
Hari berganti...
Seorang pria paruh baya berjambang lebat nampak keluar dari dalam sebuah kamar mandi ruang ICU tempat sang putra terbaring lemah. Laki laki bertubuh tegap atletis itu nampak berjalan menuju sebuah sofa panjang di sana. Di mana sebuah paper bag berisi satu setel pakaian lengkap untuknya sudah tersedia.
Ya, sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di rumah sakit kemarin, hingga saat ini, Malvino belum sedetikpun meninggalkan ruang ICU itu. Laki laki tanpa istri itu seolah tak mau meninggalkan sang putra kebanggaan itu sendirian. Ia seolah ingin memastikan bahwa Dion tetap aman selama tidur panjangnya. Sedangkan di luar sana, seorang wanita istri sah Dion sejak kemarin sesekali mencoba mengintip ke dalam ruangan. Ia yang di izinkan masuk oleh mertuanya sendiri itu seolah ingin sekali melihat kondisi pria terbaring di atas ranjang pasien itu. Yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri.
Ceklek ..
Pintu ruang ICU terbuka saat Malvino selesai dangan aksi ganti bajunya. Seorang pria dewasa berpenampilan tak kalah sangar dengan beberapa tato di tubuhnya itu nampak masuk ke dalam ruangan tersebut dan berjalan mendekati ayah kandung Dionyz itu.
Ya, itu Jason. Orang kepercayaan Malvino..!
"Tuan..!" ucap Jason sambil membungkuk memberi hormat.
Malvino tak menjawab.
"Ini sudah siang, lebih baik anda mengisi perut dulu. Biar Tuan muda saya yang menjaga" ucap Jason.
Malvino menoleh ke arah Dion yang masih terlelap itu lalu membuang nafas kasar.
"Ini sudah lebih dari dua puluh empat jam. Kenapa Dion belum bangun?" tanya Malvino terdengar sedih.
Jason hanya menunduk. Tak bisa menjawab.
Malvino berjalan mendekati ranjang. Lalu duduk di sebuah kursi di sana. Ia menatap nanar ke arah sang putra sambil meraih punggung tangannya.
"Apa perempuan itu masih berada di luar?" tanya Malvino pada Jason.
"Masih, Tuan" jawab Jason.
Malvino diam lagi. Ia meremas tangan Dion sambil menatap nanar wajah penuh luka itu.
"Bangun, nak. Mau sampai kapan kau tidur di sini?" ucap Malvino pedih.
Suasana hening sejenak. Laki laki dewasa berpenampilan sangar itu sesekali nampak menciumi punggung tangan Dion seolah ingin menunjukkan betapa ia sangat menyayangi putra mahkotanya tersebut. Ia seolah begitu ingin melihat Dion kembali sadar dan beraktivitas normal seperti biasanya.
Malvino masih larut dalam dukanya. Hingga....
Degghh...
Malvino nampak terdiam sesaat. Sebuah pergerakan lemah dari jari jari Dion ia rasakan. Membuat pria berjambang lebat itu pun terperanjat. Menoleh ke arah sang putra dengan raut wajah tegang penuh harap.
"Dion..." ucap Malvino.
Dilihatnya disana, kelopak mata Dion yang masih tertutup itu nampak bergerak gerak lemah. Begitu pula dengan jari jari tangan yang kini berada dalam genggaman Malvino itu.
Malvino menampilkan sebuah senyuman lega dari balik wajah sangarnya. Digenggamnya erat jari-jari tangan sang putra dengan sorot mata nampak penuh harapan. Ia meringsut, mendekatkan tubuhnya pada wajah suami Saras itu.
"Dion...kamu sudah sadar, nak?" tanya Malvino sambil membelai pucuk kepala sang putra
Dion yang sudah terbuka matanya walaupun tidak lebar itu nampak tak menjawab. Ia mengedarkan pandangannya menyapu ke segala penjuru ruangan itu dengan wajah yang terlihat linglung.
"Ada yang sakit? Yang mana yang sakit?" tanya Malvino lagi.
Dion masih tak bereaksi.
"Dion..." ucap Malvino lagi.
Dian menoleh ke arah sang ayah.
"Papa..." ucap Dion.
"Iya, sayang. Ini papa" jawab Malvino. Dion diam lagi. Ia menggerakkan kepalanya, mengedarkan pandangannya menyapu ke seluruh penjuru ruangan seolah tengah mencari sesuatu.
"Saras, Saras mana?" ucap laki-laki itu mencari keberadaan istri tercintanya.
