Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
67


__ADS_3

Saras berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit ditemani Dion.


Wanita itu nampak panik. Ibunya baru saja menelponnya. Mengabarkan bahwa Arkana yang semalam menginap di rumahnya tiba tiba pingsan setelah menyantap nasi gorengnya.


Entah apa yang terjadi pada pria itu. Namun Ratih terdengar sangat khawatir saat berbicara melalui sambungan telepon. Ia takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan pada Arkana. Terlebih lagi pemuda itu pingsan setelah menyantap nasi goreng buatannya.


Saras dan Dion sampai di depan ruang IGD.


"Ibuk..." ucap Saras.


"Ras..!!!" ucap Ratih menangis. Saras mendekati sang ibu. Ratih lantas menghamburkan pelukannya pada putrinya itu sambil menangis tersedu sedu. Antara takut dan khawatir, semua bercampur menjadi satu. Saras memeluk ibunya. Mengusap usap punggungnya seolah mencoba memberikan ketenangan pada wanita paruh baya itu. Sedangkan Dion yang berada di sana nampak diam. Memasang wajah datar tanpa ekspresi.


"Ibuk, tenang..!" ucap Saras menenangkan Ratih.


"Ras, itu Arkana kalau kenapa kenapa gimana?! Gue takut, Ras..! Sumpah, demi Tuhan, gue nggak ngelakuin apa apa..! Gue nggak pernah campurin apapun ke dalam nasi goreng yang Arkana makan. Orang gua sama Adit juga makan, kok..! Dan kita baik-baik aja..!!" ucap Ratih seolah ingin menjelaskan bahwa ia tidak melakukan hal apapun pada Arkana. Pemuda itu jatuh dengan sendirinya tanpa Ratih tahu apa penyebabnya.


Saras mengangguk paham.


"Iya, iya..! Aku ngerti..! Semua akan baik baik aja, buk..! Udah, ibu tenang ya..." ucap Saras.


Ratih hanya mengangguk pasrah. Saras terus menggerakkan tangannya mengusap usap lembut punggung Ratih seolah ingin memberikan ketenangan pada wanita paruh baya yang terlihat begitu khawatir akan kondisi Arkana tersebut.


"Ibuk udah telfon orang tuanya Arka?" tanya Saras.


Ratih mengangguk.


"Udah, tadi Adit udah ngabarin mamanya" ucap Ratih.


Saras mengangguk. Ia kemudian menoleh ke arah sang adik. Fokus matanya tertuju pada lengan Adit yang nampak di gips itu. Adit juga sudah menceritakan tentang apa yang terjadi padanya malam tadi. Yang menjadi alasan kenapa Arkana sudah berada di rumah mereka pagi ini.


Suasana hening sejenak. Tiba tiba..


Tak...tak...tak....

__ADS_1


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Membuat Ratih, Saras, Adit, serta Dion pun menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya di sana seorang wanita cantik berpenampilan anggun nampak berjalan mendekati ruang IGD. Wajahnya terlihat panik tegang dan menyiratkan sebuah kekhawatiran.


Ya, itu adalah Maya..! Ibu sambung dari Arkana. Wanita yang memang sudah khawatir saja kemarin itu nampak datang ke rumah sakit itu dengan terburu-buru setelah Adit mengabarkan padanya tentang kondisi yang dialami Arkana yang tiba-tiba pingsan pagi ini.


Ratih melepaskan pelukannya atas Saras. Ia nampak mengusap lelehan air matanya.


Maya mendekat dengan mimik wajah yang kurang bersahabat.


"Nyonya .." ucap Ratih pada Maya. Maya menatap ke arah empat manusia yang berada di hadapannya itu satu persatu. Dion yang berada di samping Saras tiba-tiba diam mematung. Sorot matanya menatap tajam ke arah wajah Maya. Tak berkedip sama sekali. Dion terlihat tegang dengan dada yang terasa berdebar lebih cepat.


Laki laki itu nampak mengepalkan kedua telapak tangannya. Matanya lantas terpejam, kepalanya bergerak gerak memaksa otaknya bekerja keras untuk mengingat sesuatu. Persis seperti yang terjadi dengan Arkana pagi tadi.


Saras yang masih fokus dengan Maya dan Ratih tak menyadari dengan kondisi sang suami yang berdiri di sampingnya.


