Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
139


__ADS_3

Malvino, Xena, Saras, dan Dion nampak duduk di dua sofa yang berbeda dengan sebuah meja rendah di tengah tengah mereka. Kini empat orang manusia yang merupakan satu keluarga itu nampak saling diam. Dion dan Saras menatap penuh selidik ke arah Xena dan Malvino, Xena sejak tadi hanya menunduk, sedangkan Malvino kini nampak tenang dan terkesan angkuh, khas seorang Malvino sang ketua gangster.


Dion mengangkat dagunya.


"Sebenarnya apa yang ingin Papa katakan? Dan kenapa Papa mengajak dia datang ke rumah kita? Bukannya dia ini pacarnya si kepar*t itu?" tanya Dion yang disambut dengan gerakan siku yang ringan dari Saras. Mengenai lengan pria berkulit putih itu.


"Dion! Jangan gitu ngomongnya!" ucap Saras sembari melirik ke arah Xena. Ia tahu betul, dari gerak geriknya, wanita itu sepertinya sudah tidak nyaman sejak pertama kali masuk ke dalam rumah itu.


Malvino menghela nafas panjang.


"Dion," ucap pria itu kemudian. "Ada sesuatu yang ingin Papa sampaikan padamu."


Dion dan Saras diam mendengarkan.


"Ini mengenai Xena, gadis yang hari ini Papa bawa ke rumah kita," lanjut Malvino.


Dion menoleh ke arah gadis berkerudung itu tanpa bicara. Tatapan matanya datar. Sebelas dua belas dengan tatapan mata Malvino yang dingin dan terkesan angkuh. Laki laki itu memang banyak mewarisi watak Malvino.


Malvino kembali menghela nafas panjang. Laki laki itu mulai membuka suara. Ia mulai menceritakan semua tentang Xena. Tentang masa lalunya dan Maya alias Rihanna yang memang sudah di ketahui oleh Dion dan Saras serta memperkenalkan Xena sebagai anak kandung dari Malvino sekaligus kakak se ayah dari Dion.


Tentu, hal itu membuat Dion dan Saras terkejut. Bagaimana tidak? Bukankah selama ini semua sudah tahu bahwa anak perempuan dari Maya sudah meninggal? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba Malvino mengatakan bahwa Xena adalah anaknya? Bagaimana bisa.

__ADS_1


Malvino menatap datar ke arah Dion dan Saras.


"Bagaimana Papa bisa yakin jika dia adalah anak Papa? Papa tahu darimana? Bukannya dulu perempuan itu bilang kalau anaknya udah mati?" tanya Dion yang seolah masih kurang bisa percaya akan apa yang ayahnya katakan.


Malvino diam sejenak. Sedangkan Xena nampak meremas jari jari tangannya.


"Dia memiliki sebuah cincin. Cincin itu adalah cincin yang pernah Papa berikan pada Rihanna dulu," ucap Malvino.


Dion diam. Ia nampak menggelengkan kepalanya samar. "Itu bukan bukti yang kuat, Pa!" ucapnya kemudian.


"Papa tahu!" jawab Malvino santai. Laki laki itu kemudian merogoh saku jas nya. Mengeluarkan secarik kertas dari dalam sana dan meletakkannya di atas meja.


Xena diam dengan mulut sedikit terbuka. Tangan ramping itu nampak menyentuh hijab yang menutupi rambutnya. Entah kapan Malvino berhasil mengambil sehelai rambut Xena. Sedangkan kepala itu selalu tertutup rapat oleh balutan hijab. Hebat sekali pria itu. Bisa mengambil satu helai rambutnya tanpa disadari pemiliknya.


Dion meraih kertas itu. Membukanya lalu membacanya bersama Saras. Keduanya nampak terkejut membaca hasil dari tes yang Malvino lakukan diam diam itu.


"Papa sengaja mengajak Xena datang kemari. Papa ingin memperkenalkannya padamu. Papa harap kamu bisa menerima keberadaan dia di sini. Karena Papa juga berharap, dia bersedia tinggal bersama kita mulai hari ini!" ucap Malvino sembari menoleh ke arah Xena.


Gadis itu lagi lagi hanya diam. Niatnya datang kemari awalnya hanya untuk memenuhi keinginan Malvino yang katanya ingin memperkenalkannya dengan Dion. Sedangkan Xena sendiri sudah berniat untuk segera pulang ke panti setelah acara perkenalan selesai. Ia tidak ada niat untuk tinggal di rumah mewah ini. Ia berfikir, mungkin akan lebih nyaman jika ia tinggal di panti asuhan tempatnya dibesarkan daripada tinggal di rumah orang orang yang belum terlalu ia kenal itu.


Dio hanya diam. Menatap datar terkesan angkuh tanpa suara ke arah Xena yang seolah tak mampu berkata kata sejak tadi.

__ADS_1


Saras diam. Ia nampak tersenyum samar menatap ke arah wanita berhijab itu. Kemudian,


"Kak Xena pasti mau kok tinggal di sini. Iya kan, Kak?" tanya wanita yang kini tengah hamil besar itu tiba tiba. Membuat Dion, Malvino, serta Xena pun reflek menoleh ke arah wanita itu.


Saras menoleh ke arah sang suami. "Aku seneng tauk kalau aku ada temen ceweknya! Bisa diajakin ghibah! Aku kan nggak punya temen cewek selama ini!" ucap Saras lagi.


Malvino mengangkat dagunya. Laki laki itu nampak mengangkat satu sudut bibirnya mendengar ucapan menantu cantiknya itu.


"Di lantai atas kan masih banyak kamar kosong. Kak Xena bisa tidur di sana. Biar dekat sama kita. Jadi kalau aku mau ghibah gampang, tinggal masuk kamar Kak Xena. Iya kan, Kak?" tanya Saras kepada Xena dengan wajah sumringah. Wanita berhijab itu hanya tersenyum samar. Ia benar benar canggung.


Wanita hamil itu kemudian bangkit dari posisi duduknya. Mendekati sang Kakak baru dan membimbingnya untuk bangkit.


"Dion, aku anterin kakak baru kita ke kamar dulu, ya. Kamu ngobrol dulu aja berdua sama Papa," ucap wanita itu yang tak dijawab oleh Dion. Saras bahkan tak meminta persetujuan Dion perihal keberadaan Xena, apakah Dion setuju atau tidak. Saras seolah mengambil keputusan sendiri. Ia yakin, Dion pasti akan menurut padanya!


"Kak, kita ke kamar kakak, yuk!" ajak Saras.


"Tapi....." ucap Xena yang kemudian langsung dipotong oleh Saras.


"Udah! Sama aku aja. Adek sama Papa kamu mau ngobrol dulu. Udah yuk, kita ke kamar! Kita ngobrol ngobrol di kamar!" ucap Saras yang kemudian menarik Xena pergi dari tempat itu. Meninggalkan Dion kini hanya bisa menghela nafas panjang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2