Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
35


__ADS_3

Sementara itu di tempat terpisah...


Ratih nampak berdecak kesal, berdiri di depan sebuah minimarket yang berada di salah satu sudut kota besar tersebut sambil membawa beberapa kantong kresek berisi barang belanjaannya.


Ya, hari ini ia pergi bersama sang putra, Adit, untuk berbelanja bulanan. Sebuah kegiatan yang selalu ia lakukan tiap bulannya sejak dulu.


Wanita itu sudah berpesan pada sang putra bungsu agar menunggunya sampai selesai berbelanja. Namun alih-alih menunggu, Adit justru kini hilang entah ke mana beserta dengan mobil mewah yang tadi mereka tumpangi. Sepertinya pemuda itu bosan. Ia malah jalan-jalan meninggalkan ibunya seorang diri di minimarket itu tanpa pamit.



"ck...! ini anak ke mana sih?!" gerutu Ratih.


"disuruh nunggu bentar aja susah banget..! masa iya gue harus naik taksi..! buang buang duit...!" ucap wanita itu kesal.


Ratih dengan terus mengomel pun mulai mengayunkan kakinya. Mencoba mencari-cari keberadaan sang putra. Barangkali berada tak jauh dari tempat tersebut. Ratih berjalan menyusuri trotoar sambil terus mengedarkan pandangannya menatap ke segala arah mencari-cari keberadaan Adit. Namun tiba-tiba....


sreeeeetttt.....


Sebuah motor tiba-tiba mendekati Ratih dengan cepat dari arah belakang. Dua orang pria yang nampak berboncengan, salah satu nya hendak rampas dompet yang berada di tangan wanita paruh banyak itu. Ratih yang terkejut menara flat menahan dompet berwarna hitam tersebut membuat aksi saling merebut pun terjadi


"siapa lu...?!!" tanya Ratih..


"jangan banyak omong...! serahin dompet lu..!" ucap pria dengan helm hitam menutup wajahnya itu.


"Ini punya gua..! lu mau ngapain? dasar rampok..!" maki wanita itu.


Ratih pun mulai berteriak-teriak meminta tolong sambil terus mempertahankan dompetnya. Merasa aksinya kurang aman, pria berboncengan itu lantas mengeluarkan sebuah pisau kecil nan tajam dari dalam saku jaketnya lalu dengan cepat menggores lengan Ratih. Membuat wanita itu pun memekik dan reflek melepaskan dompetnya. Darah menetes dari sana. Motor itu pun kabur membawa dompet hitam milik ibu dari Saras itu.


Ratih berteriak-teriak meminta tolong. Membuat perhatian beberapa orang yang berada di sana pun tertuju pada wanita paruh baya tersebut. Tak terkecuali seorang pemuda dengan celemek hitam bertuliskan Sky Coffee Cafe yang kebetulan keluar dari coffee shop miliknya, hendak membuang sampah yang berada di depan barisan ruko ruko yang berjejer itu.


Pandangan mata tajam pemuda berambut gondrong dengan cukuran tipis di sisi kanan dan kirinya itu langsung tertuju pada seorang wanita serta sebuah motor yang melesat cepat meninggalkan tempat tersebut. Otak cerdasnya kemudian bekerja. Sepertinya baru saja terjadi penjambretan...!

__ADS_1


Dengan sigap, ia mendekati motor miliknya yang terparkir di depan coffee shop itu. Kemudian bergegas mengejar motor yang mulai hilang dari pandangan mata tersebut dengan kecepatan tinggi.


Bukan Giovanni Reksa si raja jalanan jika tidak bisa mengejar motor dua ekor jambret kelas teri itu. Aksi kejar-kejaran pun terjadi. Pemuda itu, Gio, dengan keahlian berkendaranya menggerakkan kakinya, menendang nendang bodi motor jambret itu tanpa banyak bicara. Berusaha menumbangkan kendaraan roda yang kini nampak panik itu. Seorang pria yang duduk di jog belakang motor itu bahkan gerak-gerak kan bisanya ke arah Gio berusaha untuk melukai pemuda berusia 25 tahun tersebut.


Cukup lama aksi kejar-kejaran dan saling serang itu terjadi. Hingga.....


braaaaaakkkk.....


Motor si penjambret jatuh ke tanah. kedua laki-laki berhelm itu nampak meringis dibalik benda yang menutupi kepalanya itu. Gio turun dari motornya. Mendekati 2 jambret itu kemudian merampas paksa sebuah dompet hitam di tangan salah satu dari mereka. Baru saja iya mbak mengayunkan kakinya hendak memberikan tendangan pada tubuh para penjambret itu, kedua pria tersebut sudah mengangkat tangannya sambil memohon ampun....


"ampun..! ampun, bang..! jangan, bang...! gue minta maaf...!!" ucap dua pria itu dari balik helmnya.


buuuuuggghhhh....


buuuuuggghhhh....


Sebuah pukulan mendarat pada masing-masing penjambret itu. Gio menendang tulang punggung kedua pria itu dengan sekuat tenaganya. Membuat dua laki-laki itu pun meringis kesakitan.


cuuiiihhh....


Gio meludah di tempat. Pemuda itu kemudian berbalik badan menuju motornya dan bergegas pergi sambil membawa dompet hitam milik Ratih di tangannya.


Gio kembali ke tempat di mana Ratih kini nampak kebingungan. Ditenangkan oleh beberapa warga yang kebetulan melintas di sana.


Gio memarkirkan motornya di depan coffee shop. Ia kemudian berjalan mendekati Ratih sambil membawa dompet hitamnya.


"ini punya ibuk..?" ucap Gio sambil menyodorkan dompet itu.


Ratih mendongak. Pemuda itu nampak tersenyum manis. Wanita itu kemudian bangkit, dengan lengan yang masih terus mengeluarkan darah.


"iya, ini punya ibuk.." ucap Ratih pada pemuda itu sambil meraih dompetnya.

__ADS_1


Gio tersenyum manis.


"lain kali hati-hati ya, Buk. Kalau kemana-mana suruh diantar anaknya aja atau keluarganya" ucap Gio begitu manis dan sopan pada wanita paruh baya tersebut.


Ratih tersenyum.


"iya, nak. Sekali lagi makasih..." ucap Ratih.


Gio menatap lengan berdarah itu.


"tangan Ibu terluka. Saya antar ke dokter, ya. Kita obatin lukanya di sana" ucap laki laki itu.


"nggak usah..! saya mau langsung pulang aja" ucap wanita itu menolak.


"nggak, buk. Saya anterin ke rumah sakit dulu. Saya bantu obatin lukanya biar nggak infeksi. Ntar saya anterin pulang, daripada jbuk pulang sendiri ntar jadinya malah bahaya. Saya nggak tega..." jawab Gio.


Ratih tersenyum lembut. Baik sekali pemuda ini, pikirnya.


"mari, buk. Saya antar" ucap Gio sembari menggerakkan tangannya menunjuk ke arah motor besar miliknya.


Ratih menurut. Ia pun lantas mendekati motor itu, naik ke atasnya bersama Gio kemudian bergegas menuju rumah sakit terdekat.



...----------------...


Selamat malam....


up 18:55


yuk, dukungan lagi...yang banyak.....

__ADS_1


__ADS_2