Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
66


__ADS_3

Keesokan paginya,


Di sebuah kamar tak terlalu luas milik remaja putra adik kandung Saras itu.


Arkana yang sudah bangun sejak subuh tadi itu nampak mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Membalas ratusan pesan dari sang mama yang masuk kedalam ponselnya sejak semalam.


Ya, semalaman Arkana tak sempat mengecek ponselnya lantaran sudah terlalu lelah. Membuat Ia pun tak mengetahui bahwa ada ratusan pesan dari ibu sambungnya itu yang masuk ke dalam ponselnya sejak semalam.


"Iya, ma. Arkana nginep di rumah teman. Maaf ya, lupa ngabarin. Abis ini Arka mau langsung ke coffee shop. Nanti sore Arka pulang cepet. Maaf, ya...." tulis pemuda itu.


Arkana tersenyum. Ia kemudian membuka bar story yang berada di aplikasi WhatsApp nya itu. Melihat beberapa postingan dari teman temannya yang berada di sana. Hingga...


Tok..tok..tok...


Pintu kamar di ketuk dari luar. Arkana menoleh ke arah pintu kamar itu.


"Adit..! Bangun..! Udah siang..! Lu nggak sekolah...?!" tanya seorang wanita setengah teriak dari balik pintu yang terkunci itu.


Arkana menoleh ke arah jam dinding kemudian ke arah ranjang. Dilihatnya disana jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, sedangkan Adit masih asyik bergulat dengan bantal dan selimutnya.


"Adit...!! Bangun...!!!" ucap Ratih lagi sembari menggedor gedor pintu kamar itu. Arkana tersenyum. Ia lantas bangkit dari posisi duduknya kemudian mendekati pintu.


Ceklek...


Pintu dibuka dari dalam. Pria berjambang tipis itu nampak tersenyum. Sedangkan Ratih yang berdiri di depan pintu nampak terkejut. Wanita itu memang tidak tahu jika Arkana menginap di rumahnya semalam. Mengingat Adit pulang sudah hampir pagi, disaat dirinya sudah tertidur.


"Lho, kok lu disini?" tanya Ratih.


Arkana tersenyum.


"Selamat pagi, tante. Maaf, saya semalem nginep disini nggak bilang bilang sama tante. Soalnya tante sudah tidur waktu saya datang" ucap Arkana sambil menampakkan senyuman termanisnya.


Ratih mengamati penampilan pria itu dari atas sampai bawah, lalu mengangguk.


"Terus, Adit mana? Lu kesini bareng sama Adit?" tanya Ratih lagi.


Arkana hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian sedikit meringsut minggir, seolah memberi ruang untuk Ratih melihat keadaan Adit yang kini tengah tertidur dalam posisi terlentang di atas ranjang dengan tangan yang di gips.


Ratih nampak melotot.


"Astaga, Adit..!!!" pekik Ratih lantang membuat Arkana pun sedikit terjingkat. Ratih berlari mendekati sang putra yang kini mulai membuka matanya mendengar teriakan dari sang ibu.


Ratih nampak terkejut melihat kondisi tangan Adit yang terlihat di gips. Ditambah lagi dengan beberapa luka di bagian kening dan pelipisnya. Membuat wanita paruh baya itupun nampak khawatir pada sang putra bungsu.


Plakk..!


Ratih menepuk pundak Adit dengan cukup keras. Membuat remaja putra itu pun memekik karenanya.

__ADS_1


"Aduh..! Sakit, Buk..!" ucap Adit.


"Ini kenapa tangan lu? kenapa di gips kayak begini?! Ini muka lu napa bonyok semua begini?! Lu abis berantem? Semalem lu abis tawuran?! Ngomong..!!" ucap Ratih setengah membentak khas emak emak.


"Kagak..!" ucap Adit mengelak.


"Jangan bohong..! Gue jedotin pala lu ke tembok ya..!!" ucap Ratih mengancam.


