Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
21


__ADS_3

Siang menjelang..


Didalam sebuah kamar mewah yang kini sudah kembali bersih dan rapi.



"eeeemmmhhhh...."


Suara itu lolos dari bibir mungil Saras. Ia menggeliat. Mengubah posisinya menjadi miring ke samping. Dilihatnya jam dinding. Masih pukul sebelas siang. Ia menggeliat lagi. Mengubah posisinya lagi menjadi terlentang. Membuang nafas panjang. Berguling lagi, menjadi miring ke sisi lainnya. Meraih ponsel. Memainkannya sejenak. Melihat lihat vidio vidio lucu dari aplikasi berbagi vidio pendek disana. Bosan..! Dilemparnya lagi ponsel itu asal. Lalu berguling lagi. Tengkurap. Terlentang. Miring lagi. Begitu saja terus dan terus...!


Saras dengan sejumlah luka memar di tubuh itu nampak mendengus kesal. Sejak pagi hingga kini mulai siang ia tak melakukan kegiatan apapun. Hanya tiduran di dalam kamar. Memulihkan kekuatan tubuhnya pasca di gempur habis habisan oleh Dion semalam.


Saras berdecak kesal. Ia lelah rebahan terus...! bosan...! tak ada kegiatan..!


Sedangkan Dion sejak tadi masih berada di ruang lukisnya. Menyibukkan diri di dalam sana dengan hobinya itu. Saras tak berani menyusulnya. Tempat itu terlalu mengerikan. Dan Dion juga tidak suka jika Saras masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya itu.


Saras menghela nafas panjang. Ia mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk.


"ck...! gue ngapain coba dari tadi?! tiduran mulu kek orang penyakitan...!" gerutunya.


Saras menjatuhkan tubuhnya lagi. Lalu kembali berguling bebas disana.


"boseeeeennnnnn.....!!!" ucapnya sambil membenamkan wajahnya di bantal empuk ber seprei putih itu.


Saras lantas mengangkat kepalanya.


"ini gue minta ijin ke rumah ibuk boleh nggak sih? daripada di rumah nggak ngapa ngapain..!" ucap wanita itu.


Saras kemudian bangkit. Turun dari ranjangnya dengan bersusah payah. Berniat untuk keluar dari kamar itu, menyusul Dion yang berada di ruang lukisnya untuk meminta izin pergi ke rumah Ratih.


Saras mengayunkan kakinya perlahan mendekati pintu kamar mewah itu. Namun baru saja ia hendak membuka handle pintunya. Tiba-tiba.....


ceklek.....


pintu terbuka dari luar. Dion muncul dari balik pintu itu. Menatap datar ke Saras yang nampak sedikit terkejut.


"Dion.." ucap wanita itu.


Dion menatap datar wanita berambut sebahu tersebut.


"mau kemana?" tanyanya.


Saras membuka mulutnya, nampak gugup.


"a...aku..aku tadi mau nyari kamu. Mau...itu...mi..minta izin..aku boleh nggak, main ke rumah ibuk" ucap Saras.


Dion diam.


Saras nampak menunduk sambil meremas rem*s jari jari tangannya.


"untuk apa?" tanya pria itu


"ya...aku pengen ketemu ibuk aja. Kangen. Lagian di rumah aku juga nggak ngapa ngapain kan?" ucap Saras.


Dion mengangkat dagunya.


"kau kan menemani suamimu" ucap Dion.


Saras mendongak. Menatap sedikit manja ke arah laki laki yang kadang murah senyum, namun kadang juga dingin tanpa ekspresi itu.

__ADS_1


"nemenin apa? orang dari tadi aku di tinggalin sendirian di kamar..!" cicit wanita itu.


Dion mengangkat satu sudut bibirnya. Digerakkan nya tangan itu, meraih pinggang ramping Saras lalu menempelkan nya pada tubuh tegap atletisnya.


"kau kesepian?" tanya Dion.


Saras mendongak. Lalu mengangguk sambil memasang wajah memelas nya.


Dion mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang bertinggi badan setara dengan dagunya itu lalu menyingkapkan rambut sang istri ke belakang telinga Saras.


"aku akan menemanimu" ucap pria itu.


Saras tersenyum manis. Dion fokus mengamati bibir tipis milik sang istri.


Sepasang pengantin baru itu nampak saling memeluk, dengan wajah yang saling berdekatan membuat nafas keduanya saling menerpa satu sama lain.


"Dion..." ucap Saras lagi.


Dion tak menjawab.


"kalau misalkan aku kangen ibu sama adikku, apa aku boleh pergi menemui mereka?" tanya Saras.


Lagi, Dion diam. Tak langsung menjawab.


"kau tidak boleh pergi tanpa aku..!" ucapnya.


Saras tersenyum. Memiringkan kepalanya menatap wajah tampan pria berkacamata itu.


"berarti kalau aku perginya sama kamu, boleh?" tanya Saras lagi.


Dion lagi lagi tak langsung menjawab. Diamatinya wajah wanita yang mulai berani bersikap manis padanya itu.


"kenapa kau bersikap seperti ini padaku?" tanya Dion.


