Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
84


__ADS_3

Sementara itu saat pagi menjelang. Kala mentari mulai menampakkan sinar terangnya. Seorang pria tampan berkulit putih nampak menuruni tangga rumah mewah itu. Pria bermata sipit dan berkulit putih itu kemudian berjalan menuju meja makan, tempat dimana sang ayah sudah menunggunya disana bersama sang tangan kanan, Jason.


"Pagi, Pa.." sapa Dion santai lalu mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di meja makan itu. Malvino melirik ke arah Dion yang nampak memar di beberapa bagian wajahnya itu. Laki laki turun sendirian, tak ada Saras disana.


"Pagi..." jawab Malvino sembari mengolesi roti di tangannya dengan selai kacang.


"Sendiri? Mana istrimu?" tanya Malvino.


"Dia belum bangun." ucap Dion sembari meraih roti dan selai disana.


Malvino melirik lagi.


"Apa semua baik baik saja?" tanya sang ketua gangster. Dion menoleh lalu tersenyum.


"Ya, semua baik baik saja" jawab Dion.


"Semalam kalian pergi kemana? Papa khawatir sampai menyebar anak buah untuk mencari kalian" imbuh Malvino.


Dion tersenyum lagi.


"Main" jawab Dion sambil melahap rotinya. Membuat Malvino pun menghentikan pergerakannya. Laki laki itu seolah sudah paham arti kata "main" yang keluar dari mulut Dion.


"Main?" tanya Malvino memperjelas.


Dion melahap rotinya dengan santai.


"Ada yang bisa papa bantu, boy?" tanya pria itu lagi. Dion tersenyum lagi, bahkan tertawa kecil.


"Nggak ada. Permainan sudah selesai, Pa" ucap Dion lagi.


Malvino diam lagi. Menatap penuh tanya ke arah sang putra. Dion terkekeh, lalu menoleh ke arah sang ayah yang seolah begitu penasaran.


"Ada orang yang berusaha menjebak Saras, Pa." ucap Dion. Malvino mengangkat dagunya. Meletakkan dagu itu bertumpu pada kedua tangannya.


"Lalu..?" tanya Malvino.


"Ada yang mengaku sebagai pembeli lukisanku, dia menjebak Saras, tapi aku mengikutinya. Hebat kan aku?" ucap Dion jumawa di akhir kalimat nya.


"Siapa?" telisik Malvino.


Dion tersenyum sembari menggigit roti terakhirnya.

__ADS_1


"Orang yang sama dengan yang dulu pernah menghajar ku" jawabnya kemudian. Malvino menyipitkan matanya.


"Kau baik baik saja?" tanya Malvino lagi.


Dion tersenyum. Ia merentangkan kedua tangannya.


"Seperti yang papa lihat!" jawab pria itu.


"Dia yang masuk rumah sakit, Pa..!" ucap Dion lagi. Malvino tersenyum. Dion bangkit, ia menenggak jus jeruk di atas meja, lalu meraih beberapa potong roti serta selai dan meletakkannya di atas piring.


"Aku ke atas dulu, Pa. Mungkin Saras sudah bangun" ucap Dion. Malvino tersenyum tenang lalu mengangguk.


"Ya," jawabnya. Dion pun berlalu pergi. Naik ke lantai dua dengan membawa nampan berisi roti dan jus jeruk untuk sang istri.


Di meja makan..


"Jason.." ucap Malvino dengan sorot mata datar menatap sang putra yang makin menjauh dari pandangan matanya. Jason yang sejak tadi berada di belakang Malvino pun mendekat.


"Saya, Tuan" ucap pria bertato itu.


"Kirim beberapa anak buah untuk mengawasi rumah sakit itu. Aku kira bocah itu sudah mati. Ternyata dia masih hidup..! Aku yakin, ada orang di belakangnya yang melindunginya selama ini. Cari tahu..!" titah Malvino.


"Baik, Tuan!" jawab Jason patuh.


Ceklek...


Pintu terbuka. Malvino masuk dan duduk di kursi kerjanya diikuti Jason di belakangnya. Laki-laki itu kemudian meraih selembar kertas berisi gambar sketsa wajah seorang wanita. Sketsa yang ia gambar berdasarkan keterangan dari Saras tentang seorang wanita yang katanya sempat membuat Dion pusing setelah bertemu dengannya beberapa waktu lalu.


Malvino diam tak bergerak mengamati sketsa wajah itu.


"Apa itu kau?" batin Malvino berucap sembari menatap gambar di tangannya.


...****************...


Sementara itu di lantai atas.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka. Dion masuk ke dalam kamar itu dengan membawa nampan di tangannya.


Dion lantas terdiam. Dilihatnya ranjang itu nampak kosong. Saras sudah tak berada di tempat itu. Sepertinya wanita itu sudah bangun.

__ADS_1


"Saras..." panggil Dion. Namun tak ada jawaban. Laki laki itu berjalan menuju balkon. Kosong. Tak ada Saras di sana.


"Saras...!" panggil Dion lagi dengan suara lebih meninggi. Namun tetap tak ada jawaban. Dion diam sejenak. Tiba tiba...


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka. Wanita cantik dengan hoodie Dion yang masih ia kenakan itu nampak keluar dari kamar mandi. Wajahnya nampak pucat. Ia terlihat lemah. Berjalan sambil berpegangan pada dinding kamar berwarna putih itu.


Dion mendekat. Diletakkannya nya nampan di tangannya itu di atas nakas yang berada di samping ranjang.


"Kamu kenapa?" tanya Dion khawatir.


Saras memejamkan matanya. Ia memeluk sang suami dengan lemah. Ia memejamkan matanya kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang Dion.


"Aku pusing. Mual. Baru tidur muntah muntah" ucap Saras.


Dion diam sejenak. Apa efek dari obat bius yang masih bereaksi hingga sekarang? pikir Dion.


"Kita ke rumah sakit aja gimana?" tanya Dion.


"Boleh, tapi nanti. Aku laper mau makan dulu" ucap Saras lemah.


"Katanya mual?" tanya Dion.


"Tapi laper" ucap Saras.


Dion terkekeh.


"Ya udah, yuk, makan dulu" ucapnya kemudian.


"Suapin..!" ucap Saras lagi dengan manja. Dion berdecih.


"Manja" ucapnya.


"Bodo'..!" jawab Saras.


Dion pun lantas membimbing sang istri untuk duduk di tepi ranjang. Ia kemudian meraih sepotong roti dengan selai coklat itu dan menyuapkannya ke mulut Saras. Wanita itupun menerimanya dengan senang hati. Sarapan pagi pun berlangsung untuk Saras yang ditemani oleh suami tercinta nya.


...----------------...


Selamat siang

__ADS_1


up 11:33


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2