Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
130


__ADS_3

"Terimakasih banyak, Tuan Dion. Saya benar benar sangat puas dengan hasil karya anda!" ucap Kyle pada pria berparas tampan suami Saras itu sembari menyerahkan satu buah amplop coklat berisi sejumlah uang


Dion tersenyum hangat sembari menerima amplop tersebut. "Sama sama, Tuan. Saya juga sangat berterimakasih anda sudah mempercayakan lukisan ini pada saya," ucap Dion.


Kedua pria dewasa beda usia itu lantas saling berjabat tangan.


"Kalau begitu kami permisi dulu," ucap Kyle.


"Silahkan," jawab Dion.


Kyle dan sang istri bangkit diikuti dua bocah kecil itu dibelakangnya.


"Bye bye, Om pelukis!" ucap bocah pria bernama Tiger itu.


"Bye..." jawab Dion sambil tersenyum.


"Dadah Om ganteng pelukis!" tambah si bocah wanita yang berada di belakang si bocah pria. Mendengar ucapan itu si bocah pria bernama Tiger itu nampak reflek menghentikan langkahnya dan berbalik badan ke arah bocah wanita bernama Aliya itu.


"Aliya anaknya Ayah Zack dan Bunda Zizah, plis deh, jangan centil! Akutuh malu tauk!!" ucap Tiger sembari berkacak pinggang.


"Apasih Tiger? Akutuh nggak centil. Plis deh, jadi cowok jangan gampang emosi kaya Mas Uncle, ntar cepet tua ubanan loh kayak opa Adrian!" ucap Aliya.

__ADS_1


"Iiihhh, dasar anak cewek, nggak pernah mau kalah!" ucap Tiger sembari mendengus kesal dan melipat kedua lengannya di depan dada. Ia kemudian berlalu pergi dari tempat tersebut. Aliya mengikutinya dari belakang sembari memanggil manggil namanya.


Dion, Arkana, dan Saras hanya terkekeh. Keluarga bahagia itu lantas berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Ya ampun, lucu banget mereka berdua! Jadi pengen," ucap Saras gemas. Arkana nampak berdecih mendengar ucapan adiknya. Sedangkan Dion hanya mengulum senyum mendengar ucapan itu. Lalu...


Plaakk...


"Aduh!!" pekik Saras. Dion menepuk wajah Saras menggunakan segepok uang dalam amplop hitam di tangannya. Arkana berdecih sambil terkekeh, sedangkan Saras yang semula nampak kesal kini seketika berbinar dibuatnya. Diraihnya amplop coklat itu lalu membuka isinya. Senyumannya lantas mengembang. Saras yang memang mata duitan itupun nampak sumringah. Senyumannya melebar melihat gepokan uang berwarna merah pemberian Kyle.


"Mata lo langsung ijo tuh ngeliat duit!" ucap Arkana sembari melengos, melenggang pergi menuju meja barista.


Saras tak peduli. Ia nampak berbinar dengan amplop coklat di tangannya. Wanita itu kemudian mendudukkan tubuhnya kembali ke meja mereka semula. Dion kembali menyeruput kopinya hingga tandas.


Saras menoleh.


"Jalan jalan dulu!" ucap wanita itu.


"Kemana?" tanya Dion.


"Ya kemana aja. Bosen tauk di rumah terus," ucap Saras membujuk sang suami. "Kan sekarang kita lagi banyak duit. Bisa buat makan sepuasnya!"

__ADS_1


"Makan mulu lo! Perut udah buncit juga, makanan mulu yang dipikirin!" tegur Arkana dari belakang meja baristanya.


"Ih, berisik banget! Udah sana, kerja! Pembeli lo pada ngantri noh!" ucap Saras.


Arkana hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar jawaban dari Saras. Laki-laki yang kini sudah menggunakan celemek di tubuhnya itu lantas kembali meracik beberapa pesanan kopi untuk para pengunjung yang mulai memenuhi coffee shopnya. Pasca menjauhnya ia dari Gio, Arkana memang cukup kerepotan menghandle coffee shop itu seorang diri. Lantaran memang antara jika dibandingkan Arkana, Gio jauh lebih cekatan.


"Butuh karyawan baru nggak, Ka? Gue kerja deh disini kalau lo keteteran. Bayarannya dua kali lipat tapi!" celetuk Saras dari mejanya.


"Pala lu!" sahut Arkana membuat Saras tergelak. Wanita itu kembali menyeruput minuman dingin miliknya yang berada di atas meja. Tiba tiba...


Krieeettt....


Pintu coffee shop terbuka. Arkana dan Dion yang berada di tempat berbeda itupun nampak reflek menatap ke arah sumber suara. Dan....


.


.


.


"Gio?"

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2