
Krieeettt....
Pintu coffee shop terbuka. Arkana dan Dion yang berada di tempat berbeda itupun nampak reflek menatap ke arah sumber suara.
Kedua pria beda usia itu nampak diam. Arkana terkejut, sedangkan Dion nampak mengangkat dagunya menatap angkuh ke arah pintu kaca, tempat dimana sepasang pria wanita berusia muda terlihat memasuki coffee shop itu.
"Gio?" ucap Arkana.
Dion tak menjawab. Ia menatap datar Giovani Reksa yang datang bersama seorang wanita cantik dengan hijab pasmina berwarna hitam disana, Xena.
Saras yang asyik dengan minuman dinginnya pun lantas menyadari tatapan datar nan dingin sang suami. Ia kemudian menoleh, mengikuti arah pandang laki laki itu.
Deeghh...
"Gio?" ucap Saras. Wanita itu nampak membuka mulutnya. Ia kemudian menoleh ke arah sang suami dan Gio secara bergantian. Sudah sangat lama ia tak bertemu dengan laki-laki gondrong itu. Ia juga sudah sama sangat lama tak mendengar kabar tentang Gio paskah kemelut yang terjadi antara Gio dengan Arkana.
Dan hari ini, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja Gio datang ke coffee shop milik kedua pria yang pernah menjadi sahabat dekat itu. Ia datang bersama seorang wanita cantik yang diketahui adalah seorang perawat di salah satu rumah sakit tempat di mana Gio dan Dion pernah dirawat di sana.
Gio dan Xena mendekat. Wanita berhijab itu nampak tersenyum manis ke arah Arkana, Saras dan Dion. Sedangkan Gio nampak memasang mode wajah tenang. Sorot matanya menatap ke arah Arkana, kemudian ke arah Saras, lalu berhenti di Dion.
Arkana meletakkan gelas kopi di tangannya. Ia menyerahkan pekerjaannya pada salah satu karyawan di sana. Laki-laki itu kemudian mendekat ke arah Xena dan Gio.
"Kalian kesini?" tanya Arkana. Gio yang sejak tadi memfokuskan pandangan kepada Dion kini beralih menatap ke arah Arkana. Sorot matanya datar. Tak ada senyuman. Tapi juga tidak terlihat marah. Hanya nampak angkuh dan cuek, khas seorang Giovani Reksa.
Xena tersenyum. "Iya. Sengaja, Gio yang ngajakin kesini," ucap wanita cantik itu begitu polos atau memang sengaja menyampaikan niatan Gio pada Arkana. Membuat Gio pun menoleh ke arah Xena. Wanita itu nampak tersenyum tanpa dosa, sedangkan Gio hanya bisa menghela nafas panjang. Ia sepertinya tak bisa jika harus marah pada Xena. Sedangkan Arkana, pria itu kini nampak tersenyum ke arah laki laki itu.
"Ada apa?" tanya Arkana kemudian pada Gio.
__ADS_1
Xena menatap ke arah Gio dan Arkana secara bergantian.
"Em, gimana kalau kalian ngobrol berdua dulu. Aku mau gabung sama Saras. Boleh, kan?" tanya Xena pada Gio dan Arkana. Kedua pria itu hanya mengangguk. Xena kemudian pamit undur diri, memesan sebuah es kopi di sana lalu duduk, bergabung bersama Saras dan Dion. Sekaligus mengulur ulur waktu agar sepasang suami istri itu tetap berada di tempat itu sampai Gio dan Arkana selesai dengan perbincangan mereka. Setelah itu, Xena akan membimbing Gio agar mau bicara empat mata dengan Dion. Mumpung mereka ada di sini, pikir Xena.
Sementara itu,
Arkana mengajak Gio untuk naik ke lantai dua. Tempat dimana terdapat sebuah ruangan yang biasa mereka gunakan untuk beristirahat dulu. Ruangan yang tak terlalu rapi, berisi satu kamar mandi dan sebuah ruangan untuk mereka bersantai dulu. Terdapat sebuah kasur busa berukuran sedang, beberapa gitar, bola basket, baju baju keduanya yang tak tertata rapi, serta beberapa benda benda lain khas para pria.
Ya, ruangan itu sudah seperti rumah kedua bagi Arkana dan Gio.
