
Mobil itu melesat ugal ugalan dengan Dion sebagai pengemudinya. Mobil itu melesat tak tentu arah. Sang pengemudi nampak seperti orang yang kesetanan. Sorot matanya tajam menatap lurus ke depan. Dadanya bergemuruh. Emosinya membuncah. Ia seperti seorang manusia yang tengah dirasuki iblis. Sebuah luka bekas sabetan benda tajam yang menggores lengan kanannya tak ia rasakan. Fokus pikirannya kini tertuju pada sang istri yang mendadak hilang entah ke mana. Ia dan sang bodyguard yang baru saja di jegat oleh empat orang pria asing itu kehilangan jejak Saras. Entah kemana perginya wanita itu, tak ada yang tahu.
"Baik, Tuan! Saya dan dan Tuan Muda akan menyusul!" ucap sang bodyguard yang kini duduk di samping kursi kemudi itu. Ia kemudian mematikan sambungan teleponnya dengan Malvino. Ya, iya baru saja mengabarkan tentang apa yang ia dan Dion alami pada sang ketua gangster. Laki-laki itu kemudian meminta sang bodyguard untuk mengajak Dion menuju ke suatu tempat. Sebuah rumah yang disinyalir menjadi lokasi tempat di mana Saras berada saat ini.
Sang bodyguard menoleh ke arah Dion. "Tuan, Tuan Malvino meminta kita untuk pergi ke jalan X. Tuan Malvino dan beberapa anak buah sudah berada di sana untuk mengintai pergerakan orang orang disana. Sebaiknya kita segera ke sana. Tuan ikuti arahan saya. Kita putar balik!"
Ciiiiiiiiiiiiitttttttt.....
Dion membanting setir. Tanpa aba-aba, tanpa berucap, dan tanpa menjawab ucapan dari sang bodyguard, ia melajukan mobil itu berbalik arah dengan kecepatan tinggi. Ia pun mengikuti arahan sang bodyguard untuk menuju sebuah alamat yang sudah Malvino kirimkan pada sang bodyguard.
Sementara di tempat lain, Xena yang baru saja mendapatkan pukulan dari beberapa orang asing yang membawa Gio pergi itu nampak menuntun skuter maticnya menuju jalan raya. Wanita berhijab itu nampak meringis, merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Entah bagaimana nasib.Gio sekarang. Ke mana para pria-pria itu membawa laki-laki yang baru keluar dari rumah sakit itu, ia tak tahu. Kini ia berniat untuk menuju ke kantor polisi. Ia masih ingat betul plat nomor mobil jeep yang membawa Gio. Ia harus secepatnya meminta pertolongan pihak berwajib, agar bisa menyelamatkan Gio dengan segera. Ia takut terjadi sesuatu pada pria gondrong yang malang itu.
Xena sampai di tepi jalan besar itu. Ia berusaha untuk menghidupkan lagi mesin motornya yang mati. Namun sepertinya ia kesulitan. Xena berkali kali nampak bermonolog dengan Tuhan. Seolah meminta Sang Pencipta untuk mempermudah jalannya menghidupkan mesin motor itu. Agar ia segera bisa pergi ke kantor polisi untuk meminta bantuan menyelamatkan Gio yang entah bagaimana nasibnya kini. Hingga tiba tiba....
Tin ... tin ....
Xena menoleh ke arah sumber suara. Sebuah motor besar yang dikendarai oleh seorang pria berhelm hitam nampak berhenti di sampingnya. Laki-laki itu membuka kaca helmnya. Menatap ke arah Xena yang nampak meringis dengan jaket putih yang kotor di beberapa bagian.
__ADS_1
"Kamu?" ucap Xena pada pria itu, Arkana.
"Lu kenapa? Lu cewek yang tadi pulang bareng Gio, kan? Gua nggak sengaja lihat tadi di parkiran. Gio mana?" tanya Arkana yang menaruh curiga ketika melihat Xena yang terlihat kesulitan menuntun motornya dengan jaket yang nampak kotor itu.
Xena nampak mengangkat dagunya dengan mulut yang terbuka. Sepertinya ia bisa meminta bantuan pada teman Gio ini.
"Kamu temennya Gio, kan? Tolongin Gio! Mungkin Gio sekarang dalam bahaya!" ucap Xena yang nampak khawatir. Arkana menyipitkan matanya.
"Ada orang mencegat kami dalam perjalanan pulang. Mereka mukulin Gio dan bawa Gio pergi sama mereka. Aku nggak tahu mereka bawa Gio ke mana. Mungkin kamu tahu!" ucap Xena.
"Ciri ciri yang bawa kayak gimana?!" tanya Arkana.
"Trus lo sekarang mau kemana?" tanya Arkana
"Sekarang Aku mau lapor polisi. Mungkin polisi bisa bantu" ucap Xena.
"Motor lo nggak nyala?" tanya Arkana.
__ADS_1
"Enggak!" jawab Xena.
"Ya udah, kalau gitu mending sekarang lo naik taksi aja, lu buru-buru ke kantor polisi. Lu minta bantuan polisi secepatnya. Motor lu mending taruh di sini aja, entar gua panggilin orang bengkel buat bawa motor lo. Gue akan coba nyari Gio lewat GPS. Entar kita saling ngabarin lewat telfon!" ucap Arkana. "Gue minta nomor HP lo, ya!" tambah Arkana lagi. Kedua anak manusia itu lantas bertukar nomor ponsel. Arkana kemudian menghentikan sebuah taksi untuk Xena. Wanita itu pun lantas masuk ke dalam kendaraan tersebut dan bergegas pergi menuju kantor polisi. Sedangkan Arkana kini mulai menghubungi orang bengkel langganannya untuk membawa motor Xena. Lalu kemudian mencoba melacak keberadaan Gio melalui GPS ponselnya yang terhubung dengan milik sahabatnya itu.
Ada apa lagi dengan pria itu. Kenapa seolah masalah tak henti menerpa laki-laki yang sebenarnya dianggap baik namun keras kepala tersebut. Ia tak bisa membiarkan Gio seorang diri berkutat dalam masalahnya. Ia sudah terlanjur dekat dan menyayangi Gio seperti saudaranya sendiri. Ia tak mungkin meninggalkan Gio dalam kondisi kesusahan seperti ini.
...----------------...
Selamat malam
up 20:07
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