Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
82


__ADS_3

Sementara itu di tempat terpisah,


Pria babak belur itu nampak menggendong rekannya yang tak sadarkan diri. Arkana menangis meraung raung sembari memanggil manggil dokter rumah sakit. Gio sama sekali tak bergerak diatas punggungnya. Membuat Arkana makin panik. Ia takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan pada pria yang tetap menjadi teman terbaik untuk Arkana itu.


"DOKTEEERR...!!!" teriak Arkana lantang. Memecah keheningan malam rumah sakit besar itu. Ia berteriak teriak memanggil manggil dokter sambil menangis. Membuat sejumlah orang yang berada di sana pun menoleh ke arah pemuda berkulit putih itu.


"Dokter, tolongin temen gua..!!!" teriak Arkana lagi. Seorang dokter lantas mendekat di ikuti beberapa perawat di belakangnya. Sebuah ranjang dorong pun dibawa mendekati Arkana. laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu lantas merebahkan sang sahabat yang sudah tak sadarkan diri itu ke atas ranjang tersebut. Ia bersama dokter serta beberapa perawat pun membawa Gio menuju ke ruang IGD yang berada di ujung lorong.


Arkana menangis. Gio dibawa masuk ke dalam ruangan itu bersama dokter serta beberapa perawat disana. Pintu buram itu ditutup dari dalam. Tak mengizinkan Arkana untuk ikut menemani sang sahabat yang entah bagaimana nasibnya di dalam sana.


Putra kandung Bharata itu merosot. Ia menangis. Menjambak rambutnya sendiri seolah ingin melepaskannya dari kulit kepala. Entah bagaimana perasaannya kini. Ia merasa bersalah pada Gio karena ikut andil dalam menghajar laki-laki itu. Ia kecewa dengan sikap Gio. Ia juga terkejut dengan kenyataan bahwa rupanya Saras adalah adik kandungnya. a dari musuh sahabatnya sendiri. Arkana menangis. Ia bingung. Semua itu bercampur menjadi satu, berkecamuk dalam pikiran dan hati Arkana. Perasaannya benar benar tak karuan.


Arkana kalut. Di tengah perasaannya yang tak menentu itu ia kemudian merogoh sakunya. Mengambil benda pipih miliknya dan menghubungi sang ayah. Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Semoga saja laki-laki itu belum tidur. Ia butuh tempat untuk bersandar dan bercerita. Dia butuh ayahnya, karena ia tak mungkin menceritakan ini pada Maya lantaran ini menyangkut tentang Saras, adik kandung yang ia dan ayahnya cari cari selama ini tanpa sepengetahuan Maya.


Arkana mengusap lelehan air matanya sambil menempelkan ponsel itu di telinga sebelah kanannya.

__ADS_1


Tuutt ... tuutt .. tuutt....


"Halo, assalamualaikum, Ka. Ada apa? Kok kamu belum pulang jan segini?" tanya Bharata dari seberang sana. Laki-laki itu kini tengah berada di ruang kerja pribadinya. Kebetulan sekali, ia tengah lembur malam ini. Membuatnya sejak tadi mengurung diri di ruangan itu tanpa didampingi Maya.


"Pa...." ucap Arkana sambil menangis. Membuat Bharata yang mendengarnya pun terperanjat.


"Arka? Kamu kenapa, Ka?" tanya Bharata.


"Pa, Arka udah ketemu sama Anggi, Pa..! Dia masih hidup..! Anggita masih hidup, Pa..!!!" ucap Arkana sambil terus menangis. Ia tak peduli dengan penampilan maskulinnya yang seolah tak pantas untuk menangis itu. Ini terlalu mengejutkan dan mengoyak batin Arkana. Bharata yang berada di kursi kerjanya pun nampak terkejut mendengar ucapan sang putra.


"Anggi masih hidup..! Dia ada di dekat kita..!! Papa kesini sekarang, Pa..! Tolongin Arkana sekarang..! Ada masalah yang harus papa tahu..! Tolong kesini sekarang...!!" ucap Arkana makin meraung raung. Membuat Bharata pun bingung dibuatnya.


"Ka, kamu tenang dulu. Bicara pelan pelan..! Papa nggak ngerti kamu ngomong apa..!" ucap Bharata mencoba menenangkan sang putra.


Arkana sesenggukan. Pria itu lantas menarik nafas panjang. Ia kemudian mulai menceritakan semua yang terjadi tentang Gio, Saras, dan Dion. Tentang permusuhan antara Gio dan Dion yang berawal dari aksi bullying di masa lalu. Kemudian berlanjut pada Gio yang menaruh hati pada Saras. Namun ternyata Saras merupakan istri dari Dion. Arkana juga menceritakan tentang pertikaian antara Dion dan Gio. Lalu tentang niatan Gio yang ingin menghancurkan Dion lewat Saras. Dan berakhir pada terbongkarnya sebuah fakta bahwa rupanya Saras adalah adik kandung dari Arkana. Arkana meyakini hal itu dari tanda lahir yang ia lihat di dada kiri Saras serta kartu tanda pengenal yang menunjukkan nama serta tempat tanggal lahir Saras yang sama persis dengan Anggita. Ia yakin akan hal itu. Ia yakin bahwa Saras adalah adiknya yang hilang.

__ADS_1


Arkana kembali menangis tak terbendung. Ia kalut. Ia butuh tempat untuk bersandar. Bharata yang mendengar tangisan sang putra itu nampak menghela nafas panjang.


"Udah, kamu tenang. Mending sekarang kamu ambil wudhu, kamu sholat. Papa akan menyusul kamu ke rumah sakit sekarang" ucap Bharata yang kini mulai bangkit dari posisi duduknya. Bersiap untuk pergi dari ruangan itu menuju rumah sakit tempat Arkana berada.


"Mama gimana, pa?" tanya Arkana.


"Mama kamu udah tidur. Kamu tunggu di situ. Papa segera kesana" ucap Bharata.


Arkana mengangguk. Sambungan telepon pun kemudian terputus. Bharata bergegas pergi menuju rumah sakit itu. Sedangkan Arkana kini mulai bangkit. Ia mengusap air matanya dan berjalan menuju mushola rumah sakit untuk menenangkan diri. Menghadap pada sang pencipta dan mengadukan segala keluh kesahnya.


...----------------...


Selamat siang


up 11:14

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2