Malvino terdiam sejenak. Lalu mencoba menenangkan sang putra yang kini terus memanggil-manggil nama wanita sejak kemarin tadi izinkan untuk masuk ke ruang ICU itu.
__ADS_1
"Saras...!!" ucap Dion lagi memanggil manggil Saras. Suaranya kian lama justru kian meninggi, seolah tak sabar ingin bertemu dengan wanita yang sangat ia sayangi itu.
"Saras..!!!"
"Tenang, nak. Kamu belum pulih betul." ucap Malvino.
Dion tak peduli. Ia terus memanggil manggil nama wanita itu seolah mengabaikan keberadaan ayah kandungnya sendiri.
"Saras..! Saras mana, pa..?!" tanya Dion seolah tak sabar ingin bertemu dengan istrinya itu.
Jason mendekati sang tuan.
"Tuan, lebih baik kita panggil Saras. Mungkin dia bisa menenangkan tuan muda..!" ucap Jason menyarankan.
Malvino diam. Dilihatnya di sana Dion mulai berontak, memaksa untuk turun dari ranjangnya guna mencari keberadaan istri tercintanya. Mengabaikan berbagai alat bantu kesehatan yang masih tertempel di tubuhnya.
Malvino tak bisa berbuat apa-apa. Daripada Dion terus mengamuk lebih baik dia yang mengalah. Laki-laki dewasa itupun memerintahkan Jason untuk memanggil Saras masuk ke dalam ruangan ICU tersebut.
Tak berselang lama, Jason pun masuk kembali ke dalam ruangan itu bersama Saras.
"Saras...!!!" ucap Dion dengan sebuah senyuman lebar kala melihat kedatangan wanita tersayangnya itu.
"Dion..." ucap Saras yang juga nampak tersenyum lebar meskipun matanya mengembun.
Wanita itu kemudian mendekati ranjang. Mendekati laki-laki yang sejak kemarin tak ia jumpai lantaran tidak mendapatkan izin dari mertuanya sendiri.
Malvino mundur. Memberikan ruang untuk Dion dan Saras berinteraksi.
Saras nampak tersenyum. Tangannya menyentuh lembut wajah pria dengan beberapa perban di tubuhnya itu
"Kamu udah sadar?" tanya Saras dengan sorot mata teduh. Dibelainya pipi itu dengan lembut.
"Aku nggak mati..!" ucap Dion.
Saras terdiam. Setitik air mata menetes lagi. Wanita itu kemudian mengangguk sambil tersenyum manis. Ada rasa lega dan bahagia disana melihat Dion yang sudah bangun dari tidur panjangnya.
Dion tersenyum lebar. Dion meraih telapak tangan Saras kemudian genggamnya erat. Adegan yang tidak lepas dari sorot mata seorang Malvino dan Jason. Kedua pria itu hanya diam menyaksikan interaksi sepasang suami istri tersebut.
"Jangan nangis, aku nggak apa apa. Aku akan melindungi kamu" ucap pria itu. Saras hanya tersenyum.
"Aku sudah bilang, aku tidak suka jika kamu bersentuhan kulit dengan laki-laki manapun. Termasuk b******* itu. Aku melihat semuanya, saat kamu berdebat dengan dia di rumah ibu kamu. Terima kasih, sudah berusaha mengusir dia." ucap Dion.
Saras diam.
"Aku nggak mau dia datang lagi dan mengganggu kamu. Itulah sebabnya kenapa aku datang menemui dia malam itu. Aku ingin memberikan pelajaran padanya. Dia adalah pengganggu, sudah sepantasnya manusia semacam itu disingkirkan...!" ucap Dion.
Saras tersenyum. Menggenggam erat tangan sang suami.
"Tapi itu justru melukai kamu sendiri. Sekarang lihat, kamu malah jadi tiduran di sini kan? Aku khawatir...." ucap Saras mengembun.
Dion terkekeh. Hingga memperlihatkan barisan gigi gigi putihnya.
"Iya, maaf. Maaf udah bikin kamu khawatir" ucap Dion.
Saras mengusap setetes air matanya.
"Terus ini kenapa wajah kamu bonyok gini? Siapa yang mukulin kamu?" tanya Dion sambil menyentuh memar di ujung bibir Saras.
Saras tersenyum.
"Makanya lain kali jangan berantem lagi...! Kalau kamu bonyok, aku pasti juga bakal ikut bonyok..! kamu dipukul orang, aku pasti juga bakal dipukul orang...! Makanya jangan berantem lagi..!" ucap Saras membuat Jason diam diam melirik ke arah sang tuan yang diam tak bergerak.
Sepertinya menantunya itu kini tengah menyindir dirinya.
