
Hari terus berganti, semua berjalan seperti biasanya.
Satu minggu berselang setelah ijab qobul antara Saras dan Dion digelar. Kehidupan putri kandung Ratih itu masih berjalan seperti biasanya. Sama seperti saat saat pertama ia menyandang status sebagai istri sah seorang Dionyz Aldari Miguel.
Dion masih menjelma menjadi sosok yang misterius. Tidak suka berbaur dengan orang banyak. Tidak suka keramaian. Lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam ruang lukis miliknya dibandingkan menemani istrinya dan menghabiskan waktu berdua selayaknya sepasang pengantin baru.
Saras juga masih keukeuh menjalani perannya. Berusaha menjadi istri yang baik untuk laki laki yang menikahi nya sejak seminggu yang lalu itu.
Saras mulai mencoba melakukan pendekatan pendekatan kecil pada Dion. Mulai dari sering membuka obrolan berdua, mengajak suaminya berbincang. Memberikan perhatian perhatian kecil, dan lain lain. Ia juga coba mencari cari tahu informasi di internet mengenai cara untuk menghadap pria yang lebih banyak diam dengan segala tingkah laku aneh seperti Dion ini. Apa yang disuka dan apa yang tidak di suka. Serta hal hal yang mungkin bisa menjadi penyebab terbentuknya karakter yang demikian itu pada diri seorang.
Satu yang menjadi pegangan Saras. Ia tak mau membuat Dion tersinggung dengan mencoba mengorek masa lalu pria itu. Biarlah ia melakukan pendekatan secara halus saja. Semoga suatu saat Dion akan melembut hatinya dan mau terbuka, berbicara hati karena hati dengan wanita yang merupakan istri sahnya itu. Saras juga bertekad untuk meyakinkan Dion bahwa ia bisa menjadi istri, teman, sekaligus kawan yang baik untuk pria itu. Agar Dion bisa merasa nyaman dan tersentuh hatinya untuk menjadikan Saras sebagai sandaran, tempat untuk mencurahkan segala isi hatinya.
Satu minggu berlalu, belum ada perubahan yang berarti dalam diri seorang Dionyz Aldari Miguel. Pria itu masih sering berlaku kasar pada Saras. Luka di sekujur tubuh wanita itu seolah tidak pernah mengering. Belum sembuh, dilukai lagi. Belum sembuh, dilukai lagi. Begitu seterusnya..! membuat wanita itu pun mau tak mau hanya bisa pasrah karena memang hanya itu yang bisa ia lakukan. Hidupnya sudah terikat kontrak. Ia tidak bisa berontak, menolak, ataupun kabur karena nyawa keluarganya lah yang akan menjadi taruhannya.
...
Kini, saat jam mulai menunjukkan pukul satu dini hari...
buuuuuggghhhh......
"aaaaaakkkhhhh....!!"
Tubuh ramping tanpa busana itu ambruk. Jatuh di atas ranjang kusut itu dalam posisi tengkurap. Saras menitikkan air matanya. Sudah remuk badan itu. Kini makin remuk lagi. Dion seolah tak memberi kesempatan untuk wanita dua puluh tahun itu beristirahat barang semalam. Ia selalu menggempur tubuh ramping itu semaunya. Sesuka hatinya. Tanpa peduli sakit atau tidaknya wanita malang yang kini sudah terlihat acak acakan itu.
Dion turun dari ranjangnya. Dadanya naik turun. Lelah. Ia meriah kaos hitamnya yang tergeletak di atas meja. Lalu menggunakan untuk mengusap keringat yang menghiasi keningnya.
Matanya tak lepas menatap wanita cantik yang kini meringkuk di atas ranjang. Sebuah cairan putih terlihat menetes di area bawah sana. Menjadi saksi betapa brutal nya permainan sepasang suami istri itu.
Dion melempar kaos ditangannya asal. Ia lantas menuju sebuah lemari besar di ruangan itu. Mengambil sebuah bokser berwarna hitam, lalu mengenakan nya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
Dion kembali menoleh ke arah Saras. Wanita itu masih tak bergerak. Diraihnya sebuah botol berisi air mineral yang berada di atas sebuah meja rendah di ruangan tersebut. Laki-laki itu kemudian mendekati ranjang. Naik lagi ke sana dan memeluk tubuh sang istri dari belakang.
Dion menggerakkan tangannya, membimbing tubuh ramping itu agar menghadap kearahnya.
Tangan kekar laki-laki itu tergerak mengusap setitik air mata di pipi Saras.
"kau menangis?" tanya laki-laki itu.
Saras mengangguk samar.
__ADS_1
"kenapa?" tanya nya.
"sakit..." cicit Saras. Lalu sesenggukan merasakan tubuhnya yang seolah sudah remuk redam.
Dion diam. Diamatinya tubuh ramping yang penuh luka memar itu. Tak ada ekspresi yang Dion tunjukkan.
Cukup lama Dion diam, menatap sang istri yang nampak menangis sesenggukan sambil sesekali mengusap lelehan air matanya.
