Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
33


__ADS_3

Di halaman belakang villa mewah itu. Malvino nampak berdiri membelakangi Saras yang baru saja diseretnya. Wanita itu nampak menatap punggung mertuanya. Menunggu hal apa yang ingin Malvino katakan padanya.


"ada perlu apa tuan membawa saya kemari?" tanya Saras.


Malvino tak langsung menjawab. Ia menghela nafas panjang lalu berbalik badan dengan tenang menghadap ke arah Saras yang berada di belakangnya.


Malvino menatap angkuh menantunya itu lalu berjalan tenang mendekati wanita dua puluh tahun tersebut.


"sepertinya kau sangat ingin mengenal putraku lebih dekat" ucap Malvino.


Saras diam.


"kau sampai berani mengajaknya keluar dan menginap di villa ini" imbuhnya.


Saras tersenyum tenang.


"bukankah mengajak suami pergi itu hal yang wajar? saya hanya mengajak Dion jalan jalan, bukan mengajaknya bertempur di medan perang..!" ucap Saras di barengi senyumannya di akhir kalimat nya.


Malvino mengangkat dagunya. Ia lantas mengangguk.


"ya, kau benar..! tapi sayangnya putraku tidak seperti orang orang kebanyakan. Aku yakin, kau pasti sudah tahu itu..!" ucap Malvino.


"aku bahkan juga mencium gelagat bahwa kau ingin mengorek masa lalu suamimu. Benar begitu?" tanya Malvino lagi.


Saras diam. Dua pasang mata itu saling pandang dengan sorot tajam tanpa gentar. Wanita itu mengangkat dagunya.


"bukankah dalam perjanjian jelas tertulis, bahwa saya diwajibkan menjadi istri yang baik untuk putra anda. Lalu bagaimana saya bisa menjadi istri yang baik kalau saya saja tidak tahu latar belakang kehidupan Dion?! saya rasa, banyak yang saya tidak tahu dari putra anda, papa mertua.." ucap Saras yang sepertinya memang lebih berani berdebat dengan mertuanya dibandingkan dengan suaminya sendiri.


Malvino mengangkat dagunya.


"saya yakin, sebagai seorang ayah anda juga tahu bahwa putra anda tidak seperti pria pria lain seusianya. Bahkan anda sampai sampai rela pagi pagi datang menyusul kami hanya untuk memastikan putra anda baik baik saja. Dion juga terlihat ketakutan saat berinteraksi di dunia luar. Dion terlihat berbeda. Padahal dia bukan anak anak lagi, dia sudah dua puluh dua tahun..! Apa yang sebenarnya terjadi pada dia?" tanya Saras.


Malvino menatap garang menantunya.


"lebih baik kau diam, lalat kecil..!" ucap Malvino.


"saya bukan penjahat, tuan. Saya istrinya, saya juga berhak tau tentang suami saya...!" ucap Saras.

__ADS_1


"kalian menikah bukan atas dasar cinta...!" balas Malvino.


"benar, tapi apapun alasannya, Dion tetaplah suami saya, saya berhak untuk mengenal Dion lebih dalam. Saya tidak pernah punya niat jahat pada putra anda, saya justru ingin membantu dia, jika memang dia mengalami masalah dalam hidupnya..." ucap Saras.


Malvino diam tak bergerak. Mereka masih beradu pandang. Cukup lama, lambat laun, sorot mata tajam sang Malvino perlahan mulai melemah. Ia menggerakkan bola matanya menatap rerumputan taman belakang rumah yang terlihat rapi itu, lalu berbalik badan.


Pria bertubuh tegap itu lantas merogoh saku celananya, mengambil sebungkus rokok, mengeluarkan satu batang benda bernikotin itu lalu menyalakan nya dan mulai menikmati nya.


Sorot matanya menatap lurus kedepan.


"Dion adalah putraku. Dia satu satunya keturunan ku. Dia adalah seorang anak yang terlahir dari seorang wanita yang pernah ku beri rahimnya untuk memberikan ku seorang putra"


"entah, kemana dia sekarang.." ucap pria itu lalu kembali menghisap cerutu nya.


