Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
44


__ADS_3

Di sebuah taman yang tak terlalu ramai di pinggiran kota besar itu. Disebuah taman dengan danau yang sangat jernih di tengah tengahnya.


Seorang pria tampan nampak asyik dengan lukisannya. Melukis sebuah danau nan indah dengan pemandangan wanita cantik berkacamata di pinggir nya.


Ya, Dion menggunakan istrinya sendiri sebagai objek gambarnya. Membuat Dion kini terlihat berusaha membuat lukisan itu menjadi sebagus mungkin. Membuat detail wajah Saras nampak secantik dan senyata mungkin. Ia tak mau setengah setengah dalam membuat karya indah dengan wajah istri cantiknya itu di dalamnya.


"Dooooorrrr....!!!!"


Suara itu sama sekali tak membuat Dion terkejut. Saras yang baru saja tiba itu nampak melompat ringan sambil menepuk pundak Dion. Namun rupanya laki laki itu tetap tenang, tidak terkejut sedikit pun.


"Ck...!" ucap Saras berdecak kesal sambil menjatuhkan tubuhnya di samping sang suami.


"Kok nggak kaget sih?!" ucap Saras kecewa.


Dion hanya terkekeh.


"Suara kamu terlalu cempreng buat ngagetin orang..!" ucap Dion meledek. Membuat Saras pun menoleh lalu mengangkat satu sudut bibirnya dan menatap sinis ke arah sang suami.


"Issshh...!" ucapnya.


Dion tersenyum lucu. Hingga membuat mata sipit itu seolah terpejam ketika senyuman itu mengembang di bibir merahnya.


Saras merogoh kantong kresek putih yang sejak tadi dibawanya. Diambilnya sebuah snack disana lalu mengeluarkan kemudian membukanya.


"Kamu mau?" tanya Saras menawarkan snack pada Dion.


"Boleh..!" jawab pria yang masih sibuk dengan kertas lukis dan kuasnya itu.


"Aku suapin..!" jawab wanita itu kemudian. Digerakkan nya tangan putih itu, menyodorkan satu lembar keripik kentang ke mulut sang suami. Dion pun lantas menerimanya dan mengunyahnya. Saras menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Menatap hasil karya pria tampan kesayangannya itu.


"Belum jadi aja aku udah kelihatan cantik..!" ucap Saras sekenanya sambil mengunyah snack di tangan nya.


Dion terkekeh.


"Cantikan di lukisannya dari pada aslinya..!" ucap Dion meledek. Saras reflek menoleh ke arah sang suami.

__ADS_1


"Ih, kok gitu sih?!" ucap Saras kesal. Dion tak menjawab Ia hanya terkekeh mendengar rengekan istri cantiknya itu. Keduanya kembali larut dalam candaan ringan mereka. Menikmati siang mereka yang tak terlalu panas itu di tepi danau berdua sambil melukis sebuah gambar yang sangat indah.


Hingga....


ting....


Ponsel Saras berbunyi. Pertanda ada pesan masuk. Saras merogoh saku celananya, masih dalam posisi kepala tersandar di bahu Dion, ia membuka ponsel itu. Sebuah pesan dari nomor yang tidak di dikenal masuk ke dalam sana.


Saras nampak mengernyitkan dahinya. Pesan dari siapa ini? pikir Saras.


Wanita itu kemudian membuka sebuah pesan dari nomor tanpa nama. Terlihat disana, sebuah foto profil dengan gambar logo sebuah perkumpulan motor gede di kota itu, nampak terpampang jelas disana.


"Hai...." tulis pesan itu.


Saras mengabaikannya. Ia justru fokus pada foto profil nomor ponsel baru itu. Sepertinya ia pernah melihat logo semacam itu sebelum nya. Tapi dimana ya? Entahlah, Saras lupa..!


"Dari siapa?" tanya Dion.


"Hah?" tanya Saras sambil menoleh.


