Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
19


__ADS_3

Pagi menjelang.....


Saat mentari pagi mulai memancarkan sinar terik nya. Menerpa kaca bening sebuah jendela besar kamar mewah yang menjadi saksi bisu sebuah pergulatan hebat semalam suntuk antara sepasang pengantin baru dimalam pertama mereka.


Wanita cantik dengan penampilan acak acakan itu nampak menggeliat di atas kasur putih yang terlihat lusuh itu. Ia meringis. Merasakan perih di sekujur tubuhnya. Kulitnya yang putih mulus kini nampak memar di beberapa bagian. Akibat terbentur benda benda tumpul seperti dinding, meja, hingga pinggiran ranjang akibat aksi yang cukup brutal yang suaminya lakukan di malam pertama mereka sebagai sepasang pengantin baru.


Salah satu sudut bibirnya nampak memar, dengan darah yang terlihat mengering. Sedangkan kedua pergelangan tangannya nampak biru, bekas ikat pinggang yang mengikat lengan ramping itu semalaman.


"eeeemmmhhhh...."


Saras melenguh. Tubuhnya sakit semua. Dilihatnya tak jauh dari tempat nya terbaring, sebuah bercak darah berwarna merah pertanda hilangnya kegadisan sang wanita terlihat pudar bercampur cairan lain di atas ranjang putih itu.


Saras memejamkan matanya. Hingga tiba tiba....


"kau sudah bangun?"


Suara itu menggema. Menarik perhatian Saras yang masih bermalas malasan di atas ranjangnya.


Wanita itu kemudian menoleh. Disebuah sofa panjang, didepan jendela besar yang menghubungkan kamar dengan balkon, seorang pria tampan yang bertelanjang dada nampak duduk santai dengan satu kaki di lipat di atas kaki lainnya.


Ya, itu adalah Dion..!


Pria itu berucap tanpa menoleh ke arah sang istri yang nampak lemah dengan selimut tebal menutupi tubuh polosnya itu. Laki laki itu terlihat sibuk, menggerakkan pensil ditangannya, membuat sebuah lukisan di atas kertas putih yang berada di pahanya.


Saras tak menjawab pertanyaan suaminya. Fokus matanya menatap ke arah wajah tampan Dion yang nampak berkilauan diterpa sinar mentari pagi. Sangat tampan. Andai bukan seorang pria gila yang haus darah, maka betapa beruntungnya Saras bersuamikan pria setampan malaikat itu.


"bagun lah..! lalu sarapan" ucap Dion lagi tanpa menoleh. Ia masih fokus dengan lukisannya.


Saras memejamkan matanya lagi. Mencoba mengumpulkan semangatnya untuk sekedar bangkit dari ranjang dan mendekati suaminya.


Ia lantas menggeliat lagi. Mengedarkan pandangannya ke segala arah. Cukup lama, sebelum akhirnya ia memutuskan menyudahi rebahan nya, lalu bangkit untuk sekedar duduk, melawan rasa perih dan ngilu di sekujur tubuhnya.


Saras menyingkap selimut tebal itu. Menurunkan kakinya menyentuh lantai dingin kamar itu.


Pakaian robek, gelas pecah, alat make up bertebaran, ikat pinggang, lakban, serta beberapa benda lain, nampak tergeletak mengenaskan di sana.


"sssshhh.... aaaaakkhh...!" Saras memekik. Perih. Di bagian sensitif yang semalam di koyak habis oleh Dion.


"sssshhh....." desis wanita itu. Ia kembali mendudukkan tubuhnya. Mengurungkan niatnya untuk bangkit dari ranjang dan mendekati sang suami.


Saras menoleh ke arah Dion. Laki laki itu diam tak bereaksi, bahkan saat Saras memekik kesakitan. Laki laki itu masih sibuk dengan gambarnya.

__ADS_1


"Dion..." ucap wanita itu.


Laki laki itu tak menjawab. Menoleh pun tidak.


"Dion. Aku nggak bisa bangun" ucap wanita itu.


Dion menoleh. Menatap datar wanita yang meringis di atas ranjang itu.


"tolong.." ucapnya.


