Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
75


__ADS_3

Pagi menjelang,


Di sebuah rumah megah kediaman Bharata dan keluarganya. Seorang pemuda berjambang tipis nampak turun dari lantai dua rumahnya dengan langkah kaki yang sedikit terburu buru.



Sejak semalam ia tak bisa tidur. Pikirannya melayang layang mengingat wanita yang semalam ia temui di minimarket. Seorang wanita yang parasnya sangat mirip dengan foto wanita yang berada di dompetnya. Yang katanya adalah adiknya yang sudah meninggal namun semalam wanita itu mengaku bahwa namanya adalah Arini, bukan Anggita seperti nama adiknya. Entahlah, Arkana merasa janggal. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tapi apa..?


Arkana berjalan cepat menuju meja makan. Namun kemudian ia memperlambat langkah kakinya kala melihat sosok sang ibunda yang nampak berada di ruang makan itu bersama sang ayah. Wanita itu terlihat menata aneka hidangan santap pagi di atas meja bersama pembantu rumah tangga mereka.


Arkana diam sejenak. Misi mencari keberadaan ibu dan adik kandungnya memang masih dirahasiakan dari Maya. Semua itu atas perintah Bharata. Ia tak mau Maya cemburu dan salah sangka. Mengingat wanita itu memanglah tipe wanita yang sangat mudah cemburu.


Arkana berjalan mendekati meja makan. Maya yang melihat kedatangan Arkana pun lantas tersenyum manis.


"Hai, sayang..! Selamat pagi..!" ucap wanita itu.


Arkana tersenyum kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang berada di meja makan lonjong itu.


"Pagi, Ma.." jawab Arkana sembari menampakkan senyuman manisnya.


Maya masih sibuk dengan aktifitasnya. Arkana menoleh ke arah sang ayah yang nampak sibuk dengan ponsel ditangannya itu. Ia kemudian menghela nafas panjang. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membahas tentang Anggita. Ada Maya. Ia tak mau ada salah paham diantara ia, papa, dan mamanya.


Sarapan pagi pun berlangsung. Keluarga kecil itu nampak larut dalam suasana kekeluargaan yang hangat sembari menikmati santap pagi mereka bersama-sama.


Selesai.


Sekitar lima belas menit kemudian Maya, Bharata, dan Arkana pun selesai menikmati santap pagi mereka. Ketiganya lantas bangkit, keluar dari rumah itu untuk bersiap memulai kegiatan mereka masing masing. Tiba tiba....


"Eh, map ku ketinggalan di ruang kerja..!" ucap Bharata tiba tiba.


Maya menghentikan langkahnya.


"Kamu tunggu di mobil aja, Mas. Biar aku ambilin ke ruang kerja kamu" ucap wanita berpenampilan anggun tersebut.


Bharata tersenyum.


"Ya udah, aku tunggu di mobil ya" jawab pria matang itu. Maya mengangguk. Ibu sambung Arkana itu kemudian bergegas naik ke lantai dua, tempat di mana ruang kerja sang suami berada. Sedangkan Bharata, ayah dua anak itu nampak berjalan keluar rumah bersama Arkana. Memilih untuk menunggu istri tercintanya di dalam mobil miliknya.

__ADS_1


Saat berada di teras rumah, tiba tiba...


"Pa..." ucap Arkana tiba-tiba dengan suara pelan.


Bharata menoleh.


"Ya..." jawab Bharata.


"Pa, ada yang mau Arka ceritain sama papa" ucap pemuda itu.


Bharata diam sejenak.


"Apa?" tanyanya kemudian.


Arkana melongok sebentar ke arah pintu utama rumah tersebut. Memastikan bahwa sang ibu belum muncul dari dalam sana.


Arkana kemudian mendekatkan tubuhnya pada Bharata, seolah mengikis jarak dengan sang ayah.


"Semalam aku melihat Anggita..!" ucap pemuda tampan itu.


Bharata reflek menoleh ke arah sang putra. Pria paruh baya itu nampak terkejut dibuatnya.


"Jangan bercanda kamu, Arka..!" ucap Bharata.


"Arka nggak bercanda, Pa..! Arka serius..! Mukanya, matanya, bibirnya, hidungnya, semua sama seperti di foto yang ada di dompet Arka. Yang Arka dapat dari papa. Yang dari anak buah papa itu..! Tapi wanita itu ngakunya namanya bukan Anggita, dia orang lain. Dan dia sudah punya suami..!" ucap Arkana.


"Ya mungkin cuma mirip" ucap Bharata.


