
Hari kembali berganti hari, semua berjalan seperti biasanya. Setelah berhasil melewati masa kritisnya, kini Gio mulai menjalani proses pemulihan di rumah sakit. Pria itu juga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Keadaannya kian hari juga kian menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan. Beberapa peralatan kesehatan mulai dilepas dari tubuhnya. Gio sudah mulai bisa beraktivitas lain selain terbaring di atas tempat tidur. Ia sudah bisa duduk, bahkan turun dari ranjang dengan bantuan kursi roda.
Semenjak sadar dari kritis, tak ada seorang pun yang datang menjenguk pria itu selain Arkana sang sahabat. Laki laki itu selalu datang sore hari setelah pulang kerja dan pulang malam. Tak jarang, ia bahkan menginap di rumah sakit untuk sekedar menemani sahabatnya itu.
Apakah hubungan mereka sudah membaik pasca perkelahian yang terjadi di antara kedua sahabat itu beberapa waktu lalu?
Jawabannya adalah tidak! Hingga saat ini Gio masih belum bisa memaafkan Arkana. Setiap kali pria itu datang Gio selalu acuh. Ia tak pernah bertanya ataupun menyapa sahabatnya itu. Ia seolah begitu kecewa dengan laki-laki yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun tersebut. Kebencian dan sakit hati masih bersarang di hati Gio yang begitu keras. Ia beranggapan bahwa Arkana sudah berbelok dan berada di pihak Saras dan Dion. Ia sudah tak seperti dulu, yang selalu ada bersama Gio. Hal itu pun membuat Gio seolah begitu kecewa pada Arkana.
Siang ini, di ruang rawat inap Gio. Pemuda berambut gondrong itu nampak duduk melamun di atas ranjangnya. Sorot matanya menatap lurus kedepan tanpa pergerakan. Gio terlihat diam. Pikirannya melayang layang entah kemana. Malang sekali hidup yatim piatu itu. Hampir dua minggu ia dirawat di rumah sakit besar itu, namun tak ada satu keluarga pun yang datang untuk mengunjunginya. Ruangan itu selalu terlihat sepi, sunyi, tanpa ada obrolan sama sekali. Satu-satunya yang datang hanya Arkana yang selalu Gio acuhkan setiap harinya. Entahlah, kenapa nasibnya jadi begini. Andai tidak ada Dion di muka bumi ini, mungkin ia akan bisa hidup bahagia bersama keluarganya.
Ceklek...
Pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter pria berperut buncit nampak masuk ke dalam ruangan itu bersama seorang perawat cantik berhijab putih di belakangnya. Kedua petugas kesehatan itu berjalan mendekati Gio yang menatap mereka datar.
"Selamat siang, Tuan Gio," sapa dokter itu. Gio tak menjawab. Ia menatap ke arah sang dokter dan perawat di belakangnya bergantian. Itu adalah perawat yang ia lihat pertama kali setelah sadar dari kritisnya beberapa hari lalu.
"Bagaimana kondisi anda, Tuan. Apakah ada yang dikeluhkan?" tanya dokter itu sembari mulai memeriksa detak jantung sahabat Arkana tersebut. Gio nampak menggelengkan kepalanya samar.
"Nggak ada" jawabnya. Sang dokter tersenyum. Laki laki itu kemudian mulai memeriksa tekanan darah Gio. Gio hanya menurut. Diam-diam ia melirik ke arah perawat cantik yang berada di belakang sang dokter. Wanita itu nampak menunduk sambil mencatat hasil pemeriksaan terhadap pasien yang sudah hampir dua minggu berada di rumah sakit itu.
Dokter selesai dengan serangkaian pemeriksaan nya.
"Banyak banyak istirahat ya, Tuan. Jika kondisi Tuan sudah seratus persen pulih, maka Tuan bisa segera pulang" ucap sang dokter. Gio tak menjawab.
"Saya mau ganti perban di lengan saya" ucap Gio sambil menunjukkan salah satu luka berbalut perban putih yang berada di lengan sebelah kirinya korban itu nampak basah terkena air saat ia mencuci muka ke kamar mandi tadi.
"Baik, nanti biar suster Xena yang membantu anda mengganti perban anda." ucap sang dokter yang kemudian menoleh ke arah Xena yang sejak tadi berdiri di samping sang dokter.
"Suster, bantu Tuan Gio mengganti perbannya" titah sang dokter kemudian pada Xena.
"Baik, dok" jawab Xena. Pria berperut buncit itu lantas kembali menoleh pada Gio.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan" ucap sang dokter yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Gio. Dokter pria itupun lantas berlalu pergi.
"Tuan tunggu sebentar, biar saya ambilkan peralatannya dulu untuk mengganti perban di tangan Tuan" ucap Xena. Gio tersenyum simpul, lalu mengangguk. Xena pun berlalu pergi. Gio hanya menatap punggung tangan wanita berhijab putih yang perlahan mulai menjauh dari pandangan matanya itu.
Kurang lebih sepuluh menit berselang, perawat cantik itu kembali ke dalam ruangan itu sembari membawa peralatan perban dan pembersih luka di tangannya.
Xena meletakkan kotak berisi peralatan itu di atas nakas.
"Saya bersihkan dulu, Tuan" ucap Xena.
"Hmm" jawab Gio yang kini nampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang pasien itu. Xena pun mulai menjalankan aksinya. Dimulai dengan membuka perban lama milik Gio yang nampak basah itu dengan sangat hati hati. Gio melirik ke arah wanita cantik itu.
