
Malam menjelang di sebuah coffee shop yang nampak sudah sepi itu.
Di sebuah bangku pengunjung yang sudah kosong. Saras nampak berbinar. Ada empat amplop coklat dengan sejumlah uang di dalamnya nampak tergeletak di atas meja bundar itu. Saras terlihat begitu antusias menghitung lembar demi lembar uang kertas berwarna merah dan biru tersebut.
Itu adalah uang hasil penjualan lukisan karya suaminya. Hari ini ada empat lukisan yang berhasil terjual berkat pameran yang Arkana selenggarakan. Bahkan ada satu orang yang secara khusus meminta dibuatkan lukisan wajah istrinya. Dengan bermodalkan foto yang diberikan, Dion diminta menyelesaikan lukisannya dalam waktu tiga hari kedepan. Laki-laki itu pun menyanggupi hal tersebut. Tentu saja, bayarannya pun tidak main-main. Membuat jiwa mata duitan yang lama tertidur dalam diri Saras seolah kembali bergelora.
"Dih, sumpah, mata lu langsung ijo lihat duit! Geli gue!" ucap Arkana yang duduk di samping Saras.
Ya, Saras, Dion, dan Arkana tengah duduk bertiga sekarang. Menikmati malam mereka setelah lelah berkutat dengan pameran selama seharian penuh.
"Apasih, Ka? Duit nih!" ucap Saras cuek sembari menunjukkan lembaran uang kertas berwarna merah dan biru di tangannya. Arkana yang duduk bersandar di kursi itu hanya menggelengkan kepalanya sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Dion hanya diam. Pria itu memang tak suka banyak bicara, bukan? Ia hanya berbicara di waktu waktu tertentu dan dengan orang orang tertentu.
Saras selesai menghitung gepokan uangnya. Ia lantas memasukkan lembaran lembaran uang itu ke dalam tas nya. Ia kemudian menoleh ke arah Arkana yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Abis ini lo mau kemana, Ka?" tanya Saras.
"Gue mau langsung pulang. Abis itu ke luar kota besok. Gue mau nemuin Mama," ucap Arkana. Saras diam. Dion menoleh ke arah sepasang kakak beradik itu.
"Berapa lama?" tanya Saras.
"Mungkin tiga harian," ucap Arkana.
Saras mengangguk.
"Sorry ya, Ras. Gue nggak bisa ajak lo. Papa juga belum bisa nemuin lo lagi. Mama masih dalam proses pengobatan. Nggak bisa di temui sembarang orang. Makanya Papa juga nggak datang hari ini. Dia masih fokus nemenin Mama," ucap Arkana.
Saras tersenyum. "Nggak apa apa. Gue ngerti, kok. Yang penting Tante Maya sembuh dulu. Entar kan gue juga bisa ketemu kalau Tante Maya udah sehat," ucap Saras.
Arkana hanya tersenyum sembari mengangguk. Saras kemudian meraih satu buah gelas berisi minuman dingin miliknya yang berada di atas meja bundar itu dan menyeruputnya.
"Gio beneran nggak kesini," ucap Arkana kemudian membuat Saras dan Dion kembali menoleh.
"Pameran tahun ini bener bener beda. Gue sendirian!" ucap Arkana terdengar kecewa.
Saras diam sejenak. Dion tak bereaksi.
"Masih marahan?" tanya Saras.
"Gue nggak pernah marah sama siapapun. Gue menjauh juga atas kemauan dia, kan? Gue juga capek, Ras. Gue berusaha merangkul dia tapi kayaknya dia nya yang nggak mau dirangkul," ucap Arkana.
__ADS_1
Saras menghela nafas panjang. Ia menggerakkan tangannya menyentuh pundak sang kakak dan mengusap usapnya seolah memberikan ketenangan.
Arkana tersenyum. Ia lantas bangkit sembari meletakkan ponselnya di atas meja.