"Anak buah papa kan udah bilang kalau Anggita itu sudah meninggal bersama ibu kamu dalam sebuah kecelakaan. Mereka juga udah mengirimkan foto jasad mereka. Jadi nggak mungkin kalau yang kamu lihat itu Anggita adik kamu..!" ucap Bharata.


"Tapi Arka yakin, Pa. Perempuan itu mirip banget sama Anggita yang ada di foto yang Arka lihat itu..!" ucap Arkana masih ngeyel.


"Sudahlah, Ka. Mungkin kamu masih berharap bisa bertemu dengan ibu dan adik kamu. Tapi anak buah papa kan udah bilang bahwa ibu dan adik kamu itu sudah meninggal" ucap Bharata.


"Bisa aja mereka salah kan, Pa? Bisa jiga informasi itu nggak bener..! Mungkin aja mayat yang difoto itu bukan mayat Anggi dan Ibuk..! Bisa aja mayat orang lain. Kan bentuknya juga udah nggak jelas..! Orang udah gosong..!" ucap Arkana masih keukeuh dengan pendiriannya.


Bharata nampak memijat-mijat pelipisnya.

__ADS_1


"Aduh, Ka. Udah deh, sekarang gini aja. Kalau kamu yakin bahwa perempuan itu adalah adik kamu, coba kamu temuin lagi. Lihat dadanya. Ada tanda lahir yang berbentuk mirip pulau Sulawes* nya nggak? Kalau benar, ya berarti itu adik kamu..!" ucap Bharata.


Arkana berdecak kesal.


"Ck..! Yang bener aja, Pa..! Gimana bisa Arka ngelihat tanda lahir di dadanya?! Masa iya Arka tiba tiba datang buka bajunya..? Ya udah pasti digantung sama suaminya..! Lagian Arka juga nggak tau perempuan itu tinggalnya dimana..!" ucap laki-laki itu seolah tak habis pikir dengan ucapan papanya.


Bharata terkekeh.


"Ya makannya. Ya udahlah, kalau memang itu adik kamu, Papa yakin, suatu saat Tuhan pasti akan mempertemukan kamu dengan dia lagi..!" ucap Bharata.


Arkana berdecak kesal. Papanya itu seolah terlalu pasrah dengan takdir, pikir Arkana.


"Ya udahlah, Arka bakal cari tahu sendiri..! Papa mah nggak bisa diandelin..!" ucap Arkana sembari meraih punggung tangan sang ayah kemudian bergegas pergi menuju motornya.


Bharata hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya keyakinan Arkana begitu menggebu-gebu tentang Anggita. Meskipun dalam hati Bharata, ia juga tidak terlalu percaya tentang fakta meninggalnya sang putri, tapi mau bagaimana lagi.


Anak buahnya juga sudah mengatakan hal demikian. Para anak buah itu juga tak mungkin berbohong padanya lantaran ia sudah membayar mahal untuk kinerja para anak buah itu.


Ah, sudahlah..! Mungkin memang hanya wanita yang kebetulan mirip saja dengan Anggita..! Pikir Bharata.


Laki laki paruh baya itu kemudian merapikan jasnya yang sebenarnya sudah rapi. Ia kemudian bergegas menuju mobilnya untuk menunggu sang istri di sana.


Tanpa kedua pria beda usia itu sadari, dibalik pintu utama rumah tersebut, seorang wanita nampak menajamkan netra nya menatap lurus ke depan. Kebencian tergambar jelas di sana. Dasar bodoh..! Bisa-bisanya anak buahnya teledor dengan memberikan foto orang yang masih sekota dengan mereka hingga membuat Arkana curiga.


Maya mengepalkan telapak tangannya. Jika Arkana sudah curiga, maka mungkin pemuda itu akan mencari fakta lebih lanjut mengenai wanita dalam foto itu. Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa saja suatu saat kebohongan Maya akan terbongkar.


Mimik wajah wanita yang biasanya terlihat anggun dan tenang itu mendadak berubah menjadi mengerikan. Seringai tajam terpancar dari sana. Seolah menampilkan sisi lain dari seorang Maya yang tidak semua orang ketahui.


"Berhenti, sayang..! Jangan melakukan hal-hal lebih..! Jangan sampai Mama melakukan hal-hal yang bisa menyakiti kamu seperti yang dulu pernah Mama lakukan untuk menghapus ingatan kamu atas keluarga mu..!" ucap wanita itu pelan dengan gigi yang mengetat.


...----------------...


Selamat malam


up 19:10


yuk, dukungan dulu 🥰

__ADS_1


__ADS_2