Dion diam. Lalu membuang nafas kasar. Diletakkannya gambar yang sejak menjadi fokusnya itu. Ia kemudian bangkit dan berjalan mendekati sang istri yang masih menatapnya nanar di atas ranjang putih dan kusut itu.


"kau mau kemana?" tanya Dion yang kini berdiri di hadapan Saras itu.


Wanita itu nampak memasang senyuman manis, lalu menunjuk ke arah sofa panjang itu. Seolah ingin mengatakan bahwa ia mau duduk di sana.


Dion paham. Diraihnya tubuh ramping yang polos tanpa sehelai benang pun itu, lalu membawanya menuju sofa panjang yang Saras tunjuk. Tanpa ekspresi sedikit pun, didudukan nya istri cantiknya itu di sana. Lalu ia pun duduk di sampingnya sembari kembali meraih kertas gambar yang tadi ia letakkan di atas meja.


Saras melongok, mengintip gambar sketsa yang tengah Dion garap. Matanya melotot. Sebuah gambar seorang wanita cantik tak berbusana yang dilukis menggunakan pensil berwarna hitam nampak terpampang dengan jelas di sana.


"itu, kok, kayak....." ucap Saras menggantung.


Dion yang tengah menggerakkan pensilnya di atas kertas gambar itupun menoleh tanpa suara.


Dion tak menjawab.


"kamu gambar apa?" tanya Saras.


Dion tak langsung menjawab. Ia memiringkan kepalanya, menatap wajah cantik dengan sebuah bercak darah mengering di ujung bibir itu sambil menyunggingkan senyuman tipis di sana.


"aku melukismu." ucapnya.


"melukis pemandangan tubuhmu ketika berada di atasku"


"aku memperhatikan mu semalaman" ucapnya.


Saras terdiam. Ia kembali menatap gambar tanpa warna itu. Memang mirip..! Wajah, rambut, mungkin juga bentuk tubuhnya, mirip..! Sama seperti Saras..!


Saras membuka mulutnya.


"ooh..." ucapnya.

__ADS_1


Dion tersenyum lagi. Sangat manis. Meskipun terlihat mengerikan. Digerakkan nya tangannya. Menempelkan ujung pensil itu di pundak sang istri, lalu menggerakkan nya turun, menyusuri lengan mulus dengan sebuah luka memar di salah satu sisi akibat terbentur meja semalam.


Saras hanya diam.


"sakit?" tanya Dion sambil menatap luka memar di tangan Saras.


Saras diam sejenak. Lalu mengangguk samar.


Dion menatap wajah sang istri. Fokus matanya kini tertuju pada sebercak darah kering di ujung bibir tipis wanita itu.


Dion menelan ludahnya kasar. Di dekatkan nya wajah itu pada sang istri.


Saras tak bereaksi. Dion nampak mengecup ujung bibir nya yang terluka. Menyesapnya, lalu menggerakkan lidahnya seolah menyapu darah kering itu dengan lembut.


Saras hanya diam. Tak melakukan balasan ataupun penolakan. Ia hanya menurut, membiarkan Dion melakukan apapun yang ia mau padanya.


Cukup lama pria itu membersihkan darah sang istri menggunakan lidahnya. Setelah selesai, ia pun menjauhkan wajahnya. Menyapukan lagi lidah itu pada permukaan bibirnya yang basah karena saliva.


Lagi, Saras hanya diam. Tak bereaksi sedikit pun.


"kau mau mandi?" tanya Dion.


"nggak bisa jalan.." ucap Saras.


Dion mengangkat satu sudut bibirnya.


"kamu udah mandi?" tanya Saras.


Dion menggelengkan kepalanya. Saras yang masih agak takut, ngeri, sekaligus merinding dengan sikap misterius Dion pun lantas memilih menjatuhkan kepalanya di lengan sang suami. Bermaksud memutus kontak mata dengan laki laki sejuta teka-teki itu.


"mau mandi bareng aja" ucapnya kemudian.


Dion kembali mengangkat satu sudut bibirnya.


"tunggu aku menyelesaikan lukisan mu" ucapnya.


Saras mengangguk. Ia terus membenamkan wajahnya disana. Enggan menengok, ataupun mendongak ke arah Dion yang kini kembali melanjutkan aktivitas melukisnya.


...----------------...


Selamat malam....

__ADS_1


up 20:14


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰


__ADS_2