Saras diam mendengarkan.


"masa kecil Dion sangat bahagia. Dulu kami tidak tinggal di kota ini. Tapi di kota lain, sebelum akhirnya kami pindah ke kota ini saat Dion mulai duduk di bangku SMA..."


"Aku menyayangi Dion selayaknya seorang ayah, aku selalu memberikan apapun yang ia inginkan, tak pernah aku mengizinkan air mata menetes di pipinya." ucap Malvino lagi.


"pekerjaan ku bukanlah pekerjaan yang halal. Pekerjaan ku adalah pekerjaan yang di benci banyak orang. Aku, adalah orang yang selalu berusaha di buru oleh polisi, bahkan sampai detik ini...!" imbuhnya lagi.


"semua berjalan seperti seharusnya. Aku dan Dion hidup sebagai sepasang ayah dan anak yang tidak pernah kekurangan kebahagiaan. Aku selalu memberikan apapun yang putraku inginkan. Memperlakukannya bak seorang raja dengan segala harta benda yang ku punya..!"


"Dion pun ku sekolahkan di sebuah sekolah elit yang hanya dihuni oleh anak-anak orang berdompet tebal. Aku selalu memastikan hidupnya dikelilingi orang orang berkualitas dengan segala fasilitas yang terbaik...!"


"awalnya semua berjalan baik. Hingga sebuah masalah datang....."


"polisi mengendus keberadaan kelompokku. Kami diringkus saat hendak menjalankan pekerjaan kami. Aku dan anak buah ku di penjara. Aku meninggalkan Dion seorang diri. Saat itu Dion masih berusia delapan tahun, duduk di bangku kelas dua sekolah dasar."


"Penangkapan ku berimbas pada kehidupan Dion. Berita penangkapanku tersebar di seluruh penjuru negeri. Gambar wajahku ditempel di mana-mana. Membuat aku pun menjadi bahan gunjingan semua orang. Putraku yang hidup sebatang kara di luar sana tak luput terkena imbas dari penangkapanku. Ia menjadi bahan bully an oleh teman-temannya. Dikucilkan, dan diasingkan. membuat luka batin dalam diri Dion. Hal itu pun membuatku yang kala itu masih mendekam di dalam tahanan pun tak bisa berbuat banyak. Aku sangat jarang bertemu dengan putraku. Hingga kabar yang kudengar kala itu, Dion dirawat oleh salah satu guru sekolahnya. Hidup bersama dengan guru itu sampai aku keluar dari penjara."


"namun aneh, setelah aku keluar dari tahanan, aku melihat perbedaan sikap dalam diri putraku. Ia lebih suka mengurung diri di kamarnya. Ia tidak suka keramaian. Ia benci orang asing dan dia suka menyakiti binatang."


"bahkan yang paling mengejutkan aku pernah menemukan salah satu pelayan ku tewas di kamarnya. Dan saat itu, aku melihat Dion tengah bersenandung sambil melukis sesuatu di atas kertas gambarnya. Dia memang suka melukis sejak kecil, tapi saat itu untuk pertama kalinya aku melihat dia melukis menggunakan darah... darah manusia..!" ucap Malvino.


Saras tak bergerak.

__ADS_1


"Dion kupaksa untuk mengaku. Dia kupaksa untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kenapa dia membunuh pelayan itu, dan siapa yang mengajarinya...! tapi bukan menjawab, dia justru marah. Dia bahkan menyerangku dan mungkin berniat untuk melakukan hal yang sama padaku...."


"sejak saat itu aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada diri Dion. Aku bahkan sempat memasukkan nya ke rumah sakit jiwa, untuk memulihkan kondisi mentalnya..."


"sambil berusaha memulihkan kondisi mental putraku, aku pun mengarahkan anak buahku untuk menyelidiki kehidupan macam apa yang terjadi pada putraku selama aku berada dalam tahanan. Aku kemudian mencurigai guru yang katanya menjaga Dion selama aku tidak ada. Aku pun mengerahkan anak buahku untuk mencari guru itu. Tapi sayang, dia sudah lenyap entah ke mana. Aku tak bisa menemukan nya bahkan sampai detik ini. Satu petunjuk yang kudapat, dia adalah seorang perempuan. Tapi seperti apa wujud dan bentuknya, aku tidak tahu. Karena ketika aku bertanya pada Dion, putraku selalu ketakutan. Aku makin yakin bahwa guru yang selama ini menjaga dia bukanlah orang yang baik. Guru itu ikut berperan dalam membentuk karakter Dion yang sekarang..!" ucap Malvino bernostalgia.


