
Pagi menjelang, saat mentari mulai menampakkan sinar teriknya. Di dalam ruang ICU rumah sakit besar itu.
Seorang pria berjambang lebat nampak duduk di samping sebuah ranjang pasien. Tempat di mana seorang pria muda kini nampak terbaring lemah, tak sadarkan diri dengan perban dan beberapa alat bantu kesehatan yang menempel di tubuhnya.
Pria dewasa yang selalu terlihat garang itu kini nampak diam. Menatap nanar tanpa suara ke arah pria muda, putra kebanggaannya.
Ya, itu adalah Malvino. Laki laki yang dikenal bengis dan keji itu kini berada di ruang ICU, tempat dimana Dion mendapatkan perawatan lebih lanjut setelah keluar dari IGD. Putra semata wayang Malvino itu masih tak sadarkan diri. Dokter mengatakan, tak ada masalah yang terlalu serius dalam diri pria itu, meskipun hingga kini ia belum juga tersadar dari pingsannya.
Malvino nampak diam. Ia yang kini berada di ruang ICU bersama Jason itu nampak tak lepas menggenggam tangan putra tersayangnya tersebut. Sebagai seorang ayah yang membesarkan Dion seorang diri sejak kecil, ada rasa sakit yang ia rasakan melihat sang putra terbaring lemah tanpa pergerakan. Ia terlalu menyayangi laki-laki itu, membuatnya seolah tak rela jika terjadi hal-hal buruk pada pria suami sah Saras tersebut.
"Jason..." ucap Malvino.
Jason mendekat.
"Saya, Tuan" jawab pria tangan kanan Malvino itu.
"Kau sudah bertanya pada para anak buah mu?" tanya Malvino yang baru saja memerintahkan Jason untuk meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi semalam pada Dion dan Saras itu kepada para anak buahnya yang berjaga di istana megah miliknya.
Jason mengangguk yakin.
"Sudah, Tuan. menurut pengakuan para penjaga dan anak buah, tepat saat tengah malam Saras keluar dari kamarnya. Dia mencari keberadaan tuan muda yang katanya tidak berada di kamar mereka. Kemudian para penjaga mencoba mencari tuan muda ke seluruh penjuru rumah, namun tidak ditemukan. Saras bersikeras untuk keluar dari rumah itu mencari tuan muda diluar rumah. Para penjaga sempat menghalangi Saras namun wanita itu diam-diam menyelinap pergi saat para penjaga dan anak buah lengah. Sopir yang biasa menemani tuan muda dan Saras kemudian melacak keberadaan Saras melalui ponselnya. Akhirnya ia menemukan Saras di sebuah rumah bersama seorang laki-laki dalam posisi memapah tuan muda yang sudah tidak sadarkan diri" ucap Jason.
"Apa itu rumah pemuda itu?" tanya Malvino.
"Bukan, Tuan. Milik seorang pemuda lain. Sepertinya pemuda di rumah itulah yang menghajar tuan muda" ucap Jason.
"Siapa pemuda itu?" tanya Malvino.
"Masih kami selidiki, Tuan." ucap Jason.
"Apa dia punya hubungan dengan Saras?" tanya Malvino.
"Maaf, saya belum bisa memastikan, Tuan. Tapi kalau saya boleh berbicara, saran saya jangan sakiti Saras dulu, Tuan. Biar bagaimanapun, semenjak kehadiran Saras, tuan muda mengalami kemajuan yang cukup baik. Dan Tuan muda juga terlihat sangat nyaman dengan perempuan itu. Selama ini Saras juga tidak menunjukkan hal-hal yang mencurigakan. Lebih baik kita tunggu Tuan muda sadar dulu. Setelah itu baru kita tanya pada dia, apa yang sebenarnya terjadi. Baru kita bisa mengambil tindakan untuk perempuan itu. Lebih baik untuk sementara kita awasi saja Saras dan keluarganya. Memastikan mereka tidak berbuat macam-macam ataupun berniat untuk kabur dari kita" ucap Jason.
Malvino tak menjawab. Ia nampak menghela nafas panjang. Benar juga apa yang dikatakan Jason. Memang selama ini bisa dikatakan Saras cukup patuh baik pada Dion maupun pada Malvino. Tapi entahlah, semenjak ada Saras emosi Dion seolah naik turun. Hal yang membuat Malvino khawatir atas kesehatan putra semata wayangnya itu.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah.
Di kantin rumah sakit.
"Aw..! Sakit, buk..!!" ucap Saras sedikit terjingkat.
"Diem..! Nggak usah manja..!" ucap Ratih sambil melotot garang.
Saras dengan mata sembab itu terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Lu setahun lagi hidup di rumah itu, mati lo lama-lama, Ras..!" ucap Ratih yang sejak tadi tak henti mengomel.