"Astaga, enggak, buk..!! Semalem Adit abis kecelakaan...! Tuh, kak Arkana yang nolongin..!" ucap Adit membela diri.


Ratih menoleh ke arah Arkana yang nampak tersenyum.


"Kemarin tuh ada yang hampir nabrak aku di jalan. Waktu aku lagi enak enaknya bawa mobil, tiba-tiba ada mobil box datang hampir nabrak aku. Untung aku bisa menghindar. Mana udah gitu, abis nabrak mobil, aku samperin tuh mobil box, malah tuh mobil ngejar aku, berusaha buat nabrak aku...! Setan emang tuh orang..!" ucap Adit kesal menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya semalam.


Ratih nampak menghela nafas panjang. Arkana mendekat.


"Adit udah nggak apa apa kok, tante. Saya udah bawa dia ke rumah sakit. Sebenarnya harusnya dokter menyarankan untuk Adit dirawat di rumah sakit dulu, tapi Adit nya nolak. Katanya nggak mau bikin tante repot. Tapi nggak papa, kok. Nanti seminggu sekali Adit diwajibkan buat cek ke dokter. Nanti biar saya yang temenin" ucap Arkana.


Ratih menghela nafas panjang.


"Lu kok baik banget sih jadi bocah..?! Kemarin suaminya Saras lu antar ke rumah sakit. Anak perempuan gua lu temenin sampai gua dateng. Lu belain dia abis di hajar sama mertuanya. Sekarang anak bungsu gua hampir ditabrak lu juga tolongin. Gue hutang budi banyak sama lu..!" ucap Ratih pada Arkana yang sudah berkali-kali menolong keluarga nya.


"Biasa aja kok, tante. Saya cuma kebetulan lewat. Terus nggak sengaja lihat Adit lagi kesakitan di samping mobilnya. Makanya saya samperin, langsung saya bawa ke rumah sakit. Mobilnya juga udah dibawa ke bengkel. Nanti kalau udah bener, bisa segera diambil" ucap Arkana sopan.


Ratih mengangguk. Ia menatap bangga ke arah pemuda berparas tampan dengan kulit putih itu. Seorang pemuda yang begitu baik hati. Tutur kata dan caranya berucap seolah mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia kenal dulu. Membuat hatinya merasa tentram jika melihat paras tampan pemuda yang mungkin usianya terpaut empat sampai lima tahun lebih tua dari Saras itu.


"Hari ini lu nggak usah sekolah dulu. Tangan Lu masih sakit. Muka lu juga babak belur. Daripada guru nanyain aneh-aneh sama lo. Mensing sehari ini lu libur dulu. Besok lu masuk kalau udah mendingan." ucap Ratih.


"Iya, iya..!" jawab Adit pasrah.


"Ya udah, sekarang mending lu mandi. Habis itu sarapan. Ajak Arkana sekalian makan. Ibu tunggu di bawah..!" ucap Ratih.


Adit hanya mengangguk. Ia kemudian bangkit. Disentuhnya pundak Arkana sembari berkata.


"Ikut sarapan sekalian, ya..." ucap Ratih.


"Iya, tante" jawab Arkana sopan. Ratih tersenyum. Ia kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu untuk turun ke meja makan guna menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya, Adit, dan Arkana.


...****************...


Sekitar sepuluh menit berselang, Adit turun dari lantai dua bersama Arkana. Keduanya nampak sesekali bercanda. Kedua pria beda usia itu terlihat cukup akrab walaupun belum lama mereka saling mengenal. Adit mengajak Arkana menuju ruang makan. Dimana disana Ratih nampak sibuk menyiapkan beberapa aneka hidangan di atas meja.


Adit dan Arkana pun tiba. Kedua pria itu lantas mendudukkan tubuh mereka di sebuah kursi meja makan itu.


"Nih, makan dulu. Maaf, menunya seadanya..." ucap Ratih sambil membalik dua piring yang berada di hadapan Arkana dan Adit.


