
Di sebuah rumah mewah kediaman Arkana beserta ayah dan ibunya. Laki laki itu nampak sudah rapi. Dengan kemeja bermotif garis garis, laki laki yang kini menginjak usia dua puluh enam tahun itu nampak berjalan menuju sebuah kamar yang berada di lantai dua rumah mewahnya.
Ya, itu adalah kamar tidur milik ayah dan ibunya. Ini adalah hari ketiga sang ibu pulang kembali ke rumah mewah itu setelah sempat meninggalkan kediaman mewah tersebut guna menjalani pengobatan di luar kota.
Maya sudah dinyatakan sehat oleh dokter dan psikiater yang menanganinya. Wanita itu dinyatakan sudah boleh pulang dan kembali beraktivitas setelah beberapa bulan menjalani pengobatan di luar kota.
Setelah kepulangan sang ibunda, Arkana seolah tak henti hentinya memberikan perhatian pada wanita paruh baya itu. Ia selalu berusaha menunjukkan rasa cintanya pada sang mama dengan lebih banyak meluangkan waktunya bersama wanita yang baru saja menjalani pemulihan mental dan psikis nya di luar kota itu.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka. Arkana masuk ke dalam kamar sang mama. Dilihatnya disana, wanita itu nampak bersolek di depan kaca besar kamar tidur pribadinya.
"Mama!" ucap Arkana. Maya menoleh ke arah sumber suara. Wanita itu nampak tersenyum melihat kedatangan pria tampan, putra kesayangannya itu.
"Arka," ucap Maya.
__ADS_1
Arkana mendekat. "Mama lagi ngapain?" tanya laki-laki muda itu.
Maya tersenyum hangat sambil menyentuh pundak sang putra. "Nggak ngapa-ngapain, Sayang," jawabnya.
"Kamu nggak kerja lagi?" tanya Maya.
Arkana tersenyum. "Males, Ma. Aku masih pengen nemenin mama di sini," ucap pria itu.
Maya tersenyum. "Pergi aja kalau mau pergi. Kasihan Gio di coffee shop sendirian," ucap wanita yang cukup lama meninggalkan kota itu. Sehingga tak tahu bahwa sudah banyak hal terjadi selama ia dalam masa pengobatan. Mulai dari perselisihan Arkana dan Gio, hingga bertemunya Xena dengan beberapa orang di sekeliling Maya dan Malvino. Maya seolah menjadi orang baru pasca keluar dari rumah sakit jiwa. Maya menjelma menjadi pribadi yang hangat seperti yang selama ini orang-orang kenal. Namun secara mental sepertinya wanita itu sudah jauh lebih baik. Bharata selalu menemani sang istri. Ia membimbing wanita itu untuk lebih dekat kepada Tuhan. Laki-laki itu bahkan mulai mengurangi jadwal kerjanya yang memang lebih banyak di luar kota. Kini ia lebih sering menghabiskan waktu bersama sang istri dan menemaninya di rumah. Perlahan namun pasti ia mulai menanamkan ilmu agama yang baik dalam diri wanita itu. Membimbingnya untuk lebih banyak mendekatkan diri pada Tuhan dan berserah padanya. Harap harap Maya menjadi pribadi yang lebih ikhlas dalam menghadapi kehidupan nya yang sekarang.
Dibantu Arkana, sang putra, ia membimbing Maya untuk bangkit dari keterpurukannya. Memperbaiki psikis dan jiwa Maya yang sempat tergoncang agar mampu berdiri tegak menghadapi dunianya yang baru.
Ceklek...
"Ka," ucap Bharata.
__ADS_1
Arkana tersenyum.
"Kamu nggak ke coffee shop lagi?" tanya Bharata.
"Nanti siang kalau nggak males, Pa. Aku masih pengen di rumah," ucap laki laki itu.
Maya tersenyum. "Kerja aja, Sayang. Mama kan udah ama Papa kamu di rumah," ucap Maya.
"Iya. Nggak apa apa, kok. Nanti sekalian ajak Gio dan Xena kesini kalau kamu pulang," ucap Bharata.
Arkana terdiam. Ia menoleh ke arah Maya. Wanita itu nampak tersenyum hingga memperlihatkan barisan gigi gigi putihnya. Arkana kembali menoleh ke arah sang Papa.
"Nggak apa apa, Pa?" tanya Arkana.
Bharata tersenyum. "Insya Allah nggak apa apa. Nanti Papa akan temenin Mama ngobrol sama Xena dan Gio. Biar semua cepat clear, Ka," ucap pria itu.
__ADS_1
Arkana mengangguk. "Oke, nanti biar aku kabarin Gio kalau gitu," ucap laki itu kemudian.
...----------------...