Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
42


__ADS_3

Malam menjelang di sebuah balkon kamar milik sepasang suami istri yang mulai saling menyayangi itu.


Saras dan Dion nampak asyik bersantai di sebuah kasur sofa yang berada di balkon kamar mereka. Ditemani selimut tebal, secangkir besar kopi untuk berdua, serta sebuah laptop yang tengah memutar sebuah film komedi, sepasang suami istri itu nampak begitu asyik, sesekali terkekeh menyaksikan adegan demi adegan film itu sambil menikmati suara gemericik air hujan yang turun membasahi bumi.


Saras terkekeh lagi. Dion hanya menatap malas ke arah istri cantiknya itu. Film demikian bukanlah film favoritnya. Ia tak terlalu suka melihat orang orang yang rela bertingkah konyol hanya demi mendapatkan tepuk tangan ataupun gelak tawa dari orang lain. Menjijikkan, pikir Dion..! tidak menarik sama sekali.


"hooooaaaammmm"


Pria itu menguap. Saras menoleh ke arah sang suami.


"kamu ngantuk..?" tanya Saras.


Dion menoleh. Tanpa menjawab. Hanya tersenyum. Laki-laki itu kemudian meringsut. Menggerakkan tubuhnya memeluk tubuh ramping wanita di sampingnya itu.


"aku bosen sama tontonan kamu.." ucap Dion.


Saras diam. Lalu tersenyum. Ia kemudian menutup laptopnya. Meletakkan nya di atas meja kecil di samping sofa, kemudian menarik selimut panjang itu hingga ke atas, menutupi seluruh tubuhnya dan suami hingga hanya terlihat kepalanya saja.


Sepasang suami istri itu lantas tidur dalam posisi saling berhadapan wajah. Saras tersenyum. Jari jemari tangannya bergerak menyentuh lalu mengusap usap pipi suaminya.


"Dion..." ucap Saras.


"hmmm..." jawab pria itu.


"kita cerita cerita yuk...." ucap Saras.


Dion tersenyum tenang.


"cerita apa?" tanya Dion.


"emmmm....apa ya....." ucap Saras sambil berfikir.


Lalu....


"oh iya, kalau kamu, dulu waktu hujan kayak gini, biasanya ngapain?" tanya Saras.


Dion diam.


"dari aku dulu ya..." ucap wanita itu.


"kalau aku, dulu pas hujan, itu suka banget mainin air hujan. Lari larian ama Adit di jalan. Waktu itu kan Adit masih kecil ya...aku suka ngajakin dia ujan ujanan, ampe basah semua, ntar pulang ujung ujungnya di marahin sama ibuk, sama suaminya...hahahaha ....." ucap Saras tertawa menceritakan tentang masa kecilnya dengan sang adik yang cukup lucu baginya itu.


Dion hanya tersenyum tipis.


"kalau kamu? kalau hujan suka ngelakuin apa dulu?" tanya Saras.


Dion tak langsung menjawab. Ia menatap tenang wanita di hadapannya itu tanpa pergerakan. Saras diam menunggu jawaban dari pria itu. Sebuah jawaban yang dapat Saras tebak, pasti tidak jauh jauh dari adegan berdarah darah dan sadisme.


"aku suka mencampur air hujan dengan warna merah darah..." ucap Dion.


Tuh, kan...! pikir Saras.


Saras tetap tenang.


"seseorang mengajarkanku, bunuh mereka di saat hujan. Karena tangisan mereka hanya akan bisa kau nikmati seorang diri. Bunyi tetesan air hujan akan meredam suaranya, membuatnya tidak akan terdengar oleh orang lain" ucap Dion.


Saras diam.


"siapa yang ngajarin?" tanya Saras.


"ada..! seorang perempuan, yang mengajariku bagaimana cara membalas dendam yang benar..!" ucap Dion lagi.

__ADS_1


Saras kembali terdiam. Mungkinkah yang dimaksud itu adalah guru yang merawat Dion selama Malvino di penjara? seperti yang mertuanya katakan padanya beberapa waktu lalu.


"trus sekarang perempuan itu dimana? kamu masih sering ketemu dia?" tanya Saras.


Dion menggelengkan kepalanya.


"aku sudah tidak pernah bertemu dia lagi..." ucap Dion.


Saras diam lagi. Menatap paras tampan Dionyz dengan sorot mata yang begitu dalam.


"Dion...." ucapnya.


Dion diam.


"apa kamu bahagia, menyalurkan emosi kamu dengan kekerasan seperti itu?" tanya Saras.


Dion tak menjawab.


"permintaan apa lagi yang ingin kau ajukan, Saras? kau ingin memintaku untuk berhenti melakukan itu?" tanya Dion.


Saras mengangguk samar. Dion berdecih.


"aku nggak mau suamiku jadi seorang pembunuh" ucap Saras pelan dan sangat hati hati.


Dion diam.


"lalu kenapa kau menikah dengan ku jika kau tidak mau punya suami pembunuh?" tanya Dion.


"kamu udah tau jawabannya. Awal pernikahan kita terjadi karena ada sebuah kontrak yang terlanjur aku tanda tangani, kan? tapi setelah itu, setelah semakin lama kita berdua, aku berfikir kayaknya kamu bukan orang yang jahat. Ya, meskipun kadang kamu pinter banget nyembunyiin kebencian dan amarah kamu di balik sikap tenang yang kamu tampilkan. Tapi nggak tau kenapa, aku yakin aja kalau kamu itu sebenarnya orang baik" ucap Saras.


Dion diam.