Arkana nampak tersenyum. Walaupun ceplas ceplos dan terkesan galak, namun Ratih terlihat sangat baik dan hangat. Membuat Arkana justru merasa terhibur.

__ADS_1


Ratih adalah sosok seorang ibu yang apa adanya. Yang tidak dibuat buat. Yang menyayangi anak anaknya dengan apa adanya.


Ratih kembali bergerak. Menyendokkan beberapa centong nasi goreng ke dalam piring Arkana dan Adit secara bergantian.


"Ini menu makan pagi wajib dalam keluarga kami. Setiap pagi anak-anak tante selalu makannya ini. Karena mereka memang suka sama nasi goreng buatan tante. Nggak tahu, pada nggak bosen..! Padahal tiap hari lho makan kayak begini..! Kok masih pada doyan..!" ucap Ratih.


Arkana hanya tersenyum. Ia tak menjawab. Wanita itu kemudian selesai dengan aktivitasnya. Ia kemudian duduk di salah satu kursi meja makan yang berada di sana dan ikut bersiap untuk menyantap sarapan paginya.


"Yuk, makan.." ucap wanita itu.


Arkana hanya mengangguk. Ia pun mulai menyendok nasi goreng yang berada di piringnya itu bersama dengan Adit yang juga ikut melahap santap paginya disana.


Hap....


Satu sendok nasi masuk ke mulutnya.


Degh...


Arkana terdiam. Ia mengunyah pelan makanan yang kini sudah berada di dalam mulutnya itu. Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdebar. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Arkana nampak memejamkan matanya. Kepalanya bergerak-gerak, berusaha mengingat sesuatu. Sepertinya ia pernah memakan makanan dengan rasa seperti ini sebelumnya. Bayang-bayang seorang wanita duduk di hadapan seorang bocah sambil tersenyum samar samar tersirat dalam ingatannya. Tidak jelas. Terasa kabur. Namun terlihat begitu nyata. Arkana mencoba mengingatnya kembali. Ia terus memejamkan matanya. Makin menguatkan kinerja otaknya seolah dipaksa untuk bekerja lebih giat lagi agar bisa mengingat sesuatu.


Ratih yang melihat ekspresi tak biasa dari Arkana pun nampak mengernyitkan dahinya.


"Arka, Lu kenapa?" tanya Ratih.


Arkana tak menjawab. Ia terus berusaha mengingat-ingat rasa makanan yang seolah tak asing baginya itu. Ratih dan Adit nampak khawatir melihat pergerakan Arkana. Pria itu terus menggerakkan kepalanya. Kedua telapak tangannya mengepal dengan erat. Laki-laki itu mulai meringis. Ia mulai merasakan pusing. Ratih meletakkan sendoknya dengan cukup kasar kemudian berlari mendekati pria itu. Disentuhnya pundak sang pria lalu menggoyang-goyangkannya.


"Arka, lu kenapa?!" tanya Ratih.


Arkana makin tak terkendali. Ia menggerakkan tangannya mencengkram rambutnya seolah ingin melepaskannya dari kulit kepalanya. Arkana mengerang kesakitan. Rasa pusing yang begitu hebat menyerang kepalanya. Membuat laki-laki itu seolah begitu tersiksa. Ratih dan Adit yang berada di tempat tersebut nampak bingung dengan apa yang terjadi pada Arkana. Hingga tiba tiba...


Buughh....


Laki-laki itu ambruk dari kursinya. Terguling ke sebelah kanan hingga jatuh ke lantai. Ratih yang berada ditempat itupun memekik. Adiy bangkit dari kursinya dan mendekati Arkana.


"Arka..!! Lu kenapa?!!" tanya Ratih nampak panik dan khawatir.


"Kak Arka..!!!" pekik Adit ikut khawatir.


"Panggil penjaga di depan..! Kita bawa ke rumah sakit..!!" ucap Ratih.


Adit mengangguk. Ia dengan tangan di gips itupun dengan segera berlari keluar rumah untuk mencari pertolongan.


...----------------...


Selamat malam...


Up 19: 39

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2