Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
103


__ADS_3

Daaghh...!


"LEPASKAN SAYA!! SAYA NGGAK BERSALAH...!! ANJ*NK KALIAN SEMUA!! BANGS*T!! BIAD*P KALIAN...! LEPASKAN SAYA!!!" Suara itu terdengar menggema dari balik salah satu jeruji besi di kantor kepolisian itu. Wanita itu histeris. Ia berteriak teriak bak orang gila. Memaki, menghujat, mengeluarkan sumpah serapahnya untuk orang orang yang dianggapnya sebagai biang atas terbuangnya ia ke dalam penjara ini.


Hilang sudah Maya yang keibuan dan bijaksana. Tak ada lagi sisi anggun dan tenang yang Maya tunjukkan. Wanita itu seolah menjelma menjadi wanita setengah gila. Ia memaki-maki dan mengumpat semua yang berada di tempat itu. Tak peduli aparat, napi, bahkan Arkana sekalipun. Kata-kata kasar selalu terucap dari mulutnya. Seolah tak ada lagi raut wajah tenang dan ucapan lembut yang selalu Maya tunjukkan setiap harinya itu.


Arkana menatap nanar ke arah sang mama. Ia nampak menitikkan air matanya. Dalam hatinya ia seolah tidak tega melihat wanita yang sangat ia sayangi itu histeris di dalam sana. Namun mau bagaimana lagi, Maya sudah dinyatakan bersalah oleh pihak kepolisian. Ia sudah berupaya menculik dan melenyapkan nyawa beberapa orang. Membuatnya tak bisa lagi berkelit dari sejumlah hukuman yang siap menantinya.


Arkana nampak memalingkan wajahnya, seolah tak mengizinkan air mata itu jatuh menetes tanpa izin. Ia benar benar tak tega melihat Maya di dalam sana. Ratih yang berada di samping sang putra itu nampak mengusap pundak Arkana. Seolah berusaha memberikan ketenangan bagi laki laki berparas tampan dengan kulit putih itu.


"Ka, kamu udah hubungi papa kamu?" tanya Ratih.


Arkana menoleh. Ia nampak menggelengkan kepalanya. Ia bahkan sampai lupa untuk memberitahu ayahnya perihal apa yang terjadi sore ini.


Ratih menghela nafas panjang. "Telfon papa kamu. Suruh dia pulang secepatnya. Ceritakan semuanya. Jangan ada yang ditutup tutupi. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Ratih pelan.


Arkana nampak mengembun. Laki laki itu benar benar hancur. Ratih kemudian mengajak Arkana duduk di salah satu kursi tunggu yang berada di kantor polisi itu. Seolah ingin menenangkan perasaan pria itu terlebih dahulu.


Arkana mengusap wajahnya hingga ke kepala bagian belakangnya. Ratih nampak menghela nafas panjang.


"Ka, maafkan ibu, ya," ucap Ratih membuat Arkana menoleh ke arahnya.


"Kenapa ibuk minta maaf?" tanya pemuda itu.


"Mama kamu begini karena dia cemburu sama Ibu. Dia takut kalau Ibu mengambil kamu dan papa kamu darinya. Andai Ibu dan Saras tidak muncul dalam kehidupan kamu, mungkin semuanya tidak akan terjadi, Ka," ucap Ratih merasa bersalah.

__ADS_1


Arkana menatap nanar ke arah ibundanya. Ia kemudian menegakkan posisi duduknya menghadap ke arah sang ibu. Diraihnya tangan yang sudah mulai mengeriput itu dan meremasnya lembut.


"Kalau nggak ada Ibuk, juga nggak akan ada Arka, Buk," ucap pemuda itu.


"Tapi jalan hidupmu dan papamu sudah benar. Kalian sudah bahagia dengan kehidupan baru kalian, harusnya kalian tidak perlu bertemu dengan ibu dan Saras," ucap Ratih.


"Pertemuan kita terjadi atas izin Tuhan. Tidak ada yang bisa menghalangi kehendak Tuhan, Buk. Aku dan papa yang mencari kalian sejak awal. Kami ingin bertemu dengan kalian dan membangun lagi tali silaturahmi yang baik. Dan Tuhan memudahkannya. Tidak ada yang salah dalam hal ini, Buk," ucap Arkana.


Ratih nampak menitikkan air matanya.


"Andai kamu dan yang lainnya tidak datang menolong Ibu tadi, mungkin semuanya akan menjadi lebih baik. Harusnya kamu tidak perlu menolong ibumu ini. Ibu yang sudah dengan bodohnya melepasmu dan papamu dulu. Semua berawal dari kesalahan Ibuk. Andai Ibuk tidak melakukan kebodohan itu, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini," ucap Ratih.


Arkana tersenyum manis. "Jika ada yang bilang, ayah adalah cinta pertama anak perempuannya, maka sebagai anak laki laki, ibu adalah ratu baginya. Dia akan melakukan apapun, untuk menjaga dan melindungi wanita yang sudah melahirkannya ke dunia."


