Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo

Takdir Dan Cinta Waiters So Ceo
Memintamu


__ADS_3

Sean pun segera merapihkan bajunya lagi, "Len, aku langsung pulang saja ya, aku belum lihat Rania, dia juga sama nyaris di culik" ucap Sean


"O yah?, padahal Lena masih pengen ngobrol kak,,, tapi ya sudahlah" ucap Lena


"Iya maaf, kapan kapan saja ya, aku juga kan harus adil" ucap Sean


"Adil? apa maksud kakak? apa kak Sean anggap Lena ini Istri ke 2?, pake harus adil segala" ucap Lena bercanda


Sean pun menyadari kalau ada yang salah pada kata katanya "Ya maksudnya, kalian kan sama sama di culik, jadi, jadi, kak Sean harus menjenguk kalian ber 2, gitu" ucap Sean sedikit gelagapan


"Oh, ya sudah pergi sana ke istri pertamamu" ucap Lena bercanda sambil pura pura ngambek


Sean pun tersenyum canggung, dia sedikit membayangkan kalau itu benar benar terjadi di hidupnya, pasti dia akan sangat kerepotan mengatur skedul nya


Sean pun segera pamit dari tempat Lena, dan segera bergegas ke tempat Rania untuk menjenguk nya, karena Rania juga sudah pulang dari klinik, dan dia sudah ada di rumahnya sekarang


Sean pun memastikan kalau Rania baik baik saja, dia yakin tidak ada pikiran yang menganggunya, karena dia juga masih bersikap seperti biasanya, dan setelah mengobrol tentang penculikan yang menimpa pada mereka bertiga, Sean pun juga pamit pulang untuk melihat ibunya


Hari itu pun terasa sangat panjang untuk Sean karena dia harus mengurus urusan yang tidak biasanya dia urus



Keesokan paginya Sean terbangun di kamar mewahnya lagi, namun Setelah Solat dia tidak melakukan aktivitas latihan seperti biasanya, dia merasa kalau tubuhnya sedikit tidak nyaman, mungkin karena efek dari pertempuran kemarin, dia juga lupa untuk meminum ramuan Agam


Jadi diapun membaringkan tubuhnya lagi di kasur empuknya, dan tidak berniat melakukan aktivitas apapun hari ini


Dan setelah hari mulai terang barulah Sean turun untuk sarapan, kemudian Sean pergi ke Area belakang untuk sekedar tiduran di kursi santai rotan di pinggir kolam


Setelah beberapa waktu rebahan di sana, phonselnya pun tiba tiba berbunyi, Sean pun segera mengangkatnya dengan malas, "Ada apa?" jawab Sean yang tidak melihat dulu nomor si penelponya


"Maaf master, saya sudah mengganggu waktu anda sekarang, Saya ingin bertemu dengan Anda untuk membicarakan suatu hal, apa anda punya waktu luang?" tanya seorang wanita dari sebrang Telphon tampa basa basi


Sean tidak mengenali suaranya, jadi dia pun melihat nomor si penelepon itu, namun dia juga tidak mengenalinya, "Meneleponku sepagi ini dan tampa memperkenalkan diri, itu sangat tidak sopan" ucap Sean


"Oh iya maaf, maaf, saya Aruna, Saya mewakili nona Tiara menelpon Anda," ucap Aruna merasa dia salah membuka pembicaraan, karena memang itu bukan bidangnya


"Ingin bertemu di mana?" tanya Sean


"Sebentar" ucap Aruna,


telpon pun hening sejenak, dan "Di restoran yang waktu itu kita bertemu, apa bisa?" ucap yang di sebrang telpon berganti jadi suara Tiara

__ADS_1


"Ada masalah apa? kalau tidak terlalu penting aku tidak bisa, aku sibuk" ucap Sean beralasan


"Ini sangat penting, jadi aku mohon kamu bisa datang" ucap Tiara


Sean pun merenung sejenak, Sean sedikit penasaran 'apa yang akan di lakukan gadis itu?, mengepungku?, itu rencana bodoh, meracuniku?, aku tidak Akan terkecoh' pikir Sean


"Baiklah aku datang" ucap Sean


"Sungguh?, terima kasih kalau gitu, aku tunggu jam 8" ucap Tiara


Sean pun segera mematikan ponselnya, dan diapun melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 7, jadi dia pun bersantai lagi sjenak


Dan setelah beberapa waktu Sean pun mengajak Agam untuk pergi ke restoran itu


Tidak butuh waktu lama, Sean pun akhirnya sudah tiba di restoran tempat bertemu Tiara waktu itu, dan diapun segera masuk ke dalam


Sean pun melihat Tiara dan Aruna duduk di kursii di depan meja bundar yang sama seperti pada waktu itu, dan entah kenapa Tiara memilih tempat itu lagi yang pernah dia duduki waktu makan dengan Sean sebelum nya


"Sudah datang ya, silahkan duduk" ucap Tiara


Sean pun segera duduk di sebrang kursi Tiara di depan meja bundar yang cukup besar itu bersama Agam


"Terimakasih sudah mau datang kemari, aku senang kamu bisa datang" ucap Tiara


"Oh baiklah, Aku meminta mu untuk datang kesini karena aku ingin membicarakan tentang kepemimpinan Redbear sekarang........"


