Terjebak Di Sarang Psikopat

Terjebak Di Sarang Psikopat
118


__ADS_3

Mobil mewah tanpa atap milik Dion nampak berhenti di lahan parkir coffee shop itu. Sepatu suami istri yang kian hari kian hangat itu lantas turun dari kendaraan mereka.


Dion mendekati Saras. Ia meraih tangan ramping wanita hamil itu, menggenggamnya erat, kemudian menggandengnya masuk ke dalam coffee shop yang nampak sudah dipenuhi para pengunjung tersebut.


Alunan musik terdengar menggema. Penampilan seorang pria muda nan tampan di atas panggung seolah menyambut kedatangan sepasang suami istri itu.



"Wooow...! Ganteng banget!" puji Saras manakala matanya tertuju pada atas panggung, tepat dimana seorang pria tampan dengan rambut sedikit gondrong nampak menyanyikan sebuah lagu di temani sebuah gitar di pangkuannya.


Saras nampak kagum. Siapa yang tak kenal Angkasa. Dia adalah penyanyi muda dengan segudang prestasi dan bakat dalam dirinya. Mulai dari menyanyi, modeling, bela diri, hingga beberapa cabang olah raga. Ia juga merupakan putra dari seorang model profesional yang cukup di kenal di negara ini, Adrian Tama.


Saras sebenarnya juga salah satu pengagum penyanyi tampan itu. Melihat idolanya bernyanyi di atas panggung tepat di depan matanya, membuat ibu hamil itu seolah mendadak lupa akan tangan kekar yang sejak tadi menggandengnya. Saras nampak terpana. Tanpa sadar, wanita itu mengayunkan kakinya, hendak berjalan menuju panggung untuk menemui Angkasa disana. Namun tiba tiba...


Seeeeeetttt....


Tangan itu menarik tubuh Saras yang seolah terhipnotis oleh pesona seorang Angkasa Wildan Tama. Membuat wanita itupun seketika menoleh ke arah belakang. Dilihatnya di sana, Dion nampak mengangkat dagunya. Menatap kesal ke arah sang istri yang mendadak kecentilan.


"Mau ngapain?" tanya Dion dengan mimik wajah tak suka.


Saras menggeliat. "I, ituuu..."

__ADS_1


"Apa?" tanya Dion.


"Pengen ketemu Angkasa," ucap Saras.


Dion menatap datar sang istri.


"Nggak ada!" ucapnya kemudian. Saras nampak mengerucutkan bibirnya.


"Kita kesini cuma buat pameran. Nggak usah aneh aneh!" lanjut Dion.


"Cuma bentar doang. Cuma pengen lihat dari deket!" ucap Saras.


"Nggak ada! Denger ya, apapun yang kamu mau, aku turutin. Tapi nggak dengan deket deket ama cowok!" ucap Dion posesif. Saras nampak cemberut. Ia menghela nafas panjang. Dion menggerakkan kakinya. Ia menarik perlahan tubuh wanita hamil itu agar ikut dengannya. Mendekati Arkana yang kini nampak berbincang dengan seorang pria dewasa di sana. Tepat di hadapan salah satu lukisan milik Dion.


Ya, Ini juga salah satu bentuk keberhasilan yang Saras cetak. Ia berhasil sedikit demi sedikit menyembuhkan trauma Dion akan keramaian. Ia berhasil meyakinkan laki-laki itu, bahwa dunia luar tak selamanya kejam. Manusia-manusia di luar sana tidak semuanya jahat. Masih ada orang baik yang bisa menghargai dirinya. Tidak seperti orang-orang di masa lalunya yang hanya bisa melihat dari keburukannya saja.


"Nah, itu dia pelukisnya datang!" ucap Arkana pada si calon pembeli.


Laki laki dewasa dengan tubuh tegap itu nampak menoleh ke arah ke belakang. Tepat dimana Saras dan Dion yang baru saja datang itu nampak berdiri disana sambil tersenyum.


__ADS_1


Saras memiringkan kepalanya. Lagi lagi ia terpesona. Setelah tadi dengan anaknya, kini ia kembali dibuat oleng oleh bapaknya. Ya, itu adalah Adrian Tama, ayah kandung dari Angkasa yang kini tengah bernyanyi di atas panggung coffee shop itu. Walaupun usianya sudah tak muda lagi, tapi laki-laki di hadapannya itu seolah memiliki kharisma yang tidak pernah ada habisnya.


"Ras, Dion, kenalin, ini Tuan Adrian. Beliau tertarik sama lukisan kamu," ucap Arkana.


Saras tak menjawab. Senyumannya mengembang. Dion yang menyadari hal itupun lantas menggelengkan kepalanya melihat tingkah polah sang istri yang seolah mendadak ganjen itu.


Dion menggerakkan tangannya. Meraih kepala Saras yang miring lalu menegakkannya kembali ke posisi semula. Pria bernama Adrian yang kini berada di hadapan mereka itu hanya terkekeh melihat tingkah polah Saras dan Dion.


Dion lantas maju selangkah. Mendekati sang calon pembeli kemudian mulai berbincang bincang dengannya mengenai lukisan yang kini diliriknya itu. Menjelaskan mengenai maksa serta filosofi yang tergantung di dalamnya.


Saras diam. Sesuatu yang sama sekali tak pernah ia duga kini nampak Dion tampilkan. Laki laki itu terlihat cukup fasih dalam menjelaskan mengenai lukisan buatannya. Bahasanya jelas. Senyumannya mengembang. Tutur katanya ramah sambil sesekali diselingi tawa ringan. Sebuah pemandangan yang dulu sempat ia lihat saat pertama kali ia bertemu dengan laki laki tampan pujaan hatinya itu. Dimana kala itu ia beranggapan bahwa Dion adalah sosok yang humoris, ramah, murah senyum, dan baik hati. Ia tak menyangka jika dibalik senyuman dan tawa indah itu, rupanya ada luka dan trauma yang menyelimuti diri pria berusia dua puluh dua tahun itu.


Perlahan tapi pasti, kini Saras mulai menyadari. Dion sebetulnya adalah pria yang ramah dan penyayang. Ia pribadi yang suka bercanda dan pandai mencairkan suasana. Namun trauma dan kekecewaan terhadap orang orang sekitar di masa lalunya lah yang membuat Dion seolah menjelma menjadi pribadi yang berbeda.


Laki laki itu mungkin hanya butuh bimbingan. Ia hanya butuh teman dan rekan yang bisa membuatnya nyaman. Maka dengan begitu, mungkin laki laki itu akan bisa kembali normal seperti Dion yang seharusnya.


...----------------...


Yang penasaran dengan kisah Angkasa Wildan Tama dan Papanya, Adrian Tama, yuk kepoin di judul judul iniπŸ‘‡πŸ‘‡


__ADS_1



__ADS_2