Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
89


__ADS_3

Siang menjelang di sebuah rumah sakit besar di kota itu. Seorang pemuda tampan berjambang tipis nampak berjalan menyusuri lorong rumah sakit bersama seorang wanita paruh baya di sampingnya. Sepanjang perjalanan pemuda itu tak henti menggandeng tangan seorang wanita yang merupakan ibu kandungnya itu sambil bercanda dan berbincang sepanjang perjalanan selayaknya ibu dan anak.


Ya, itu adalah Arkana dan Ratih. Mereka berdua datang ke rumah sakit untuk menjenguk Gio yang masih kritis di ruang ICU rumah sakit besar itu.


"Apa Saras sebelum ngabarin Adit lagi, Ka?" tanya Ratih.


"Belum, Buk. Semalam Adit pengen video call sama Saras, tapi nggak tahu kenapa tiba tiba dimatiin ama Saras. Terus waktu Adit mau coba hubungi lagi udah nggak bisa. Masa iya diblokir?" ucap Arkana penuh tanya.


"Lho? Kenapa kok diblokir? Emang kenapa?" tanya Ratih yang memang tak pernah memegang ponsel itu. Ya, sebut saja ibu ibu kudet.


Arkana hanya menggelengkan kepalanya. Ia juga tak tahu alasan Saras yang tiba tiba mematikan sambungan panggilan vidio dari Adit semalam. Wanita itu bahkan memblokir nomor ponsel Adit. Sebenarnya Arkana sempat berfikir, mungkin itu bukan ulah Saras, melainkan ulah Dion. Saras sepertinya tak mungkin melakukan hal itu. Entah kalau Dion.


"Kenapa kita nggak coba datengin rumahnya Saras aja, Buk?" tanya Arkana memberikan solusi. "Aku udah nggak sabar pengen kumpul sama ibuk, sama Saras." Ratih hanya membuang nafas panjang.


"Boro-boro ke rumahnya, Ka. Alamatnya di mana aja ibu nggak tahu" ucap Ratih.


Arkana mengernyitkan dahinya.


"What?!"


Ratih menghentikan langkahnya.


"Adik lu itu menantu ketua mafia. Identitasnya tersembunyi. Ke mana-mana bawa bodyguard. Dion itu nggak pernah lepasin Saras sendirian. Dan kalau terjadi apa-apa ama Dion, ya lu tahu sendiri kan, gimana mertuanya memperlakukan Saras dulu. Sesayang apa dia sama Dion. Saras itu kalau setiap gerak geriknya selalu diawasi. Kemanapun nggak boleh sendiri." ucap Ratih.


"Gue pernah sekali aja datang ke rumah mereka. Tapi gue nggak tahu alamat tepatnya dimana. Soalnya mobil yang dipake dulu juga kacanya gelap. Pokoknya bener bener disembunyikan. Bahkan dari gue yang emaknya sendiri" ucap Ratih.


"Tapi Saras bahagia kan, Buk? Kelihatannya Dion sayang banget sama Saras," tanya Arkana.


"Ya buktinya sampai sekarang masih berdua," ucap Ratih menjawab. Arkana hanya tersenyum.


"Entar aku coba cari tahu, deh. Kenapa nomornya Adit tiba tiba di blok" ucap Arkana. Sepasang ibu dan anak itu lantas melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang ICU. Tanpa mereka sadari, sejak tadi, ada beberapa pasang mata yang mengintai mereka dari berbagai sudut. Arkana sama sekali tak menyadarinya. Pria itu kemudian berjalan menuju ruang ICU, tempat dimana sang sahabat tengah dirawat.


Ceklek...

__ADS_1


Pintu terbuka. Dilihatnya di sana, Gio nampak terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan beberapa selang terpasang di tubuhnya. Pria itu belum sadarkan diri sejak pertama dibawa ke rumah sakit itu oleh Arkana. Tak ada satu manusia pun yang datang menjenguknya lantaran memang ia tak punya keluarga sama sekali.


Arkana menghela nafas panjang. Mimik wajah penuh senyuman itu mendadak hilang kala ia melihat kondisi sang sahabat yang nampak memprihatinkan. Arkana berjalan mendekati ranjang pasien itu. ia lantas mendudukan tubuhnya di sebuah kursi yang berada di samping ranjang tersebut. Diamatinya wajah pria gondrong itu. Wajah yang biasanya terlihat tengil, sok jagoan dan tak punya rasa takut itu kini justru terlihat lemah. Luka lebam dimana mana. Matanya terus terpejam seolah enggan untuk terbuka.


"Bangun napa, c*k! Tidur mulu lo dari kemarin! Nggak capek apa?" ucap Arkana seorang diri yang tidak mendapatkan respon dari Gio.Arkana menghela nafas panjang. Ratih mendekat, disentuhnya pundak pemuda itu dan diusap usapnya lembut, seolah ingin memberikan semangat untuk sang putra yang tengah bersedih.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah...


Ibu hamil itu nampak tersenyum manis. Menatap kearah meja dapur tempat dimana seorang pria tampan tengah sibuk dengan peralatan memasaknya.


