
Ceklek....
Pintu kamar mewah itu terbuka. Dion membopong sang istri masuk ke dalam sana dan merebahkannya di atas ranjang empuk milik mereka. Saras nampak lemah sambil sesekali memegangi kepalanya. Wanita itu masih merasa pusing akibat pengaruh obat bius yang dihirupnya.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Dion. Saras menggelengkan kepalanya.
"Kita tadi darimana sih, Dion? Kayak banyak banget orangnya," ucap Saras yang lagi lagi menjadi manusia yang paling ketinggalan informasi. Ia selalu berada dalam kondisi pingsan ketika orang lain tengah saling adu jotos. Membuatnya selalu tak tahu tentang apa yang baru saja menimpanya. Padahal semua ini menyangkut nyawanya.
Dion terkekeh. "Nggak usah dipikirin," ucap laki laki itu. Saras diam, ia kembali memejamkan matanya kala merasakan pusing di kepalanya.
"Kamu istirahat, gih. Ini udah malam, lho" ucap Dion sambil mengusap usap pucuk kepala wanita itu.
"Ya udah, sini bobok!" ajak Saras sambil meringsut dengan mata terpejam. Ia kemudian menepuk nepuk salah satu sisi kasur yang kosong itu seolah meminta Dion untuk tidur disana.
"Aku mau mandi dulu, Saras." Wanita itu nampak mengerucutkan bibirnya.
"Nggak usah mandi!" rengek ibu hamil itu.
"Bau, sayang," ucap Dion.
"Nggak apa apa, kok. Aku suka bau keringat kamu. Sini..." ucap Saras lagi sembari menepuk nepuk sisi kosong kasur itu bak seorang bocah yang minta di puk puk bapaknya. Dion berdecih sambil terkekeh. Ia kemudian melepas kaos hitamnya, lalu naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana.
Saras meringsut. Ia mengikis jarak dengan sang suami. Tangan kekar Dion lantas bergerak memeluk tubuh ramping wanita hamil itu. Saras mendusel. Menghirup aroma tubuh Dion yang khas sambil memejamkan matanya. Kepala itu ia gerak gerakkan, membuatnya bergesekan dengan bongkahan dada bidang bertombol coklat di kedua sisinya itu. Dion hanya terkekeh. Ia lantas memejamkan matanya. Menemani sang istri untuk tidur sebelum membersihkan diri.
...****************...
__ADS_1
Sementara itu di tempat terpisah. Disebuah rumah sakit besar di kota itu. Pemuda babak belur itu kembali dilarikan ke IGD. Pria itu sudah tak sadarkan diri sejak dibawa ke rumah sakit. Membuat Xena yang mengantarkannya pun nampak khawatir dibuatnya.
Saat ini, di depan ruang IGD, perawat yang kini tidak sedang bekerja itu nampak mondar mandir di depan pintu IGD yang terbuka. Wajahnya terlihat tegang, ia nampak tidak tenang.
Malvino yang kini duduk di salah satu kursi tunggu rumah sakit itu nampak melirik ke arah Xena. Pria dengan goresan pisau di lengan sebelah kirinya itu nampak menatap tajam ke arah Xena yang sejak tadi tak mau duduk. Ia terus berjalan mondar mandir sambil berucap lirih, merapalkan doa untuk kesembuhan pria pembully Dion itu.
"Pacarmu tidak akan mati," ucap Malvino tenang namun terasa dingin. Laki-laki itu berucap dengan sorot mata tajam yang menatap lurus ke depan tepat ke arah tembok putih di sana. Xena reflek menoleh.
"Dia bukan pacar saya, Tuan." Wanita itu menjawab. Malvino menoleh ke arah sang gadis dengan sorot mata yang sama.
"Lantas, kenapa kau begitu khawatir?" tanya Malvino. Xena hanya tersenyum.
"Saya hanya khawatir, Tuan. Dia seorang yatim piatu, tidak punya ayah dan ibu. Kasihan jika sampai terjadi apa-apa sama dia," ucap wanita berhijab itu. Malvino diam sejenak, menatap ke arah perempuan muda itu dari atas sampai bawah.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa orang tuamu tidak mencarimu? Ini sudah hampir larut malam," tanya Malvino. Xena diam sejenak. Ia lantas menoleh ke arah jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Sebenarnya saya juga yatim piatu, Tuan. Tapi saya punya ibu panti yang merawat saya dari bayi. Untung Tuan ingetin. Ibu pasti udah khawatir banget saya nggak ngasih kabar sampai jam segini," ucap wanita berkulit putih itu. Gadis itu kemudian pindah pipi itu di telinga bagian kanannya.
"Halo, assalamualaikum, Ibuk," ucap Xena lembut dan manis.
"Wa Alaikum Salam, Nak. Kamu dimana, Xena? Ini sudah malam kok kamu belum pulang?" tanya seorang wanita dari seberang sana.
Xena tersenyum.
"Iya, Buk. Maaf, Xena baru bisa ngabarin. Hari ini Xena lembur, Buk." Wanita itu sedikit berbohong pada sang ibu panti.
__ADS_1
Ibu panti menghela nafas panjang.
"Lain kali, kalau mau lembur jangan lupa ngabarin Ibuk. Biar Ibuk nggak khawatir, Nak," ucap wanita paruh baya di seberang sana itu dengan lembut.
"Iya, Buk. Sekali lagi Xena minta maaf, ya," ucap wanita itu lagi.
"Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati kerjanya, ya. Ibu mau istirahat dulu," ucap sang ibu panti.
"Iya, Buk. Ibuk, selamat istirahat ,ya. Assalamualaikum," ucap Xena manis.
"Wa alaikum salam," jawab sang ibu panti. Sambungan telepon pun terputus. Xena memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya. Ia kemudian menoleh ke arah Malvino. Pria dewasa itu nampak memejamkan matanya sembari melipat kedua lengannya di depan dada. Xena nampak menautkan kedua jari telunjuknya seolah tengah berpikir. Ia kemudian berjalan, maju satu langkah mendekati Malvino.
"Tuan," ucapnya. Malvino membuka matanya, lalu menatap malas ke arah sang gadis berkerudung hitam.
"Em, maaf. Tangan Tuan luka. Mari saya obati. Takutnya nanti jadi infeksi kalau dibiarkan lama lama," ucap Xena pelan. Malvino tak langsung menjawab. Pria yang kini nampak bertelanjang dada itu lantas menengok ke arah salah satu lengannya yang terluka yang kini nampak di balut dengan kain kemeja putihnya itu.
"Ini hanya luka kecil," ucapnya.
"Itu luka besar, Tuan. Lebih baik segera diobati. Biar bisa cepet sembuh juga," jawab Xena. Malvino diam lagi. Ia kembali mengarahkan pandangannya menatap ke arah Xena dari atas sampai bawah.
"Baiklah," jawab Malvino kemudian. Xena tersenyum.
"Tuan tunggu disini sebentar, biar saya ambilkan obat untuk Tuan," ucap wanita itu.
Xena kemudian beranjak pergi meninggalkan Malvino. Ia berjalan menuju ruangan perawat untuk meminta peralatan pembersih luka serta perban guna membalut luka di lengan ayah kandung Dion itu.
__ADS_1
...----------------...