"Emang siapa yang berani mukul kamu? Ngomong sama aku..!" ucap Dion.
Saras tak menjawab.
__ADS_1
"Laki laki itu?" tanya Dion.
"Bukan..!"
"Terus?" tanya Dion.
Saras tak langsung menjawab. ia menarik sebuah kursi yang berada di samping ranjang kemudian mendudukkan tubuhnya di sana tanpa melepaskan genggaman tangannya atas Dion.
"Kepentok patung Semar kemarin...!!" ucap Saras sekenanya sambil merebahkan kepalanya di samping tubuh sang suami.
Malvino melotot mendengar ucapan itu. Ingin rasanya ia merobek mulut Saras saat itu juga. Namun urung ia lakukan lantaran ada Dion di sana. Sang putra baru saja sadar dari tidurnya. Ia tak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh pada Saras. Sepertinya Dion sangat nyaman dengan perempuan itu. Sedangkan Jason yang berada di samping Malvino nampak sekuat tenaga mencoba menahan tawanya. Berani sekali menantu yang satu ini, pikirnya.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah, saat jam menunjukkan pukul sebelas siang.
Sebuah motor besar nampak memasuki sebuah halaman tak terlalu luas rumah berlantai dua yang nampak sepi itu. Seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun berparas tampan itu lantas melepaskan helm yang membungkus kepalanya. Ia kemudian turun dari tunggangan roda dua bernilai fantastis miliknya itu dan jalan menuju pintu utama rumah tersebut dengan sebuah paper bag di tangannya.
Ya, itu adalah Arkana. Siang ini dia datang kembali ke rumah sang sahabat, Giovani Reksa. Tempat di mana perkelahi sama antara Gio dan Dion terjadi kemarin malam.
Seperti biasa rumah itu terlihat sepi. Seolah tak ada penghuni di dalamnya. Arkana masuk ke dalam rumah itu tanpa mengetuk pintu. Hal yang sudah biasa ia lakukan jika berkunjung ke rumah sahabatnya itu.
Arkana mengedarkan pandangannya. Menyusuri ruang tamu kemudian berjalan menuju meja makan. Namun tak nampak sosok Gio di sana.
Arkana naik ke lantai dua.
"Gio...!!" ucap Arkana memanggil manggil nama sang sahabat. Namun tak ada sahutan.
Ceklek....
Pintu kamar Gio terbuka. Arkana masuk ke dalam ruangan itu tanpa permisi. Dilihatnya di sana sang sahabat yang sejak tadi ia panggil panggil nampak duduk di sebuah kursi, menghadap ke sebuah meja yang berada di ruangan itu. Tangannya nampak memegang sebuah foto berbingkai berisi gambar keluarga Gio yang sudah tiada.
Gio menoleh ke arah sahabatnya itu. Sebuah senyuman manis namun terasa pilu Gio tampilkan. Membuat Arkana merasa pedih melihatnya.
Arka mendekati Gio.
"Lu baik baik aja?" tanya Arkana.
Gio tersenyum. Menatap wajah sahabatnya itu dengan sorot mata dalam.
"Ya, gue baik.." jawab Gio pelan. Arkana diam sejenak. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang berbeda saat ini. Tak seperti yang biasa ia rasakan ketika bersama dengan sahabat yang sudah sangat lama ia kenal itu.
Arkana mengangkat paper bag berisi makan siang di tangannya dan meletakkannya di atas meja.
"Gue bawain makan siang buat lo..!" ucap Arkana.
Gio tersenyum. Matanya sejak tadi tak lepas menatap Arkana.
"Thanks, c*k" jawab Gio.
Lagi, Arkana diam. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda pada Gio. Tapi entah apa. Mungkin untuk saat ini ia belum bisa bertanya lebih banyak kepada sahabatnya itu. Gio masih dalam masa-masa sulitnya sekarang.
Gio meraih paper bag itu. Membukanya, lalu mengeluarkan sebuah box nasi di sana. Sebuah tawa ringan terbentuk dari bibir tipis Gio.
Laki-laki berambut gondrong itu kemudian menoleh ke arah Arkana.
"Lu emang sahabat terbaik gua. Lu selalu ada buat gua. Dan lu selalu memberikan solusi dan bantuan untuk gue dalam hal apapun. Entah secara langsung, ataupun nggak..! Thanks, bro..!" ucap Gio di akhir kalimatnya. Sesuatu yang justru membuat Arkana nampak bingung melihat tingkah aneh kawan baiknya itu.
Ada apa dengan Gio?
...----------------...
Selamat siang menjelang sore
up 14:48
yuk dukungan dulu 🥰🥰
__ADS_1