Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
129


__ADS_3

Lima belas menit perjalanan, kendaraan roda empat berwarna hitam milik Dion nampak berhenti di lahan parkir sebuah coffee shop bertuliskan Sky Coffee Cafe milik Arkana. Sepasang suami istri itu turun dari kendaraan yang mereka tumpangi. Dion berjalan menuju bagasi mobil. Membukanya, kemudian mengeluarkan sebuah lukisan bergambar wajah seorang wanita cantik pesanan calon pembelinya.


Dion mendekati istrinya


"Yuk!" ucap pria itu. Saras mengangguk. Ia kemudian mengikuti langkah kaki suaminya masuk ke dalam coffee shop tersebut.


"Dion," ucap Saras sembari berjalan menuju pintu utama Coffee shop itu.


"Hmm," jawab Dion.


"Tadi waktu aku papasan sama papa kamu di depan pintu rumah kamu, aku reflek manggil dia Papa," ucap Saras membuat Dion menghentikan langkah kakinya sejenak dan menoleh ke arah sang istri.


"Oh ya? Terus?" tanya Dion.


"Dia diem aja!" jawab Saras dengan bibir mengerucut. Dion terkekeh. Ia menggerakkan tangannya mengacak-acak lembut pucuk kepala sang istri yang terlihat menggemaskan di mata Dion.


"Nggak apa apa. Papa emang orangnya seperti itu. Cuma belum terbiasa aja. Ntar lama-lama juga biasa," ucap Dion sembari tersenyum.


Saras hanya mengangguk balas senyuman itu dengan lengkungan bibir yang tak kalah manis.


"Masuk, yuk!" ucap Dion lagi.


Saras mengangguk. Sepasang suami istri itu kemudian masuk ke dalam coffee shop milik Arkana itu. Netra sepasang suami istri itu lantas menyapu seluruh penjuru ruangan, mencari sosok calon pembeli lukisan hasil karya Dion yang katanya sudah menunggu di tempat tersebut.


"Saras, Dion!!" sapa seorang laki-laki berjambang tipis di sana sembari melambaikan tangannya seolah memanggil Saras dan Dion.

__ADS_1


Ya, itu adalah Arkana. Laki-laki yang baru pulang dari luar kota pasca menemui sang ibu yang tengah dalam masa pemulihan itu nampak melambaikan tangannya ke arah Saras dan Dion, membuat sepasang suami istri yang baru datang itu pun menoleh ke arah kakak kandung Saras itu.


Saras tersenyum. Dilihatnya di sana Arkana sudah duduk di sebuah bangku bersama dengan dua orang pria wanita dan nampak ikut tersenyum ke arah sepasang suami istri yang baru datang itu. Si wanita nampak memangku seorang bocah pria, sambil sesekali menoleh ke meja yang berada samping mereka di mana dua orang bocah nampak asik malahan burger dan soft drink di hadapan mereka.


Saras dan Dion mendekat.


"Dion, Saras, kalian udah ditungguin!" ucap Arkana.


Saras dan Dion pun menoleh ke arah sepasang suami istri itu. Dion lantas tersenyum ramah.


"Selamat siang, Tuan Kyle," sapa suami Saras itu sembari mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan. Laki-laki yang diketahui bernama Kyle itu kemudian bangkit.


"Selamat siang, Tuan Dion," sapa Kyle sembari menjawab tangan Dion.


"Senang bisa bertemu dengan anda lagi," jawab Dion ramah dan hangat.


Dion tersenyum hangat. Saras nampak melirik ke arah Dion. Laki laki itu benar benar sudah 'sembuh'. Ia sudah terlihat seperti orang normal yang pandai bergaul dengan siapa saja.


"Oh ya, kenalkan, ini istri saya, namanya keli...eh, maksudnya, Nabila," ucap Kyle hampir keceplosan menyebut nama istrinya sendiri.


Saras dan Dion menoleh. Dilihatnya disana, seorang wanita cantik nampak memangku seorang bayi mungil yang mungkin berusia satu atau dua tahunan. Bocah dengan kaos bergambar kartun naga itu nampak terlelap, asyik dengan tidur panjangnya.


Saras mengulurkan tangannya, disambut dengan hangat oleh wanita cantik bernama Nabila itu. Wanita yang wajahnya sudah berhasil di lukis oleh Dion.


Saras dan Dion lantas duduk. Setelah beramah-tamah sebentar, keempat manusia dewasa ditemani dengan Arkana yang juga berada di sana itu kemudian memulai ke inti pembicaraan, yaitu menampilkan hasil karya Dion yang berhasil melukis wajah Nabila dalam kurun waktu 3 hari.

__ADS_1


"Oh my way!!! Ada mommy akuh di gambar disituuuuhhh...!!!! Ya amplop...kok bagus bangeeeetttt!!!" celetuk seorang bocah yang diketahui bernama Tiger itu dengan mulut penuh burger, membuat para orang dewasa itu reflek menoleh ke arahnya.


Satu bocah lainnya yang duduk di samping Tiger pun nampak menggelengkan kepalanya.


"Plis deh, Maung, jadi cowok itu jangan lebay. Itu tuh lukisan dibuat oleh tangan yang opsional, jadi yang ya pasti bagus...!" celetuk bocah wanita itu, Aliya.


"Profesional, Aliya..." ucap Nabila lembut.


"Iya, itu maksudnya, mommy! Namanya juga lidah anak kecil. Iya kan, Tiger?" tanya Aliya meminta pendapat kawannya.


"Aku mah udah gede!!" celetuk Tiger membuat Aliya pun nyengir dibuatnya.


Saras terkekeh melihat aksi dua bocah itu. Ia lantas menggerakkan sikunya menyenggol lengan sang suami.


"Mau yang kayak gitu!" bisik Saras.


"Apa? Burger?" tanya Dion tak paham.


"Bukan!! Anaknya!!" rengek Saras.


"Itu anak orang, Saras! Kamu mau aku nyulik mereka?" tanya Dion tak paham dengan suara terdengar pelan.


"Ya Gusti...!! Bukan gitu!! Ini anak dalam perut, pengennya kayak gitu!!" ucap Saras pelan dengan gigi mengetat.


Dion terkekeh. Ia lantas menggerakkan tangannya menyentuh perut Saras yang mulai membuncit.

__ADS_1


"Dia nanti akan jauh lebih lucu. Kayak aku!" jawabnya kemudian kembali menegakkan posisi duduknya. Saras nyegir lalu berdecih mendengar ucapan suaminya itu.


...----------------...


__ADS_2