Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
107


__ADS_3

Hari berganti,


Satu minggu terlewati setelah insiden penculikan yang dilakukan oleh Maya dan anak buahnya. Perlahan, kehidupan para anak manusia itu mulai berjalan seperti yang seharusnya. Saras dan Dion masih asyik menikmati perannya sebagai calon ayah dan ibu muda. Sedangkan Maya hingga kini masih berada di rumah sakit jiwa guna mendapatkan penanganan. Sementara Gio, satu minggu berselang, laki-laki itu belum juga sadar dari pingsannya. Raga yang seolah sudah remuk redam akibat menjadi korban pemukulan berkali kali itu masih terbaring lemah di rumah sakit dengan berbagai alat kesehatan yang menempel di tubuhnya.


Lagi-lagi, tak ada satu manusia pun yang datang menjenguk Gio selain Arkana dan Bharata. Kedua laki-laki itu menjadi satu-satunya keluarga yang masih peduli pada Gio di saat semua orang seolah lupa dengan pria malang tersebut. Arkana selalu datang ke rumah sakit saat pagi ketika hendak berangkat kerja dan mampir lagi ke rumah sakit setelah pulang dari tempatnya bekerja. Tak jarang ia menginap di tempat itu guna menemani sang sahabat yang masih tak sadarkan diri hingga saat ini.


Siang ini, di kediaman milik Ratih. Tepatnya disebuah meja bundar yang berada di samping kolam renang. Wanita itu nampak duduk dengan sorot mata menatap lurus ke depan. Tak ada suara yang terdengar dari bibir mungilnya. Wanita itu kini tengah berada di teras samping rumah ibunya, duduk berdua dengan seorang laki laki paruh baya yang rela membatalkan meeting pentingnya hari ini hanya demi bertemu dengannya.


Ya, itu adalah Bharata, ayah kandung Saras.


Hampir sepuluh menit keduanya duduk berdampingan di sana, namun sejak tadi tak ada suara yang terdengar dari keduanya. Mereka yang pernah bertemu beberapa kali itu nampak sama-sama kaku dan canggung seolah tak menyangka jika rupanya mereka adalah sepasang ayah dan anak yang terpisah.


Tak jauh dari tempat mereka berada, tepatnya di sebuah meja makan yang berbatasan langsung dengan teras samping rumah itu, seorang pria bermata sipit nampak duduk di sana. Sesekali ia melirik ke arah Saras dan Bharata yang saling diam tanpa perbincangan.


Ya, itu adalah Dion. Suami yang kini seolah merangkap tugas menjadi bodyguard Saras itu sejak tadi tak melepaskan pandangannya pada sang istri. Laki-laki yang sering memiliki pemikiran negatif itu seolah tak mau kecolongan. Ia tak mau membiarkan sang istri beraktivitas seorang diri tanpa pengawasannya, walaupun itu masih berada di area sekitar rumah mertuanya sendiri. Ya, se-protektif itulah pria yang dulu juga pernah menjadi pasien rumah sakit jiwa itu.


Kembali pada Saras dan Bharata. Laki laki dewasa itu nampak menghela nafas panjang. Ia menoleh ke arah sang putri yang sudah tak pernah ia jumpai sejak masih balita itu.


"Apa kabar, Ras?" tanya Bharata.


Saras menoleh, tersenyum kaku, lalu mengangguk.


"A, em, baik, Om..." ucapnya.


Bharata tersenyum. "Om?" tanyanya.


Saras membuka mulutnya. Hendak mengucap sesuatu namun susah. Sama halnya ketika ia bertemu dengan Arkana, Saras merasa kaku dan canggung, mengingat ia bertemu dengan ayahnya juga saat sudah se-dewasa ini.


"Saya ayah kandungmu, Ras," ucap Bharata.


Saras diam sejenak, mencoba menetralkan kegugupannya. Ia menarik nafas panjang, kemudian mengangguk.


