Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
83


__ADS_3

Selang beberapa menit kemudian. Arkana yang sudah lebih tenang setelah beribadah itu nampak berjalan gontai kembali ke ruang IGD rumah sakit itu. Sorot matanya nanar, terlihat penuh kesedihan. Bertemu dengan adiknya nyatanya memang berhasil membuat Arkana bahagia. Meskipun juga ada kesedihan dan kebingungan disana. Ia berada di tengah tengah antara Gio, Dion, dan Saras. Membuatnya tak tahu, mana yang harus ia bela.


Astaga..! Ini terlalu rumit..!


Arkana mengusap wajahnya hingga ke bagian belakang kepalanya. Laki laki itu melanjutkan langkah kakinya menuju ruang IGD disana.


Arkana terdiam. Dari kejauhan, samar samar ia melihat sesosok pria tinggi tegap nampak duduk di kursi tunggu ruang IGD itu. Ya, itu adalah Bharata, ayahnya...! Laki laki itu sudah tiba di rumah sakit. Arkana mempercepat langkah kakinya. Ia mendekati sang ayah yang nampak duduk dengan melipat kedua lengannya di depan dada.


"Papa..!!" ucap Arkana.


Bharata mendongak, menatap wajah sang putra yang nampak bonyok, letih dan terlihat sedih.


Bharata masih menampilkan wajah tenang. Ia kemudian bangkit, berdiri berhadap hadapan dengan sang putra lalu menghela nafas panjang. Ia paham, bagaimana perasaan Arkana sekarang. Ia paham, betapa ia sangat menyayangi Gio sebagai seorang sahabat dan bagaimana kedekatan mereka selama bertahun tahun saling mengenal. Bharata juga tahu betul, betapa Arkana sangat ingin berjumpa dengan adik dan ibunya. Laki laki itu bahkan sangat yakin jika kedua perempuan itu masih hidup di saat Bharata mulai patah semangat mencari keberadaan Ratih dan putrinya.


Bharata menatap ibu ke arah sang putra. Netra tajam pemuda itu nampak mengembun dan merah, seolah menggambarkan betapa ia sangat hancur saat ini.


"Tidak ada yang salah jika laki laki menangis. Menangislah, Ka. Keluarkan semuanya sekarang. Setelah itu, mulailah berfikir positif dan tenang selayaknya seorang laki laki" ucap Bharata.


Arkana memejamkan matanya. Air mata itu jatuh tak tertahan. Laki laki itu benar benar rapuh sekarang. Bharata merasa sesak melihat tangisan Arkana yang tanpa suara. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia bergerak, dipeluknya laki laki yang sejak kecil sudah terpisah dari ibu dan adik kandungnya itu. Arkana menangis di pundak sang ayah. Suaranya tak begitu terdengar, tapi air mata itu jatuh deras dan semakin deras, hingga membasahi jaket Bharata.


Cukup lama mereka berada dalam posisi itu. Hingga Arkana mulai merasa lebih tenang. Sepasang ayah dan anak itu lantas mendudukkan tubuh mereka di sebuah kursi tunggu. Bharata merangkul tubuh Arkana, mencoba menenangkan pemuda yang kini kembali menceritakan tentang awal mula masalah ini terjadi. Mulai dari kisah masa lalu Gio dan Dion hingga kejadian malam ini, malam terkuaknya sebuah fakta jika istri dari musuh besar Gio ternyata adalah adik kandung Arkana.


Bharata menghela nafas panjang. Ia mengangguk paham mendengar penuturan sang putra. Pandangannya menatap lurus ke depan, kemudian mulai membuka suara setelah sang putra selesai dengan ceritanya.


"Ka, papa boleh usul?" tanya Bharata.


Arkana menoleh ke arah sang ayah sembari mengusap lelehan air matanya.

__ADS_1


"Apa, pa?" tanya Arkana.


Bharata membuang nafas panjang.