Arkana mendekati sebuah lemari pendingin yang berada di dalam ruangan itu. Diambilnya dua buah minuman kaleng dari dalam sana. Ia menyerahkan satu minuman itu pada Gio yang kini nampak duduk di pojok ruangan, tepat di samping jendela, sembari menyalakan rokoknya. Sedangkan Arkana memilih duduk di tepi kasur busa itu. Membuka minuman kalengnya lalu menenggaknya. Ia melirik ke arah Gio yang nampak mengarahkan pandangannya ke luar jendela.
"Apa kabar?" tanya Arkana pada laki laki yang bahkan hingga saat ini masih ia sebut sebagai sahabatnya itu.
Gio menoleh. Ia membuang asap rokoknya dari hidung dan mulutnya.
"Udah lama nggak ketemu," ucap Arkana sambil menatap sang sahabat. Gio diam sejenak, lalu tertawa sumbang beberapa detik kemudian.
"Ya, ada kali sebulan," ucap Gio yang kemudian kembali menghisap benda bernikotin miliknya.
Arkana tersenyum. Ia nampak mengangguk.
"Lu ngambeknya kelamaan. Biasanya sehari dua hari doang ini sampai sebulan!" ucap Arkana.
Gio berdecih sembari terkekeh. "Gue tau lu kangen gue. Keteteran kan lu nggak ada gue?" tanya Gio lagi seolah mampu menebak isi pikiran Arkana.
Arkana terkekeh lagi. "Ya, gimana? Gue nggak se gesit lo!" ucap Arkana.
Keduanya terkekeh lagi, namun terdengar sumbang. Seolah menggambarkan kerinduan antara sepasang sahabat yang sempat renggang dan terpisah karena ego dan emosi sesaat. Namun nyatanya kekuatan persahabatan mereka memanglah kuat. Gio berhasil menurunkan egonya. Ia menyadari setelah menjauh dari Arkana ia seolah tak punya siapa siapa. Ia sepi. Tak ada orang yang benar benar mengerti dirinya sebelum akhirnya ia bertemu dan tunduk pada Xena.
__ADS_1
Begitu juga dengan Arkana. Ia berhasil menahan sabar hampir sebulan lamanya. Menanti kembalinya sang sahabat yang masih sibuk dengan keegoisannya. Ia yakin jika suatu saat Gio akan datang kembali padanya. Dan mereka akan kembali hangat seperti sebelumnya.
Gio menghisap rokoknya. Ia menoleh ke arah Arkana. Si pria brewokan yang sedikit cengeng itu nampak mengusap air matanya, membuat Gio berdecih melihatnya.
"Si anj*nk, pake nangis! Sini lu!" ucap Gio pada Arkana.
Arkana tak menjawab. Ia hanya terkekeh.
"Tawa lagi! Sini lu..!" ucap Gio lagi.
Arkana terkekeh di sela tangisannya. Ia meraih sebuah bantal dari atas kasur lalu melemparkannya ke arah Gio.
"Lu yang kesini, monyet! Ngambekan lu kek cewek!" ucap Arkana.
"Lu yang cengeng!" balas Gio melemparkan lagi bantal itu ke arah Arkana. Arkana tergelak. Keduanya saling lempar bantal sambil tertawa. Gio meringsut. Ia lantas memeluk tubuh Arkana. Sepasang sahabat itu saling berpelukan seolah ingin menumpahkan segala kerinduan mereka satu sama lain.
Arkana menggerakkan tangannya, menarik sebelah telinga Gio dengan cukup kuat.
"Monyet lu! Kangen juga gue ama lu, bangs*t!" ucap Arkana.
Gio menyentil kening Arkana menggunakan jari telunjuk dan jempolnya.
"Biasa aja, anj*r!" ucapnya.
Keduanya kembali tertawa. Tak ada kata meminta maaf ataupun memberi maaf. Namun keduanya seolah sudah saling paham, bahwa mulai detik ini, keduanya kembali menjadi duo Gio dan Arkana. Yang kemana mana selalu berdua. Kompak dalam segala hal. Saling dukung dan menyemangati. Saling bahu membahu ketika keduanya tengah berada dalam masalah.
Mungkin memang seperti itulah persahabatan yang sebenarnya. Tak pernah ada kata memberi maaf dan meminta maaf di antara mereka. Hubungan yang terlanjur dekat seolah tak mengenal basa basi semacam itu. Keakraban dan kehangatan hanya mereka yang bisa mengekspresikan. Cara meminta maaf diantara keduanya pun juga tak melulu mereka ucapkan melalui lisan. Namun cukup dengan umpatan dan kata kata kasar diselingi dengan ucapan ucapan receh.
...----------------...
__ADS_1