Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
94


__ADS_3

Beberapa jam kemudian. Di sebuah rumah mewah kediaman Ratih dan Adit. Sebuah mobil mewah berwarna hitam nampak memasuki halaman luas rumah tersebut. setelah memarkirkan kendaraannya di salah satu sudut halaman, seorang pria berpenampilan serba hitam lengkap dengan kacamata hitam turun dari kursi kemudi. Ia nampak berjalan mengitari mobil, lalu membukakan pintu belakang kendaraan roda empat tersebut seolah mempersilahkan sepasang suami istri yang merupakan atasannya itu untuk turun dari kendaraannya.


Dion dan Saras turun dari mobilnya. Dilihatnya di halaman rumah itu, sebuah motor besar berwarna hitam nampak sudah terparkir disana.


Itu motor Arkana..! Saras hafal motor itu. Dion yang juga mengenali kendaraan roda dua itupun hanya menatap datar motor tersebut. Ada mimik wajah tak suka di sana. Saras meraih telapak tangan sang suami kemudian menggenggamnya erat.


"Masuk, yuk" ucap Saras. Dion mengangguk. Sepasang suami istri itu lantas berjalan beriringan. Melangkah menuju pintu utama bangunan berlantai dua itu.


Ceklek...


Pintu rumah terbuka. Saras dan Dion masuk ke dalamnya. Ruang tamu rumah itu terlihat sepi. Namun suara Ratih dan Adit nampak terdengar dari ruang tengah bangunan berharga milyaran itu.


"Ibuk..." Saras memanggil sang ibunda. Dion hanya mengikutinya dari belakang.


"Buk" ucap Saras lagi saat sampai di ruang tengah rumah ibunya. Dilihatnya di sana Ratih, Arkana, dan Adit nampak berkumpul. Mereka berbincang santai sambil tertawa tawa di ruangan itu ditemani sebuah televisi yang menyala.


Saras terdiam sejenak. Ratih, Adit, dan Arkana yang menyadari kedatangan sepasang suami istri itu berlantas menoleh.


"Saras?" ucap Ratih yang sedikit terkejut. Begitu juga Adit dan Arkana.


"Ibuk" ucap Saras. Ratih meletakkan bantal sofa yang berada di pangkuannya. Wanita paruh baya itu lantas mendekati sang putri. Lalu...


Cetaakkk....


"Aduuhhh!! Ibuk, sakiitt...!!!" pekik Saras yang mendapatkan hadiah jitakan di kepala dari sang ibu.


"Lu kemana aja?!! Berhari-hari lu ngilang nggak ada kabar! Gua khawatir sama lu..! Ditelepon nggak bisa, nggak ada kabar sama sekali..! Kemana lu?!" tanya Ratih tak ada sedih sedihnya. Saras hanya terkekeh sembari menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.


"Hehehe, Sibuk” jawab Saras cengengesan yang justru kembali mendapatkan jeweran telinga dari ibunya. Arkana yang melihat adegan itu hanya terkekeh. Lucu sekali ibu dan adik perempuannya itu.


"Segala nomor gue di blok! Nomor lo juga udah nggak aktif. Gue kira lu ganti keluarga!" sahut Adit tanpa dosa.

__ADS_1


"Hape gue ilang. Kecopetan. Makanya nomor hape gue ganti. Ya mana gue tahu kalau nomor lo di blok!" ucap Saras yang berbohong dengan sangat lancar. Membuat Dion yang berada di belakangnya pun nampak mengangkat satu sudut bibirnya.


"Gue kira lu mau buang gue ama ibuk..!" ucap Adit asal ceplos yang justru mendapat respon lucu dari Arkana. Pria itu nampak mengacak acak rambut Adit.


Ratih tersenyum. Ia merasa lega jika ternyata Saras baik baik saja.


"Eh, duduk. Ada yang mau gue sampaiin sama lu," ucap Ratih.


"Apa?" tanya Saras.


"Udah, kalian duduk dulu," ucap Ratih pada Saras dan Dion. Sepasang suami istri itu lantas mendudukan tubuh mereka di salah satu sofa disana. Sedangkan Ratih kini nampak mendudukkan tubuhnya di samping Arkana.


"Ras, Dion, ada yang mau gue sampaiin ke kalian." Ratih menatap kearah Saras dan Dion bergantian.


"Apa, Buk?" tanya Saras.


