
Di sebuah kantor kepolisian yang berada di kota itu. Dua orang manusia muda nampak duduk di sebuah kursi panjang yang berada di ruang tunggu bangunan markas aparat penegak hukum tersebut.
Ya, itu adalah Dion dan Xena. Di hari bersejarah lahirnya penerus Dionyz Aldari Miguel, keluarga itu justru mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan. Polisi baru saja menghubungi nomor ponsel Xena, ia mengatakan bahwa sekelompok perampok yang beraksi tadi malam di sebuah toko emas di kota itu rupanya baru saja diringkus oleh pihak yang berwajib. Kurang lebih jumlahnya sepuluh orang. Satu diantaranya adalah Malvino, ayah kandung Xena dan Dion yang dimana dalam kelompok ini, ia berperan sebagai ketua yang mengatur strategi perampokan itu sendiri. Hal itu pun membuat pria dewasa yang dikenal dingin itu kini harus meringkuk di balik jeruji besi.
Sekitar lima belas menit Dion dan Xena menunggu di sana, seorang petugas kemudian datang bersama seorang pria berjambang lebat dengan kedua tangan yang nampak di borgol itu.
Dion diam. Menatap nanar ke arah pria yang ia ketahui selalu menyayanginya itu. Bola mata itu nampak berkaca kaca. Pria yang kini sudah menyandang status sebagai seorang ayah itu nampak menggerak-gerakan kepalanya. Ia seolah merasa tidak nyaman. Sepertinya bayang-bayang masa lalu kala ia pernah berada dalam situasi yang sama seperti saat ini kembali menari-nari dalam ingatannya. Xena yang juga merasakan sesak melihat kondisi sang ayah pun nampak menoleh ke arah Dion yang menunjukkan perilaku tak biasa itu.
"Dion, kamu kenapa?" tanya Xena.
Dion tak menjawab. Ia nampak mengepalkan tangannya sambil menggerak gerakkan kepalanya. Bayang bayang bullying itu kembali menari nari. Situasi yang kini ia alami sama seperti situasi yang dulu pernah ia alami. Yang menjadi awal trauma batin berkepanjangan yang kini dialami laki laki itu.
"Papa nggak apa apa, Nak. Kamu jangan khawatir," ucap Malvino. Xena bingung. Ia menoleh ke arah Malvino dan Dion bergantian.
"Aku takut. Aku sama siapa, Pa? Aku gimana, Pa? Aku sama siapa?!" ucap Dion memburu. Ia seperti bocah yang nampak ketakutan. Xena yang sudah mengetahui tentang masa lalu Dion dari berbagai mulut itu kini seolah mulai bisa mencerna keadaan dengan baik. Sepertinya Dion trauma. Ia takut ditinggal pergi ayahnya seperti yang dulu pernah Dion alami. Ia takut ditinggal Malvino. Ia takut hidup sendiri tanpa sang ayah diluar sana.
Xena meringsut. Dengan lembut ia menyentuh pundak Dion. Membuat pria itupun menoleh ke arah wanita yang merupakan saudara se-ayah nya.
"Jangan takut. Ini bukan kisah puluhan tahun yang lalu yang dulu pernah kamu alami. Kamu nggak sendiri sekarang. Ada aku, ada Saras istri kamu, dan juga ada Leo, anak kamu yang baru saja terlahir ke dunia."
"Kamu bukan anak kecil sebatang kara yang ditinggal sendiri oleh ayahnya sekarang. Kamu sekarang adalah seorang ayah. Kamu punya anak yang harus kamu jaga. Kamu adalah seorang ayah yang harus melindungi anaknya, seperti Papa. Kamu adalah seorang ayah yang harus kuat dalam kondisi apapun."
__ADS_1
"Dion, tidak ada hal yang buruk yang akan menimpa kamu sekarang. Karena di samping kamu ada banyak orang yang menyayangi kamu. Ini bukan kisah yang sama seperti di masa lalu kamu, tapi ini adalah masa sekarang, di mana kamu sudah dewasa dan harus bangkit dari semua trauma yang dulu pernah kamu rasakan."
"Aku adalah kakak kamu. Kita adalah saudara. Kamu nggak perlu takut sekarang. Papa akan baik baik saja disini, begitu juga kamu yang akan tetap baik baik saja meskipun tanpa Papa diluar sana," ucap Xena panjang lebar mencoba menenangkan sang adik.
Malvino diam menatap interaksi kedua putra putrinya.
"Dion, dengarkan kata Xena. Papa disini baik baik saja," ucap Malvino.
"Dengar boy, polisi mungkin akan menahan Papa hingga beberapa tahun kedepan. Papa tahu kamu sudah besar. Kamu sudah bisa menjaga diri kamu dengan baik. Kamu juga dikelilingi orang-orang yang menyayangi kamu. Jaga diri kamu bersama anak, istri dan juga kakak kamu. Papa minta maaf karena Papa tidak bisa menemani kamu untuk sementara ini. Papa akan tetap berada di sini sampai masa tahan Papa selesai."
"Dan untuk kau, Xena. Saya titip Dion. Saya tahu kamu adalah anak yang baik. Saya tahu kamu bisa saya andalkan untuk menjaga Dion. Saya minta maaf karena saya belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kamu dan Dion. Saya minta maaf untuk semua kesalahan saya. Sekarang biarkan saya berada di sini. Anggap saja ini semua adalah cara Tuhan untuk menegur saya dan membalas semua perbuatan saya sama kamu, ibu kamu, dan orang orang yang sudah saya sakiti," ucap Malvino.
Xena diam. Ia hanya menunduk dengan mata berair.
Xena tersenyum haru. Untuk pertama kalinya ia mendengar Malvino memanggilnya dengan sebutan itu. Terdengar sangat indah dan menyentuh.
Xena mengangguk, "Iya, Pa," jawabnya.
"Saudara Malvino, waktu besuk sudah habis. Silahkan kembali ke sel!" ucap seorang petugas yang sukses membuat Xena, Malvino dan Dion menoleh.
Pria berpakaian polisi itu lantas mendekat. Membimbing Malvino untuk kembali ke selnya. Namun tiba-tiba..
__ADS_1
"Pak, tunggu sebentar!" ucap Xena pada sang petugas yang hendak membawa Malvino kembali ke selnya.
Malvino menoleh, begitu juga dengan petugas yang membawanya. Xena kemudian mendekat sembari merogoh tas ransel yang sejak tadi dibawanya.
"Pa," ucap Xena.
Malvino diam. Xena mengeluarkan sebuah tasbih dari dalam tasnya
"Aku tadi kebetulan bawa ini. Papa simpan, ya," ucap Xena sembari menyerahkan benda tersebut untuk sang ayah.
"Untuk apa?" tanya Malvino.
"Di dalam benda ini ada doaku buat Papa. Jika Papa berfikir bahwa apa yang terjadi pada Papa sekarang adalah balasan atas semua kesalahan Papa, maka izinkan aku memberikan tasbih ini sebagai bantuan untuk Papa melewati hukuman Papa. Aku udah memaafkan Papa, dan aku selalu mendoakan Papa dalam setiap sujudku," ucap Xena.
Malvino diam tak menjawab. Ia menatap nanar ke arah sang putri.
"Jaga diri baik baik ya, Pa. Aku dan Dion akan sering sering datang kemari buat jenguk Papa," ucap Xena.
Malvino tersenyum samar. "Ya, terimakasih," ucapnya.
Malvino lantas berbalik badan, kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
...----------------...