Ya, si ibu hamil minta di buatkan nasi goreng pagi ini. Namun bukan sembarang nasi goreng, wanita yang semakin manja setelah tahu bahwa dirinya hamil itu meminta dibuatkan nasi goreng hasil racikan tangan suaminya sendiri. Ia tak mau dibuatkan oleh orang lain. Padahal di atas meja, santap pagi sudah tersedia, namun Saras enggan menyantapnya. Ia mau makanan buatan suaminya.


Alhasil, Dion yang tak mahir memasak pun terpaksa turun ke dapur. Membuatkan santap pagi khusus untuk sang istri tercinta. Entah bagaimana rasanya nanti, yang penting dibuatkan dulu.


Saras nampak asyik menyaksikan aktivitas sang suami. Kini di dapur itu hanya tinggal ada Dion dan Saras. Sedangkan Malvino sudah pergi sejak pagi, entah kemana.


Sekitar sepuluh menit berkutat dengan berbagai peralatan memasaknya, Dion pun selesai dengan aktifitasnya. Satu piring nasi goreng dengan rasa yang ala kadarnya pun tersaji disana. Pria dengan sebuah celemek coklat di tubuhnya itu lantas mendekati Anisa. Diletakkannya piring itu di atas meja tepat di hadapan istri cantiknya itu.


Saras nampak sumringah. Dengan segera, ia meraih sendok yang berada di samping piring kemudian mulai mengisinya dengan nasi goreng buatan sang suami. Wanita cantik yang tengah berbadan dua itu lantas menggerakkan tangannya, memasukkan satu sendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya dengan penuh semangat. Ia seperti manusia yang tengah kelaparan sekarang.


Dion nampak diam. Pria itu nampak menatap ke arah Saras dengan sorot mata menelisik, seolah ingin melihat ekspresi wajah istrinya itu kala menikmati makanan hasil olahan tangannya. Entahlah, bagaimana rasanya. Ia saja tidak yakin dengan makanan hasil olahannya itu, tapi Saras seolah begitu bersemangat untuk memangsa makanan yang entah seperti apa rasanya itu, membuat Dion pum menjadi deg-degan sendiri. Ia seperti tengah mengikuti lomba masak internasional.


Hap...! Satu sendok nasi goreng masuk ke dalam mulut wanita itu. Saras nampak diam sejenak, mengunyah makanan yang tak terlalu pedas itu tanpa berbicara sedikit pun. Dion menelisik wajah cantik itu. Sedangkan Saras nampak menatap lurus ke depan tanpa berbicara apapun.


"Gimana?" tanya Dion.


Saras tak menjawab.


"Enak?" tanya pria itu lagi. Saras masih diam.


"Nggak enak?" tanya Dion lagi. Saras masih tak berkutik. Lalu....

__ADS_1


Wanita itu menoleh ke arah sang suami.


"Kok enak?!" ucap Saras dengan wajah berbinar. Dion nampak mengernyitkan dahinya.


"Serius?" tanya Dion. Saras mengangguk yakin. Ia bahkan kembali menyendok makanan itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dion diam mengamati wajah sang istri yang nampak kegirangan melahap nasi goreng buatannya itu. Rasa penasaran pun kemudian timbul dalam diri Dion. Diraihnya sendok yang berada di tangan Saras lalu mulai mengambil nasi goreng itu dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Uhuukkk..!" Dion terbatuk batuk. Ia bangkit dari posisi duduknya, ia mendekati tong sampah yang berada di pojok ruangan dan membuang makanan dari dalam mulutnya itu ke sana. Asin! Bahkan terasa pahit saking pekatnya rasa asin disana.


"Kenapa sih?" tanya Saras aneh sambil kembali memangsa nasi goreng itu. Dion tak menjawab. Ia mendekati Saras kemudian hendak merampas piring itu namun wanita itu menahannya.


"Mau dibawa kemana?!" tanya Saras melotot.


"Nggak enak, Saras! Asin banget!" ucap Dion.


"Enak!" teriak Saras dengan mata melotot.


"Enak dari mananya?!" tanya Dion ngotot.


"Dari mulut aku..! Udah, lepasin..!" teriak Saras sembari kembali merampas piring itu dari tangan Dion. Saras menjauh, berpindahnya kursi sambil membawa piringnya bak seorang bocah yang takut makanan nya di ambil orang jahat. Dion bergerak, hendak mendekati sang istri namun Saras buru-buru mengangkat tangannya seolah tak mengizinkan Dion untuk mendekatinya.


"Stop..! Diam disitu..! Jangan deket deket!" larang Saras.


"Nasi gorengnya nggak enak, sayang. Nanti kamu sakit perut! Biar aku beliin ya, atau biar dimasakin bibik yang lebih enak" ucap Dion membujuk.


"Nggak mau..! Aku maunya ini!"


"Ya udah sih, orang aku yang makan aja enak, kok kamu yang ribet..! Kamu duduk di situ aku mau habisin nasi goreng ini dulu" ucap Saras kemudian kembali memangsa nasi goreng itu. Dion hanya bisa menghela nafas panjang. Saras tidak bisa diberitahu, padahal rasanya sangat tidak enak.


...----------------...


Selamat malam


up 17:47

__ADS_1


Hari ini autor kurang semangat nulisnya. Lagi males, jadi mohon maaf hari ini cuma bisa up satu kali. Yuk, kasih semangat aku. Aku butuhin semangatin😩😩


__ADS_2