Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
60


__ADS_3

Hari berganti hari...


Semua berjalan seperti biasanya. Pasca sadarnya Dion dari pingsannya beberapa hari lalu, kini Saras sudah bisa leluasa bertemu dengan suaminya itu. Bahkan bisa dikatakan bahwa Saras sukses menggeser posisi Malvino. Wanita itu selalu berada di samping Dion selama dua puluh empat jam nonstop. Berusaha memberikan apapun yang laki laki itu butuhkan dan inginkan. Tak mau jauh barang sedetikpun. Membuat Malvino seolah sudah tak memiliki tempat untuk sekedar duduk bersama dengan putranya itu.


Seperti malam ini, laki laki berjambang lebat dengan wajah sangar itu sejak tadi hanya duduk diam di atas sofa panjang ruang ICU itu. Menatap datar ke arah ranjang pasien. Tempat dimana sepasang suami istri itu kini nampak cekikikan.


Saras yang duduk di sebuah kursi raja itu nampak sibuk menggambar melukis tanda bintang dan hati di kuku kuku jari tangan Dion menggunakan spidol hitam. Wanita itu seolah ingin membuat kuku kuku bersih pria itu terlihat lebih imut.


Dion yang duduk bersandar di ranjang pasien itu hanya bisa menurut. Terserah lah, suka suka Saras. Yang penting wanita itu bahagia, pikir Dion.


Ceklek...


Pintu kamar ruang ICU itu terbuka. Pria dewasa dengan beberapa tato di tubuhnya itu nampak masuk ke dalam ruangan tersebut. Ya, itu adalah Jason. Anak buah Malvino.


"Tuan muda.." ucap Jason sambil membungkukkan badannya kearah Dion dsn Saras. Dion hanya berdehem mendapati salam hormat dari pria yang usianya diatas Dion itu.


Jason lantas kembali mengayunkan kakinya. Mendekati Malvino yang duduk di sofa panjang itu.


"Tuan.." ucap Jason sambil membungkukkan badannya.


Malvino melirik ke arah sang anak buah sekilas, lalu menggerakkan tangannya seolah memerintahkan Jason untuk duduk di sampingnya.


Jason menurut.


Malvino masih menatap lurus ke arah ranjang. Pria itu bersikap sangat tenang.


"Kau sudah menyelediki rumah itu?" tanya Malvino yang sempat memerintahkan Jason untuk memata-matai rumah Gio.


Jason membungkuk.


"Sudah, Tuan...!" jawab Jason.


"Hasilnya?" tanya Malvino.


"Itu adalah rumah Gio, kakak dari mantan kekasih tuan muda" ucap Jason dengan suara yang dibuat lebih pelan agar tak terdengar oleh Saras dan Dion.


Malvino diam. Mimik wajahnya berubah sedikit menegang.

__ADS_1


"Sepertinya pemuda itulah yang menghajar tuan muda sampai babak belur waktu itu" ucap Jason.


Malvino tak bergerak.


"Tapi ada yang aneh, tuan" ucap Jason.


Malvino melirik ke arah sang anak buah.


"Apa?" tanya Malvino.


"Beberapa hari ini orang orang kita tidak melihat pergerakan pemuda itu sama sekali. Rumah itu terlihat kosong. Sepertinya dia sudah pergi" ucap Jason.


Malvino melirik ke arah Jason.


"Aku belum memberinya pelajaran? Dia sudah kabur? Apa anak buah ku sebodoh itu sekarang?" tanya Malvino.


"Mereka masih berusaha menyelidiki keberadaan pemuda itu, Tuan. Orang-orang kita berjaga di depan rumah itu dua puluh empat jam. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang melihat pemuda itu keluar dari rumah tersebut." ucap Jason.


"Itu artinya mereka bodoh..!" ucap Malvino.


Jason tak menjawab.


Jason mengangguk.


"Baik, tuan" jawab pria itu pasrah.


Malvino kembali menggerakkan matanya menatap lurus ke depan. Menatap sepasang suami istri yang sejak tadi tak berhenti bercanda. Kini wanita itu justru terlihat makin berani. Selesai melukis kuku kuku tangan Dion, ia berpindah melukis wajah suaminya. Memberi tanda hati dan bintang di beberapa bagian wajah pria tampan itu.



...****************...


Sementara itu di tempat terpisah.


Pemuda tampan berjambang tipis itu nampak berjalan menuruni anak tangga rumah mewahnya. Dengan kaos hitam dan celana pendek putih tulang, pria berusia dua puluh lima tahun itu nampak berjalan menuju dapur, dimana aroma nikmat berhasil menggelitik hidungnya.


Arkana tersenyum. Dilihatnya di sana sang ibunda nampak sibuk mengolah aneka masakan lezat dibantu oleh seorang pelayan di sana.

__ADS_1


Arkana berjalan mendekati mamanya, lalu....


Sett.....


"Mama..." ucap Arkana sembari memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu dari belakang.


Maya sedikit terjingkat. namun sepersekian detik kemudian ia tersenyum saat menyadari kehadiran sang putra yang tiba-tiba datang dan memeluknya hangat.


Maya menggerakkan satu tangannya mengusap kepala Arkana lembut.


"Mama lagi ngapain?" tanya Arkana.


Maya tersenyum.


"Mama lagi mau masakin masakan kesukaan Papa. Hari ini kan Papa kamu pulang. Mama sengaja masak banyak. Nanti kita makan malam sama-sama, ya..." ucap Maya.


Arkana tersenyum manis.


"Siap..!!" jawab pemuda itu.


Arkana kemudian melepaskan pelukannya atas sang ibunda. Pemuda berparas tampan itu kemudian menarik sebuah kursi yang berada di meja makan kemudian mendudukan tubuhnya di sana. Dirogohnya saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah benda pipih miliknya. Ia lantas membukanya kemudian menuju room chatnya dengan sang sahabat, Giovanni Reksa.


Kosong..! Tak ada satupun pesan yang masuk dari Gio. Arkana menghela nafas panjang. Entah mengapa ia merasa khawatir dengan sahabatnya yang beberapa hari lalu pamit padanya untuk pergi ke luar kota itu. Katanya sih menenangkan diri. Tapi entah mengapa perasaan Arkana tidak enak. Arkana merasakan perubahan dalam diri Gio semenjak kejadian perkelahian antara Gio dan suami Saras itu.


Gio adalah seorang yang temperamental dan keras hati. Ia juga seorang yatim piatu yang tak memiliki keluarga. Entah mengapa Arkana merasa takut jika Gio melakukan hal-hal yang tidak diinginkan karena kekacauan hatinya saat ini.


Maya mendekat. Disentuhnya pundak sang putra, lalu menatap layar ponsel Arkana yang menampakan room chat nya dengan Gio itu.


"Gio belum ngabarin?" tanya Maya. Arkana diam, lalu menggelengkan kepalanya samar.


Maya tersenyum.


"Mungkin dia perlu waktu untuk sendiri, Ka. Ya sudahlah, biarin aja biarin dia tenang dulu. Nanti kalau udah tenang dia juga pasti balik ke sini" ucap Maya sembari mengusap-usap pundak sang putra. Arkana tak menjawab. Ia hanya tersenyum.


...----------------...


Selamat malam

__ADS_1


up 21:31


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2