"Menurutku mending di terima saja, bukan kah itu kalung yang kamu inginkan waktu di kota 'B' !!
apa dia hanya mengirimu ini?" tanya Sean yang tak melihat bunga yang dia sertakan tadi
"Tidak, dia tadi mengirimkan bunga juga, tapi aku sudah membuang nya, dan yang anehnya kenapa dia bisa tau aku mnginginkan kalung ini, Sean jangan jangan kamu....." ucapan Rania berhenti sambil menunjuk Sean
Sean panik dan senang, 'Iya ini aku itu memang dariku' hatinya bersorak
"Kamu kenal dengan direktur Arman kan? kamu memberi tau nya kalau aku menyukai kalung seperti ini!, Sean kenapa kamu lakukan ini padaku, kenapa kamu membantu dia, kenapa,? apa kamu di bayar olehnya?" ucap Rania dengan pelan, sebenarnya dia ingin berteriak mengatakanya, tapi pasti akan mengundang perhatian
__ADS_1
Sean yang tadi hatinya cerah, mendengar ucapan Rania ini seketika serasa hatinya langsung di rendung awan kelabu, sangat suram
"Apa yang kamu katakan ?, aku tidak melakukan hal seperti itu, baiklah aku..aku......"
Sean ingin mengaku kalau itu dia yang kirim, tapi di pikir lagi dia membeli itu mengunakan uang dari ibunya, dan Rania tidak suka pada pria yang mengandalkan harta orang tua, 'Haduh, kenapa aku tidak berpikir 2 kali mengirim itu ke Rania, jadi seperti ini kan'
Rania menganggap diamnya Sean itu jawaban dari kata 'iya',
"Aku kecewa padamu, ku kira kamu mengerti aku, sekarang anta aku padanya, aku akan mengembalikan kalung ini padanya " Rania pun beranjak dari kursi dan menarik tangan Sean untuk pergi
Sean menahan tanganya yang di tarik Rania "Ran, ini tidak seperti yang kamu pikir, untuk apa aku melakukan hal itu, aku tidak seegois itu menerima uang untuk menjual kepercayaanmu, apa kamu percaya aku bisa melakukan hal seperti itu?" tanya Sean dengan suara pelan yang hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya
Rania merenung sejenak
"Tidak, aku memang tidak percaya kamu melakukan ini, tapi kamu harus mebuktikan perkataanmu itu, jadi kamu tetap harus mengantarku bertemu pak Arman, agar aku juga punya alasan untuk menolaknya, apa kamu mengerti?"
"Baiklah, aku temani kamu" ucap Sean pasrah, adapun bagai mana menghadapi Rania nanti Sean akan pikirkan lagi nanti, merekapun bergegas keluar dari kantin dengan tangan Sean tetap di tarik Rania
"Ran, Rania tunggu aku, mengapa tidak mengajaku?" ucap Ferdi dan menghabiskan minumanya
"Ada hubungan apa kakak iparmu dengan pria gembel pacarmu itu?" tanya Ferdi ke Seli, Seli tidak menjawab mereka berdua pun beranjak mengikuti Sean dan Rania
Mereka berempat pun berjalan beriringan dengan tangan Rania tetap menarik tangan Sean dan dia sepertinya tidak ada niat melepaskanya, padahal Sean juga tidak mmungkin kabur, setelah hampir sampai ke area dekat lift, Rania kebetulan melihat Direktur Kartina yang berjalan dari arah lobi menuju ke lift pribadinya, Rania pun memaggilnya
"Bu direktur tunggu" Rania pun bergegas menghampirinya dan Kartina pun berbalik "kebetulan bisa bertemu ibu di sini, ada yang saya ingin obrolkan sebentar ke ibu, apa bisa mengganggu waktunya sebentar?" ucap Rania sopan
"Ya, ada apa," ucap Kartina, dia menatap heran ke Rania dan Sean yang baru di lepaskan tanganya oleh Rania
__ADS_1
Rania pun melirik ke arah Seli dan Ferdi, memberi isarat agar mereka pergi duluan, merekapun terpaksa pergi dan masuk lift, jika tidak ada direktur Kartina Ferdi mungkin akan menolak untuk mningalkan mereka berdua, jujur Ferdi tidak senang melihat kedekatan mereka berdua
"Bu direktur, saya mau minta maaf soal kemarin malam yang mebatalkan undangn dari ibu, sebenarnya saya tidak ada minat untuk mengenal pak Arman, saya mohon maaf yang sebesar besarnya, sejujurnya saya sudah mempunyai pacar bu, mohon anda dapat memakluminya" ucap Rania menarik tangan Sean untuk berdiri sejajar denganya
"Dia Sean bu pacar saya, dan untuk hadiah yang tadi pak Arman berikan kesaya saya mau mengembalikanya ke ibu saja, ini bu" Rania mengulurkan paper bag brown itu ke depan Kartina
Kartina bingung, dia tidak mengerti dengan ucapan Rania yang seperti berputar, 'sebentar mengatakan tidak minat, sebentar mengatakan dia pacarnya dan dia ingin mengembalikan hadiah, kenapa tidak langsung ke orangnya di sebelah, juga siapa Sean?' itu yang di pikirkan Kartina
Kartina pun memandang ke arah Sean dengan bingung, dia berpikir apakah putranya ini sedang mempermainkan Rania?, dia pun merasa tidak ingin ikut campur sekarang, nanti saja dia tegur anaknya saat tidak ada orang
"Rania, itu barang putraku, jadi alangkah baiknya kamu memberikanya langsung padanya" ucap Kartina
"Oh, iya maaf bu, kalau boleh saya tau, di mana pak Arman sekarang? saya ingin bertemu untuk bahas masalah ini dengan beliau" ucap Rania yang selalu sopan di depan Kartina
Kartina memandang ke arah Sean, Sean merespon dengan hanya mengedip ngedipkan matanya ke ibunya itu, Kartina tidak tau apa maksud anaknya ini, jadi dia memutuskan tidak mngatakan apapun
"Kebetulan saya juga sedang mencarinya, tadi saya keluar sendiri, di ruanganya juga tidak ada, mungkin dia berada di sekitaran sini" ucap Kartina sambil melotot sebentar ke arah Sean
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan lagi?" tanya Kartina
"Tidak bu, tidak ada, mohon maaf sudah mengganggu waktunya, dan mohon maaf sekali lagi" Rania pun mengangguk,
"Baiklah tidak papa, kalau begitu saya pergi" ucap Kartina, dia pun berbalik dan masuk kedalam lift
Rania akhirnya menghela napas lega dan mengelus dadanya "Huh,, itu tadi sangat menegangkan, bagai mana menurutmu? apa perkataanku tadi cukup meyakinkan?"
...~°~...
__ADS_1