Sepertinya pria itu merasa iba mendengar tangisan Saras. Padahal biasanya Dion adalah seorang laki-laki yang sangat menyukai suara tangisan. Ia suka mendengar suara rintihan, suara minta tolong, minta ampun sambil menangis meraung raung.
Tapi entah kenapa kini ia merasa berbeda. Ia tak terlalu suka melihat air mata Saras. Ia justru iba. Atau sedih. Atau merasa bersalah. Entahlah....!
Dion menggerak kan tangannya lagi. Mengusap air mata Saras yang kini mulai membasahi pipinya.
"jangan menangis lagi..!" ucap pria itu.
Saras sesenggukan. Ia tak menjawab ucapan pria itu.
"apa menurutmu aku jahat?" tanya Dion.
Saras menggelengkan kepalanya.
"tapi aku nggak suka di kasarin. Sakit...." ucapnya menangis.
"mendekatlah..! Aku ingin memelukmu.." ucap pria itu.
Saras menurut. Ia pun bergerak, meringsut dan mendekatkan dirinya pada tubuh kekar sang suami. Dion memeluk istrinya itu hangat. Tak terlalu erat, ia merasa takut makin menyakiti tubuh ringkih itu. Laki laki itu bahkan mulai menggerakkan kepalanya, sesekali mengecup lembut pucuk kepala Sasar yang nampak berkeringat.
"maaf..." ucap laki laki itu kemudian. Saras diam tak menjawab. Dion sering mengucap maaf, tapi nyatanya ia tetap saja bertindak kasar pada wanita itu. Entahlah, kapan Saras bisa meluluhkan hati pria itu.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah....
Saat jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari..
Sebuah motor berknalpot bising nampak memasuki sebuah rumah berlantai dua dengan halaman yang tak terlalu luas itu. Seorang pemuda berambut gondrong dengan potongan plontos di sisi kanan dan kirinya nampak turun dari kendaraan yang identik dengan kaum laki-laki tersebut.
Dilepasnya helm yang bertengger di kepalanya. Laki-laki berusia 25 tahun itu nampak berjalan sempoyongan, menuju pintu utama rumah yang cukup bagus itu dan masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Suasana ruang tamu sangat gelap. Sepi, tak ada satu orang manusia pun yang menyambutnya karena memang dia adalah seorang pemuda yang hidup sebatang kara.
Teeekk....
Lampu menyala. Pria itu menekan saklar lampu disana, membuat ruang tamu yang semula gelap itu kini menjadi terang benderang.
Pemuda itu, Giovani Reksa, atau lebih akrab disapa Gio, nampak menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang ruang tamu itu. Matanya terpejam. Merasakannya pusing yang mulai mendera akibat pengaruh minuman keras yang baru saja ia tenggak bersama teman temannya.
Gio membuka matanya. Menatap ke arah sebuah foto berbingkai yang tergantung di salah satu sisi dinding ruang tamu itu.
Dilihatnya di sana, sebuah foto keluarga, terdiri dari sepasang suami istri yang nampak tersenyum bahagia bersama dengan dua putra-putrinya. Di mana salah satunya adalah ia sebagai anak pertama dari sepasang suami istri yang kini sudah meninggal dunia tersebut. Sedangkan satu lainnya adalah seorang gadis cantik berkulit putih yang rupanya juga telah dinyatakan meninggal dunia, menyusul ayah dan ibu mereka. Setelah mengalami insiden tragis yang membuat jasadnya hingga kini belum ditemukan.
Gio menatap nanar foto itu...
"pa, ma, Angel....Gio kangen kalian..." ucapnya lirih.
Laki-laki itu kembali memejamkan matanya. Perlahan rasa kantuk mulai mendera, bercampur dengan lelah yang menjalar di sekujur tubuhnya setelah bekerja seharian di coffee shop miliknya dan Arkana, sahabatnya.
Gio perlahan mulai kehilangan kesadaran. Laki laki tampan bermata sipit itu mulai terlelap dalam posisi tidur terlentang di atas sofa panjang miliknya. Sesuatu yang sudah sangat biasa baginya setelah menjadi sebatang kara.
...----------------...
Selamat siang,
up 12:42
yuk, dukungan dulu....
jangan lupa mampir sini...👇👇
Terlahir dari rahim seorang wanita tuna susila membuatnya di kucilkan banyak orang.Dianggap sebagai sampah masyarakat,manusia rendahan sebagai mana pekerjaan sang ibu yang di anggap hina penuh dosa.
Gadis suci yang terlahir dari rahim seorang wanita yang di anggap kotor.Mungkin itu perumpamaan yang tepat bagi Aleta Balqis Aqilah.
Garis hidup yang tak berpihak padanya,mempertemukan dirinya dengan sosok pria angkuh dengan segala sikap dan tindak tanduknya yang begitu bengis dan arogan.Dipaksa menikah tanpa cinta dan dijadikan istri kedua membuat Aleta harus berjuang mati matian menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan rumah tangganya.
Pernikahan yang tak diinginkan itu juga berhasil menguak sisi lain yang tak pernah terduga tentang siapa Aleta dan suaminya, Leonardo Alfindo Ganada.
__ADS_1
Bagaimana kisah mereka...