
Hari terus berganti semua berjalan seperti biasanya.
Hari ini adalah hari dimana jadwal pameran di coffee shop milik Arkana dan Gio akan diselenggarakan. Sesuai kesepakatan, beberapa lukisan hasil karya Dion akan dipamerkan di sana. Selain pameran lukisan, juga ada live music dan beberapa pertunjukan lain. Acara semacam itu memang sering Arkana selenggarakan di coffee shopnya setiap tahunnya. Ya, semacam untuk memperingati hari jadi tempat usaha yang ia dirikan bersama sahabat dekatnya itu.
Namun sepertinya perayaan tahun ini akan sedikit berbeda. Arkana mengurus semuanya sendiri. Gio sama sekali tidak turut campur tangan dalam acara ini lantaran hingga saat ini baik Arkana maupun Gio tidak ada yang saling berkomunikasi.
Arkana hanya sempat mengirimkan pesan pada Gio. Ia mengingatkan pria itu perihal hari penyelenggaraan pameran di coffee shop mereka. Namun sampai saat ini, Gio sama sekali tidak membalas pesan Arkana. Entah dibaca atau tidak, Arkana tidak tahu.
Hari ini, saat pagi mulai berganti siang. Laki-laki berparas tampan itu nampak duduk manis di depan sebuah meja rias di kamar pribadinya dengan sang istri. Pria itu terlihat pasrah, membiarkan Saras sesuka hati menggerakkan tangannya menata penampilan pria berparas tampan dengan mata sipit itu.
Ya, hari ini mereka akan datang ke pameran yang Arkana selenggarakan. Saras tidak mau Dion datang ke tempat itu dengan hanya penampilan yang biasa-biasa saja. Suaminya itu harus terlihat menjadi yang paling tampan diantara pria lainnya untuk hari ini.
Ya, walaupun memang sebenarnya Dion sudah sangat tampan sejak lahir. Siapa dulu dong istrinya!
"Dah, ganteng!" ucap Saras sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Dion yang sejak pagi dipermak oleh sang istri itu nampak menoleh ke arah Saras lalu tersenyum begitu manis.
"Dah? Udah boleh berdiri?" tanya laki laki itu. Saras mengangguk yakin. Dion tersenyum lagi. Ia lantas bangkit dari posisi duduknya dan berdiri di hadapan istri tercintanya. Ditatapnya Saras dengan penuh cinta. Wanita itu terlihat begitu bangga melihat penampilan Dion siang ini.
"Udah belum senyum senyumnya? Jadi berangkat nggak?" tanya Dion.
"Ya jadi, dong! Kan aku mau pamer sama orang orang kalau aku punya suami ganteng," ucap Saras bangga.
Dion terkekeh. Digerakkannya tangan kekar itu mengacak acak rambut bergelombang sang istri dan diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di kening Saras.
"Dah, yuk. Berangkat!" ajak Dion.
"Yuk," sahut Saras. Sepasang suami istri itu lantas keluar kamar. Keduanya berjalan menuruni tangga rumahnya, dan bertemu dengan Malvino yang nampak berada di lantai bawah. Sepertinya pria itu juga hendak pergi. Terbukti, ada Jason di belakangnya.
"Pa," ucap Dion.
Malvino menoleh.
"Dion," ucapnya.
"Papa mau pergi?" tanya Dion.
"Ya, Papa ada urusan sebentar," jawab Malvino. Dion mengangguk. Sedangkan Saras yang memang tak begitu akrab dengan Malvino itu hanya diam.
__ADS_1
"Kalian mau pergi?" tanya Malvino.
"Iya, kita mau ke coffee shopnya Arkana," ucap Dion.
Malvino tersenyum manis.
"Ya sudah, kalian hati hati. Papa nggak mau terjadi sesuatu lagi sama kalian," ucap Malvino. Dion hanya tersenyum. Malvino lantas berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Saras maju satu langkah. Berdiri tepat di samping Dion sembari menatap punggung sang mertua dan anak buahnya yang kini nampak keluar dari rumah tersebut.
Dion menoleh ke arah sang istri.
"Kenapa?" tanya Dion. Saras menoleh lalu diam sejenak.
"Nggak apa-apa," jawabnya.
"Aku jarang lihat kamu ngobrol sama Papa," ucap laki-laki itu.
"Tuan Malvino kan emang orangnya diem terus kaya kamu sebelum ketemu aku," jawab Saras.
Dion terkekeh. "Aku ramah, kok. Kan kamu dulu yang bilang," ucap Dion. Saras hanya terkekeh mengingat pertemuan pertamanya dengan Dion.