"Beberapa hari lalu Arkana sama pak Bharata, ayahnya Arkana, datang ke sini. Mereka bilang, katanya sempat ada orang yang berusaha berbuat kurang aj*r sama lo, tapi Arkana nolongin lu. Dan waktu itu, Arkana nggak sengaja melihat tanda lahir di dada sebelah kiri lu, Ras. Tanda lahir itu adalah tanda lahir yang bisa dibilang cukup langka. Karena berbentuk sebuah pulau," ucap Ratih memulai ceritanya.


"Ras, dulu gua kan pernah bilang sama lu, kalau sebenarnya Burhan itu bukan bapak kandung elu. Lu sebenarnya punya ayah kandung dan satu saudara laki-laki yang pergi dari rumah kita setelah gua sama suami pertama gue pisah." Ratih menatap Saras dan Arkana bergantian.


Saras menoleh ke arah Arkana. Laki-laki itu rupanya sejak tadi menatap nanar dengan mata mengembun ke arah sang adik kandung. Mereka sudah cukup lama saling mengenal namun tidak begitu akrab. Tidak ada yang tahu bahwa rupanya keduanya adalah sepasang adik dan kakak yang terpisah sejak kecil.


Saras tersenyum.


"Saras udah tahu, Buk" ucap wanita itu membuat semua yang berada disana menoleh ke arah mereka.


"Dion udah cerita semuanya. Sebenarnya dari kemarin dia pengen ngajak aku ke sini buat ketemu sama ibuk. Tapi akunya nggak bisa, lagi teler" ucap Saras sedikit berbohong.


Ratih nampak mengernyitkan dahinya.


"Oh ya? Lu udah tahu?" tanya Ratih. Saras mengangguk.

__ADS_1


"Dion udah cerita semuanya sama aku, Buk" ucap Saras sembari menoleh ke arah Ratih, Adit, kemudian Arkana secara bergantian. Ia tersenyum ke arah pemuda yang rupanya merupakan kakak kandungnya itu.


"Aku juga nggak nyangka, ternyata kita kakak adik. Padahal kita udah sering ketemu" ucap Saras pada Arkana. Laki laki itu terkekeh. Ada rasa canggung di antara keduanya. Mengingat mereka bertemu ketika keduanya sudah saling dewasa. Bahkan Arkana dulu sempat menaruh kekaguman pada Saras saat pertama kali melihat wanita itu. Ia juga sempat mengatakan pada Gio, andai Gio tak bisa mendapatkan Saras, maka ia akan maju untuk mendekati perempuan itu. Namun ternyata Tuhan berkata lain. Saras adalah adik kandungnya. Dia istri dari Dion, orang yang paling Gio benci.


Ratih nampak tersenyum haru.


"Gue seneng kalau kalian ternyata udah saling tahu. Nggak perlu ada drama drama untuk membuktikan kalau kalian adalah saudara karena bapak kalian sendiri dan gue yang jadi saksinya, kalau kalian adalah saudara" ucap Ratih pada sepasang putra putrinya itu.


Adit yang sejak tadi diam kini nampak menatap ke arah Saras dengan sorot mata menyelidik.


"Tunggu!" ucap Adit membuat semua menoleh.


"Apa?" tanya Saras.


"Tadi lu bilang katanya lu teler? Maksudnya kenapa? Lu mabuk-mabukan berdua sama suami lu?!" tanya Adit menerka nerka.


"Nggak gitu juga, Oon!!" ucap Saras sembari melempar bantal sofa lagi ke arah sang adik. "Gue hamil!" ucap Saras kemudian yang membuat semua pun terkejut.


"Serius?" tanya Arkana. Saras mengangguk.


"Alhamdulillah" ucap Arkana mengucap syukur. Ratih nampak berbinar mendengarnya.


"Syukurlah kalau lu hamil. Gue ikut seneng dengernya. Jaga baik baik kandungan lo. Jangan petakilan lagi lo jadi perempuan. Yang agak halus dikit. Bentar lagi lu jadi ibu. Hamil muda itu masih rentan. Lu nggak boleh terlalu capek. Nggak boleh banyak pikiran. Nurut ama suami lo. Dijaga baik baik tuh kandungan..!" ucap Ratih menasehati.


"Iya, ibuk..! Iya..!" ucap Saras. Dion hanya tersenyum. Keluarga bahagia itupun melanjutkan obrolan santai mereka hingga siang menjelang sebelum Arkana kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Gio.


...----------------...


Selamat malam


up 17:46

__ADS_1


Yang santai santai dulu ya. Besok lanjut mulai lagi yang tegang tegang.


Yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2