
Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya.
Pasca kejadian di pinggir danau beberapa hari yang lalu, kini Saras sudah tidak pernah lagi datang ke coffee shop milik Gio. Itu sesuai dengan perintah suami nya yang melarang Saras untuk datang lagi kesana, dekat dekat dengan pemiliknya, apalagi sampai kontak fisik dengannya. Dion melarang keras hal tersebut.
Sebagai seorang istri yang sudah paham akan kondisi suaminya, Saras lagi lagi hanya bisa menurut. Hari dimana ia mengisi formulir doorprize di Sky Coffee Cafe, itu menjadi hari terakhir ia menginjakkan kaki di coffee shop tersebut. Saras sudah tidak pernah lagi datang kesana. Pesan pesan dari Gio yang sering menanyakan kabar hingga menanyakan tentang lukisan lukisan milik Saras pun juga Saras abaikan.
Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena sampai saat ini, Dion juga belum berkenan untuk bercerita apapun padanya.
Namun dari reaksi yang Dion tunjukkan beberapa waktu lalu, Saras seolah bisa mengambil kesimpulan, bahwa mungkin ada masalah antara Dion dengan seseorang bernama Gio. Entah Gio yang mana. Karena pria dengan nama Gio bukan hanya ada satu di dunia ini. Apakah memang yang bermasalah dengan Dion itu adalah Gio yang ia Saras kenal, atau Gio yang lain. Itu masih menjadi pertanyaan besar bagi Saras.
Pasca kejadian di tepi danau, perubahan sikap kembali terjadi dalam diri Dion. Laki laki itu menjadi lebih sering murung, berdiam diri, dan melamun. Dion yang semula mulai terlihat membaik kini seolah kembali suka menyendiri. Lukisan lukisan indah yang sering ia buat juga seolah mandek..! ia kembali ke zona nyamannya, melukis gambar gambar seram kesukaan nya.
Kini Saras harus lebih ekstra bersabar lagi. Ia seolah harus memulai semuanya lagi dari nol. Membangkitkan semangat Dion untuk bisa bangkit dan melawan rasa traumanya.
Apakah Saras lelah?
Jelas...!
Perempuan mana yang tak akan lelah menghadapi laki laki dengan sikap dan karakter seperti Dion. Andai tak ada kontrak serta keselamatan ibu dan adiknya yang akan menjadi taruhannya, maka mungkin Saras akan lebih memilih mundur sejak dulu dulu.
Berawal dari keterpaksaan, kini berubah menjadi rasa peduli. Ia peduli dengan laki laki itu. Ia ingin melihat laki-laki itu bangkit dan hidup normal selayaknya pria seusianya. Ia tak mau Dion terus-terusan larut dalam trauma dan kesedihan yang begitu mendalam sejak dulu hingga se dewasa ini.
Laki-laki itu yang sudah meminangnya. Terlepas atas dasar apa mereka menikah pada awalnya, rasa tanggung jawab itu seolah muncul dengan sendirinya dari dalam diri Saras seiring berjalannya waktu. Ia ingin membantu Dion bangkit. Ia ingin melihat Dion hidup normal. Ia ingin menyembuhkannya, lalu hidup bahagia bersama laki laki itu selamanya.
...........
Malam ini,
Di balkon kamar mewah milik Saras dan Dion....
ceklek....
pintu kamar terbuka. Wanita cantik dengan hotpants jeans rawis warna biru muda dan kaos oblong pink itu nampak memasuki kamar pribadinya dengan sang suami.
"Dion...." ucap wanita itu memanggil nama suaminya.
Tak ada jawaban. Dion tak ada di dalam kamar itu. Saras menutup pintu dengan cat berwarna putih tersebut. Ia lantas berjalan memasuki ruangan kamar yang cukup luas tersebut.
Fokus matanya lantas tertuju pada sebuah pintu kaca besar yang terbuka itu. Dilihatnya di balkon kamar, Dion nampak duduk melamun di atas kasur sofa, tempat dimana sepassng suami istri itu biasa menghabiskan waktu berdua tiap malam.
