
Hari hari kembali berganti. Setelah memutuskan untuk bersedia tinggal bersama ayah dan adik serta iparnya, kehidupan Xena perlahan mulai berubah. Kini ia memiliki keluarga meskipun tak sepenuhnya utuh. Ia punya ayah dan adik yang dingin, serta ipar yang begitu ramah dan menyenangkan. Saras dan Xena kian hari kian dekat. Saras yang sedikit bar bar rupanya begitu cocok jika disandingkan dengan Xena yang religius tapi juga sedikit cerewet itu. Keduanya begitu kompak dalam segala hal. Membuat mereka seolah menjelma bukan hanya sebagai keluarga tapi juga teman sekaligus sahabat.
Suasana rumah yang dulunya selalu sepi lantaran Malvino yang selalu sibuk dengan pekerjaannya serta Saras dan Dion yang lebih banyak menghabiskan waktu di kamar itu kini sedikit banyak juga mulai berubah. Xena yang pekerja keras, tak suka berdiam diri, dan tentunya memiliki kadar keimanan yang bisa dibilang jauh lebih tinggi dari Saras, Dion, dan Malvino itu seolah secara tidak langsung berhasil memberikan aura positif di rumah itu.
Lantunan ayat ayat suci Al Quran selalu terdengar setiap habis Maghrib dan menjelang subuh dari dalam kamar Xena yang kebetulan tak kedap suara. Setiap pukul tiga pagi jika kebagian shift pagi, Xena pasti sudah bangun. Membantu para pelayan bersih bersih dan menyiapkan sarapan untuk ayah serta adik adiknya.
Selain itu, Xena juga menjadi satu satunya manusia di muka bumi ini yang berani masuk ke dalam kamar pribadi Malvino tanpa izin. Setiap pagi sehabis subuh wanita itu masuk ke dalam ruangan itu. Membangunkan sang ayah dan mengajaknya untuk sarapan. Pernah suatu ketika Malvino geram dan memaki maki anak gadisnya itu. Membuat Xena pun sedih hingga menitikkan air matanya. Namun setelahnya, tak berselang lama laki laki itu lantas meminta maaf pada gadis berkerudung itu, lalu berjanji tak akan mengulanginya lagi. Sejak saat itu, Malvino seolah membiarkan Xena melakukan apa saja dirumahnya selama masih dalam batas wajar.
Xena yang mendapatkan lampu hijau dari sang ayah itupun lantas mulai berani berbuat lebih. Setiap pagi, ia selalu meletakkan sebuah sajadah di atas nakas Malvino. Entah untuk apa. Lantaran Malvino adalah sosok iblis yang tak mengenal Tuhan. Sudah pasti ia tak pernah menyentuh benda benda semacam itu. Namun Xena tak pernah berhenti. Ia selalu meletakkan kain itu di atas nakas Malvino tiap harinya meskipun setelahnya kain itu selalu hilang. Rupanya Malvino selalu membagi bagikannya pada orang orang dijalan tiap kali ia pergi meninggalkan rumah.
Selain itu, Xena perlahan mulai merangkul Saras. Sosok yang paling dekat dengannya di rumah itu. Mulai dari mengajaknya beribadah lima waktu bersama hingga sengaja tidak menutup pintu kamarnya ketika ia tengah mengaji agar suaranya terdengar sampai keluar. Harap harap entah Saras, Dion, ataupun Malvino mendengar lantunan merdu ayat ayat Tuhan itu dan tergerak hatinya untuk kembali ke jalan Tuhan.
Ya, Xena ingin membantu keluarga barunya itu untuk sama sama menuju jalan pertaubatan. Keluarga itu memang terlalu jauh dari Tuhan. Terutama Malvino dan Dion. Hati sepasang ayah dan anak itu juga begitu keras. Tak seperti Saras yang sebenarnya adalah gadis yang manis. Hanya saja ia kurang didikan dari kedua orang tuanya dulu.
................
Pagi ini, di sebuah meja makan berbentuk oval itu. Xena sudah selesai dengan makan paginya. Ia menjauhkan piring dengan sendok yang sudah dalam posisi tengkurap itu dari depan dadanya. Diraihnya segelas air putih disana lalu ditenggaknya hingga tandas. Xena meraih tas ransel murahnya, kemudian bangkit dari kursi tempatnya duduk.
