
Di dalam sebuah mobil sport tanpa atap milik Dion. Pria tanpa busana di tubuh bagian atasnya itu nampak melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Membawa sang istri yang kini perlahan mulai bisa membuka matanya.
Saras terlihat lunglai. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran jog samping kemudi, menatap lemah kearah pria yang kini berada di sampingnya itu. Saras tersenyum samar.
"Aku bahkan nggak tahu kalau ternyata kamu bisa bawa mobil" ucap Saras dengan mata terpejam. Dion menoleh lalu tersenyum seolah tak pernah terjadi apa apa. Ia menggerakkan tangannya mengusap lembut pucuk kepala sang istri.
"Nggak usah berisik, bobok gih. Biar ilang pusingnya" ucap pria itu manis.
"Nggak dingin?" tanya Saras lagi.
Dion menoleh lagi sambil tersenyum.
"Nanti sampai rumah meluk kamu jadi anget.." jawab Dion santai.
Saras tersenyum. Ia mengubah posisi tubuhnya agar lebih nyaman dan berusaha untuk tidur. Dion mengusap usap kening Saras dengan satu tangannya, seolah ingin mengantarkan sang istri untuk lebih masuk lagi ke alam tidurnya.
Mobil terus melesat, hingga kurang lebih lima belas menit perjalanan, kendaraan roda empat itu pun memasuki halaman luas istana megah kediaman mereka. Puluhan para anak buah Malvino nampak berjajar menyambut kedatangan sang putra mahkota beserta istrinya. Mereka yang mengetahui bahwa Dion pergi tanpa pengawal malam ini sejak tadi rupanya nampak bersiaga, kalau kalau ada kabar buruk tentang Dion dan Saras. Sebagian anak buah bahkan sudah menyebar, mencari keberadaan Dion yang pergi tanpa pamit itu.
__ADS_1
Malvino yang sejak tadi duduk dengan gusar di ruang tamu itu nampak keluar dari rumah nya. Dari sorot matanya tersirat sebuah perasaan lega melihat sang putra yang pulang dengan selamat. Namun setitik pertanyaan menggeliat di hatinya. Darimana Dion sebenarnya? Kenapa ia pulang dalam kondisi bertelanjang dada? Dan apa yang terjadi dengan Saras? Wanita itu nampak terlelap di kursi kemudi tepat di samping Dion dengan menggunakan sweater milik sang putra. Apa yang sebenarnya terjadi?
Mobil mewah tanpa atap itu berhenti. Dion lantas turun dari kursi kemudi dan berjalan mengitari mobil itu. Diraihnya tubuh Saras yang lemah, membuat wanita itupun tersadar dari tidurnya.
"Emmhh" Saras melenguh.
"Tidur aja..! Aku bawa kamu ke kamar" ucap Dion sangat lembut. Ia seolah tak mau mengganggu tidur sang istri yang sedang tidak baik baik saja itu. Saras tersenyum. Ia lantas menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Dion membopong tubuh itu dan membawanya masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan puluhan anak buah yang menunggu kabar atas nasibnya itu. Ia bahkan juga tak menggubris keberadaan sang ayah yang sejak tadi khawatir dibuatnya.
Malvino menghela nafas panjang. Posisinya benar benar di geser oleh menantunya.
Dion meraih selimutnya. Menutupi tubuh ramping itu hingga ke dada. Pria itu tersenyum. Dikecupnya kening wanita yang masih terlelap itu dengan lembut kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Bertarung dengan Gio cukup membuatnya lelah. Ia butuh mandi untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya.
Sekitar sepuluh menit berselang, Dion keluar dari kamar mandi dengan mengenakan selembar handuk yang dililitkan di bawah pusarnya. Ia lantas berjalan menuju sebuah lemari besar di sana. Membuang handuk itu asal, mengambil satu kaos tanpa lengan serta sebuah celana pendek lalu mengenakannya.
Pria itu lantas menoleh ke arah ranjang. Dilihatnya di sana Saras masih terlelap dalam posisi yang sama. Dian tersenyum. Ia kemudian berjalan menuju ranjang lalu naik keatas nya dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri dalam posisi miring. Satu lengannya ia gunakan sebagai bantal, sedang kan satu lengan lainnya nampak bergerak membelai lembut pucuk hidung sang istri yang memejamkan matanya itu.
"Maaf, sudah menjadikanmu tumbal malam ini. Aku hanya ingin tahu siapa manusia yang berusaha mengganggu kehidupan bahagia kita." ucap Dion lembut seolah tengah berbicara dengan Saras.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum. Ia kemudian meringsut. Mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.
"Mulai hari ini aku berjanji, aku akan menjadi laki-laki seperti yang kamu inginkan. Aku akan menjadi laki-laki yang bisa menjaga dan melindungi kamu dari orang-orang yang berusaha melakukan hal tidak baik kepadamu. Aku akan menjadi suami yang bisa kamu andalkan dan bisa kamu banggakan." sambungnya.
"Terima kasih sudah mau bertahan selama ini bersamaku. Karena kamu, sekarang aku sadar bahwa aku terlalu payah selama ini. Aku laki laki, aku adalah pemimpin, dan aku bersumpah, mulai hari ini aku akan menjadi pemimpin sekaligus pelindung untuk kamu."
"Sekali lagi terimakasih, sayang. Kamu menyadarkan ku dengan segala tingkah polah dan kerja keras kamu. Kamu membuka mataku, bahwa sebagai manusia yang kuat harusnya aku bangkit. Trauma tercipta untuk dilawan, bukan untuk diratapi. Menunjukkan sisi baik dan kemampuan dalam diri kita adalah cara terbaik untuk melawan orang-orang yang dulu pernah merendahkan kita. Terima kasih. Selamat malam, selamat beristirahat, cinta" ucap Dion begitu manis. Di akhiri dengan sebuah kecupan lembut di kening, kedua pipi, kedua kelopak mata, dan berakhir di bibir. Dion lantas menarik selimutnya. Ia memeluk tubuh Saras hangat, dan bergegas untuk tidur.
❤️❤️
...----------------...
Selamat malam
up 19:04
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰
__ADS_1