Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
109


__ADS_3

Ceklek...


Pintu ruang ICU itu terbuka. Arkana masuk ke dalam ruangan itu. Ia nampak berhenti sejenak tepat di depan pintu ketika Gio yang terbaring lemah di atas ranjang itu menoleh ke arahnya. Dua pasang mata milik sepasang sahabat dekat itu nampak saling bertemu. Keduanya diam dengan pemikiran masing masing. Arkana menghela nafas panjang. Ia lantas berjalan mendekati Gio. Sedangkan Gio yang kini terbaring di atas ranjang itu nampak mengubah arah pandangnya. Menatap lurus ke arah langit-langit ruang ICU tersebut. Arkana menarik sebuah kursi yang berada di samping ranjang, kemudian mendudukkan tubuhnya di sana.


Arkana menunduk, ia nampak menghela nafas panjang.


"Apa kabar?" tanya Arkana terasa sedikit kaku. Mengingat pertemuan terakhir mereka sempat diwarnai dengan sebuah drama perdebatan hingga akhirnya keduanya memilih pergi menjauh dari masing-masing. Namun nyatanya semua juga tak segampang itu. Hubungan mereka sudah terlanjur dekat dan akrab sejak lama. Membuat keduanya seolah tak bisa lama-lama berjauhan dan saling membenci satu sama lain. Melihat kondisi Gio yang ditimpa berbagai musibah secara berturut-turut seolah membuat Arkana merasa tergugah untuk terus selalu berada di samping sahabatnya itu.


"Seperti yang lu lihat," ucap Gio. Arkana mengangguk.


"Gue denger dari suster yang tadi baru aja keluar dari kamar lo ini. Katanya lo baru banget sadar. Makanya gue langsung ke sini buat jengukin lo," ucap Arkana.


Gio tersenyum tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.


"Bukannya lo juga udah sering ke sini? Hampir setiap hari lu sama bokap lo datang ke sini jengukin gua. Nungguin gua, bahkan sampai nginep di sini semalaman. Iya, kan?" tanya Gio yang kemudian menoleh ke arah Arkana di akhir kalimatnya.


Arkana tersenyum simpul lalu mengangguk. "Iya," jawabnya.


"Kenapa?" tanya Gio. Arkana diam. Ia tak langsung menjawab membuat Gio berdecih.


"Gimana kabar bokap sama nyokap lo?" tanya Gio lagi.


Arkana menghela nafas panjang.


"Baik," ucapnya. Gio hanya mengangguk.


"Gue kesini juga mau minta maaf," ucap Arkana. Gio pun menoleh.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Gio.

__ADS_1


"Semua berawal dari nyokap gua. Gua minta maaf karena dia udah melibatkan lo dalam masalah ini. Dia memanfaatkan dendam lo demi kepentingan pribadinya. Gue minta maaf untuk itu," ucap Arkana.


Gio tersenyum,


"Syukur deh, kalau lo udah tahu semuanya. Gue emang sempat bekerja sama sama nyokap lo, buat nyulik Saras," ucap Gio mengaku.


Arkana mengangguk sambil tersenyum kaku. "Sekarang nyokap gue udah ada di rumah sakit jiwa. Kondisinya memburuk. Dia sering ngamuk, bahkan sampai sekarang. Ternyata nyokap gua punya gangguan kejiwaan setelah trauma yang menimpanya beberapa tahun lalu," ucap Arkana membuat Gio pun menoleh. Terlihat jelas mimik wajah sedih dari pria itu.


Arkana menatap sendu ke arah Gio.


"Gio, sebenarnya ada sesuatu yang pengen bilang sama lo,” ucap Arkana.


"Apa?" tanya Gio.


"Gua pengen semua ini stop sampai di sini!" ucap Arkana. "Gue pengen semuanya selesai, agar nggak ada lagi korban-korban berikutnya dalam masalah ini," ucap Arkana.


Gio menyipitkan matanya. "Maksud lo apa?" tanya Gio.


"Gio, sekarang udah bukan waktunya lagi untuk saling menyalahkan. Tapi sekarang adalah waktunya untuk saling introspeksi diri dan membenahi apa yang harusnya dibenahi. Lu udah berusaha menjatuhkan Dion. Tapi kenyataannya, lu nggak bisa. Mungkin Tuhan pengen untuk sadar. Tuhan pengen lu untuk menerima semuanya dengan lapang dada. Sekarang bukan waktunya lagi untuk membalaskan dendam ke Dion dengan cara menghancurkan kehidupannya. Tapi sekarang mungkin lu harus mulai banyak-banyak memperbaiki diri,.doain orang tua dan adik lu yang udah lebih dulu menghadapnya. Berhenti untuk berusaha menghancurkan hidup orang lain hanya karena rasa sakit hati yang lu pendam selama bertahun-tahun. Sorry, tapi bisa jadi apa yang menimpa lu sekarang itu adalah buah dari apa yang lu lakuin ke Dion dulu waktu masih anak anak," ucap Arkana. Gio tak menjawab.


"Gio, gue............" Ucapan Arkana terpotong.


"Jadi lo kesini cuma buat nyalahin gue?" tanya Gio terdengar tak suka.


"Bukan gitu, gue.........."


"Lu mau bilang kalau ini semua karma gue? Gitu?! Kalau lu kesini cuma mau belain adik dan ipar lo itu, mending lo pergi!" ucap Gio tak suka.


Arkana menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Maksud gue bukan gitu," ucap Arkana seolah tak tahu lagi bagaimana caranya memberitahu Gio tentang maksudnya.


"Tapi lu nyudutin gue, Ka!" ucap Gio.


"Gue nggak nyudutin lu! Gue pengen ngajak lu berubah! Udah, itu aja!" ucap Arkana.


"Lu mau nyalahin gue. Seakan akan semua ini terjadi karena gue. Karena salah gue dan karena tindakan gue! Lu terlalu mendewakan Saras dan Dion..! Lu.... akkhhh!!" Ucapan itu berhenti manakala Gio merasakan pusing yang teramat hebat di kepalanya.


Arkana mendekat, namun Gio menepisnya seolah tak mau disentuh oleh Arkana. Kepala yang masih diperban itu terasa begitu sakit. Arkana yang panik pun kemudian berteriak memanggil dokter rumah sakit tersebut. Tak berselang lama, seorang dokter bersama perawat cantik berhijab putih nampak masuk ke dalam ruang ICU tersebut.


"Tuan, saya kan sudah bilang, pasien jangan di ajak banyak bicara dulu. Dia baru sadar!" ucap Xena sedikit kesal.


"Saya cuma......" ucapan itu terpotong. Gio berteriak kesakitan.


"Sekarang lebih baik Tuan keluar dulu. Kami ingin memeriksa kondisi pasien!" titah Xena.


"Tapi......"


"Tolong, keluar dulu!" ucap Xena lagi dengan tegas mengulangi perkataannya. Arkana menghela nafas panjang. Ia kemudian mundur, menjauh dari ranjang, keluar dari ruang ICU itu dan menunggu di kursi tunggu disana. Ia menantikan dokter selesai memeriksa Gio yang kembali berteriak kesakitan.


...----------------...


Selama siang


up 12:31


yuk, dukungan dulu 🥰


Ini masih berkutat dengan Gio dan Arkana dulu ya. Diselesaikan satu satu.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke novel barunya Author👇👇



__ADS_2