"Tidak ada manusia yang sempurna, Buk. Kesempurnaan hanya milik Tuhan yang Maha Mencipta. Apa yang terjadi dalam keluarga kita, itu semua sudah tertulis. Itu sudah takdir yang Allah buat untuk kita, dan kita tinggal menjalankannya. Pertemuan kita saat ini, di tempat ini, dalam kondisi yang seperti ini, itu juga atas kehendak Nya. Jika memang ibuk merasa memiliki dosa pada aku dan papa, Arkana sudah memaafkan ibuk sejak awal, sebelum ibuk meminta maaf. Berhenti untuk menyalahkan diri sendiri, Buk. Mulai sekarang, kita mulai hidup baru. Aku dan papa akan membantu untuk menyembuhkan mental mama dan sebisa mungkin akan mengeluarkannya dari penjara. Dan sebagai seorang anak, tolong jangan pernah menghalangi aku untuk berbakti sama ibuk. Dia yang berada di dalam jeruji itu adalah ibu yang membesarkanku, menghidupiku, dan merawatku hingga dewasa ini. Tapi perempuan yang kini berada di hadapanku, dia adalah wanita yang sudah melahirkanku, mempertaruhkan nyawanya, berjuang bermandikan tetesan darah dan keringat hanya untuk mengajakku melihat dunia yang indah ini. Aku ingin berbakti kepada kedua wanita ini tanpa membeda-bedakannya. Tolong bantu aku, Buk," ucap Arkana begitu dalam, membuat Ratih menangis haru dibuatnya.


Ratih memeluk erat putranya itu. Betapa badannya Iya pernah membuang sebuah berlian hanya demi batu kerikil yang tak berharga. Menyia nyiakan keluarga yang indah hanya demi kenikmatan yang palsu. Andai ia tak tergoda oleh bujuk rayu Burhan, maka mungkin keluarganya akan menjadi keluarga yang paling harmonis di muka bumi ini.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah, di sebuah ruangan di dalam rumah sakit besar itu.


Malvino nampak diam menatap paras ayu wanita muda berhijab di hadapannya itu. Wanita yang kini nampak sibuk membersihkan luka bekas sayatan pisau Maya dan membalutnya dengan kain perban.


Dilihatnya wanita muda yang mungkin usianya tak jauh dari Dion itu. Parasnya manis. Bibirnya tipis. Kulitnya putih. Suaranya sedikit nyaring namun lembut.

__ADS_1


Entah mengapa Malvino merasa betah berlama lama menatap paras ayu itu.


"Siapa namamu?" tanya Malvino. Xena menoleh.


"Saya?" tanyanya.


"Memangnya ada siapa lagi di ruangan ini?" tanya Malvino. Xena tersenyum.


"Nama saya Xena, Tuan," jawab wanita itu.


"Sudah menikah?" tanya pria itu lagi. Xena terdiam seketika. Ia seolah memiliki pemikiran buruk terhadap pria dewasa yang cukup menyeramkan itu.


"Be, belum. Ta, tapi saya nggak mau nikah sama Tuan. Saya belum mau nikah!!" ucap Xena buru buru. Ia takut jika nasibnya sama seperti di film-film barat yang sering ia tonton. Di mana seorang pria dewasa seorang ketua mafia jatuh cinta pada gadis polos kemudian memaksanya untuk menikah. Sungguh, ia tak mau seperti itu. Itu terlalu mengerikan!


"Siapa yang mau menikahi anak kecil sepertimu, bodoh?! Aku hanya bertanya!" ucap Malvino dingin. Xena nampak menunduk.


"Dimana rumahmu? Ini sudah malam, biar ku antar pulang!" ucap Malvino.


"Oh, nggak usah, Tuan. Saya bisa pulang sendiri...." Ucapan Xena terpotong.


"Aku tidak akan memperk*samu di jalan!" ketus Malvino memotong ucapan Xena. Ia seolah sudah bisa menebak jalan pikiran sempit gadis itu. Xena kembali terdiam, lalu menunduk.


Malvino bangkit dari posisi duduknya. Ia melempar kemeja penuh darah miliknya itu ke tong sampah yang berada di ruangan tersebut.


"Dalam waktu lima menit, kau sudah harus berada di dalam mobilku!" ucap Malvino angkuh sembari mengayunkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Xena membuka mulutnya. Ia tak punya pilihan. Ini memang sudah larut malam. Sedangkan motornya masih berada di bengkel paska diserempet Jeep penculik Gio siang tadi.

__ADS_1


Xena bergerak cepat. Dengan terburu-buru ia mengemasi peralatan pembersih luka dan perbannya. Wanita muda itu lantas meraih tas ranselnya, kemudian bergegas pergi dari tempat tersebut mengikuti langkah kaki Malvino yang sudah jauh dari ruangan itu.


...----------------...


__ADS_2