"Temen sekolah aku kayaknya..! aku abis di masukin ke grub alumni sekolah gitu..!" ucap Saras kemudian meletakkan ponselnya di atas rerumputan tepat di disamping tubuhnya.


Dion hanya mengangguk. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada lukisan hasil karyanya itu.


"Oh ya, Dion...tadi aku ditawarin, mau ada pameran di coffee shop tempat aku beli minum tadi akhir bulan nanti. Kamu mau ikut nggak?" tanya Saras. Ia memang harus meminta persetujuan Dion dulu untuk masalah pameran. Toh, ia belum membuat perjanjian dengan Gio. Formulir yang tadi ia isi hanyalah formulir pengambilan doorprize untuk para pelanggan coffee shop itu.


Dion diam sejenak. Lalu menoleh ke arah Saras.


"Pameran apa?" tanya Dion dengan mimik wajah datar.


"Pameran lukisan, atau karya karya seni lain gitu. Bisa patung, atau yang lainnya. Tadi aku udah tanya sama pemilik nya, katanya lukisan bisa kok di pamerin disitu..!" ucap Saras.


Dion masih tak bergerak.


"Siapa nama pemiliknya?" tanya Dion memastikan. Meskipun sebenarnya ia sudah tahu.

__ADS_1


"Emm...Gio..!" ucap Saras polos.


Dion diam. Mimik wajahnya berubah menjadi sedikit tegang. Dadanya terlihat naik turun. Saras yang menyadari gelagat aneh suaminya itu lantas menegakkan posisi tubuhnya.


"Dion? Kamu kenapa?" tanya wanita itu.


Dion diam. Menatap lurus kedepan dengan sorot mata tajam.


"Aku tidak mau ikut pameran itu...!" ucap Dion tegas.


Saras mengernyitkan dahi nya.


"Kenapa?" tanya wanita itu tak mengerti.


Dion dengan cepat menoleh ke arah Saras. Menatapnya tajam dengan sorot mata membunuh. Sesuatu yang sudah sangat sering Saras lihat ketika Dion sedang dalam mode tidak nyaman, tidak suka, atau terusik.


"Kau hanya perlu menjadi istri yang penurut..! Kau tidak perlu banyak tanya..!" ucapnya pelan namun terdengar mengerikan. Bola matanya mendelik. Menampilkan sebuah amarah yang membara. Membuat Saras pun terdiam. Menatap sepasang bola mata milik sang suami itu bergantian lalu mengangguk samar. Ia sudah sangat hafal dengan gelagat Dion yang demikian. Ia tahu, laki laki itu menunjukkan ketidaksukaan nya. Akan sangat lebih baik jika Saras diam dan menurut saja.


"Oh, oke..." jawab wanita itu pelan. Dion kembali menatap kertas lukisnya. Sorot matanya masih tajam. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Saras menggerakkan kepalanya ragu ragu. Menyandarkan nya kembali di pundak sang suami sambil mengusap usap lengan kekar pria itu seolah ingin kembali menenangkan amarah pria tampan miliknya itu.


Saras bahkan mengabaikan ponselnya yang lagi lagi berbunyi beberapa kali, pertanda ada pesan masuk disana.


Entah apa yang membuat Dion tiba tiba berubah. Itu bisa ia tanyakan nanti. Yang penting sekarang adalah kembali melembutkan perasaan suaminya, agar kembali tenang dan tidak melampiaskan kemarahannya di tempat umum.


Tanpa sepasang suami istri itu sadari, dua orang pria berpenampilan preman diam diam memperhatikan pergerakan mereka dari kejauhan. Satu diantara mereka bahkan dengan lancangnya mengambil foto sepasang suami istri yang tengah berduaan itu tanpa izin. Lalu mengirimkannya pada sebuah nomor di ponselnya yang diberi nama 'Bos Besar'.


...----------------...


Selamat siang...


up 11:13


yuk, dukungan dulu...


mampir sini juga boleh

__ADS_1



__ADS_2