Saras diam.


"Dion pernah jatuh cinta pada seorang perempuan. Saat itu dia masih duduk di bangku kelas tiga SMA. Dia mencintai adik kelasnya. Mereka berpacaran cukup lama hingga Dion pernah berencana untuk menikahi wanita itu. Awalnya hubungan mereka juga berjalan dengan sangat baik. Namun semua menjadi berubah manakala dia datang ke rumah gadis itu dan bertemu keluarga nya..."


"Gadis itu adalah adik dari seorang pembully yang dulu pernah menyakiti hati putraku. Dion sangat membencinya..! Dia tidak bisa menyembunyikan emosinya saat berhadapan dengan kakak dari pacarnya itu. Dion marah, mengamuk, dia berteriak-teriak di rumah gadis itu membuat si gadis itu pun malu dan akhirnya memilih untuk memutuskan hubungan dengan Dion..." ucap Malvino.


Pria itu diam sejenak. Lalu berbalik badan menatap ke arah menantunya yang masih diam tak bergerak.


"putraku tidak terima. Dan kau pasti tahu, bagaimana akhirnya Dion membalaskan sakit hatinya pada gadis itu, bukan?" tanya Malvino.


Saras diam. Dadanya sesak mendengar penuturan mertuanya itu. Sedramatis itu kisah masa lalu suaminya. Berawal dari bullying anak anak sekolah, dan berdampak pada pembentukan karakter seseorang hingga ia dewasa.


Saras nampak menunduk. Sungguh, ia merasa kasihan pada pria itu.


"itulah alasan kenapa aku menginginkanmu untuk menjadi menikah dengan putraku. Karena aku mau kau menjadi pengganti mantan pacarnya itu. Itu juga lah sebabnya kenapa aku meminta kau menjadi wanita penurut, aku melarangmu meninggalkannya sebelum Dion yang meminta untuk ditinggalkan, dan aku selalu memintamu untuk menjadi istri yang baik untuk Dion. Semua karena aku mau dalam hati Dion merasa, bahwa dia juga pantas untuk dicintai. Dia pantas untuk dihargai. Di dunia ini bukan hanya ada pembully. Masih ada orang lain yang bisa memandangnya sebagai manusia normal. Sebagai laki-laki yang bisa dibanggakan. Sebagai laki-laki yang tidak lemah dan bisa dicintai dengan sungguh-sungguh...!" ucap Malvino dengan mata mengembun. Sesuatu yang tak pernah Saras lihat sebelumnya.


Malvino mengusap cairan yang hampir tumpah itu. Ia menegakkan posisi tubuhnya. Berdiri gagah dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Aku gagal membahagiakannya meskipun aku memiliki segalanya..! Sekarang kau sudah berada di lingkungan kami. Maka aku mau, tetaplah menjadi istri yang baik untuk putraku. Aku harap kau tidak berniat untuk melakukan hal macam-macam, karena jika sampai itu terjadi, maka aku tidak segan untuk menghabisimu dan keluargamu...!" ucap Malvino.


"ingat, Saras. Dion membunuh mantannya karena sakit hati. Aku harap kau paham, apa yang seharusnya tidak kau lakukan...!" ucap laki laki itu.


Saras sama sekali tak merespon. Pikirannya masih melayang-layang entah ke mana. Malvino mengangkat dagunya, menatap angkuh ke arah wanita muda itu.


Tanpa banyak kata, pria itu kemudian mengayunkan kaki kekarnya, meninggalkan tempat tersebut. Meninggalkan Saras yang masih berkutat dengan berbagai pemikiran di kepalanya.


...----------------...


Selamat siang...


up 113:53

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘😘😘


__ADS_2