"Dion, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyalurkan emosi kita selain dengan menyakiti orang lain. Aku nggak mau suatu saat kamu mendapat karma atas apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Aku juga nggak mau kalau sampai kamu kenapa kenapa. Kamu sudah punya istri sekarang. Gimana kalau suatu saat kita punya anak, trus anak kita nakal, kamu kesel, apa kamu juga akan menyakiti dia? darah daging kamu sendiri?" tanya Saras.


Dion diam.


Saras nampak mengembun.


"aku takut" cicit nya.


"apa yang kamu takutkan...?" tanya Dion.


Saras tak menjawab..


"kehidupan kamu yang sekarang itu udah berbeda dengan kehidupan kamu yang dulu. Kamu udah dewasa. Kalaupun dulu ada segelintir orang yang pernah menyakiti kamu, mereka sekarang juga udah dewasa. Bukan waktunya lagi untuk menyakiti orang lain demi melampiaskan kekesalannya kamu, Dion. Banyak cara lain. Kamu punya segalanya. Punya uang, punya bakat. Kenapa nggak kamu balas semua perlakuan kamu itu dengan prestasi yang bisa kamu banggakan. Biar orang orang itu bisa melihat kamu sebagai manusia yang lebih tinggi tingkatannya dibanding mereka. Bukan dengan menjadi orang yang terus menerus mengurung diri di dalam rumah dengan kegiatan kegiatan yang nggak seharusnya kamu lakukan"


"aku tidak butuh pujian..! aku hanya butuh kepuasan..!" ucap Dion.


"bukannya membalas sakit hati dengan hal hal positif yang bisa dilihat banyak orang itu jauh lebih menyenangkan, daripada membalas dengan tindakan tindakan salah yang akhirnya hanya membuat kamu nggak bisa leluasa melakukan apapun di luar sana. Penganiayaan dan pembunuhan itu termasuk perbuatan kriminal, sayang. Andai polisi mengendus hal itu maka bukan kemenangan yang kamu dapat, justru kekalahan. Dan mereka yang menyakiti kamu dulu akan kembali tertawa lebar di luar sana" ucap Saras.


"bukannya aku mengekang ataupun mengatur, tapi kan kamu makin hari makin tambah umur. Papa kamu juga begitu. Mau sampai kapan kamu kayak gini?" tanya Saras.


Dion tak menjawab. Kepalanya bergerak gerak seolah merasa tak nyaman dengan obrolan malam ini.


Saras menyentuh telapak tangan laki laki itu yang nampak gemetar, saling merem*s satu sama lain. Saras lantas menggenggamnya, dan mengusap usapnya lembut.


"kamu sekarang nggak sendirian. Kan ada aku. Kamu bukan orang yang payah. Kamu bukan orang yang lemah, yang gagal, atau seperti kata kata buruk yang dulu orang orang pernah ucapkan sama kamu. Kamu adalah Dion yang kuat. Yang memiliki bakat. Yang berprestasi. Yang memiliki semuanya yang orang lain nggak punya. Tunjukin sama mereka, aku ada di samping kamu buat nemenin kamu. Berhenti menyiksa diri kamu dengan sakit hati yang nggak ada ujungnya ini. Keluar dari zona nyaman kamu. Bangkit. Kita jalan sama sama. Aku ada di samping kamu, sebagai orang terdepan yang selalu mendukung kamu" ucap Saras.


Dion diam tak bergerak. Wanita itu nampak tersenyum.


"ya...." ucapnya lagi.

__ADS_1


Dion tak langsung menjawab. Lalu...


"akan aku pikirkan..." ucapnya.


Saras tersenyum.


"janji?" tanyanya sembari menjentikkan jari kelingking nya.


Dion tersenyum.


"demi kamu" ucapnya sembari menautkan jari kelingkingnya di sana.


Saras tersenyum sumringah. Ia lantas menggerakkan tangannya. Memeluk erat tubuh tegap itu dengan hangat seolah ingin menunjukkan rasa cintanya pada sang suami.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah....


Ditepi kolam renang rumah megah kediaman Arkana dan keluarganya.


"ya..! saya tunggu kabar dari kalian secepatnya...!" ucap pria dewasa itu melalui sambungan telepon.


Pria itu, Bharata, lantas memutuskan sambungan telepon nya secara sepihak kemudian memasukkan benda pipih itu ke saku celananya.


"gimana, pa?" tanya pemuda yang sejak tadi duduk di bangku kolam renang, mengamati pergerakan ayahnya.


Bharata mendekat. Mendudukan tubuh nya di salah satu bangku kosong tepat di samping sang putra.


"papa udah mengerahkan orang untuk mencari keberadaan ibu dan adik kamu. Semoga aja cepat ketemu. Papa hanya ingin memastikan bahwa adik kamu baik baik saja" ucap Bharata.


Arka mengangguk.


"apa Anggi punya sesuatu, tanda lahir atau apa mungkin yang bisa jadi tanda pengenal nya dia?" tanya Arkana.


"ada..!" ucap Bharata.


"apa?" tanya Arkana.


"tapi letaknya ada di tempat yang cukup sensitif.." ucap Bharata.


"Di dada sebelah kiri, dia punya tanda lahir berbentuk mirip pulau Sula**si. Sangat jelas. Dan mungkin sangat jarang orang punya tanda dengan bentuk seperti itu di tubuhnya" ucap Bharata.


Arkana mengangguk.


"beda sih beda, pa..! tapi kalau letaknya di situ gimana cari tahunya..?!" ucap Arkana pesimis.


Bharata terkekeh. Disentuhnya pundak sang putra lalu mengusap usapnya.




...----------------...


Selamat pagi...


up 05:31


yuk, dukungan dulu 🥰😘


mampir sini juga

__ADS_1



__ADS_2