
Bharata tersenyum,
"Tuhan Maha Memberi Kesempatan. Tuhan Maha Penyayang. Dan Tuhan Maha Pemberi Ampunan," ucap Bharata.
"Sayang, lihatlah gadis di sampingmu," tambah Bharata.
Maya menoleh ke arah Xena. Gadis itu nampak menitikkan air matanya.
"Apakah kau tidak mengenali wajahnya?" tanya Bharata. Maya nampak bingung. Ia menoleh kearah sang suami dan Xena secara bergantian.
"Putrimu sudah besar. Tuhan menyelamatkannya. Dia masih ingin melihatmu memeluknya dan mencium keningnya. Menemaninya, dan membahagiakannya selayaknya seorang ibu pada anaknya," ucap Bharata.
Maya tak bergerak.
"Sayang, dia anakmu. Xena Adara namanya..."
__ADS_1
Degghh...
Maya membuka mulutnya. Bak tersambar petir di siang bolong, wanita paruh baya berpenampilan anggun dan cantik itu nampak mematunh menatap gadis di hadapannya yang sejak tadi terus menitikkan air matanya.
"Dia ditemukan dua puluh empat tahun yang lalu di tepi sebuah sungai oleh seorang wanita penjaga sebuah panti asuhan. Seorang bayi merah berjenis kelamin perempuan yang masih berlumuran darah. Lengkap dengan selimut serta sebuah cincin bertuliskan Xena Adara dengan inisial R&M yang berada di sampingnya."
"Bayi itu dirawat, dijaga, disayangi dengan sepenuh hati hingga tumbuh menjadi gadis dewasa yang periang. Seorang gadis yang memiliki akhlak yang mulia yang sekarang bekerja di sebuah rumah sakit sebagai perawat."
Maya meremas kemeja di bagian dadanya.
"Sayang, dia adalah bayi yang dulu pernah kau buang. Dia adalah bayi yang ingin kau peluk dan kau sayangi. Dia masih hidup. Tuhan mengirimkan seseorang untuk melindungi dan menjaganya hingga bertemu denganmu hari ini. Dia adalah buah hatimu. Orang yang saat ini paling kau rindukan dan ingin kau peluk," ucap Bharata.
"Assalamualaikum, Ibu," ucap Xena lirih.
Maya menangis mendengar ucapan itu. Diraihnya tubuh gadis itu lalu memeluknya dengan erat. Keduanya menangis tak terbendung.
__ADS_1
"Wa Alaikum Salam, anak Ibu," jawab Maya disela sela tangisannya. Didekapnya dengan erat gadis itu. Xena menangis tak terbendung. Akhirnya ia bisa merasakan pelukan seorang ibu. Ibu kandung yang tanpa ragu memeluknya dengan penuh kasih sayang. Ibu kandung yang tanpa meminta pembuktian apapun. Tanpa menceritakan masa lalunya yang kelam dengan ayah biologis Xena. Ibu kandung yang justru mengharapkan kehadirannya. Ibu kandung yang justru merasa bersalah.setelah membuangnya dua puluh empat tahun yang lalu.
Dalam pelukan Maya, Xena merasa dihargai. Xena merasa dicintai. Berbanding terbalik dengan Malvino yang sempat menyakiti hatinya ketika pertama kali bertemu dengannya. Xena merasa dianggap di rumah ini. Xena merasa memiliki keluarga di tengah-tengah keluarga Maya dan Bharata.
Sepasang ibu dan anak itu saling memeluk dalam waktu yang cukup lama seolah ingin menumpahkan segala kerinduan mereka. Maya tak henti mengucap ribuan kata maaf untuk sang putri. Betapa ia merasa sangat menyesal dan bersalah pada gadis yang sudah ia sia-siakan selama dua puluh empat tahun lamanya. Sedangkan Xena hanya terus mengangguk. Ia tak pernah membenci ibunya. Meskipun pernah ada kekecewaan dalam dirinya kepada kedua orang tuanya, namun seiring berjalannya waktu wanita itu mencoba untuk memahami, mencoba untuk memaklumi, mencoba untuk berlapang dada dan menerima semuanya dengan ikhlas. Masa lalu hanya lah masa lalu. Kini sebagai seorang anak tugasnya adalah mengabdi kepada kedua orang tuanya yang sudah memiliki keluarga masing-masing itu. Mungkin kedua orang tuanya memang tak bisa lagi bersama, tapi setidaknya di usianya yang sudah menginjak hampir seperempat abad itu, ia sudah bisa merasakan memiliki keluarga yang lengkap. Bertemu dengan ayah dan ibunya. Dipeluk oleh kedua orang tuanya meskipun sudah tak seatap lagi.
Cukup lama mereka saling berpelukan. Maya kemudian melepaskan pelukannya atas sang putri. Ia mengusap lelehan air mata dipilihnya kemudian melakukan hal yang sama pada Xena. Maya tersenyum haru.
"Kamu sudah besar sekarang. Ibu minta maaf tidak menemani kamu tumbuh. Kamu boleh pukul Ibumu. Kamu boleh tampar Ibu. Lakukan apapun sama Ibu agar Ibu bisa menebus semua kesalahan Ibu sama kamu. Ibu adalah Ibu yang salah, Ibu yang berdosa. Hukum Ibu, Nak! Lakukan apapun yang bisa menghapus semua kesalahan Ibu padamu!" ucap Maya.
Xena menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak mau melakukan apapun sama Ibu. Aku nggak akan menyakiti Ibu. Aku cuma mau dipeluk sama Ibu. Aku cuma ingin merasakan pelukan seorang Ibu!" ucap wanita berhijab putih itu.
Maya menangis lagi. Ia kembali meraih tubuh sang putri dan kembali mendekapnya dengan sangat erat. Kecupan demi kecupan ia berikan di pucuk kepala sang putri, seolah ingin membuktikan bahwa ia benar-benar menyayangi dan merindukan gadis dalam dekapannya itu.
__ADS_1
Suasana terasa begitu mengharu biru. Ketiga pria yang berada di sana itu ikut menantikan air matanya melihat pemandangan yang sangat menyentuh hati tersebut.
...----------------...