
Maya menatap tajam ke arah pemuda itu. Arkana melangkahkan kakinya pelan berniat mendekati sang mama.
"Diam kau! Mundur...!!" ucap Maya marah. Ia bahkan kini mulai mengacungkan pisaunya ke arah Arkana.
"Kita bisa bicara baik-baik, Ma. Kita selesaikan ini sama sama. Saras nggak tau apa apa!" ucap Arkana.
"MUNDUR!!" bentak Maya lagi.
"Ma..." ucap Arkana.
"Diam...!!!" ucap Maya berteriak. Ia kemudian kembali menoleh ke arah Saras yang masih tak bergerak. Dengan segera ia mengayunkan tangannya hendak menusukkan pisau di tangannya itu ke arah perut Saras. Namun tiba-tiba...
.
.
.
Buughh....
"Akkhhh!!"
__ADS_1
Gio dengan sisa sisa tenaganya bangkit, meraih sebuah balok kayu yang tergeletak tak jauh dari tempatnya dan menghantamkannya tepat ke kepala Maya. Wanita itu jatuh tersungkur. Begitu juga Gio yang kini ambruk tepat disamping Maya.
Arkana memekik. Dion berlari menyelamatkan istrinya. Jason mendekati Ratih. Sedangkan Arkana memapah Gio yang baru saja menyelamatkan Saras dan menepikan pria itu. Para anak buah di belakang Malvino bergerak maju. Menyerang para anak buah Maya yang kalah jumlah tersebut. Pertarungan pun terjadi antara dua kubu.
Maya mengumpat sembari memegangi kepalanya. yang pusing. Darah mengalir dari pelipis kanannya. Wanita yang kini tersungkur di atas lantai kotor itu kini nampak merangkak, hendak meraih pisau yang terlepas dari genggaman tangannya. Tangan lentik dengan gelang emas itu terulur. Berusaha meraih sebuah pisau yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Ketika tangan itu nyaris berhasil menggapai benda tajam tersebut, tiba-tiba...
.
.
.
sreeekkk...
"Jangan bermain main dengan benda tajam, sayang. Itu bisa melukaimu nantinya," ucap Malvino sedikit meledek. Maya makin murka. Dengan susah payah ia bangkit dari posisinya. Ia menatap tajam ke arah laki laki itu. Ia kemudian menggerakkan tangannya hendak memukul wajah Malvino, namun dengan sigap pria itu mengangkat tangannya, menghalau lengan lentik tersebut.
"Lepaskan tanganku!!" gertak Maya.
"Mana anak kita? Aku ingin bertemu!" ucap Malvino sembari menyunggingkan senyuman sinisnya. Maya menatap tajam ke arah pria itu. Keduanya seolah tak peduli dengan pertempuran yang terjadi di sekeliling mereka. Dua manusia yang pernah menjadi sepasang kekasih itu nampak diliputi dendam dan amarah, terutama pada diri Maya. Sungguh, bertemu dengan Malvino seolah berhasil membuat luka lama yang begitu menyakitkan dalam diri Maya kembali menganga.
"Dia sudah ku kirim ke neraka! Wajahnya selalu mengingatkanku padamu. Pada manusia berhati iblis yang tak punya perasaan!!!" bentak Maya di akhir kalimatnya. Malvino mengangkat satu sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kau gila!" ucap pria itu.
"Ya, aku gila!! Aku gila karena kau! Karena semua perlakuan mu yang begitu kejam padaku!! Aku bersumpah, aku akan membunuhmu hari ini!! Akkkh....!!" Maya menggila. Ia menghempaskan tangan Malvino yang mencengkeram lengannya. Kemudian dengan cepat ia meraih sebuah kursi yang semula ia gunakan untuk mengikat tubuh Saras. Maya mengangkat kursi itu dan hendak menghantamkannya ke kepala Malvino. Namun laki-laki itu dengan cepat bergerak menendang kursi tersebut hingga jatuh membentur lantai menjadi kepingan-kepingan kayu yang tak berbentuk.
Maya belum puas. Ia merampas sebuah pisau yang berada di tangan salah satu anak buahnya yang tengah bertarung, kemudian mengacungkannya ke arah Malvino. Laki laki itu mundur. Ada satu hal yang tak banyak orang tahu tentang Malvino. Ia yang dikenal bengis dan kejam, yang dikenal arogan dan punya belas kasihan pada siapapun, rupanya tak sepenuhnya bisa berbuat kasar pada wanita. Hanya di saat-saat tertentu dan dalam kondisi tertentu saja laki-laki itu akan berbuat keras pada kaum yang dikenal lemah tersebut. Seperti saat ini, Malvino nampak mundur. Ia lebih memilih untuk menghindari Maya dari pada harus melawan dan berlaku kasar pada mantan pacar yang sudah memberinya satu putri itu.
"Berhenti, Rihanna! Berhenti membuat onar, atau aku akan bertindak kasar padamu!" ucap Malvino. Maya tak peduli. Dengan emosi yang sudah menguasai jiwanya, ia berlari ke arah Malvino. Menggerakkan pisau itu berkali kali, berusaha menghunuskan benda tajam itu ke tubuh Malvino. Namun laki laki itu terus mengelak tanpa memberikan perlawanan yang berarti.
Sreeett...
Pisau itu berhasil menggores salah satu lengan kekar milik Malvino, membuat darah kini mengalir cukup deras di sana. Maya menyeringai. Ia yang memang tak pandai berkelahi itu merasa bahwa ia memiliki celah untuk mengalahkan mantan kekasihnya itu. Wanita itu kemudian kembali berusaha menyerang ayah kandung Dion itu dengan semampunya. Sedangkan pertarungan para anak buah dari kedua kubu kini mulai mereda. Hampir semua anak buah Maya tumbang di tangan para pengawal dan bodyguard Malvino.
Sedangkan Saras yang kini mulai membuka matanya itu nampak berada di pojok ruangan bersama, Dion, Ratih, Jason, Arkana, serta Gio. Jason mengamankan para manusia itu, menghindar dari pertarungan sengit yang perlahan mulai mereda itu. Kini tinggal ada Malvino dan Maya di sana. Maya kembali menggerakkan tangannya, mencoba melukai Malvino yang sudah berdarah di salah satu lengannya itu menggunakan pisau di tangannya. Namun tiba tiba...
.
.
.
"Jangan bergerak! Tempat ini sudah dikepung!!"
__ADS_1
...----------------...