"Iya, maaf, O..eh, maksudnya, Bapak," ucap Saras.


"Jangan panggil Bapak, panggil Papa, biar sama seperti kakakmu, Arkana." Bharata berucap dengan sangat lembut, sesuatu yang tidak pernah Saras dapat sejak kecil. Tahu sendiri kan, seperti apa sifat dan watak bapak tiri Saras? Ia selalu kasar dan suka main tangan. Entah itu pada Ratih, Saras, maupun Adit.


Saras nampak tersenyum. Merdu sekali suara laki-laki itu, membuatnya merasa begitu nyaman mendengar suara tersebut.


"Iya, Papa..." ucap Saras kemudian.

__ADS_1


Bharata tersenyum. Ia nampak menatap paras ayu wanita itu, lalu kembali menggerakkan bola matanya menatap ke arah perut rata Saras. Dimana menurut penuturan Arkana, ada calon cucunya yang sedang tumbuh disana.


"Kata kakakmu, kamu hamil. Benar?" tanya Bharata. Saras menoleh kemudian mengangguk.


"Alhamdulillah," ucap Bharata. "Sudah berapa bulan?" sambungnya.


"Dua bulan... Pa" jawab Saras. Bharata tersenyum lagi. "Tidak disangka,ya. Ternyata selama ini kita saling berdekatan tapi nggak pernah tahu kalau kita adalah sepasang ayah dan anak yang terpisah," tambah pria itu.


"Iya, padahal kita udah beberapa kali ketemu," ucap Saras. Bharata lantas melirik ke arah meja makan yang dibatasi dengan sebuah tembok dinding kaca di sana. Dilihatnya, Dion nampak sesekali melirik ke arahnya dan Saras, seolah mengamati pergerakannya dan wanita hamil itu.


"Sepertinya suami kamu ingin berbicara sesuatu sama kamu, dari tadi dia melihat ke sini terus," ucap Bharata. Saras menoleh ke arah Dion. Laki laki itu nampak menatap kearah Saras sembari menyeduh kopinya. Wanita itu tersenyum manis, kemudian kembali menoleh ke arah Bharata.


"Dia memang begitu, Pa. Setelah kejadian seminggu lalu, dia jadi lebih protektif sama aku," ucap Saras.


Bharata menatap ke arah Dion dan Saras bergantian. "Sepertinya dia sangat menyayangi kamu."


"Banget," jawab Saras bangga.


Bharata tersenyum. "Kamu bahagia?" tanyanya. Saras lantas mengangguk.


"Papa minta maaf sama kamu, Ras. Gara-gara istri papa, kamu sampai diculik dan hendak dibunuh olehnya. Papa merasa bersalah," ucap laki-laki itu.


Bharata menghela nafas panjang. "Tentu saja ada peran Papa yang gagal disini. Sebagai seorang suami, Papa tidak bisa mengontrol emosi Maya. Papa sebenarnya tahu tentang masa lalu Maya yang sempat kehilangan bayi hasil hubungannya dengan mantan kekasihnya. Tapi Papa nggak tahu kalau ternyata mantan pacar Maya itu adalah ayahnya Dion. Papa pikir semua sudah baik-baik saja, tapi ternyata Papa salah. Masih ada dendam di hati istri papa itu," ucap Bharata.


Saras diam mendengarkan.


"Jika Papa boleh mengambil kesimpulan, semua yang terjadi di antara keluarga kita, keluarga Dion, papanya, Maya, bahkan sampai Gio, sebenarnya semua saling berhubungan. Semua berawal dari Malvino dan Maya. Dendam dan sakit hatilah yang melatari semua ini. Sampai semuanya menjadi se-rumit dan se-kalut ini. Menjadi sebuah dendam yang tidak berkesudahan hingga menyeret beberapa nama dan nyawa kedalamnya," ucap Bharata.