__ADS_1
Saras berjalan menuju balkon. Didekatinya pria tampan yang nampak diam melamun dengan sorot mata menatap lurus ke depan itu.
"Dion..." ucap Saras.
Laki laki itu tak bergerak.
"Udah waktunya makan malam. Makan dulu, yuk..! papa kamu udah nungguin di bawah" ucap Saras.
Laki laki itu masih tak bereaksi.
Saras lantas memberanikan diri untuk menyentuh pundak laki laki itu. Dan kembali memanggil namanya lembut.
"Dion...." ucapnya lagi.
Dion masih diam. Ia lantas menoleh, menatap kearah sang istri dengan sorot mata datar. Dilihatnya disana wajah cantik yang biasanya ceria itu kini nampak sendu. Saras seolah jadi ikut bingung melihat Dion yang kembali menjadi pendiam dan lebih suka menyendiri itu.
Dion bangkit tanpa berucap sepatah katapun. Ia melangkah melewati sang istri. Berjalan keluar dari kamar itu dan menuju meja makan untuk menemui ayah nya yang sudah menunggu disana.
Saras menghela nafas panjang. Ia memejamkan matanya. Dalam hatinya ia terus berucap, menguatkan dirinya sendiri dengan kata kata penyemangat yang ia buat sendiri.
Wanita itu lantas berbalik badan. Mengikuti langkah suami nya yang telah terlebih dulu pergi meninggalkan kamar itu.
Di meja makan....
Santap malam berjalan dengan tenang dan hening. Tak ada pembicaraan apapun di antara Dion, Saras, maupun Malvino yang kini berada di satu meja makan yang sama. Hanya suara benturan antara piring dsn sendok yang sejak tadi terdengar.
Malvino melirik ke arah putra dan menantu nya itu secara bergantian. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Sejak beberapa hari terakhir sepasang suami istri itu nampak berbeda, tak seperti biasanya.
Malvino mencoba tak bertanya. Biarkan saja Dion melakukan apapun yang ia inginkan. Karena memang selalu seperti itulah konsep didikan yang Malvino terapkan sejak dulu.
Makan malam terus berlanjut. Lalu....
"Pa...." ucap Dion yang sudah mengakhiri makan malamnya.
Malvino menoleh.
.
.
__ADS_1
.
.
"Aku butuh cat merah" ucap Dion tenang.
Malvino terdiam, lalu mengangkat dagunya. Saras menatap nanar ke arah sang suami.
"Dion....." ucapnya lirih dengan suara memelas. Matanya terlihat sendu. Ia sedih mendengar ucapan itu. Sudah hampir satu bulan ini Dion lepas dari cat merah itu. Ia sudah tak pernah meminta 'tumbal' lagi pada ayahnya.
Tapi malam ini, Dion meminta lagi benda itu. Saras seolah merasa gagal. Perjuangan dan kesabaran nya seolah sia sia tanpa hasil.
Saras menyudahi makan malam nya yang terasa hambar. Ia meletakkan sendok di tangannya. Kemudian bergerak menyentuh lengan pria itu dengan lembut, seolah meminta agar Dion mau menoleh ke arahnya dan mengurungkan niatnya meminta tumbal.
"Dion..." ucap Saras lagi.
Malvino masih diam. Menatap tajam ke arah wanita berkacamata bening itu.
Dion menoleh.
"Masuklah ke kamarmu..! Dan tidurlah..!" ucap Dion datar. Laki-laki itu kemudian bangkit. Ia lantas pergi dari tempat tersebut. Mengabaikan sang istri yang terus memanggil manggil namanya. Saras kemudian berdiri, hendak berlari menuju suaminya yang kini berjalan menuju ruang lukisnya di lantai dua. Namun tiba tiba.....
.
.
.
.
"Tunggu...!!!"
...----------------...
Selamat malam
up 17:46
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰
__ADS_1