__ADS_1
"Kalau gua tahu ternyata kelakuan mertua ama laki lu kayak begitu tiap hari ke elu, gua nggak akan biarin lu nikah sama dia...! Udah, cerai aja lu ama dia..!" ucap Ratih membuat Saras mendongak seketika.
"Apa sih, Ibuk..?! ngomongnya..!!" ucap Saras protes.
"Jangan lu bilang, setelah semua yang udah terjadi sama lu, lu masih mau bertahan ama suami lu..! Iya kalau laki lu waras, orang gila kayak gitu masih lu belain..! Kalau tahu kayak gini kehidupan lu selama ini, mending gue hidup jadi gembel daripada punya mantu orang gila kayak gitu..!" ucap Ratih benar benar murka.
"Ibuk, Dion nggak gila..!!"
"Terus apa namanya?!!" bentak Ratih lagi membuat Saras menunduk.
Ya, Ratih sudah tahu semuanya. Saras terpaksa menceritakan semua tentang kehidupan rumah tangganya dan Dion pada ibunya. Saras menceritakan semua tentang Dion dan masa lalunya serta pekerjaan mertuanya tanpa ada yang Saras tutup-tutupi. Semua ia ceritakan di hadapan sang ibunda, yang juga didengar secara langsung oleh Arkana yang hingga saat ini masih berada di rumah sakit menemani Saras. Saras tidak punya pilihan lain. Wanita paruh baya itu ngotot meminta penjelasan pada putri sulungnya itu. Ratih yang sudah terlanjur mengetahui perilaku Malvino pada Saras itu seolah bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Saras selama menjadi menantu dari Malvino.
Kini Ratih sudah mengetahui semuanya. Kekecewaan kini bersarang di hati wanita yang telah melahirkan Saras ke dunia itu.
Sungguh, dalam hati kecilnya, ia tak terima melihat sang putri diperlakukan demikian oleh Malvino. Terlebih lagi saat Ratih mengetahui bahwa Dion rupanya adalah seorang pemuda yang menderita sebuah trauma mental karena kejadian di masa lalunya. Hal itu membuat Ratih semakin was-was. Saras rupanya telah menikahi seorang laki-laki yang 'tidak normal'.
Saras meneteskan air mata lagi. Wanita yang tak di izinkan menemui suaminya di ruang ICU oleh mertuanya sendiri itu nampak mengusap lelehan air matanya lagi. Ratih melempar obat merah yang dipegangnya itu ke atas meja. Ratih seolah dibuat jengkel dengan sang putri yang masih bersikeras ingin bertahan dengan Dion. Sebagai seorang ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan Saras dengan segenap tenaga, ditambah lagi dengan ia yang selama puluhan tahun hidup bersama seorang laki-laki temperamental yang suka main tangan, dalam hati kecilnya, Ratih tidak terima. Dia tidak mau Saras bernasib sama dengan dirinya. Menghabiskan waktunya untuk laki-laki yang tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk ia dan anak-anaknya.
Tapi sepertinya Saras begitu keukeuh dengan pendiriannya. Di samping ada kontrak yang sudah terlanjur ia tanda tangani, Saras juga sudah terlanjur menikmati perannya sebagai istri dari seorang Dionyz Aldari Miguel. Rasanya begitu berat dan menyakitkan jika harus meninggalkan laki-laki yang sudah dinikahinya hampir 3 bulan lamanya itu. Dion bukan laki-laki jahat. Saras yakin Dion adalah laki-laki yang baik. Hanya saja trauma di masa lalunya begitu menyakitkan bagi suaminya itu. Membuatnya tak bisa mengontrol emosinya sendiri. Andai tidak ada bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan yang terus menghantui Dion, mungkin laki-laki itu bisa dikatakan sebagai laki-laki sempurna dengan segala kelebihan yang ia punya. Tampan, kaya, cerdas, berbakat, baik hati, dan manis. Hanya perlu dibimbing dan ditemani, maka laki laki itu pasti akan bisa hidup normal seperti orang orang seusianya pada umumnya.
Saras menatap sendu ke arah Ratih. Matanya tak henti menitikkan cairan bening.
"Ibuk, Dion itu nggak gila. Dia cuma butuh pendampingan aja biar bisa sembuh dari traumanya dia..! Dia normal kok..!" ucap Saras membela suaminya.
"Gue getok pala lu lama lama ya, Ras..!!" ucap Ratih jengkel.
Saras menangis lagi.
Ratih merasa sesak.
"Saras nggak mau terjadi sesuatu sama ibuk dan Adit..! Tolong biarin Saras menyelesaikan ini sendiri. Ibuk cukup doain Saras. Biar Dion bisa secepatnya pulih. Saras bisa kok...." ucap wanita itu lagi.
Ratih tak menjawab. Ia merasa sesak. Sungguh, ini begitu berat baginya. Membayangkan Saras hidup di lingkungan keluarga Malvino yang seperti itu membuatnya seolah begitu berat untuk mengiyakan ucapan putrinya tersebut.
