Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
104


__ADS_3

Hari berganti,


Saat pagi menjelang, di sebuah kamar luas milik Dion dan Saras. Laki laki itu nampak keluar dari dalam kamar mandi miliknya. Dengan hanya mengenakan sebuah handuk yang terlilit di pinggang, Dion berjalan mendekati sebuah lemari besar dengan pintu geser di sana. Ia lantas mengambil satu setel pakaian lengkap dari dalam sana. Dion menutup pintu lemari. Ia kemudian berbalik badan, menoleh ke arah sang istri yang nampak duduk di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya.


Laki laki itu kemudian mendekat. Melepaskan handuk yang menutupi tubuhnya tepat di hadapan sang istri.


"Kenapa?" tanya Dion.


Saras menoleh. "Ada yang mau beli lukisan kamu lagi. Dia minta ketemuan hari ini," ucap wanita itu.


"Batalin aja!" titah Dion sembari mengenakan celana d*lamnya.


Saras mendongak dengan mata melotot.


"Kenapa?!!" tanyanya. Dion yang hendak mengenakan celana pendeknya itu kemudian menghela nafas panjang.


"Kamu masih nanya kenapa?! Udah berapa kali kamu hampir celaka cuma gara gara keluar rumah?!" tanya Dion dengan mimik wajah yang nampak tak suka.


"Ya itu kan kebetulan, Dion," ucap Saras.


"Aku nggak mau ambil resiko, Saras. Kamu lagi hamil! Aku nggak mau terjadi apa apa lagi sama kamu!" ucap Dion.


"Enggak akan! Entar kita perginya berdua. Lagian juga cuma deket, kok. Di cafe ujung jalan situ. Lagian ini tuh yang mau beli orang terkenal, Dion. Sutradara keren yang ganteng itu..." ucap Saras sedikit ngeyel.


Dion melirik sembari mengenakan kaosnya.


"Siapa?" tanya Dion.


"Leonardo Alfindo Ganada. Suaminya Aleta, penyanyi itu! Entar kita bisa ketemu artis. Uuuhhh...itu laki laki jenggotnya, astagaaaa...!! Bikin gemes pengen jambak!" ucap Saras sembari membayangkan wajah sutradara berewokan yang cukup dikenal di negara itu.

__ADS_1


"Kalau cuma pengen jambak jenggot, ntar kalau papa pulang kamu jambak tuh jenggot papa sepuas kamu. Gundulin kalau perlu!" ucap Dion sembari meraih ponselnya dan memainkannya.


Saras nyengir. "Dih, ogah! Bisa dipenggal palaku sama bapak kamu itu!" sungut wanita itu.


Dion yang sudah selesai dengan pakaiannya itu hanya terkekeh. Ia lantas mendudukan tubuhnya di samping sang istri.


"Boleh, ya. Kan nanti kita juga ada jadwal check kandungan ke dokter. Sekalian jalan! Ya....." rengek Saras sembari memeluk salah satu lengan Dion.


Laki laki itu menoleh. "Enggak! Aku bilang enggak, ya enggak! Kamu diem di rumah. Duduk yang anteng!" ucap Dion tegas.


Saras mendengus kesal. Matanya mengembun. Emosinya yang tak stabil sebagai ibu hamil kembali meronta ronta. Saras ngambek. Ia kemudian naik ke atas ranjang. Tidur miring dengan memeluk memeluk gulingnya sembari menggerutu tak tentu. Dion hanya menggelengkan kepalanya. Laki laki itu kemudian memilih untuk keluar kamar, menuju balkon kamarnya dan mulai kembali menjalankan hobi melukisnya.




......................


Sebuah taksi berhenti tepat di depan gerbang tinggi istana pemberian Malvino itu. Seorang pria dewasa dengan setelan jas lengkap nampak turun dari kendaraan roda empat tersebut. Dengan sebuah koper di tangan, ia setengah berlari masuk ke dalam area rumah dengan halaman luas tersebut.


Ya, itu adalah Bharata. Ia baru pulang dari luar kota. Ia mempercepat jadwal kepulangannya setelah mendapat kabar dari Arkana mengenai istri tercintanya, Maya.


Ya, Arkana sudah menceritakan semuanya. Kini sang putra tengah berada di kediaman ibu kandungnya guna menenangkan diri. Sepertinya putranya itu benar benar terpukul atas apa yang terjadi pada keluarganya itu.


Bharata sampai di depan pintu utama rumah tersebut. Dengan segera ia pun mengetuk pintu bangunan itu dengan gerakan yang terburu buru.


Tok ... Tok ... Tok ...


Pintu diketuk. Tak ada sahutan.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok ...


Diketuk lagi.


Ceklek....


Pintu kusen dengan cat putih itu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu tersebut. Ya, itu Ratih, mantan istri pertamanya. Wanita itu nampak menatap datar laki laki mantan suaminya itu. Sedangkan Bharata kini nampak menghela nafas panjang.


"Arka ada di kamarnya. Masuk..." ucap Ratih mempersilahkan. Bharata hanya mengangguk. Laki laki itu meletakkan koper di tangannya itu tepat di samping pintu. Ia kemudian mengikuti langkah Ratih masuk ke dalam rumah itu. Lalu naik ke lantai dua tempat dimana kamar Arkana berada.


"Dia ada di dalam. Lu masuk aja. Gue mau turun dulu," ucap Ratih sedikit kaku.


Bharata hanya mengangguk. Ratih kemudian beranjak pergi dari tempat tersebut. Seolah ingin memberikan tempat untuk Bharata dan Arkana saling berbincang dari hati ke hati. Barangkali dengan nasehat dari Bharata, Arkana bisa lebih tenang.


Bharata menghela nafas panjang. Ia kemudian menggerakkan tangannya mengetuk daun pintu di hadapannya tersebut.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Ka, Arka. Ini papa, Nak," ucap pria itu.


Tok ... Tok ... Tok ...


Pintu diketuk lagi. Lalu,


Ceklek..


Pintu kamar itu terbuka. Seorang pemuda berparas tampan dengan mata yang nampak bengkak muncul dari balik pintu tersebut. Sorot matanya nampak sendu, wajahnya layu tanpa senyuman. Seolah menggambarkan betapa dalamnya luka yang mengusik hatinya saat ini.


"Pa," ucap Arkana. Bharata menatap iba ke arah sang putra. Keduanya saling diam untuk beberapa saat. Pria dewasa itu lantas menggerakkan tangannya. Meraih tubuh tegap sang putra dan memeluknya erat. Arkana kembali menitikkan air matanya. Tangisan samar samar namun terasa memilukan itu ia perdengarkan. Laki laki itu benar benar terpukul. Sosok ibu yang ia bangga banggakan, ia sanjung sanjung, ia puja puja bak seorang malaikat, rupanya begitu licik dan picik dibelakangnya.

__ADS_1


Hati anak mana yang tak hancur ketika seorang panutan dan kebanggaan yang begitu ia sayangi rupanya tak lebih seperti serigala berbulu domba. Maya bukan hanya menyakiti Saras dan Ratih yang menjadi target utama untuk dihabisi, tapi juga menghancurkan hati Arkana yang begitu percaya dan menyayangi wanita itu. Sungguh, semua kenyataan tentang Maya benar benar berhasil menampar hati Arkana.


...----------------...


__ADS_2