
Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya. Kehidupan para anak manusia itu juga berjalan seperti yang seharusnya.
Sudah hampir dua minggu, laki laki yang merupakan raja mafia yang cukup disegani itu kini tinggal di sebuah panti asuhan tempat tinggal sang putri. Meskipun demikian, nyatanya ia tak kunjung bisa berbaur dengan orang orang di sekitarnya. Pribadinya yang dingin dan kaku membuatnya justru disegani oleh para penghuni panti. Ia diperlakukan bak seorang raja yang selalu dilayani apapun keperluannya.
Hari harinya juga masih sama. Tak ada perubahan. Malvino lebih banyak menghabiskan waktu siangnya untuk tidur dan menyusun strategi perampokan, lalu di saat malam ia akan pergi untuk melancarkan aksi kejahatan yang sudah lama digelutinya.
Tak ada yang berani menegur, lantaran semua penghuni panti juga takut dengan pria itu. Tak terkecuali putri kandungnya sendiri. Sepertinya memang begitu sulit untuk Malvino dekat dan hangat dengan orang orang di sekitarnya.
Malam ini,
saat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sebuah motor besar berhenti tepat di depan sebuah panti asuhan yang menjadi tempat tinggal gadis muda berkerudung itu.
Xena melepaskan helmnya, lalu menyerahkannya pada Gio.
"Makasih, Pak sopir!" ucap Xena.
"Pala lu!" jawab Gio membuat Xena terkekeh.
"Dah, udah malem! Pulang sana. Langsung istirahat, ya! Jangan keluyuran lagi!" ucap Xena.
"Iya, istriku!" jawab Gio santai yang sukses membuat sebuah tinjuan tangan mendarat di bahu pria yang kini menginjak usia dua puluh enam tahun itu.
"Apasih, Gio?!!" ucap Xena dengan sebuah senyuman malu malu yang terlihat samar.
Laki laki itu hanya terkekeh. "Lagian lu bawel banget tiap gue mau pulang! Kalau nggak mau gue kemana mana ya udah pulang ama gue aja! Biar gue aman nggak kelayapan!" ucap Gio.
Xena makin salah tingkah dibuatnya.
"Apasih? Udah sana pulang! Berisik tahu nggak malem malem!" ucap Xena.
Gio tersenyum. "Ya udah, gue pulang, ya! Lo juga buruan istirahat. Besok masih kerja lagi!" ucap Gio.
"Iya..." jawab wanita berhijab itu. Gio mulai menyalakan mesin motornya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucapnya kemudian.
"Wa Alaikum Salam," jawab Xena.
Laki laki itu lantas berlalu pergi. Xena kemudian masuk ke dalam panti asuhan yang nampak itu. Xena berjalan menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari ruangan yang biasa digunakan untuk menerima tamu yang datang ke tempat itu.
Degghh,
Xena terdiam. Baru saja ia masuk ke dalam ruang tamu, dilihatnya disana seorang pria tinggi dengan jambang lebat nampak duduk di salah satu sofa ruang tamu tersebut. Ia duduk dengan tenang sembari mengarahkan pandangannya ke arah pintu tempat dimana Xena muncul.
Gadis itu menunduk. Nyatanya hubungan sepasang ayah dan anak itu masih saja kaku meskipun sudah hampir dua minggu mereka tinggal bersama.
Xena berjalan tanpa menoleh ke arah sang ayah. Ia mendekati pintu kamarnya, berniat untuk masuk ke dalam sana dan mulai beristirahat. Namun tiba tiba...
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya laki laki itu, Malvino.
Xena menghentikan pergerakannya. Ia lantas menoleh ke arah sang ayah. Malvino tak mengulangi perkataannya. Xena menunduk. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Gadis itu akhirnya mendekat, lalu mendudukkan tubuhnya di samping sang ayah.
Malvino diam sejenak tanpa mengubah arah pandangnya yang menatap lurus ke depan.
"Adikmu sudah menunggu di rumah."
Xena mengangkat satu sudut bibirnya samar.
"Aku minta maaf jika selama aku disini aku belum bisa memberikan hal yang berarti untukmu. Sebagai seorang ayah, mungkin aku tidak bisa mengerti bagaimana cara membahagiakanmu," ucap Malvino.