"Dah ah, gue mau sholat dulu. Lu berdua mau ikut nggak?" tanya Arkana.
Saras diam sejenak. Ia menoleh ke arah sang suami yang juga nampak diam.
"A, em...duluan aja, deh!" ucap Saras.
Arkana berdecih.
"Ya udahlah, gue duluan ya..." ucap laki laki berjambang tipis itu. Ia pun bergegas pergi dari ruangan utama cafe itu. Menuju sebuah ruangan pribadi yang biasa ia dan Gio gunakan untuk beristirahat di kala senggang.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah.
Sebuah sekuter matic nampak berhenti di depan sebuah panti asuhan yang berada di salah satu sudut kota itu. Gadis cantik berhijab putih itu lantas turun dari kendaraan roda dua yang sebenarnya adalah miliknya itu.
"Kamu bawa aja dulu motornya. Besok siang anterin aja ke rumah sakit," ucap Xena yang kini nampak berdiri di samping pria gondrong itu, Gio.
"Lu besok gimana?" tanya Gio.
Gio diam sejenak.
"Berangkat jam berapa besok?" tanyanya kemudian.
"Pagi. Jam tujuh. Kenapa emangnya?" tanya Xena.
"Gue jemput!" ucap Gio.
"Nggak usah. Kamu bawa aja motornya. Besok anterin ke rumah sakit aja. Aku bisa berangkat pake ojek, kok!" ucap Xena.
"Gue mau nganterin lo. Dan gue nggak butuh persetujuan lo!" ucap Gio pelan namun memaksa. Xena diam. Ia lupa jika Gio sudah berkehendak maka tak akan ada yang bisa mengekangnya.
Xena menghela nafas panjang. "Terserah kamu lah!" ucapnya kemudian.
Gio tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ya udah, aku masuk, ya," ucap Xena. Gio hanya mengangguk. Wanita itu kemudian berbalik badan. Hendak masuk ke dalam panti asuhan tempat tinggalnya. Namun tiba-tiba...
"Xena!" ucap Gio tiba tiba membuat gadis itu pun menghentikan langkah kakinya. Ia kembali menoleh ke arah Gio yang masih berada di atas motor itu.
"Ya," jawabnya.
"Makasih untuk hari ini," ucap laki laki itu.
Xena diam sejenak. Lalu mengulum senyum.
"Sama sama," jawabnya.
"Kapan kapan gue boleh main ke panti lo nggak?" tanyanya lagi.
Xena diam sejenak. "Ini minta izin apa maksa?" tanya Xena.
Gio tersenyum simpul. "Untuk yang satu ini gue minta izin," ucapnya kemudian.
Xena tersenyum manis, lalu mengangguk yakin. "Boleh!" jawabnya.
Gio tersenyum lagi lalu mengangguk. Xena nampak menunduk menyembunyikan wajahnya yang entah mengapa tiba tiba nampak merah merona mendapati senyuman dari Gio.
"Ya udah, aku masuk, ya," ucap Xena.
Gio mengangguk. Xena kemudian berbalik badan lagi hendak kembali masuk ke panti asuhan tempat tinggalnya. Namun baru beberapa langkah ia mengayunkan kakinya, tiba tiba wanita itu kembali berbalik badan.
"Gio," ucap Xena.
Gio yang masih belum bergerak dari posisinya itu nampak tersenyum.
"Apa?" tanyanya.
"Kalau mau tahajud, waktunya di sepertiga malam, ya. Jangan lupa tidur dulu," ucap Xena.
Gio nampak tersenyum lagi. Terlihat lembut dan tulus. Ia kemudian mengangguk samar.
"Iya," jawabnya.
Xena tersenyum malu malu.
__ADS_1
"Ya udah, aku masuk," ucap gadis itu. Gio tak menjawab. Ia hanya menampakkan senyuman manisnya. Wanita itu kemudian berlalu pergi, meninggalkan Gio yang masih diam menatap punggung ramping gadis itu.
...----------------...