__ADS_1
"Udah lama jadi perawat?" tanya Gio.
Xena menoleh sejenak, lalu tersenyum manis.
"Kurang lebih empat tahunan" jawab gadis manis itu. Gio diam lagi. Seutas senyum terbentuk dari bibir pria gondrong itu. Perban terlepas sempurna. Sebuah luka yang cukup besar yang sepertinya bekas sayatan benda tajam yang entah apa itu terlihat sudah mulai mengering.
"Saya bersihkan ya, Tuan" ucap Xena lagi. Gio menyunggingkan senyuman simpul.
"Makasih ya.." ucap Gio tiba tiba. Membuat Xena yang kini mulai membersihkan luka Gio itu nampak menoleh.
"Untuk?" tanya Xena.
"Karena lu udah ngerawat gua" ucap Gio. Xena tersenyum.
"Kan saya perawat" jawab wanita itu santai sambil tersenyum. Gio berdecih dengan sebuah senyuman lucu di bibirnya.
"Jangan panggil gue tuan. Kesannya gue tua banget" ucap Gio. Xena hanya tersenyum. Gio melirik lagi ke arah wajah Xena
"Gue Gio" ucap pria itu kemudian. Xena menoleh, lalu tersenyum.
"Udah tahu." jawabnya.
"Udah tau juga. Tuh.." sahut Gio sembari mengangkat dagunya seolah menunjuk ke arah dada Xena. Tempat dimana name tag nya berada. Xena kembali membersihkan luka luka di lengan Gio.
."Temen kamu belum datang hari ini?" tanya Xena kemudian.
"Siapa?"
"Ya.. yang tiap hari kesini itu" ucap wanita itu sembari membersihkan luka dengan Gio dengan telaten. Gio mengangkat satu sudut bibirnya.
"Sore" jawab Gio.
Xena menoleh. Mimik wajah Gio berubah. Laki laki itu nampak tersenyum getir. Raut wajah yang menyimpan kesedihan nampak berusaha disembunyikan oleh pria berambut gondrong itu.
"Oh.." jawab wanita itu kemudian.
Membersihkan luka selesai, ia kemudian mulai kembali membalut luka itu dengan peralatan perban di atas nakas.
"Teman kamu itu baik ya. Dia selalu datang kesini loh sejak sebelum kamu sadar" ucap Xena. Gio tao menjawab. Lagi lagi, ia hanya tersenyum getir.
"Keluarga kamu dimana?" tanya Xena lagi. Gio menoleh. Ia nampak diam sejenak, lalu tersenyum.
__ADS_1
"Gue yatim piatu" jawab Gio. Xena menghentikan pergerakannya. Ia menoleh ke arah Gio. Sepasang mata itu saling beradu untuk beberapa saat. Lalu..
"Sama.." ucap Xena justru dengan mimik wajah ceria. Gio nampak mengernyitkan dahinya.
"Lu yatim piatu juga?" tanya Gio. Xena terkekeh
"Bukan cuma yatim piatu! Saya malah nggak tahu saya ini anak manusia apa bukan!" jawab Xena membuat Gio makin mengernyitkan dahinya mendengar jawaban gadis cantik itu.
"Maksudnya?" tanya Gio.
"Saya besar di panti asuhan. Kata ibu panti, saya ditemuin di pinggir kali. Mungkin saya anak buaya yang sedang bertelur" jawab Xena seolah tanpa beban. Menjadi anak yang tak mengenal ayah dan ibunya seolah menjadi hal yang biasa bagi gadis belia itu.
Gio mengernyitkan dahinya lagi. Xena justru nampak menampilkan senyuman lucu mengingat tentang latar belakangnya. Gio berdecih. Gadis ini cukup aneh, pikirnya. Gio yang baru beberapa tahun di tinggal pergi keluarga nya saja seolah dibuat gila oleh keadaan. Ia selalu menyalahkan semua orang dan menganggap dunia tak adil padanya. Namun Xena yang sejak bayi tak tahu siapa ayah ibunya itu justru seolah tak memiliki beban apapun. Ia begitu menikmati hidupnya meskipun tidak pernah tahu siapa orang tuanya.
Mengganti perban selesai. Xena memasukkan kembali peralatan kesehatannya itu ke dalam sebuah kotak. Lalu mengangkat nya.
"Sudah selesai. Perbannya sudah saya ganti. Kalau ada apa apa. Kamu bisa pakai telfon itu untuk menghubungi perawat" ucap Xena.
"Udah tau" jawab Gio.
"Cuma ngasih tau" sahut Xena. Gio berdecih lagi sambil tertawa. Xena nampak tersenyum manis.
"Ya udah, saya permisi. Selamat beristirahat" ucap wanita itu. Xena pun lantas berbalik badan. Namun baru selangkah ia berjalan ,tiba-tiba...
"Xena.." ucap Gio.
Wanita berhijab putih itu menoleh.
"Ya..." jawabnya.
"Makasih"
Xena tersenyum manis. Lalu mengangguk. Ia kemudian berbalik badan, bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Gio diam diam mengulum senyuman lebar. Entah mengapa ada sebuah perasaan bahagia yang kini menghinggapi hatinya. Ada apa ini?
...----------------...
Selamat siang.
up 13:45
Maaf ya, semangat nya author masih setengah setengah. Maaf kalau bahasanya belepotan.
yuk, dukungan dulu 🥰😘
__ADS_1