Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
128


__ADS_3

Siang menjelang di sebuah rumah megah kediaman Malvino,


Dion nampak memasukkan sebuah lukisan berukuran cukup besar ke dalam bagasi mobilnya. Itu adalah lukisan seorang wanita yang merupakan pesanan dari salah satu calon pembelinya.


Ya, setelah tiga hari berlalu pasca pameran di coffee shop milik Arkana, Dion rupanya benar-benar sudah berhasil menyelesaikan lukisannya sesuai permintaan pelanggan tersebut.


Hari ini, ia dan sang istri sudah membuat janji dengan si calon pembeli. Mereka akan bertemu di coffee shop milik Arkana guna melakukan transaksi jual beli si sana.


Lukisan sudah masuk ke dalam bagasi. Laki-laki tampan calon ayah baru itu kemudian menutup bagasi mobil mewah miliknya, bertepatan dengan datangnya sebuah mobil mewah lainnya yang nampak memasuki area halaman luas istana megah miliknya itu.


Dion diam. Seorang pria bertato keluar dari sebuah mobil yang kini nampak terparkir tepat di samping kendaraan Dion. Laki laki ity berjalan menuju pintu samping yang berada di bagian belakang mobil itu, kemudian membukanya. Mempersilahkan sang tuan besar keluar dari kendaraan hitam berharga fantastis itu.


"Papa," ucap Dion kala menyadari kedatangan Malvino.


Laki laki dewasa itu tersenyum sembari mendekati sang putra.


"Boy," jawabnya. Dion tersenyum.


"Kau mau pergi?" tanya Malvino lagi.


"Ya, aku mau pergi dengan Saras. Kami ada janji bertemu dengan calon pembeli lukisan kami hari ini," ucap Dion.


"Oh ya? Baguslah!" jawab Malvino.


"Papa sendiri dari mana?" tanya Dion.

__ADS_1


Malvino tersenyum. Ia menatap sang putra hangat sambil tersenyum seolah tengah memikirkan sesuatu.


Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya menepuk pundak Dion.


"Seperti biasa. Papa banyak urusan," ucapnya.


"Ya sudah, Papa mau masuk dulu," ucap Malvino.


Dion mengangguk. Laki-laki dewasa itu lantas berlalu pergi meninggalkan sang putra. Ia berjalan menuju pintu utama rumah tersebut.


Ketika ia hendak masuk ke dalam rumah, laki-laki itu tak sengaja berpapasan dengan sang menantu yang kebetulan keluar dari istana megah itu.


Keduanya menghentikan langkah masing masing. Saras dengan perut yang mulai nampak membuncit itu kemudian menunduk sambil tersenyum.


Malvino mengangkat dagunya. Ia menatap angkuh ke arah wanita itu kemudian berdehem sebagai jawaban atas sapaan menantunya tersebut.


Saras undur diri. Ia berjalan mendekati Dion yang berada di halaman rumah tersebut. Sedangkan Malvino hanya diam menatap punggung wanita cantik itu yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya. Sang ketua gangster kemudian masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat.


Sedangkan Saras...


"Siap?" tanya Dion.


"Siap!!" jawab wanita cantik itu. Dion tersenyum. Ia menggerakkan tangannya mengacak-acak lembut rambut sebahu milik sang istri lalu mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.


Kendaraan roda empat itupun melesat pergi meninggalkan tempat tersebut. Tanpa keduanya sadari, di atas sebuah balkon kamar mewah milik Malvino, laki laki itu nampak mengangkat kepalanya. Menatap datar ke arah mobil yang bergerak pergi membawa anak dan menantunya itu. Jason yang setia berada di samping Malvino itu kemudian maju satu langkah mendekati sang tuan.

__ADS_1


"Tuan," ucap Jason.


"Kenapa putriku tidak mau aku bawa kemari? Bukankah harusnya ia bahagia dan berterima kasih padaku karena aku bersedia datang menemuinya dan mengajaknya tinggal bersamaku Dan Dion?" tanya Malvino pada sang anak buah.


Jason menghela nafas panjang.


"Boleh saya berpendapat, Tuan?" tanya Jason.


Malvino tak menjawab. Ia hanya mengangkat kepalanya seolah mengizinkan Jason untuk menyampaikan pendapatnya.


"Nona Xena adalah seorang wanita, Tuan. Bukankah hati wanita itu jauh lebih lembut dibanding hati seorang pria? Nona Xena bukan gadis yang terlahir ditengah keluarga kaya yang bergelimang harta. Nona Xena adalah gadis yang terlahir di lingkungan yang taat dengan ajaran agama. Tentu saja, cara menghadapi Nona Xena tidak sama seperti anda menghadapi Tuan Muda Dion."


"Mungkin Tuan Dion akan bahagia jika anda memberikan apa yang ia inginkan. Memfasilitasi apapun yang ia kehendaki. Tapi jika dengan Nona Xena, tidak seperti itu caranya."


"Nona Xena tidak seperti Tuan muda yang tidak bisa bergaul dengan orang luar. Nona Xena adalah wanita yang mandiri dan begitu memegang teguh nilai agama. Nona Xena juga seorang gadis yang sejak kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua. Maka bukan dengan cara memberikan harta yang berlimpahlah cara untuk meraih hatinya, melainkan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang anda sebagai orang tuanya."


Malvino menoleh ke arah sang anak buah.


"Nona Xena sudah pasti belum pernah mendapatkan figur ayah dalam hidupnya. Dia pasti akan sangat bahagia jika anda mau mendekat dan memberikan perhatian anda sebagai seorang ayah untuk putri anda meskipun sebenarnya anda tak begitu mengharapkannya."


"Dan satu lagi, Tuan. Lebih baik anda jangan membahas mengenai masa lalu anda dengan Maya. Tentang anda yang tak begitu menginginkan Non Xena. Wanita manapun pasti akan sakit hati mendengar ucapan yang seperti itu dari orang tuanya sendiri," ucap Jason.


Malvino diam tak bergerak. Ia menghela nafas panjang menatap lurus kedepan. Sungguh, ia benar benar tak tahu bagaimana caranya menghadapi seorang anak gadis. Tak seperti Dion yang hanya cukup dengan memberikan uang dan darah, menyenangkan hati Xena seperti layaknya cukup rumit bagi Malvino.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2