
Tepat pukul delapan pagi. Motor besar milik Gio nampak memasuki halaman panti asuhan tempat tinggal Xena. Gio mematikan mesin motornya. Sepasang anak muda itu lantas turun dari kendaraan roda dua tersebut sembari melepas helmnya dan meletakkan benda penutup kepala itu di atas motor besar tersebut.
Gio dan Xena nampak diam. Sebuah mobil mewah berwarna hitam nampak terparkir rapi di halaman panti. Sebuah benda mewah yang terlihat begitu mengagumkan di mata para anak anak tanpa orang tua itu. Mobil itu nampak dikelilingi beberapa anak panti yang terlihat begitu terkagum-kagum.
Xena dan Gio nampak saling pandang untuk beberapa saat.
"Itu........" ucap Xena menggantung.
"Itu mobil bokapnya Dion!" ucap Gio membuat Xena terdiam. Sedangkan Gio nampak menampilkan wajah datar.
"Kita masuk, yuk!" ajak Xena.
Gio menoleh ke arah gadis muda itu, lalu mengangguk. Sepasang muda mudi itupun lantas masuk ke dalam ruang tamu panti yang berada di sana.
"Assalamualaikum," ucap Xena.
"Wa Alaikum Salam," sahut ibu panti yang diketahui bernama Ibu Tari itu kala melihat kedatangan Xena dan Gio.
Xena dan Gio diam. Dilihatnya disana, Bu Tari nampak duduk di sofa panjang sederhana ruang tamu itu bersama dua orang pria yang cukup Xena dan Gio kenal.
Ya, itu adalah Malvino dan Jason. Sesuai dengan tebakan Gio, mobil mewah yang berada di depan panti tadi adalah mobil milik ayah kandung Dion itu. Entah ada tujuan apa pria itu tiba tiba datang ke panti asuhan ini.
"Xena, Nak Gio," ucap Bu Tari. Sepasang pemuda pemudi itu nampak berjalan mendekati Bu Tari. Keduanya meraih punggung tangan wanita berhijab syar'i itu kemudian mencium punggung tangannya sebagai tanda bakti.
Xena dan Gio lantas mendudukkan tubuh mereka di atas salah satu sofa panjang di sana. Malvino menatap datar sepasang muda mudi itu. Sedangkan Gio kini nampak menajamkan pandangannya menatap ke arah ayah kandung Dion itu.
"Ini ada apa, Bu?" tanya Xena sedikit bingung. Terlebih lagi dilihatnya kini di atas meja rendah itu, beberapa barang pribadinya nampak tergeletak di sana. Seperti popok serta kain bedong dan beberapa surat-surat kecil berwarna merah muda yang menurut Ibu Tari adalah barang-barang yang berada di keranjang bayi Xena saat pertama kali wanita itu ditemukan di tepi sungai.
Bu Tari nampak tersenyum manis.
"Xena, ini Tuan Malvino. Pagi ini beliau datang ke panti, ingin bertemu kamu," ucap Bu Tari.
Xena diam. Ia menoleh ke arah Gio seolah ingin bertanya 'kira kira ada apa, ya?'. Tapi sepertinya Gio tak merespon. Ia hanya diam menatap datar ke arah Malvino.
'Jangan jangan nih calon kakek kakek mau ngelamar Xena dan jadiin dia bini muda?' pikir Gio mulai berburuk sangka.
__ADS_1
"Beliau ingin mengenal kamu lebih jauh. Dia sudah menunggu kamu dari tadi pagi," tambah Bu Tari lagi membuat Gio makin menajamkan pandangannya.
Ingin mengenal lebih jauh katanya? Apa maksudnya? Pikir Gio.
"Ehhkkmm...!" Jason berdehem. Laki laki bertato itu kemudian bangkit dari posisi duduknya. Membuat Gio, Xena dan Bu Tari nampak mendongak menatap ke arah pria tangan kanan Malvino tersebut.
"Tuan saya ingin bicara empat mata dengan Xena. Jadi lebih baik kita keluar terlebih dahulu," ucap Jason pada Bu Tari.
Wanita paruh baya itu mengangkat dagunya kemudian mengangguk samar. Ia ikut berdiri mengikuti langkah Jason. Namun saat keduanya hendak keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Jason menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah pemuda gondrong yang justru tak bergerak sama sekali dari posisi duduknya yang berada di samping Xena. Ia justru menatap tajam ke arah pria paruh baya itu dengan sorot mata tajam.
"Tuan Malvino ingin bicara empat mata dengan pacarmu, anak muda!" ucap Jason pada Gio.
Gio menoleh ke arah pria bertato itu dengan sorot mata tak kalah tajam tanpa bicara.
"Kau jangan khawatir, aku tidak akan mengambil Xena darimu. Aku tidak sepertimu yang suka mengusik hubungan orang yang sudah berjalan baik hanya demi ego mu semata!" ucap Malvino seolah menyinggung sikap Gio atas hubungan Dion dan Angel dulu. Gio nampak tak suka.
Xena menyentuh lengan Gio yang nampak kaku. Membuat pria dengan hati yang begitu keras itu menoleh ke arahnya.
"Aku nggak apa apa, kamu keluar dulu, ya. Nanti aku temuin kamu kalau aku udah selesai bicara sama Tuan Malvino," ucap Xena dengan lembut.
Seperginya Jason, Gio, dan Bu Tari...
"Mendekatlah!" ucap laki laki itu dengan tenang. Ia duduk di sofa itu dengan tubuh tersandar di sana. Ia menatap lurus ke depan sembari menikmati cerutu di tangannya.
Xena diam sejenak. Ia nampak tak bergerak.
"Biasanya aku akan langsung menembak kepala orang yang mengabaikan ucapanku!!" tambah Malvino lagi membuat Xena seketika merinding dibuatnya.
Gadis muda itupun perlahan berdiri, berpindah dari sofanya menuju sofa lain tempat di mana Malvino tengah duduk di sana. Wanita itu nampak meremas jari jari tangannya dengan kepala tertunduk. Ia sedikit menjaga jarak dari pria dewasa yang terlihat menyeramkan itu.
Malvino menghisap lagi cerutunya lalu membuang asapnya ke udara. Laki laki itu kemudian menggerakkan tangannya, mengeluarkan sebuah cincin milik Xena yang ia rampas pagi tadi. Ia kemudian meletakkannya di atas meja tepat di hadapan wanita cantik itu.
Xena membuka matanya lebar-lebar dengan wajah yang nampak berbinar. Dengan cepat ia meraih cincin tersebut dengan wajah bahagia.
"Cincinku...!!" ucapnya.
__ADS_1
Malvino menghisap rokoknya lagi.
"Xena Adara artinya adalah wanita cantik yang ramah. Sedangkan inisial R&M itu adalah Rihanna dan Malvino. Cincin itu kuberikan pada mantan kekasihku puluhan tahun yang lalu," ucapnya membuat Xena terdiam dan seketika menoleh ke arah Malvino.
Xena nampak memasang wajah bodoh. Ia memutar otaknya sekuat tenaga mencoba mencerna ucapan yang keluar dari mulut pria berjambang lebat itu.
"Maksudnya?" tanya Xena tak paham.
Malvino menoleh ke arah wanita cantik itu.
.
.
.
.
"Kau adalah putriku!"
...
Bersambung 😁
...----------------...
Selamat sore
Up 16:48
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
Jangan lupa mampir sini juga. Baca sampai habis karena author butuh retensi tinggi untuk bertahan di NT
__ADS_1