
"selamat datang dirumah barumu, sayang..."
suara itu menggema. Mambuat Saras beserta adik dan ibunya pun menghentikan langkah kaki mereka.
Seorang pria dewasa nampak duduk di sebuah sofa single ruang tamu luas rumah megah itu dengan mode angkuhnya. Satu kaki berada di atas kaki yang lain, dengan sebuah gelas kecil berisi alkohol nampak berada di tangannya.
Saras beserta ibu dan adiknya pun menoleh kearah sumber suara.
"selamat datang di istana baru kalian, calon besan dan menantuku..." ucap Malvino begitu angkuh dan terkesan mengerikan.
Saras terdiam. Sedangkan Ratih kini nampak menatap kearah pria berpenampilan gahar itu. Seolah mengamati pria itu dari atas sampai bawah dengan sorot mata menilai.
Ini kah calon besannya?
"duduklah, sayang. Aku sudah lama menunggumu..." ucap pria itu.
Saras diam sejenak. Pikirannya makin kacau membayangkan nasibnya setelah ini.
Wanita itu nampak menarik nafas panjang kemudian menurut. Duduk disalah satu sofa empuk di sana bersama Ratih dan Adit.
Malvino mengubah posisi tubuhnya. Diturunkannya kaki itu. Diletakkannya gelas kecil itu di atas meja. Lalu kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang pastinya berharga fantastis tersebut.
Mata tajam itu menatap kearah Saras. Gadis itu nampak lebih tertutup jika tidak bekerja. Rambut bergelombang nya nampak tergerai. Sweater abu abu serta celana jeans hitam nampak membungkus tubuh rampingnya. Ditambah dengan sebuah kacamata berlensa bening serta sepatu kets putih nampak melekat sempurna di tubuh ramping dengan tinggi rata rata itu.
Malvino mengangkat dagunya.
"bagaimana, perjalanan mu kemari? menyenangkan?" tanya Malvino
Baik Saras, Ratih, maupun Adit tak ada yang menjawab. Semua diam seribu bahasa.
Adit yang semula nampak terkagum kagum sepanjang perjalanan pun kini nampak diam. Rumah ini megah. Namun orang orang disini terlihat cukup mengerikan.
Supir yang tadi menjemputnya, walaupun tampan namun terlihat sangat misterius. Diluar rumah, ada beberapa pria berpenampilan serba hitam lengkap dengan kacamata hitam yang berjaga. Sedangkan kini, dihadapan mereka. Si bos besar nampak lebih mengerikan dibanding yang lainnya. Penampilan nya tenang, namun terlihat sangat dingin dan mengerikan. Membuat jantung Adit kini terasa berdebar lebih kencang.
" bagaimana, sayang, apa kau suka? ini adalah rumah baru yang ku janjikan padamu
.!" ucap Malvino.
Saras diam. Ia nampak berfikir.
"kenapa kau begitu suka mengabaikan ucapan ku? apa kau ingin melihat kemarahan ku?" tanya pria itu lagi membuat Saras pun mencoba memperbaiki sikapnya.
"maaf..." ucap Saras sembari memperbaiki posisi duduknya yang sebenarnya sudah benar.
Malvino masih menatap angkuh wanita itu. Ia kemudian menggerakkan bola matanya, mengubah arah pandangnya, menatap wanita paruh baya dengan tampilan yang bisa dibilang kampungan yang sejak tadi duduk di samping Saras.
Tangan itu tergerak. Menunjuk angkuh kearah Ratih.
__ADS_1
"ibumu?" tanya Malvino.
Saras menoleh. Lalu mengangguk.
"iya..! mereka ibu dan adik saya..!" ucap Saras.
Malvino mengangguk samar. Ia lantas memiringkan kepalanya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman manis namun terasa sedikit mengerikan.
"selamat siang, nyonya............" tanya Malvino menggantung, seolah meminta Ratih untuk menyebutkan namanya.
"Ratih.." jawab wanita yang sudah dua kali menikah itu.
"oh, nyonya Ratih. Selamat siang. Perkenalkan, nama saya Malvino. Saya adalah orang yang sebentar lagi akan menjadi mertua dari putri anda yang cantik ini" ucap laki-laki itu sembari melirik Saras di akhir kalimatnya.
"mungkin putri anda sudah pernah mengatakan pada anda tentang niatan saya untuk menjodohkannya dengan putra semata wayang saya.." ucap Malvino.
Ratih menoleh ke arah sang putri dengan mimik wajah yang sedikit terkejut.
"Ya, seperti yang anda lihat. Kami sudah membuat sebuah perjanjian. Saras sudah setuju menikah dengan Dion, anak saya. Sebagai imbalan atas ketersediaannya menjadi menantu saya, maka saya menghadiahkan sebuah rumah, uang, serta dua buah mobil untuk putri cantik anda." ucap Malvino.
Adit dan Ratih melotot dengan mata yang terbuka.
Saras belum bercerita tentang hal ini..!