"Tante...." ucap Saras.


Maya mengangkat dagunya.


"Bukan begitu, nyonya. Semalam Arkana menginap di rumah saya setelah menolong putra saya dari kecelakaan. Lalu paginya saya membuat nasi goreng untuk sarapan kami. Nasi goreng itu adalah menu yang selalu Saya makan hampir setiap pagi. Tapi tidak tahu kenapa, tiba-tiba Arkana pingsang. Dia seperti mengerang kesakitan sebelum pingsan" ucap Ratih.


"Arkana memang tidak bisa makan sembarangan. Jadi saya harap pada kalian, jangan memberikan makanan apapun pada putra saya. Karena kalian tidak tahu apa apa tentang putra saya. Saya tidak mau terjadi hal-hal yang tidak saya inginkan pada Arkana..!" ucap Maya tegas dan judes.


Ratih nampak menunduk. Ia merasa bersalah. Saras nampak diam, mengamati Maya dari atas sampai bawah dengan mimik wajah tak suka. Ucapan Maya terlalu pedas untuk diperdengarkan.


"Saya rasa urusan diantara kita sudah selesai. Saya sudah datang ke tempat ini. Arkana sudah bersama saya, ibunya sendiri. Jadi saya rasa kehadiran kalian di sini sudah tidak diperlukan lagi. Terima kasih sudah membawa putra saya ke rumah sakit. Kalian bisa pulang" ucap Maya yang seolah mengusir secara halus.


Saras bereaksi. Ia baru saja membuka mulutnya, hendak menjawab ucapan Maya yang terdengar tidak mengenakan itu. Namun tiba-tiba....


Seettt....


Sebuah telapak tangan besar menggenggam lengan rampingnya. Membuat Saras pun menoleh ke arah samping di mana Dion nampak berdiri di sana sambil menggerak-gerakkan kepalanya. Sedangkan satu tangannya terlihat menjambak rambutnya sendiri seolah ingin melepaskannya dari kulit kepalanya.


"Dion, kamu kenapa?" tanya Saras pada sang suami yang mulai mengerang kesakitan.

__ADS_1


Maya mengangkat dagunya melihat pemandangan itu.


Dion tak menjawab. Ia sudah sangat kesakitan. Adit diam tak bergerak melihat gelagat sang kakak ipar. Gejala yang dialami Dion sama seperti yang terjadi pada Arkana tadi pagi.


Remaja itu nampak mengernyitkan dahinya. Kenapa pagi ini banyak orang tiba tiba merasa pusing? Pikir Adit.


Dion masih mengarang kesakitan. Membuat Saras dan Ratih pun panik karenanya.


"Kita bawa ke dokter yang praktek di rumah sakit ini aja, kak..! Dari pada pingsan kayak kak Arka tadi. Kok aneh banget, pagi ini banyak banget orang pusing..!" ucap Adit asal bunyi. Namun berhasil membuat Maya menoleh dan menatap tajam ke arah pemuda itu. Sayang, Adit tak menyadarinya.


Saras mengangguk pertanda menerima saran dari adiknya. Ia dibantu Ratih kemudian memapah tubuh tegap milik Dion yang terasa menegang itu untuk menuju ruangan dokter yang berada tak jauh dari ruang IGD tersebut. Sedangkan Adit nampak berjalan dibelakang, mengikuti langkah kakak dan ibunya tersebut dari belakang. Ratih dan anak anaknya itu kemudian pergi menjauh meninggalkan Maya yang masih berdiri di depan ruang IGD.


Tiba tiba....


Ting...


Ponsel di dalam tas Maya berbunyi. Wanita itu kemudian merogoh benda pipih itu dan membukanya.


Sebuah pesan dari Bharata masuk ke dalam benda canggih miliknya itu.


"Kamu sudah sampai di rumah sakit? kondisi Arka gimana? Aku masih terjebak macet di jalan. Mobilku nggak bisa gerak" tulis pria itu.


Maya tersenyum manis, kemudian menuliskan balasannya di room chat nya dengan sang suami.


"Nggak usah buru-buru, Mas. Arka baik-baik aja. Aku udah sampai di rumah sakit" tulisnya.


...----------------...


Selamat pagi


up 06:05


yuk, dukungan dulu 🥰

__ADS_1


__ADS_2