"Pa, aku berangkat, ya," ucap gadis itu sembari mendekat ke arah sang ayah yang duduk di salah satu kursi disana. Wanita itu mengulurkan tangannya, seolah meminta laki laki dewasa itu untuk berjabat tangan.
Malvino meletakkan sendoknya. Diraihnya telapak tangan sang putri dengan cuek. Xena lantas mencium punggung tangan pria itu sebagai tanda bakti.
"Xena berangkat, Pa. Assalamualaikum," ucap wanita berhijab itu yang tak dijawab oleh Malvino. Sekedar mengucap salam pun sepertinya begitu berat untuk Malvino. Namun Xena tak peduli. Ia tetap menjadi Xena si anak panti dengan segala rutinitas, sifat, dan kebiasaannya meskipun kini tinggal bersama ayah kandungnya yang notabene adalah penjahat kelas atas.
__ADS_1
Gadis itu kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut setelah berpamitan kepada adik iparnya yang kini tengah hamil besar. Sedangkan Dion yang juga berada di meja makan hanya diam. Hingga saat ini bahkan bisa dibilang Dion lah yang paling irit bicara dengan Xena. Menyapa tak pernah. Jika ditanya hanya dijawab dengan satu dua kata. Ya, bukankah memang begitu watak Dion?
Xena berjalan keluar dari rumah besar itu. Ia melangkah menuju gerbang pagar nan tinggi menjulang itu kemudian bergegas mendekati sebuah motor besar yang berada di seberang jalan.
Ya, itu adalah Gio. Laki-laki itu selalu menunggu Xena di depan rumah megah itu pasca keluarnya Xena dari panti asuhan. Sebenarnya Xena sudah sering mengajak Gio untuk masuk ke dalam rumahnya ketika menjemput atau mengantarnya bekerja. Namun Gio selalu menolak. Xena hanya bisa menghela nafas panjang. Ia paham. Mungkin Gio butuh waktu untuk itu. Xena lebih memilih untuk membiarkan laki-laki itu berbuat senyamannya saja. Sudah tidak lagi bermusuhan dengan Dion itu sudah sangat jauh lebih baik. Mungkin untuk masuk ke dalam rumah mantan musuhnya itu Gio masih memerlukan sedikit waktu. Tak apa, Xena tak akan memaksa. Daripada ngambek ya kan? Tau sendiri kan, seperti apa kerasnya watak Gio.
"Pagi, gondrong!" sapa Xena.
"Pala lu!" jawab Gio sembari menyerahkan sebuah helm untuk Xena. Wanita itu hanya terkekeh sambil menerima pengaman kepala itu. Ia lantas mengenakannya dan memposisikan tubuhnya di jog belakang motor besar itu.
"Siap?" tanya Gio.
"Siap!" jawab Xena.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit...
"Xena..." ucap Gio.
"Apa?" tanya Xena.
"Apa, Sayang. Gitu, dong!" jawab Gio menggoda.
"Bodo amat!" sahut Xena sembari menepuk pundak laki laki itu.
__ADS_1
Gio terkekeh ditengah fokus kemudinya. Xena nampak tersipu malu di belakang punggung laki laki itu.
"Xena.."
"Apa?" tanya Xena lagi.
"Ntar pulang, ikut gue dulu mau nggak?" tanyanya.
"Kemana?" tanya Xena.
"Kalau lo mau, gue mau ngajakin lo ke rumahnya Arkana. Mamanya udah pulang dari luar kota sejak kemarin. Mungkin lo mau ketemu," ucap Gio.
Xena diam. "Ibuku, Gio?" tanya Xena.
Gio tersenyum lembut. "Iya.." jawabnya.
"Keluarga Arkana lebih welcome, kok. Arka juga udah cerita mengenai lo sama Papanya. Dan Papanya Arkana bilang, dia pengen lo datang buat nemuin Tante Maya, nyokap lo. Lo mau nggak?" tanya Gio.
Xena tak menjawab. Gio paham.
"Kalau lo masih ragu, lo pikir pikir dulu aja nggak apa apa. Ntar kalau lu udah siap, ngomong ama gue, gue anterin. Okey?" tanya Gio.
Xena tersenyum lembut lalu mengangguk. Motor pun terus melesat menuju rumah sakit tempat Xena bekerja.
__ADS_1
...----------------...