"Jangan panggil Papa dengan sebutan tuan. Dia bukan tuan kamu, dan kamu bukan pembantunya. Dia mertua kamu. Harusnya kamu panggil dia papa."
"Mulai sekarang, aku nggak mau kamu manggil dia tuan lagi. Panggil dia papa. Seperti aku memanggil dia," ucap Dion manis dan lembut.
Saras tersenyum. Dion sudah banyak berubah. Semakin hari ia semakin menunjukkan sikap kedewasaan. Sangat jauh berbeda dengan Dion yang dulu sebelum bertemu dengan Saras.
Wanita itu kemudian mengangguk. Dion kembali menggerakkan tangannya menggandeng tangan sang istri dan menggenggamnya erat.
"Berangkat sekarang?" tanya laki-laki itu.
Saras mengangguk. Keduanya lantas bergegas pergi dari tempat tersebut. Menuju sebuah coffee shop milik Arkana untuk menghadiri pameran yang selenggarakan oleh kakak kandung Saras itu.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah. Di sebuah coffee shop milik anak kandung Bharata. Beberapa pengunjung sudah nampak memadati Coffee shop yang sedikit berbeda dari biasanya itu.
Beberapa lukisan indah hasil karya adik iparnya serta beberapa pelukis lain di kota itu tergantung di dinding-dinding coffee shop. Selain itu, juga ada beberapa patung, pernak pernik, serta ornamen ornamen lucu hasil karya anak-anak negeri yang sengaja dipamerkan di tempat tersebut.
__ADS_1
Selain itu, sebuah panggung rendah juga nampak berada di sana. Seorang wanita cantik berambut panjang nampak asyik memainkan gitarnya. Menghibur para pengunjung yang berada di coffee shop itu.
Namanya Aleta Balqis Aqilah. Ia adalah seorang penyanyi wanita yang cukup di kenal di negara itu. Aleta adalah satu dari beberapa pengisi acara dalam gelaran pameran itu.
Arkana dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya itu nampak berjalan mendekati seorang pria dewasa berjambang cukup lebat yang nampak duduk di salah satu bangku disana. Pria itu nampak duduk bersama seorang remaja tanggung yang merupakan putra pertamanya dengan si penyanyi cantik yang sedang bernyanyi di atas panggung itu.
Namanya Leonardo Alfindo Ganada. Biasa dipanggil Tuan Leon. Ia adalah suami dari Aleta. Ia sendiri berprofesi sebagai seorang produser di sebuah PH ternama di kota itu. Sedangkan remaja disampingnya, itu adalah putra pertamanya dengan Aleta. Namanya Alka. Alka merupakan putra angkat dari Leon dan Aleta. Ia dan adiknya, Ahsa, diadopsi oleh Leon saat dirinya masih berusia sepuluh tahun, dan adiknya lima tahun. Kini usia Alka sudah dua belas tahun. Sudah beranjak remaja. Parasnya juga cukup tampan. Orang orang yang tahu tentang kisah keluarga mereka pasti tak akan mengira jika Alka hanyalah anak angkat Leon dan Aleta.
"Selamat siang, Tuan Leon," ucap Arkana. Leon menoleh.
"Oh, selamat siang," jawab pria yang usianya jauh lebih tua dari istrinya itu. Kedua pria beda usia itu nampak saling berjabat tangan. Arkana lantas mendudukan tubuhnya di salah satu kursi di samping Leon. Alka mengulurkan tangannya pada Arkana. Kakak kandung Saras itupun menyambutnya. Remaja tampan itu lantas meraih punggung tangan Arkana dan menciumnya sebagai tanda hormat. Sebuah perilaku sederhana yang menunjukkan sebuah etika dan tata krama yang mungkin sangat jarang dimiliki oleh anak muda jaman sekarang.
Arkana tersenyum.
"Hanya berdua saja?" tanya Arkana.
"Oh, iya. Si kembar kami tinggal di rumah. Sedangkan yang satu sedang ikut kakeknya," ucap Leon pada Arkana.
Ya, Leon dan Aleta memiliki empat orang anak. Alka dan Ahsa selaku anak angkat, dan si kembar Abi dan Ana sebagai anak kandung. Ahsa yang kini dikenal sebagai YouTuber kecil itu memang sangat dekat dengan kakeknya, yakni Tuan Marion yang merupakan ayah kandung Aleta. Tuan Mario sendiri adalah seorang Jenderal berbintang yang cukup berpengaruh di negara itu.
...----------------...
Selamat siang,
up 12:39
yuk, dukungan dulu...
Yang penasaran dengan kisah keluarga Leon dan Aleta yang banyak drama dan menguras air mata. Yuk, mampir disini👇👇
"Istri Kedua Tuan Leon"
__ADS_1