"Sepertinya anda terkejut..! apakah putri anda belum memberitahu pada anda perihal masalah ini?" tanya Malvino.
Ratih menggelengkan kepalanya samar. Ia menatap penuh tanya ke arah sang putri.
Ratih menggelengkan kepalanya samar.
"Saras..." ucap Ratih samar samar. Saras menunduk, ia tak menjawab.
Malvino mengangkat satu sudut bibirnya.
"sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara. Aku terlalu banyak membuang waktu ku untuk kalian." ucap Malvino.
Ia kemudian bangkit dari posisi duduknya sambil merapikan jas mahalnya.
"Saras harus ikut denganku untuk menemui putraku. Dan kalian, tetaplah tinggal disini. Semua kebutuhan kalian sudah tersedia di rumah ini" ucap Malvino menatap ke arah Ratih.
Pria itu kemudian menoleh ke arah gadis cantik berkacamata calon menantunya itu.
"Saras, ikut aku...!" ucap Malvino dingin dan angkuh.
Saras hanya mengangguk. Dia kemudian bangkit, menoleh sebentar pada sang ibu kemudian bergegas mengikuti langkah calon mertuanya itu menuju mobil mewah milik Malvino untuk pergi menemui Dionyz, calon suaminya.
Mobil mewah itu melesat memecah padatnya jalan raya ibukota yang kini mulai terlihat ramai tersebut. Diatas kursi kemudi, Jason nampak memegang kendali, melajukan kendaraan roda empat berharga fantastis itu dengan cukup tenang.
Sedangkan di kursi belakang, ada Malvino dan Saras yang nampak duduk berdampingan. Wanita itu sejak tadi nampak mengarahkan pandangannya keluar jendela. Menatap padatnya jalan raya dengan berbagai pemikiran yang berkecamuk di otaknya.
Tak ada perbincangan sama sekali. Malvino sejak tadi juga hanya diam. Menatap lurus kedepan, tanpa melakukan aktifitas berarti. Bahkan bergerak pun sepertinya tidak.
__ADS_1
Tak berselang lama, kendaraan berbahan bakar bensin itu nampak memasuki sebuah rumah megah bak istana. Pagar besi menjulang tinggi. Halamanya luas, bahkan jalan yang dilalui mobil dari gerbang hingga menuju ke halaman pun bisa dibilang melelahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Sebuah kolam dengan air mancur di tengah halaman, serta beberapa patung patung cantik nampak terpampang nyata menambah nilai kemegahan pada hunian kelas atas itu. Saras dibuat cukup takjub olehnya. Rumah itu jauh lebih luas dan lebih megah dari kediamannya yang baru. Betapa kaya rayanya calon suaminya itu.
Mobil berhenti. Tepat di depan pintu rumah megah dengan dengan dominasi warna putih itu.
Jason turun dari kursi kemudi nya. Menuju pintu belakang mobil itu dan membukakan pintu untuk sang bos besar.
Saras turun. Ia berjalan mendekati Malvino dengan pandangan mata yang terus beredar mengamati area halaman yang bahkan jauh lebih luas dari lapangan futsal pemukiman tempat tinggalnya dulu.
"dengar baik-baik, Saras. Jika kau bertemu dengan Dion, maka kau tidak perlu mengubah dirimu menjadi orang lain. Cukuplah menjadi kau yang apa adanya. Karena putraku tidak suka dengan sesuatu yang dibuat-buat..!" ucap Malvino.
Saras mengangguk.
Pria berpenampilan rapi itu lantas kembali mengayunkan kakinya. Saras mengikutinya dari belakang. Dua orang pria berbadan tegap dengan seragam serba hitam itu nampak berdiri di depan pintu. Satu diantara mereka nampak menggerakkan tangannya, membukakan pintu untuk sang bos besar lalu membungkuk kan badan mereka kala Malvino berjalan melewatinya.
Saras hanya celingukan melihat tingkah polah para manusia itu. Sudah seperti raja saja...! pikir Saras.
Malvino sampai di ruang tamu. Ia duduk di salah satu sofa panjang disana, di ikuti Saras yang juga melakukan hal yang sama. Seorang pelayan wanita lantas mendekat, memberi hormat pada pria yang entah apa pekerjaan nya itu.
"selamat siang, tuan..." ucap si pelayan.
Malvino menatap angkuh wanita itu.
"panggilkan Dion..!" titahnya.
"segera, tuan..." jawab pelayan itu yang kemudian mundur, menjauh dari pandangan Malvino dan bergegas menaiki tangga untuk memanggil pria bernama Dionyz itu.
Saras nampak merem*s remas jari jari tangannya. Wanita yang memang sudah gugup itu kini nampak makin gugup.
Tak...tak....tak....
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Membuat Saras pun menoleh ke arah tangga berpagar besi berwarna emas itu.
.
.
.
"pa...." ucap seorang pria tampan berkacamata, bertubuh atletis namun berparas manis disana.
"Dion..." ucap Malvino.
...----------------...
Selamat pagi
up 05:00
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