Ratih menoleh ke arah sang putri. Cairan bening itu terus menetes tanpa henti di pipi Saras.
"Susah lu dibilangin ya, Ras..!!" ucap Ratih kesal
"Usap air mata lu..! Jangan nangis mulu...! Obatin tuh luka luka lu...! Makan yang banyak biar kuat lo ntar kalau dibanting-banting ama mertua lu..!" ucap Ratih dengan mode judes nya sembari menyerahkan obat merah itu dengan kasar. Wanita paruh baya itu kemudian bangkit, pergi dari tempat itu untuk memesan makanan.
Saras hanya menunduk. Ia kemudian meraih obat merah yang tergeletak di atas meja itu lalu mengusapkannya di beberapa bagian tubuhnya yang nampak luka. Tiba tiba...
"Ras...." ucap seorang pria yang tiba tiba datang dari arah belakang.
Saras menoleh lalu mendongak. Itu Arkana..! Pria yang sejak semalam menemaninya di rumah sakit itu nampak sudah berganti pakaian. Ia datang menghampiri Saras sambil membawa sebuah paper bag bertuliskan nama sebuah butik ternama yang berada tak jauh dari rumah sakit itu.
"Gua beliin baju baru buat lo ganti. Mending sekarang lu mandi dulu, gih. Ganti baju, kayaknya baju lu udah terlalu kotor dari semalam lu pake buat lari larian.." ucap Arkana.
Saras diam sejenak. Lalu tersenyum kaku. Digerakkan nya tangan itu meraih paper bag yang Arkana sodorkan.
__ADS_1
"Makasih..." ucapnya.
Arkana tak menjawab. Ia nampak tersenyum kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi kosong di sana, berhadapan dengan Saras. Arkana tersenyum menatap wajah wanita cantik itu.
Saras menatap sekilas pria yang juga mengalami memar di salah satu ujung bibirnya itu.
"Muka lo juga luka. Nih, obat merah. Lo obatin gih.." ucap Saras sambil menyodorkan obat merahnya.
Arkana tersenyum lagi.
"Nggak usah..! Gua mah cowok, udah biasa kayak gini..!" ucap Arkana.
Saras tersenyum. Lalu mengangguk samar.
Ratih datang membawa sebuah nampan berisi tiga piring sarapan.
"Nih, lu makan dulu..!" ucap Ratih sembari meletakkan piring yang dibawanya itu di hadapan Adit dan Saras. Sedangkan satu lagi, rencana ia makan untuk dirinya sendiri. Ratih hendak mendudukan tubuhnya di samping Saras. Namun tiba tiba fokus matanya tertuju pada pemuda tampan yang berdiri tepat di depan putri cantiknya itu.
"Em, lu, yang tadi berantem ama si anak buahnya Malvino kan?" tanya Ratih.
Arkana menoleh lalu tersenyum manis.
"Iya, tante. Saya Arkana, temannya Saras.." ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya.
Ratih pun tersenyum lalu menjabat tangan putih berbulu halus itu.
Degh...
Arkana terdiam. Bersentuhan kulit dengan wanita paruh baya itu entah mengapa membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda. Arkana mematung untuk beberapa saat.
"Gue Ratih, emaknya Saras.." ucap wanita itu.
Arkana tersenyum ke aku lalu mengangguk. Keduanya pun menjauhkan tangan masing-masing menyelesaikan aksi jabat tangan mereka. Ratih yang baru datang itu kemudian di samping Arkana.
"Muka lu bonyok juga..!" ucap Ratih mengamati wajah pemuda itu.
Arkana tersenyum sambil menyentuh ujung bibirnya yang memar.
"Nggak apa-apa kok, Tante. Udah biasa, namanya juga anak cowok..!" ucap Arkana.
"Jangan gitu..! Luka kayak gitu nggak boleh disepelein. Bisa bikin infeksi..! Sini, biar gua obatin..!" ucap Ratih sembari meraih obat merah di atas meja, kemudian mulai menggerakkan tangannya dan mulai mengolesi memar di sudut bibir Arkana.
Arkana yang hendak menolak pun akhirnya tak berkutik. Laki-laki itu mematung manakala jari telunjuk Ratih menyentuh ujung bibirnya dan mengusap-usapkan benda berwarna merah itu dengan lembut di sana. Sorot mata laki-laki itu tertuju pada wajah setengah keriput yang berada di hadapannya. Sesuatu yang berbeda ia rasakan. Entah seperti apa, tak bisa dijelaskan dengan kata kata. Ada rasa kenyamanan dan ketenangan di sana. Sebuah kehangatan yang tak pernah Arkana rasakan sebelumnya.
"Nih bocah kok ganteng banget. Mana sopan banget, lagi. Mukanya kayak nggak asing. Beruntung banget pasti orang tuanya, punya anak laki sebaik ini" puji Ratih dalam hatinya.
...----------------...
Selamat sore...
__ADS_1
up 16:18
yuk, dukungan dulu 🥰