"kau mau menggoda ku?" tanya Dion.


Saras mengulum senyum.


"kamu tergoda?" tanya nya manis.


Dion mulai menampilkan senyuman nakalnya.


"kau pandai menggoda laki laki" ucap Dion.


"enggak..! aku nggak pernah menggoda siapapun. Aku begini kan cuma sama kamu aja" ucap Saras.


Dion mengangkat satu sudut bibirnya.


"sungguh..?" tanyanya.


Saras mengangguk.


Dion mengangkat dagunya. Menarik nafas panjang. Sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya.


Kemudian.....


seeeeetttt....


Dion memutar tubuh ramping itu dengan mantap. Membuat Saras yang semula berdiri berhadap-hadapan dengan Dion ini kini berubah membelakangi suaminya.

__ADS_1


Dion menggerak kan tangannya. Memeluk wanita itu dari belakang. Lalu dengan beraninya menyentuh dada kenyal berukuran tak terlalu besar milik sang istri. Direm*snya benda itu dengan cukup kuat. Sedikit sakit. Membuat Saras menggigit bibir bawahnya menahan rintihan agar tak lolos dari bibir merah mudanya.


Dion mendekatkan kepalanya pada telinga sang istri lalu berbisik...


"Aku suka kau bermanja manja seperti ini denganku...." ucap Dion.


"kalau kau mau menemui ibumu, aku akan mengizinkan nya besok. Tapi dengan satu syarat..." ucapnya.


Saras diam sejenak.


"apa?" tanya Saras.


Dion tersenyum manis. Menempelkan bibirnya di daun telinga sang istri lalu berbisik.


"puaskan aku sekarang. Dan jadilah wanita penggoda yang baik untukku" ucapnya.


Saras mematung. Dion nampak menyeringai. Laki-laki itu kemudian melepaskan pelukannya atas sang istri.


Saras berbalik badan. Dilihatnya disana sudah memiringkan kepalanya. Menatapnya dengan sorot mata lapar.


Saras tersenyum. Laki laki itu kemudian meraih pinggang Saras. Mengangkatnya. Dan membawanya naik ke atas ranjang dalam posisi wajah yang masih saling memandang.


buuuuuuuuuuggggghhhhh......


Dijatuhkan nya wanita itu ke atas kasur empuk ber seprei putih itu. Dion lantas menindihnya. Ia kembali memiringkan kepalanya menikmati keindahan paras ayu sang istri tercinta.


Saras tersenyum. Digerakkan nya tangan itu. Meraih kacamata bening Dion lalu melepaskan nya dan melemparnya asal di atas ranjang.


"Dion..." ucapnya.


"apa?" tanyanya laki laki itu.


"boleh aku ngomong sesuatu...?" tanya Saras.


Dion tak menjawab.


Saras kembali menggerakkan tangannya. Menyentuh dua buah tombol kecil di dada bidang pria itu dan memainkannya lembut.


"Dion, asal kamu tahu...aku melakukan hal semacam ini cuma sama kamu. Aku melakukan apapun yang kamu minta, memberikan semuanya, itu cuma demi kamu. Untuk membuktikan bahwa aku siap menjadi orang yang bisa kamu percaya untuk menyenangkan kamu. Patuh dan tunduk sama kamu sebagai seorang istri yang baik, seperti yang kamu inginkan. Aku nggak tahu seperti apa kamu dan masa lalu kamu karena kita belum lama saling mengenal. Tapi percayalah, seperti apapun kehidupan kamu di masa lalu aku datang sebagai masa depan kamu. Jika masa lalu kamu penuh luka, maka aku adalah orang yang Tuhan kirimkan untuk menjadi obat penawar luka itu. Aku milikmu, sayang... percaya sama aku. Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan sama aku" ucap wanita itu.


Dion tak menjawab.


"aku pegang kata katamu. Asal kau tau, aku bahkan pernah mendengar kata kata yang lebih manis dari ini. Tapi semuanya bulshit..! Kalau memang apa yang kau katakan itu benar, maka tunjukkan lah. Pastikan kau bersungguh-sungguh sungguh dengan ucapanmu itu. Bukan hanya janji manis tapi busuk dan menjijikkan..!" ucapnya.


Saras tersenyum. Lalu mengangguk.


"lakukan apapun yang kamu mau" ucapnya.


Dion menyeringai. Kemudian dengan satu gerakan, ditariknya tanktop putih yang melekat pada tubuh Saras.


Dion mulai melakukan aksinya. Saras memejamkan matanya. Sebuah adegan panas yang cukup brutal kembali terjadi. Saras kembali menyerahkan tubuh itu pada laki laki yang kini sudah sah menjadi suami nya itu. Tangisan dan rintihan kembali terdengar. Dion kembali menggagahi wanita itu dengan penuh naf*u tanpa kelembutan. Membuat Sarad sebetulnya cukup tersiksa, namun tak punya kemampuan untuk menolaknya.


...----------------...


Selamat pagi....


up 04:07


yuk, dukungan dulu 🥰

__ADS_1


Jangan lupa mampir sini juga



__ADS_2