Xena masih tak bergeming. Malvino mengubah posisi tubuhnya menyamping. Menatap ke arah sang putri yang diam menunduk.
"Xena," ucapnya.
Gadis itu menoleh. "Aku ingin memperkenalkanmu pada adikmu!" ucap laki laki itu membuat Xena reflek menoleh.
"Aku sudah pernah bilang padamu, aku ingin mengajakmu tinggal bersamaku. Tolong, jangan membuatku terus menerus merasa bersalah. Katakan, kau mau aku melakukan apa? Aku akan memberikannya untukmu sebagai bukti bahwa aku juga menyayangimu. Aku minta maaf jika aku memulai pertemuan kita dengan ucapan ucapan yang kurang tepat untuk kau dengarkan. Aku benar benar minta maaf!" ucap Malvino.
__ADS_1
"Besok, kita pergi ke rumahku, ke rumah kita. Aku akan menjelaskan semuanya pada adikmu. Aku yakin, Dion pasti bisa menerimamu. Dan aku berharap, kau bersedia tinggal bersamaku," ucap Malvino.
Xena masih tak menjawab. Malvino menghela nafas panjang.
"Aku sudah selesai dengan pembicaraanku. Istirahatlah, kau pasti lelah!" ucap laki laki itu yang kemudian bangkit dari posisi duduknya tanpa melakukan basa basi.
Xena menatap punggung kokoh yang kini membelakanginya itu. Malvino mulai mengayunkan kakinya menjauh dari sofa tempat dimana Xena berada. Tiba tiba....
.
.
.
.
Buughh...!
Xena menabrakkan tubuhnya pada punggung kokoh Malvino. Ia memeluk pria ayah kandungnya itu dengan begitu erat seolah tak mau melepaskannya. Hal itu pun membuat Malvino seketika diam tak bergerak. Xena menggerakkan tangannya meremas kemeja hitam milik sang ayah, mendekapnya dengan sangat erat. Suara tangisan sayuk sayuk terdengar dari bibir gadis itu. Kemeja hitam yang semula kering perlahan terasa basah di bagian belakangnya. Entah mengapa, hal itu membuat Malvino bergetar, namun ia tetap diam dan tenang selayaknya seorang Malvino yang kokoh dan angkuh.
"Saya nggak butuh apa-apa. Saya hanya butuh tubuh ini untuk memeluk tubuh ringkih anak yang tidak diharapkan ini. Karena saya tidak pernah mendapatkannya seumur hidup saya," ucap wanita itu.
Keduanya saling diam dengan posisi tersebut dalam waktu yang cukup lama. Xena sesenggukan di tengah malam sembari memeluk tubuh tegap sang ayah. Sedangkan Malvino hanya diam. Ia memejamkan matanya mendengar tangisan dan tarikan nafas dari gadis berparas manis itu.
Cukup lama mereka berada dalam posisi itu. Hingga...
Seeeeeetttt....
Malvino menghempaskan tangan Xena, membuat pelukan gadis itupun terlepas. Xena yang terkejut pun reflek mendongak ke arah sang ayah. Belum sempat gadis itu berucap sepatah kata pun, Malvino menggerakkan tangan kekarnya menarik tubuh ramping gadis itu kemudian mendekapnya dengan sangat erat.
Malvino memeluk putrinya untuk yang pertama kalinya. Xena mematung. Untuk kali pertama ia merasakan pelukan seorang ayah. Ia merasakan aroma tubuh pria yang harusnya menjadi cinta pertamanya.
Xena makin sesenggukan. Ia menggerakkan tangannya lagi mendekap tubuh tegap yang sama sekali tak mengeluarkan suara itu. Kepala itu bergerak gerak di dada bidang Malvino seolah ingin mencari tempat ternyamannya, selayaknya seorang bayi yang baru saja bersentuhan kulit dengan orang tuanya.
__ADS_1
Xena tak bisa menyembunyikan tangisannya. Tangis haru, tangis bahagia, namun juga ada sedih di dalamnya. Ketika usianya mulai menginjak seperempat abad, ia baru bisa merasakan pelukan seorang ayah.
...----------------...