Saras mengangguk. " Andai nggak ada pertemuan antara tuan Malvino dan tante Maya, serta bullying dari Gio ke Dion, mungkin semua nggak akan jadi seperti ini.Iya kan, Pa?" tanya Saras.


Bharata tersenyum.


"Itu benar, tapi untuk saat ini, bukanlah waktu yang tepat untuk berandai-andai atau saling menyalahkan. Semua sudah terjadi, Nak. Itu artinya bukan meratapi masa lalu yang harus kita lakukan, melainkan perbaiki yang sekarang terjadi, agar kedepannya lebih baik lagi," ucap Bharata.


Saras terdiam. Bharata menatap lembut ke arah sang putri.


"Nak, Papa yakin, ada sisi kelembutan di setiap kerasnya hati seorang manusia. Jika manusia tidak bisa menyentuhnya, maka mintalah bantuan pada yang menciptakan hati itu," ucap Bharata. "Papa dan Arkana sudah sepakat, kami akan berusaha menyentuh hati orang-orang yang terlibat dalam masalah ini dengan bantuan Tuhan. Papa akan berbicara dengan Tante Maya, agar dia bisa lebih mengikhlaskan lagi apa yang sudah terjadi padanya selama ini dan memaafkan mertua kamu. Sedangkan kakak kamu, dia akan berusaha untuk mendekati Gio, meluluhkan hatinya agar mau memberi maaf untuk suami kamu."


"Semua pasti sulit, Nak. Karena ini masalahnya tentang sakit hatinya seorang manusia. Semua tidak akan berjalan jika hanya satu arah saja. Pihak Dion juga harus disentuh hatinya." Bharata diam sejenak. "Kamu mau membantu?" sambungnya kemudian.

__ADS_1


Saras diam lagi.


"Kamu bisa bantu mendekati Dion. Sepertinya dia sangat menyayangi kamu. Papa yakin, sedikit banyak dia pasti mau mendengarkan nasehat dari kamu," ucap Bharata.


"Mungkin bisa, Pa. Aku juga sempat bicara itu sama dengan sebenarnya, tapi dia masih belum jawab apapun. Mungkin dia juga perlu waktu. Tapi jujur, kalau untuk menghadapi tuan Malvino, aku nggak berani. Dia terlalu keras dan menyeramkan," ucap Saras.


Bharata tersenyum. "Biar Papa yang nanti coba bicara sama Malvino. Kalau nggak bisa, biar Papa yang mendekati Tante Maya lebih intens lagi. Mungkin Papa akan membawa Tante Maya menjauh dulu, agar dia bisa lebih berdamai dengan hidupnya dan melupakan masa lalunya dengan Malvino," ucap Bharata.


Saras mengangguk.


"Jadi kamu mau sama sama bantu Papa dan kakak kamu, kan?" tanya Bharata lagi. Saras mengangguk.


"Iya, Pa," jawabnya. Bharata tersenyum.


"Makasih, Nak. Kita berusaha bareng bareng, ya" ucapnya lagi sembari mengusap usap pundak sang putri. Saras hanya tersenyum, obrolan keduanya kembali berlanjut. Sebuah obrolan santai yang ringan antara sepasang ayah dan anak yang lama terpisah itu.


...----------------...


up 13:23


Halo...


Selamat siang para readers nya Dion & Saras.


Author datang dengan cerita baru. Bukan tentang mafia mafiaan tapi dijamin nggak kalah seru dari cerita cerita sebelumnya.


Yuk, kepoin👇


(Bukan) Perampas Mahkotaku


Dia terlahir dari sebuah hubungan terlarang. Dia besar di tengah tengah keluarga yang tidak dikaruniai keturunan oleh Tuhan.


Kisah seorang gadis tak cantik, baik hati, dan berprestasi yang tak ber- ibu. Terenggut mahkotanya di tangan pria asing yang tak begitu ia kenali.


Sebuah drama percintaan yang penuh teka teki dan tanda tanya.


Bagaimana kisahnya?


__ADS_1


__ADS_2