"Papa tahu, bagaimana perasaan kamu. Papa tahu sedekat apa kamu dan Gio. Seerat apa persahabatan di antara kalian" ucap Bharata.


"Nak, jika boleh papa bicara, Gio tidak sepenuhnya salah. Ya, meskipun bisa dibilang semua masalah bermula dari dia. Dari kenakalannya di masa lalu. Sesuatu yang dianggap biasa di lakukan oleh anak anak seusianya, tapi ternyata punya pengaruh yang luar biasa di kemudian hari."


"Nak, jika kamu menyayangi sahabatmu, jangan pernah tinggalkan dia disaat dia sedang hancur. Jangan pernah musuhi dia disaat dia sedang tersesat. Jabat tangannya, angkat tubuhnya agar tidak semakin terperosok ke lubang yang salah."


"Persahabatan bukanlah mereka yang memiliki banyak persamaan, tapi mereka yang memiliki pengertian terhadap setiap perbedaan."


"Dia benci pada Dion karena dia kehilangan orang orang tersayangnya. Itu tidak bisa juga untuk di salahkan. Siapapun pasti akan marah jika keluarga mereka di habisi semua seperti itu."


"Sedangkan Dion, bukan bermaksud membela tindakan nya yang menghabisi keluarga Gio, tapi efek dari tindakan masa lalu Gio lah yang membuat Dion menjadi seperti ini. Mungkin juga ditambah dengan didikan ayahnya yang katanya mantan penjahat itu. Kita nggak tau, seperti apa kehidupan yang Dion alami selama ini."


Arkana mengangguk.


"Lalu gimana dengan Anggi, Pa? Dia ada di tangan Dion sekarang..!" ucap Arkana.


"Bukankah kamu bilang Dion terlihat sangat menyayangi Anggita?" tanya Bharata.


Arkana mengangguk samar, seolah tak yakin.


"Sepertinya begitu, Pa" ucap Arkana.


Bharata tersenyum.

__ADS_1


"Kamu tahu dimana rumahnya?" tanya Bharata kemudian.


Arkana menggelengkan kepalanya.


'Tapi aku tahu dimana rumah ibunya..! Namanya Ratih, Pa.." ucap Arkana. Bharata terdiam sejenak. Itu nama mantan istrinya. Fix, tidak diragukan lagi, Saras memanglah Anggita.


Bharata menarik nafas panjang. Ia terlihat masih sangat tenang.


"Mungkin dia ibumu.." ucap Bharata.


Arka diam.


"Nanti, jika hari sudah terang, kita kesana. Temui ibumu. Dia mungkin hanya mantan istri papa, tapi dia tetaplah wanita yang mengandung kamu selama lebih dari sembilan bulan lamanya. Datang padanya, nak. Cium tangannya. Katakan bahwa kamu adalah putranya yang besar bersama papa. Terlepas bagaimana sambutan dia nantinya, kamu harus tetap menemuinya. Dia tetap ibumu, dan selamanya akan tetap seperti itu" ucap Bharata.


"Nanti, jika kita sudah bertemu dengan ibu kandungmu, papa akan mulai bicara sama mamamu. Papa akan menjelaskan semuanya, agar tidak ada salah paham diantara kita" imbuh pria paruh baya itu.


Arkana mengangguk. Ia jauh lebih tenang sekarang. Bharata tersenyum. Ia mengusap pundak pemuda itu seolah ingin menenangkan sang putra.


Tanpa mereka sadari, di sudut lorong, di balik tembok putih disana, sebuah tangan dengan satu cincin emas nampak mengepal. Sorot matanya mengerikan menatap lurus ke depan mendengar semua pembicaraan antara sepatu ayah dan anak itu. Raut wajah iblis tergambar jelas disana.


"Dasar anak bodoh...!! Semua hancur berantakan..!" ucap wanita itu dengan gigi yang mengetat.


...----------------...


Selamat sore


up 16:28

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2