"Apa hubungannya Dengan ku?" ucap Sean memotong


"Aku rasa hanya kamu yang pantas memimpin Redbear, karena kamu yang sudah mengalahkan ayahku" ucap Tiara


"Aku sama sekali tidak tertarik" ucap Sean


"Tapi tidak ada yang lebih pantas lagi kecuali kamu" ucap Tiara


"Aku tidak peduli,,, kenapa tidak kamu saja yang memimpin?" ucap Sean


"Boleh kah kita mengobrol empat mata saja?" tanya Tiara


"Tidak perlu" ucap Sean


"Aku mohon" ucap Tiara sambil merapatkan tangannya di depan dengan matanya yang berkaca-kaca

__ADS_1


Sean memang selalu tidak tega jika melihat wanita yang hampir menangis "Baiklah, Agam, kau pindah ke meja lain" ucap Sean


"Baiklah" ucap Agam yang langsung pindah


Sean pun melihat Aruna juga pindah dan duduk di meja yang sama dengan Agam, entah kenapa, padahal mereka sempat bertarung sebelumnya


"Bicara lah" ucap Sean


Tiara pun langsung menitikkan air matanya "Aku hidup dan di besarkan di organisasi ini, aku tidak tahu harus kemana jika aku tidak di sini, saudara-saudara tiriku cukup banyak dan banyak juga yang lebih kuat dariku, dan mereka sangat tidak menyukaiku karena sebelumnya aku adalah anak kesayangan ayah, intinya aku tidak punya cukup dukungan untuk memimpin, mungkin jika aku tidak dapat dukungan darimu, mereka akan menjadikanku pembantu atau bahkan lebih rendah dari itu di Redbear" ucap Tiara


"Jadi kamu mau menjadikan ku alat politikmu?, hmm, tapi sayang, aku tidak berminat untuk jadi seorang pemimpin mafia" ucap Sean


"Aku tau kamu orang baik, tapi apakah kamu benar-benar menutup pintu pedulimu untuk aku yang hanya seorang anak penjahat?" ucap Tiara


Sean pun melemah dengan ucapan Tiara itu, pertama karena air matanya, kedua memang benar kalau dia hanya anak penjahat, bukan penjahat yang sebenarnya, "Baik, baik aku akan menolong mu, tapi aku tidak mau organisasi mu bergerak di bidang bisnis gelap, atau melindungi orang yang ada dalam bisnis terlarang, apa bisa?" tanya Sean


"Tentu, itu sudah aku pikirkan" ucap Tiara yang mulai terlihat ada senyum di bibirnya


"Jujur, aku tidak paham dengan bisnis yang ayahmu jalankan itu, mungkin setelah aku ambil alih organisasimu, aku langsung serahkan kepadamu, apa seperti itu rencana mu?" ucap Sean menebak nebak


"Ya, seperti itu kurang lebih, tapi kalau hanya begitu saja posisiku tetap tidak akan aman, dan akan sangat mudah untuk mereka menurunkan paksa aku, Sekarang saja aku sudah mulai mendengar omongan-omongan panas dari mereka" ucap Tiara


Sean pun menghela nafas nya, "Terus apa rencanamu?" tanya Sean


"Aku mau meminjam setatusmu" ucap Tiara


"Maksudmu?" ucap Sean tidak mengerti


"Jadikan aku istrimu di depan mereka" ucap Tiara


Sean cukup kaget mendengar nya "Tidak, tidak, itu bukan Rencana bagus, untuk masalah mengambil alih, oke aku bisa lakukan, tapi untuk yang satu itu aku tidak bisa, maaf" ucap Sean


"Kamu tidak perlu melakukan tugasmu sebagai suami, aku hanya butuh Setatus saja" ucapTiara


"Kurasa obrolan kita tidak bisa di lanjutkan lagi, aku sebentar lagi menikah dengan Rania, dan aku tidak mau semuanya kacau hanya karena rencanamu" ucap Sean


"Aku bisa menjamin kalau ini rahasia, Rania tidak akan tau" ucap Tiara


"Jadi maksudmu aku harus berbohong pada nya?, tidak bisa, maaf sepertinya obrolan kita cukup sampai di sini saja, aku tidak bisa membantu mu, aku pergi sekarang" ucap Sean mulai beranjak dari kursi


"Jika aku memintamu langsung pada Rania, dan jika Rania mengijinkannya, apa Kamu mau membantuku" ucap Tiara kekeh

__ADS_1


"Coba saja, jika dia mengijinkannya, aku akan membantumu" ucap Sean


Sean sangat yakin 100% kalau Rania tidak akan menyetujuinya untuk alasan apapun, Tiara dan Rania juga belum akrab seperti pada masanya, jadi Sean mengira Tiara tidak akan benar benar menemuai Rania, dan Sean pikir itu juga hanya 'jika'


__ADS_2